CERPEN "Aku Dan Ceritaku" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Aku Dan Ceritaku"

CERPEN "Aku Dan Ceritaku"
AKU DAN CERITAKU
Karya Agustin Dwi Pertiwi

Hai.. Namaku Bintang Purnama, aku adalah seorang siswa kelas XII di salah satu sekolah favorit di Kotaku. Aku tinggal di sebuah desa yang kecil bersama ibuku, ayahku telah meninggal saat aku kelas 3 SD, Hanya ibukulah yang berjuang untuk memenuhi segala keperluaan aku. Selama bertahun-tahun, beliau bekerja sebagai penjual botok lamtoro . Botok lamtoro adalah sejenis lauk dengan lamtoro dan kelapa muda serta diberi bumbu. Dulu makanan ini sangat disukai masyarakat di desaku, tetapi kini zaman telah merubahnya. Kini Botok lamtoro menjadi lauk yang tak  banyak dinikmati bahkan kadang ada beberapa orang yang tak mengetahui apa itu botok Lamtoro. Bertahun-tahun Ibuku berjuang demi aku. Ibuku sangat menginginkan aku untuk bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Ibuku tak ingin aku seperti beliau yang hanya lulusan SD. Segala usaha telah dilakukan utuk aku bisa terus bersekolah. Aku pun tak berdiam diri melihat orang-orang disekitarku berjuang untuk keberhasilanku. Setiap hari, sepulang sekolah aku membantu tetangga sampingku di sebuah  bengkel tua. Mengganti ban bocor, menambah udara  diban, itulah yang aku lakukan. Hasilnya lumayan untuk uang jajanku dan membayar keperluan sekolahku. Meskipun selama 3 tahun SMA ini, aku beruntung karena hanya membayar buku LKS saja, tanpa membayar uang SPP. Itu semua terjadi juga karena hasil kerja kerasku mendapat salah satu beasiswa yang disediakan sekolah. 

Hari ini, aku bekerja seperti biasanya di  bengkel milik pak Seno, tetanggaku. “ Bin, ini hasil kerjamu hari ini “ ucap pak seno. “ Terima kasih pak “ ucapku. Lumayan, uang Rp 10.000 yang aku dapatkan hari ini dapat ku berikan kepada ibuku, dan sisanya dapat ku tabung untuk membayar pengambilan ijasahku kelak. Setelah dari bengkel aku pulang.  Di rumah ibukku telah menungguku. “ Le ( panggilan anak laki-laki didesaku ) tolong ibu, ambilkan beberapa lembar daun pisang untuk botok lamtoro ini “ pinta ibuku. Ku lihat di meja ada bahan-bahan untuk botok lamtoro yang belum dibungkus. “ Iya bu..” jawabku.    Tak lupa kuserahkan beberapa lembar rupiah hasil ku di bengkel tadi., sisanya masuk ke dalam celengan kecil yang sudah betahun-tahun ku simpan. Lalu, dengan senang hati aku mengambil sabit yang ada di belakang rumah. Untuk mengambil beberapa lembar daun pisang, bagiku itu sangat mudah, Tetapi yang tersulit adalah menempuh jarak menuju kebun pisang tempatku mengambil daun-daun itu. Jalan kesana melewati sungai yang deras dan beberapa hutan kecil didesaku. Sebenarnya kebun pisang itu bukan milikku. Sebidang tanah tersebut milik Pak lurah didesaku. Oleh Beliau tidak diurus lagi, maka tumbuhlah beberapa pohon pisang tak bertuan dan menjadi saksi dari perjuangan ibuku. Setelah berjalan sekitar 2 kilo, akhirnya  sampai di kebun pisang itu. Setelah mengambil beberapa lembar, akupun istrahat sejenak sambil belajar beberapa pelajaran yang tadi di ajarkan di sekolah. Kegiatan itu ku lakukan setiap hari saat aku berada di kebun pisang ini. Beberapa jam ku lewatkan tanpa terasa. Aku pun pulang karena aku ingat ibuku sangat memerlukan lembar-lembar daun pisang ini. Setelah sampai rumah dan memberikan daun pisang ini kepada ibu, “ ini bu, daun pisangnya “ ucapku. Setelah itu aku pun makan. Lauk botok lamtoro ini adalah makanan wajib dalam keluargaku. Maklum uang hasil penjualan botok hanya cukup untuk membeli beras dan bahan-bahan pembuat botok. Kadang aku sangat bosan dengan makanan lauk ini, tapi aku selalu ingat kata-kata ibuku “ Le, meskipun ibu hanya bisa menyediakan lauk botok ini, ibu tidak ingin kamu melihat dari sisi yang kecil dari botok ini. Botok ini adalah sebuah keiklasan perhatian seorang ibu untuk anaknya, dan sebuah kerja keras yang akan selalu ada untuk anaknya.” Aku sangat ingat kata-kata itu.  Setelah  makan, aku pun melaksanakan kewajibanku sebagia seorang manusia. Sholat.. Ibu selalu mendidik aku  untuk tak pernah meninggalkan kewajiban ini. Dengan sholat, aku bisa mengungkapkan semua isi hatiku dan keresahan ku kepadaNYA. Hanya kepadaNYA aku bisa mengungkapakan keinginanku yang terdalam untuk bisa meneruskan sekolahku. Angan-angan yang tidak pernah ku tahu apakah bisa terlaksana dengan keadaanku seperti ini. Ibuku pernah bertanya   “ Le, apa kamu ingin melanjutkan sekolah lagi? “ aku pun menjawab tanpa keraguan “ iya bu, aku ingin jadi orang yang berguna, jadi orang yang bisa membanggakan ibu” ibuku pun langsung menjawab “ Kejarlah cita-citamu. Jika kamu ada niat pasti ada jalan untukmu melangkah”.

