CERPEN "Ketika Ujian Menimpah" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Ketika Ujian Menimpah"

CERPEN "Ketika Ujian Menimpah"
KETIKA UJIAN MENIMPAH
Karya Azwan

-Assalamu'alaykum-

Sholat subuh berjamaah telah selesai sedari tadi. Namun beberapa orang masih terlihat di masjid terbesar dikota itu. Ada yang mengikuti tarbiyah subuh, atau hanya berbincang-bincang sesama muslim. Aisyah Khofifah, salah satu jamaah muslimat masjid itu tak pernah absen dalam kegiatan tarbiyah. Umur yang masih muda, 22 tahun, tak ia sia-siakan. Ia sangat tekun menghadiri acara-acara tabligh.

Selama nafasnya masih berhembus, selama itu juga ia pergunakan umurnya sebaik mungkin, karena ia tidak akan kekal didunia ini, tapi di akhirat sana, kata Ifah saat pertemuan pendakwa muda se indonesia. Ifah juga aktif di berbagai organisasi yang bergerak di bidang dakwa di kampusnya. Ia sekarang kuliah di Unifersitas islam mengambil jurusan Syariah. Sekarang ia sudah hampir selesai.

***

2 tahun kemudian...

"Nak, ummi dan abahmu mau menjodohkanmu dengan anak teman lama ummi. Ummi harap kamu tidak keberatan", Ifah mendengar penjelasan umminya itu. Ia menatap mata teduh itu, sungguh tenang. Ifah tidak akan mungkin membiarkan air bening keluar dari mata itu. Ifah senantiasa patuh terhadap kedua orang tuanya.
"InshaAllah, ummi. saya bersedia" ucapnya membuat senyuman di wajah ibunya terpancar.

Dan lamaran itu terlaksana setelah 3 hari kemudian di kediaman keluarga Ifah. Dan Ifah tak menyangka bahwa lelaki yang dijodohkan kepadanya itu adalah Fahri. Ifa tersenyum dalam hati. Ia sudah lama menyukai Fahri, sejak mereka masih kuliah di fakultas yang sama.

"Baik bu, pak. Maksud kedatangan kami kesini untuk melamar putri Bapak, Aisyah Khofifah, untuk dinikahkan kepada putra kami", ucap Ayah Fahri.

Seketika itu tubuh Ifah menegang tak percaya. Jantungnya berdegup kencang.

"InshaAllah pak bu, kami terima lamarannya" ucap ibu Ifah sambil tersenyum lebar. Hati Ifah pun berbunga-bunga. Alhamdulillah.

Tapi, ujung mata ifah, ia melihat raut wajah Fahri biasa saja. Seakan tak terjadi apa-apa yang membahagiakan. Atau memang Fahri tidak bahagia? kenapa? Ah.. Ifah menepis pikiran-pikiran buruknya. Mungkin...entahlah. Yang terpenting sekarang ia sangat bahagia dengan lamaran ini, walaupun belum mampu menghilangkan bayang wajah Fahri yang tampak biasa saja tadi.

***

Air mata Ifah tak kunjung reda. Astaghfirullah. Ia berusaha menenangkan hatinya. Berusaha tegar dan bersifat dewasa. Ingat Ifah, semua ini adalah ujian yang di berikan Allah kepadamu. Bersabarlah, karena Allah selalu bersama orang yang sabar. Pasti ada hikmah dibalik semua ini, nasihatnya pada diri sendiri.

Batalnya pernikahan Ifah dengan Fahri membuat Ifah terpuruk dalam kesedihan. ya, Pernikahannya batal sebab ada wanita yang Fahri sukai. dan mereka telah menikah.

"Ya, Allah tabahkanlah hati hamba, dan semoga pahala yang kau siapkan untukku menjadi pengganti ujian ini", doanya setelah selesai sholat.

Ia kemudian menanggalkan mukenanya. Jilbab merah jambu tetap dikepalanya. Terdengar ketukan pintu.

"Ifah, mari makan nak, ummi sudah siapkan makanan kesukaan kamu" teriak umminya dari luar.
"Iya ummi, Ifah akan segera keluar", ia berdiri dengan penopang kesabaran. Lalu menuju pintu.

***

"Ifah, kamu tidak apa-apa nak?" tanya umminya khawatir. Ia sangat tahu apa yang anaknya rasakan saat ini setelah batalnya pernikahannya dengan fahri.
"Ifah tidak apa-apa ummi, hanya sedikit pusing. tapi nanti akan sembu juga. tidak lama", ucapnya meyakinkan umminya. Walaupun hatinya kini di penuhi kepiluan. Tapi, ia tidak akan memperlihatkan di depan orang tuanya agar tidak khawatir kepada dirinya.

***

Hari demi hari Ifah lalui. Mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Namun, ujian demi ujian menimpah Ifah. Belum lama batalnya pernikahannya dengan Fahri, kini ia harus di tinggal pergi kedua orang tuanya untuk selamanya. Pesawat yang ditumpangi orang tuanya hilang kontak. Dan dalam seminggu, bangkai pesawat itu baru ditemukan. Hati Ifah seakan ditimpah satu ton besi. Hatinya seakan diremas-remas. Hati yang belum lama sembuh, harus kembali merasakan kehilangan. Sungguh sakit.

"Ya Allah, ujian apa yang Kau kirimkan kepada hamba? Mohon kuatkanlah hati hamba, agar tetap istiqamah dijalan-Mu, beri hamba kesabaran dalam menghadapi cobaan demi cobaan yang datang menghampuriku, Ya Allah.
"Ya Allah, semua ini telah menjadi ketentuan-Mu. Semua ini sudah tertulis dalam Lauh Mahfudz-Mu. Maka, gantikan semua ini dengan pahala yang Engkau janjikan kepada hamba-Mu." Ifah kemudian bersujud lama setelah memanjatkan doa. Tubuh Ifah masih belum bangun dari sujudnya. Sangat lama, hingga kemudian tubuh itu ambruk, tergeletak diatas sajadahnya. Dipanggil Allah dalam keadaan bersujud, mashaAllah...

-End-

Syukron....
-wassalam-

Profil Penulis:
Nama: Azwan
TTL: Bonepute, 26/071998
Alamat: Kec. Tonra, Kab. Bone, SulSel
FB: Azwan

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Ketika Ujian Menimpah""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel