CERPEN "Pahlawanku"
CERPEN "Pahlawanku"
PAHLAWANKU
Cerpen Karya Rina Purwasih
Tak sadar, air mata ku menetes mmbasahi buku yang ada di hadapan ku. Ya, saat ini aku lagi baca buku diary milik sahabatku yaitu Tian. Ia adalah sahabat dekatku. Tapi sekarang ia telah tiada. Ia meninggal saat akan menyelamatkan aku dari tawuran antar suporter.
#Flashback#
semua berawal 2 tahun yang lalu, ketika Aku dan Tian akan pulang sehabis nonton pertandingan antara Persija vs AREMA di Stadion Manahan, Solo. 06 Mei 2012.
Saat pertandingan usai, kami menuju stasiun KA untuk kembali ke Malang, tiba-tiba di jalan ada sekumpulan orang tidak dikenal melempari suporter Aremania dengan menggunakan batu. Aku yang ada disitu bersama Tian jaid merasa takut.
“Tiann, gimana ini?” tanyaku ketakutan.
“Echa... tenang Cha, tenang, mendingan kamu nunduk aja dulu.” Jawab Tian menenangkan aku.
“tapikan Yan,,,,” sanggahku sambil menangis terisak.
“gak usah tapi-tapian, yang penting kamu tetep ada di dekatku”
Tanpa sadar dibelakang kita juga ada orang yang membawa pisau tajam, lalu ia menarikku dan menodongkan pisau kearah ku.
“jangan mendekat dan teriak kalau tidak ingin pisau ini mematahkan lehernya” ancamnya.
Rasa takut yang kurasakan membuat keringatku mengalir deras. Air mata pun mengalir dengan derasnya. Dalam fikiran aku teringat kata Ibuku dan Ibu Tian. Sebenarnya mereka tak mengizinkan kami untuk berangkat, tapi dengan modal nekad kami tetap bersikeras untuk pergi.
“gue bilang jangan mendekat!” terdengar lagi suara orang itu.
Mataku yang tadinya kututup karena takut kini ku buka. Terlihat Tian di depanku sekitar 5meter. Ia terlihat sedang menahan ketakutan demi menyelamatkan aku.
“satu langkah lagi kau mendekat, pisau ini akan mendarat tepat di leher cewek ini. Ayo cepat mundur!!!”
Akhirnya Tian tak lagi mendekat melainkan menjauh. Mundur perlahan demi perlahan. Dalam hati aku takut. Apa iya Tian akan tega meninggalkan aku. Terlihat juga dibelakang Tian ada banyak orang yang sedang berkelahi. Sepertinya mereka juga satu kelompok dengan orang yang menyekap aku. Entah apa yang ada dipikiran Tian saat itu, tiba-tiba saja setelah mundur beberapa langkah dia lalu lari mendekat lagi sambil berusaha meraih pisau yang ada di tangan orang itu. Hampir saja orang itu tersungkur karena dorongan Tian yang begitu keras. Namun takdir berkata lain, pisau tersebut malahan mengenai perut Tian. Tianpun langsung jatuh tersungkur tak berdaya. Melihat itu orang-orang tadi langsung melarikan diri. Aku yang berada persis di depan Tian tak bisa berkata apa-apa. Hanya tangisan kepedihan yang aku rasakan saat itu. Rasanya seperti mimpi, tak bisa dipercaya. Ketika satu persatu orang mulai mengerumuni Tian, baru aku menyadari bahwa itu semua memang nyata.
Polisi dan ambulace datang untuk membawa Tian ke Rumah Sakit terdekat. Aku yang masih berdiri kaku lalu dipapah oleh salah seorang Aremanita. Ketika aku sampai di rumah sakit orangtuaku dan orangtua Tian sudah ada disana. Mereka semua sedang menangis. Segera aku mendekat kepada mereka sambil menangis.
“seharusnya kami mendengarkan apa yang Ibu dan Bapak katakan. Echa minta maaf. Semua ini gara-gara Echa Bu, Pak, Tante, Om..” kataku sambil tertunduk.