Sekitar jam 15.00 ibuku mulai berkeliling desa, menjajakan botok lamtoro buatannya. Sebenarnya aku sangat kasihan melihatnya. Ibu harus menempuh jarak berkilo-kilo hanya demi aku. Hasil yang beliau dapatkan juga tak seberapa, hanya cukup untuk membeli beberapa kilo beras dan membeli bahan-bahan pembuat botok. Tapi, sampai sekarang ibu tak pernah berfikir untuk berhenti untuk berjualan botok, Meskipun kadang-kadang ibu tidak dapat berjualan karena sakit di kakinya yang kadang-kadang kambuh jika beliau kecapekan. Jika saat itu terjadi, aku tidak segan-segan untuk memijiti kaki dan tangannya. Pengorbanan dan perjuangan ibu tak akan pernah bisa dibayar dengan apapun juga.

Hari, Bulan telah berganti.. Perjuangan ibuku dengan Botok Lamtoronya. Perjuanganku di Benkel Tua milik Pak Seno, lembaran lembaran rupiah yang bisa kukumpulkan,  membuatku bersemangat untuk segera melaksanakan Ujian Nasional ini. Meskipun ada pembayaran yang belum lunas sana sini, akhirnya aku bisa melaksanakan ujian nasional. Sebelum berangkat ibu berpesan “ Le.. Berusahalah demi cita-citamu, demi ibumu demi desamu, demi bangsamu dan demi negaramu. Jadilah Bintang yang terang bersinar menerangi gelapnya malam “ Ibu adalah seorang yang terpenting dalam hidupku. Seorang yang mengenalkanku akan kerasnya perjuangan dan memberikanku pelajaran bahwa apapun meskipun sedikit harus tetap dihargai. Hari ini adalah hari kelulusan ku. Sedikit rasa gejolak di hatiku, apakah aku bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, mangecap manisnya ilmu di jenjang yang lebih tinggi. Hari ini, setelah melakukan aktivitasku membantu ibu, aku basuh kedua tanganku, mukaku, kakiku,, aku ingin shalat dhuha. Di tengah shalatku, hanya satu yang aku fikirkan. “ apa ada jalan seorang seperti aku untuk bisa melanjutkan sekolah dengan keadaanku ekonomi seperti ini?. Jam 12.00 aku sendirian di rumah, ibu telah berangkat untuk berjualan botok keliling desa. Pintu rumah ku diketuk . Dengan hati-hati ku buka pintu rumahku. Terlihat ada pak tukang pos “ Maaf dik, apa benar ini rumahnya Bintang Purnama?” tanyanya. “ iya pak, saya sendiri” jawabku. “ Ini ada surat, silahkan adik terima” ujarnya. Setelah menandatangani tanda terima aku pun tak sabar membuka surat bersampul putih itu. Dengan pelan namun pasti, aku membaca surat itu, kata demi kata. bait demi bait, Akhirnya telah semua ku baca. Aku bersujud syukur, Ku agungkan NamaNYA, ku titikan air mata karena bahagia. Surat tersebut berisi bahwa aku diterima di salah satu Universitas Terbaik di Indonesia ” Universitas Airlangga Surabaya” dengan Beasiswa selama 3 tahun . Tak lama setelah itu, Ibuku pulang. Aku pun segera memberitahu ibuku dan akhirnya kami berdiskusi. Hidup jauh di kota bukanlah hal yang mudah, Meskipun aku telah menerima beasiswa untuk kuliah disana, tapi dengan apa aku bisa melalui hari-hariku di sana. Setelah befikir panjang, Ibuku pun mengizinkan dan memberikan restunya untukku.  Tapi dengan beberapa kalimat yang penuh arti “ Le.. ibu izinkan kamu sekolah lagi, tapi maafkan ibumu ini, ibu hanya bisa memberikanmu sedikit bekal uang untuk kamu.” Mendengar kata-kata ibu lantas tidak memadamkan semangatku untuk terus berjuang. Aku seperti diberi semangat baru untuk terus berjuang demi Beliau.Celengan bertahun-tahun yang telah ku isi akhirnya kupecahkan. Hasilnya tak seberapa hanya 230 Ribu. “ Bu, uang celengan bintang hanya 230 Ribu” ucapku. “ Iya Le.. besok ikut ibu ya” jawab ibuku.

