CERPEN "Harta dalam Kardus Lusuh"
CERPEN "Harta dalam Kardus Lusuh"
HARTA DALAM KARDUS LUSUH
Karya Setyagi
Malam telah begitu larut, jam dinding telah meninggalkan pukul 24.00 malam. Mata Sedayu memang meredup, tapi bukan berarti mengantuk. Sekejab dia pejamkan matanya, dia terbangkan angan-angannya jauh berkelana ke masa yang akan datang. Berkata lirih dalam hatinya, “Kini sudah saatnya.”Kemudian Sedayu mengambil air wudhu, dia lakukan sholat. Selesai sholat Sedayu berdoa dengan khusyuk, agar diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menemukan kembali kekuatan-kekuatan yang ada pada dirinya.
Malam itu juga Sedayu menurunkan kardus-kardus dari atas lemari lamanya. Lalu dia buka kardus-kardus besar itu, ada tiga kardus. Sedayu berdesah, “huh.....kotor sekali engkau kardus-kardusku.”Memang kardus-kardus ini sudah menemani Sedayu sejak dia kuliah di kota Malang dan sampai sekarang diusianya telah mencapai 50 tahun. Mulai dari timur pulau Jawa di kota Banyuwangi sampai ke barat dan menyebrang ke pulau Sumatera di kota Lampung, kardus-kardus lusuh itu selalu menemani Sedayu dengan setianya. Sedayu membuka kardus-kardus itu, pelan-pelan dia buka, agar isinya tidak menjadi rusak. Alhamdulillah, ternyata kardus-kadus ini telah menyelamatkan hartaku yang berharga ini. Angan-angan Sedayu terbang kembali, “inikah jalan keluar itu?”. Inikah petunjuk yang diberikan Tuhan padaku?. Ini hal yang baik!, ini bukan hal yang buruk!, Aku harus mencobanya, kata Sedayu di hatinya.
Sedayu mengeluarkan semua isi kardus itu. Dia tata satu persatu di meja dan almarinya, dengan penuh kasih sayang dia menatanya. Serasa ada penyesalan dalam diri Sedayu, kenapa selama ini dia kurang perhatian pada hartanya ini. Walaupun sebenarnya, selama ini dia tidak meninggalkan sepenuhnya kebiasaannya tersebut. Tetapi penyesalan yang dirasakan pada diri Sedayu, harusnya aku bisa lebih banyak menggunakan waktuku untuk mendalaminya. Tapi mungkin sudah demikian suratannya dan sekaranglah waktunya, “pikir Sedayu.”Sambil menata, Sedayu melihat sebuah judul bukunya “Ubah sikap Anda maka hidup Anda akan berubah,” karangan Keith Harrell. Sedayu sangat tertarik dengan judul buku lamanya itu. Dia hentikan sejenak menata harta buku-bukunya itu, lalu dia baca sejenak buku itu.
Dengan sangat khusyuk Sedayu membaca bukunya, lembar demi lembar dia nikmati sari-sari dari isi buku itu. Akhirnya Sedayu tertarik pada kalimat di buku tersebut “Andalah yang bertanggung jawab terhadap sikap Anda dan kesuksesan Anda. Jangan berharap orang akan bersikap pada Anda kalau Anda tak mempunyai sikap terhadap diri Anda sendiri.” Luar biasa....ini petunjuk yang diberikan Tuhan supaya aku ingat kembali pada isi kardus-kardus itu, kata Sedayu dalam hatinya. Ternyata Aku sekarang membaca lagi dan ini harus Aku lakukan, janji Sedayu pada dirinya yang paling dalam. Saking khusyuknya Sedayu membaca bukunya, tak terasa pagi sudah memanggilnya. Adzan Subuh sudah terdengar di telinganya. Sedayu mengambil air wudhu dan menjalankan sholat subuh dan kemudian Sedayu tertidur.
Pagi itu Sedayu bangunnya menjadi agak terlambat. Seperti biasa istri dan anak-anaknya sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Setelah mandi dan makan pagi, Sedayu tenggelam lagi dalam buku-bukunya. Dia baca buku-buku lamanya itu, kemudian kalau ada yang penting dia tulis di laptopnya yang buntut itu. Saking asyiknya membaca dan menulis, tidak terasa sudah siang. Istri dan anak-anaknya sudah pulang ke rumah. Ayo sekarang kita makan, kata Istri Sedayu. Semua sudah pada kumpul di meja makan untuk makan siang. Di meja makan itu anak-anak pada bercerita tentang kawan-kawan mereka, tentang guru dan sekolah mereka. Tiba-tiba Danang berteriak...Bapak! sambil mukanya bersungut-sungut. Iya Danang, ada apa? Besok kalau Danang sudah besar mau jadi polisi. Kakak-kakak Danang, Ibu dan Pak Sedayu, semua pada mengerutkan dahi. Kenapa mau jadi polisi dik?, kata Wilis kakak perempuan Danang. Danang mau tangkap bu dokter. Kenapa di tangkap dik?, kata Agus kakak laki-laki Danang. Mendengar penuturan Danang itu, Ibu baru memahami keinginan Danang itu. Oh...begini, kata Ibu. Tadi di sekolah ada kunjungan dari dokter puskesmas, untuk suntik vaksin anti penyakit menular. Kebetulan kelasnya Danang mendapatkan suntik itu, termasuk Danang. Dan setelah di suntik Danang langsung nangis keluar kelas, ketemu Ibu. O...begitu, karena disuntik sama bu dokter, jadi Danang pingin jadi polisi untuk tangkap bu dokter, kata Pak Sedayu. Iya begitulah....kira-kira maksudnya Danang, kata Ibu. Semua pada ketawa mendengar celoteh Danang itu.
Kemudian Pak Sedayu berkata pada Danang. Bagus Danang kalau kamu mau jadi polisi, tapi bukan untuk tangkap bu dokter. Kalau jadi polisi tangkap penjahat. Begitu ya Bapak, kata Danang. Iya, bu dokter itu suntik anti penyakit menular. Memang sakit, tapi nanti supaya Danang tidak kena penyakit. Lalu Pak Sedayu bertanya pada Wilis, kalau kamu mau jadi apa nduk? Aku mau jadi dokter saja Bapak. Tapi takutnya nanti di tangkap dik Danang, kata Agus. Ibu dan semuanya jadi ketawa. Nggak, tadi dik Danang kan belum mengerti tugas bu dokter, penjelasan Ibu. Kalau kamu mau jadi apa Agus, kata Pak Sedayu. Aku jadi arsitektur saja Bapak, kata Agus anak sulung pak Sedayu. Bagus bapak setuju. Baiklah anak-anakku semua, kalian harus belajar yang rajin. Cita-cita itu harus dikejar, biar kesampaian apa yang kalian inginkan. Bagaimana, setuju semua?, tanya pak Sedayu. Setujuuuuu....kami semua siap belajar, kata Agus mewakili adik-adiknya.
Pada saat istri Sedayu sudah tidur, anak-anaknya juga pada tidur. Sedayu, kembali menjalani hari-hari senjanya dengan buku dan laptop buntutnya itu. Sekali-kali angannya melayang ke angkasa raya, Danang mau jadi polisi, Wilis mau jadi dokter, Agus mau jadi arsitektur. Sedayu, sebentar memegang kepala sambil menyandarkan kepalanya ke kursi. Sedayu mendesah, ah..sekarang sudah waktunya, inipun aku juga sudah terlambat. Tapi lebih baik terlambat, daripada tidak berbuat dan tidak berani mencoba, kata hati Sedayu.
Kemudian Sedayu memasang modem ke laptopnya, lalu dia cari alamat-alamat email koran, majalah, penerbit yang bisa menampung tulisan-tulisannya. Dia kirim hasil tulisan-tulisannya yang dulu-dulu pernah di tulisnya. Sedayu berkata, “Cita-cita anak-anakku tak akan kesampaian kalau aku hanya berniat saja dan tak pernah punya keberanian bertindak”. Sekaranglah waktunya bertindak, semoga petunjuk Tuhan atas harta dalam kardus itu dapat menjadi jalan rejeki buat keluarga ku, kata Sedayu dalam hati.
Demikian permohonan Sedayu pada Tuhan dan mulai hari itu hari-hari Sedayu disibukan dengan bertindak, bertindak dan bertindak. Sedayu semakin rajin menulis dan mendapatkan imbalan dari tulisannya itu. 23 Maret 2017, Lampung.>>>>>
Profil Penulis:
Nama : Setyagi Agus Murwono
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Tempat Tanggal Lahir : Madiun, 26 Agustus 1966
Usia : 50 th
Status : Menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : Sarjana Perikanan
Alamat : Jalan Jatayu – Penengahan – Bandar Jaya, Perum Griya Citra Permata Blok B No 10 Bandar Jaya
RIWAYAT KELUARGA :
Istri : Idawati
Anak 1 : Setiani Putri Aldona Mawargi
Anak 2 : Jenar larasati Mardiwi
Anak 3 : Restu Satria WIlaga
RIWAYAT PENDIDIKAN :
SD Diponegoro Madiun : 1973 s/d 1979
SMP Negeri 1 Madiun : 1979 s/d 1982
SMA Neger 2 Madiun : 1982 s/d 1985
Universitas Brawijaya Malang, Jurusan Perikanan : 1985 s/d 1991
RIWAYAT PEKERJAAN :
PT. Suri Tani Pemuka, Banyuwangi (Tambak Udang) : 1992 s/d 1995
PT. Windika Utama, Semarang (Pengalengan Rajungan) : 1995 s/d 1998
PT. Wachyuni Mandira (Tambak Udang) : 1998 s/d sekarang
0 Response to "CERPEN "Harta dalam Kardus Lusuh""
Post a Comment