“ini bukan salah kamu nduk, ini semua salah kami sebagai orang tua. Lagian seandainya kami tidak membiarkan kalian pergi pasti kejadian ini tidak akan terjadi.” Kata Ibu Tian sambil mengelus bahuku.
“tapiii,, Tian seperti ini juga karena aku. Dia berusaha menyelamatkan aku dari orang jahat itu, tapi malah pisau itu mengenai perut Tian.” Jawabku sambil terisak.
“sudahlah, ini semua sudah takdir. Sekarang kita berdoa saja untuk keselamatan Tian.” Kata Bapak menengahi perdebatan ini.
Beberapa menit kemudian Dokter keluar dari ruangan dengan wajah putus asa.
“maafkan kami Bu, Pak. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi Tuhan berkehendak lain. Tian tidak bisa tertolong, ia sudah kehabisan banyak darah ketika perjalanan menuju kesini.”
Serentak tangisanpun meledak memenuhi seluruh ruangan tempat dimana Tian menghembuskan nafas terakhirnya. Terlihat Tian sahabat yang sangat aku sayangi itu tersenyum kepadaku. Ini adalah saat terakhir aku melihat senyumannya.
####
Sampai saat ini yang aku sesalkan adalah, pertama Aku tak sempat mengucapkan kata maaf karena gara-gara Aku, Dia harus pergi untuk selama-lamanya. Kedua aku tak sempat mengucapkan terimakasih karena Dia telah rela mengorbankan nyawanya demi Aku. Dan yang ketiga adalah aku tak sempat mengucapkan apa yang ingin Aku katakan selama ini yaitu *AKU SAYANG KAMU*. Tapi sudahlah ini semua telah berlalu. Tak ada yang perlu disesali lagi.
Halaman demi halaman kubaca dengan sepenuh hati. Dan ini adalah halaman yang terakhir ditulis ditulis oleh Tian.
Malang, 06 Mei 2012
Akhirnya hari yang gue tunggu-tunggu ini pun tiba. Saatnya gue mengungkapakan perasaan yang selama ini aku pendam. Hari ini ada pertandingan big match antara tim kebanggaan gue yaitu AREMA vs persija. Niatnya sih mau tour sekalian nonton bareng sama Echa. Nanti pas perjalanan pulang akan gue ungkapin semua perasaan gue padanya. Betapa gue cinta dan sayang sama dia lebih dari seorang sahabat.
Gue harap dia juga punya perasaan yang sama ke gue. Semoga saja... lihat saja nanti. Gue gak tau apa yang akan terjadi sekarang, nanti dan esok. Semoga jika aku pergi suatu saat nanti, dia udah tau apa isi hati gue. Dan semoga ketika aku sudah tiada nanti, dia bisa hidup lebih bahagia dengan orang yang dia pilih. Dan semoga juga dia tak melupakan gue ketika dia sudah bersama yang lain dan pastinya lebih baik dari gue, yang bisa jaga dia, lindungin dia dan menyayangi lebih dari gue.
Seketika air mataku menetes begitu derasnya. Ternyata Tian juga punya perasaan yang sama kepadaku. Bodohnya aku. Kenapa aku baru menyadari ketika ia sudah tiada disisiku lagi? Kenapa???? Tapi aku tak boleh seperti ini terus. Aku harus bangkit. Kalau Tian Lihat aku seperti ini pasti dia akan sedih.
3 tahun setelah kepergian Tian, aku sudah mulai bisa menerimanya. Aku kini sudah berani menonton bola lagi. Dan aku coba membuka hati untuk orang lain. Meski begitu tetap saja aku takkan melupakan Tian dengan ribuan kenangannya bersamaku. Walaupun aku dan Tian kini telah terpisah, namun hati kita akan selalu dekat.... terimakasih Tian untuk semua ini. Kamu adalah pahlawanku, dan pahlawan Aremaku. Aku sayang kamu..
-SELESAI-
PROFIL PENULIS
Nama : Rina purwasih
TTL : Banjarnegara , 09 Maret 1997
Add Facebook : Rina Purwasih
No. Urut : 715
Tanggal Kirim : 29/01/2014 10:16:56
0 Response to "CERPEN "Pahlawanku""
Post a Comment