Esoknya ibuku tidak bejualan Botok. Sebelumya ibu menyuruh ku membungkus TV di rumahku. Benda satu-satunya yang bisa memberi hiburan bagi kami dan berharga. Dari TV aku bisa mengerti berita tentang kemajuan dunia. Tibalah kami di suatu tempat. Pegadaian? Apa ini..” bukanlah penggadaian hanyalah tempat dimana kita menggadaikan barang-barang kita lalu kita dapat uang yang tak seberapa”.fikirku. Karna hanya itu yang aku tahu dari pegadaian. Ternyata apa yang menjadi fikiranku ternyata salah besar. Ibuku memang mengadaikan TV kami, barang yang berharga bagiku, tetapi TV kami digadai dengan harga yang seimbang dengan TV  kami. Aku puas dengan pelayanan mereka. Dan yang aku tahu lagi, ternyata TV kami belum tentu akan hilang.Kami bisa memilikinya kembali jika Kami sanggup membayar cicilan setiap minggunya. Kami pun pulang dengan tambahan hasil dari penggadaian TV. “ Bu, terima kasih atas pengorbanan ibu, aku berjanji akan mengembalikan TV kita. “ ucapku. “ Le, bagi ibu, Kamu adalah bintang dalam keluarga kita” 
Hari yang ku nantikan tiba, aku telah mencari kos kecil untuk ku menjalani hari-hariku di kota Pahlawan selama kurang lebih 3 tahun. Sebelum aku berangkat ibuku berpesan, “ Le, jadilah kamu bintang untuk keluargamu, desamu, bangsamu, dan negerimu” Kata-kata ibu akan selalu aku ingat. Hari demi hari kini ku lalui di kota Pahlawan ini, aku juga mulai membuka kursus bagi anak-anak SD atau SMP, lumayan bagiku. Tak lupa aku pun tetap mencicil ansuran TV di pegadaian.  Setiap bulan pun, ibu selalu memberiku uang meskipun tidak seberapa, aku pun tetap menerimanya. Tidak sampai 3 bulan TV ku bisa ku ambil dari pegadaian. Dan aku bisa memberikannya pada ibuku.  Bagiku pegadaian adalah jalan yang sangat membantuku. Pelayanannya juga sangat memuaskan. Dari pegadaian, aku bisa melanjutkan cita-citaku yang selama ini hanya ku impikan. Pegadaian adalah bukti bahwa ekonomi bukanlah halangan kita untuk maju, kita harus bisa memanfaatkan waktu dan sarana yang ada. Di kota Pahlawan ini, akhirnya aku menjadi seorang Bintang. Gelar Sarjanapun aku terima dengan segala perjuangan.  Dari Botok Lamtoro, Bengkel tua Pak Seno, Kebun pisang, Pegadaian. Itu semua adalah saksi perjuangan seorang Bintang. Seorang yang dulunya bukan siapa-siapa. “Pendidikan adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan apapun keterbatasanya, Dan Pegadaian adalah hal yang memudahkan kita untuk mencapainya “ Terima kasih pegadaian. .

Profil Penulis:
Nama : Agustin Dwi Pertiwi
Ttl : Ngawi, 18 Agustus 2000
Alamat : RT.008 RW.003 Dsn.Tempel, Ds.Teguhan Kec.Paron, Ngawi-Jawa Timur
Sekolah : SMA N 1 Jogorogo
No.hp : 0878-5833-2163
FB : Dwie Aguesstyne

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Aku Dan Ceritaku""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel