CERPEN "Kesempatan Kedua"
CERPEN "Kesempatan Kedua"
KESEMPATAN KEDUA
Karya Nur Aini
PROLOG
“Aku harus mendapatkannya, aku harus dapat beasiswa itu !”, pekik Alfy dalam hatinya. Alfy adalah seorang siswa SMA yang kini duduk di kelas XII, sejak dulu ia sangat suka pada sastra dan mungkin hampir setiap hari ia menulis sebuah karya sastra, entah puisi, cerpen, bahkan kini ia mulai mendalami jenis dan genre – genre sebuah karangan. Kepalanya dipenuhi angan – angan, mimpi dan semua imajinasi tentang masa depannya kelak. Tentang bagaimana ia akan menjadi seorang penulis karya – karya sastra yang akan dikenal seantero negri bahkan jagat raya ini. Sedikit mustahil memang jika melihat bagaimana keadaanya saat ini, tentang keluarganya, bagaimana mungkin seorang anak pemulung bisa menjadi penulis sastra yang terkenal sejagat raya ? , bahkan untuk melanjutkan pendidikannyapun entah bisa atau tidak. Tapi Alfy percaya pada keajaiban Tuhan, Ia sepenuhnya mempercayai Tuhannya,namun sayang kepercayaan itu tak pernah sejalan dengan kenyataanya. Karena nyatanya Alfy masih enggan memberi sedikit saja sesuatu untuk Tuhannya, mungkin sedikit waktu untuk bersujud pada sajadah yang telah usang itu ? Tapi ia tak pernah melakukan itu semua, ia hanya mempercayai dan meminta banyak namun tak pernah memberi sedikit untuk Tuhannya.
Hari itu saat beberapa siswa berkumpul mengerubungi madding di aula sekolah, Alfy menyusup melalui sedikit celah diantara kerumunan siswa itu.” Hei , ada apa ?” tanya Alfy. “Itu, pengumuman dari universitas… ada kesempatan mendapatkan beasiswa untuk siswa SMA kita”. Jawab seorang siswa. Kemudian buru – buru Alfy membaca pengumuman itu, bahkan sampai berkali – kali ia membacanya. Selang beberapa menit bel masukpun terdengar(kring kring kring). Siswa yang tadi berjubel di depan madding, seketika berhamburan menuju kelasnya masing – masing, begitupun dengan Alfy. Namun wajahnya terlihat enggan untuk meninggalkan tempat itu, ia berjalan menuju kelas masih dengan pandangannya yang tertuju pada pengumuman di madding.” Aku harus dapetin beasiswa itu, harus !” teriaknya dalam hati. Saat Alfy tengah asik berbicara dengan dirinya yang lain yang kini tinggal di dalam hatinya itu, tiba – tiba seseorang menyentuh pundaknya. Sontak ia mengalihkan pandangannya yang sedari tadi lurus ke depan kearah seseorang yang menyentuh pundaknya itu, dan menepis tangan dingin yang sedari tadi berada di atas pundaknya itu. Saat ia menoleh, ia menemukan wajah seorang laki – laki berparas tampan dan mungkin usianya saat ini sekitar 23 tahun, ya ia adalah guru bahasa di kelas Alfy. “kenapa Alfy ? kamu melamun lagi ?”, tanya guru itu dengan suara yang maskulin. “maaf pak, saya tadi ..emh..itu.. e… di madding ada pengumuman kalau ada kesempatan untuk mendapatkan beasiwa di Universitas…, jadi maaf ya pak, saya lagi mikirin itu.” Guru yang berparas tampan itu memang seorang guru yang sangat baik, dan dengan mudahnya ia memaafkan Alfy.
Sang raja siang kembali ke peraduannya, menandakan semua aktivitasmu harus dihentikan dan ini saatnya untuk memberi kesempatan untuk mengusir lelah yang sedari tadi terus mengganggumu. Begitupun dengan Ayah Alfy, beliau pulang kerumah yang lebih tepatnya di sebut gubuk reyot dengan langkah yang gontai.Saat itu Alfy masih berdiri di ambang pintu menunggu kepulangan ayahnya itu. Samar – samar ayahnya berjalan sempoyongan menuju gubuk reyot itu. Dengan cepat Alfy meraih tangan ayahnya yang terlihat keriput dan hitam , karena kesehariannya dihabiskan untuk mengukur jalan mengais rezeki dari gunungan – gunungan sampah yang tesebar di seluruh penjuru negri yang kata orang negriku adalah surga dunia. Senyum kecil merekah dari seorang ayah yang terus berusaha untuk masa depan anak laki – laki satu – satunya itu. “ Nak, apa kamu sudah makan?” , tanya Ayah Alfy. Lalu bola mata itu terlihat memerah dan kelopak mata itu dipenuhi cairan yang mungkin sebentar lagi akan membludak menghujani seluruh lekukan – lekukan pada wajah Alfy. “sudah pak, terima kasih bapak rela menghukum diri, rela melawan raja siang hanya untuk masa depanku, terima kasih pak ?”, saut Alfi sembari mengusap air yang telah membasahi seluruh wajahnya itu. Lalu dua anak beranak itu menutup malam, membiarkan tubuh mereka beristirahat sejenak sebelum berperang lagi besok.
Sinar mentari masuk melalui celah bilik yang dindingnya terbuat dari gedek itu, dan perlahan mulai mengenai wajah Alfy dan membuatnya tersadar karena kehangatan sinar itu menjalari seluruh wajahnya. Waktu menunjukkan pukul 6 , lalu Alfy bersiap melangkahkan kakinya menuju padusan kuno di samping gubuk reyot miliknya. Sekitar 30 menit ia bersiap lalu mulai berjalan menuju SMA yang kini merupakan harapan satu – satunya tentang masa depan. Di sepanjang jalan ia masih memikirkan cara untuk mendapat beasiswa itu, agar ia dan ayahnya tak lagi terbelenggu dalam garis kemelaratan, agar ayahnya tak harus bersentuhan dengan gunungan sampah yang dapat merusak kesehatannya, agar mereka tak lagi tinggal di gubuk reyot itu. Berjuta harapan dan angan telah memenuhi ruang dalam kepalanya yang sebenarnya tak cukup besar itu. Tak dirasa Alfy telah sampai di depan sekolah dan sebentar lagi akan menginjakkan kakinya pada tanah yang ia anggap suci, karena di situlah ia akan menata pondasi masa depannya kelak. “semoga hari ini berjalan lancar ,” pinta Alfy dalam lubuk hatinya. Lalu ia memulai pendidikannya seperti biasa, hingga di tengah pelajaran spontan ia berteriak kegirangan karena detik itu , guru berparas tampan yang menjadi guru bahasa mereka, mengumumkan bahwa seleksi untuk masuk Universitas… akan dilaksanakan esok hari. Dalam sekejab seisi kelas menujukan pandangannya pada wajah Alfy yang masih berbinar itu. Dengan wajah yang tertunduk malu ia kembali pada posisi biasa saat mengikuti pelajaran sambil mengaruk – garuk rambutnya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.
Malamnya ia belajar sangat keras untuk mengikuti seleksi itu, tumpukan buku yang menggunung di samping karpet lusuh di bilik sempit dan rapuh itu,semuanya dibacanya tak tersisa. Hingga tak disadari Alfy tertidur di antara tumpukan buku itu. Kukuruyuk… suara ayam jago membangunkan Alfy dari lelap tidurnya malam itu. Saat melihat jam menunjukan pukul 06:15 , ia lalu bergegas dan beranjak menuju sekolah . Hari itu Alfy sangat yakin bisa lolos seleksi karena ia telah belajar keras semalaman.
Yang ditunggu akhirnya datang juga, Semua siswa lalu duduk di bangkunya masing – masing, lalu seorang wanita berkaca mata dan menggunakan sepatu fantovel tinggi mungkin seorang dosen, ia membagikan selembar kertas dan beberapa lembar soal . Kenapa ia membagikan kertas – kertas itu ? ya, tentu saja itu soal yang harus di jawab puluhan siswa dalam ruang itu untuk melewati tahap awal menuju universitas… dengan Cuma – Cuma alias gratis. Satu jam berlalu sejak dibagikannya kertas itu, kemudian wanita yang mungkin seorang dosen itu mulai berkeliling untuk mengambil lembaran – lembaran kertas tadi dari puluhan siswa dalam ruangan itu.
Satu bulan berlalu sejak Alfy mengerjakan soal yang akan membawanya pada masa depan yang lama ia impikan. Dan hari ini merupakan babak penentuan, wanita yang dulu memberikan soal pada puluhan siswa di SMA tempat Alfy sekolah, datang dengan membawa pengumuman siapa saja yang lolos tes itu. Dengan cekatan wanita itu mulai membacakan nama- nama yang lolos tes. “ Angga, Radit , Vindi ,… . Namun nama Alfy tak kunjung disebut, padahal Alfy yakin bahwa dirinya akan lolos seleksi karena ia merasa bisa mengerjakan soal – soal itu. Dan nyatanya NIHIL, namanya tak pernah disebut hingga berakhir waktu pengumuman .
Begitu kecewanya Alfy karena ia tak lolos seleksi. “Pak, mafkan Alfy ya , Alfy gagal pak, padahal sudah belajar dengan keras dan Alfy juga merasa bisa mengerjakan sol – soal itu.” Keluh Alfy pada sang ayah. Kemudian sang ayah mengelus kepala anak satu – satunya itu. “ Alfy… bapak percaya kamu bisa mengerjakan soal – soal itu, tapi ingat nak kau harus meminta restu Tuhan , Bapak sudah lama tidak melihatmu sholat nak , apa kamu tidak rindu pada Tuhanmu ?”
Alfy pun menangis sesegukan dan mulai menggerakan mulutnya, “ Iya pak, aku rindu… mungkin ini alasan kenapa aku tidak lolos seleksi, karena aku tidak pernah mengingat roh yang telah memberikan kehidupan untukku ini pak, aku menyesal pak… Tuhan izinkan aku untuk kembali bersujud di hadapanmu .” Lalu Alfy dengan gontai melangkahkan kakinya menuju padusan untuk mengambil air, dimulai dengan membasuh seluruh wajahnya hingga membasuh kaki yang terlihat hitam itu. Setelahnya ia kembali ke bilik rapuh dan menggelar sajadah usang yang sudah lama tak pernah disentuhnya sedikitpun. Air membasahi seluruh wajahnya sesekali terdengar sesenggukan dan suaranya mulai parau karena tak berhenti menangis.
Alfy masih terpaku di samping bangku yang satu bulan lalu, ia duduk di situ dan mengerjakan soal dengan percaya diri tapi kesalahan fatalnya ia tak pernah mengingat dan tak pernah bersujud di hadapan Tuhannya, hingga akhirnya mimpinya kandas . Tiba – tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang, “ Alfy , “ tegur orang itu. Lalu Alfy perlahan membalikan badannya dan mencari tahu siapkah gerangan yang berada dibelakangnya kala itu. “ Pak Fandi,”, jawab Alfy. Pak Fandi merupakan guru bahasa yang berparas tampan yang mengajar di kelas Alfy. “ Kamu masih sedih ?” tanya guru tampan itu.
“Iya pak, saya telah menyiakan kesempatan yang sangat besar , saya harus bagaimana pak ?” jawab Alfy dengan pertanyaan juga.
“Alfy, saya membawa kabar baik untuk kamu, ada satu kesempatan lagi untuk mengikuti seleksi, saya harap kamu ikut dan belajar sungguh – sungguh , oh ya… jangan pernah lupa untuk berdo’a karena segala sesuatu atas kehendak Allah. Kau harus berdo’a dan memohon yang terbaik pada-NYA. “ wejang guru tampan itu pada Alfy.
Hari itu datang juga, Alfy mengikuti tes yang kedua kalinya, soal yang ia kerjakan masih soal yang sama seperti dua bulan yang lalu, tapi bedanya kini ia mengingat Tuhan dan selalu bersujud pada sajadahnya yang telah usang itu.Dan satu bulan kemudian satu kabar yang membuat Alfy melompat girang, Ia lolos seleksi dan setelah lulus nanti ia langsung kuliah di universitas… dengan beasiswa. Kesempatan keduanya tak pernah Ia sia – siakan, ini semua karena keajaiban Tuhan . Tentang bagaimana Allah itu maha penyayang dan maha pemurah pada umatnya.
Profil Penulis:
Ttl : Kendal, 7 Juli 1998
Facebook : Nur Aini
0 Response to "CERPEN "Kesempatan Kedua""
Post a Comment