CERPEN "Tangis Sesalku Untuk Ayah" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Tangis Sesalku Untuk Ayah"

CERPEN "Tangis Sesalku Untuk Ayah"
TANGISAN SESALKU UNTUK AYAH
Karya Endah Larasati

Cerita ini ku tulis berdasarkan pengalaman pribadiku, tentang ulangtahunku dan ayahku. Langsung saja ke cerita.

Waktu itu tanggal 11 november dimana itu adalah hari ulangtahunku yang ke 13, masih terlalu kecil ya. Hari ulangtahun?? Otomatis harus ada kado, itu yang ada di batinku. Hari ulangtahunku kemaren sangat mengesankan, aku harap ayah ibuku memberi kado terindah buatku.

Sehari sebelum ulangtahunku aku sempat merajuk minta boneka teddy, orangtuaku mengiyakan.
Tapi pada kenyataannya tidak, ayahku cuma memberikanku baju tidur yang bergambarkan beruang, aku sempat marah waktu itu dan melempar baju itu. Ku caci maki ayahku

"Ayah ini kan ulangtahunku, aku mau kado teddy, bukan baju seperti ini" sambil kulempar baju itu.
"Maaf nak, ayah cuma bisa membelikan itu. Ayah belum punya cukup uang untuk membelikanmu boneka yang besar. Ayah janji tanggal 11 esok akan ada teddy di kamarmu" sambil mengambil baju di lantai dan memeluk baju itu. Tapi aku tidak peduli dengan janji itu, yang aku mau saat ini hanya teddy dan teddy.

Sejak kejadian itu, aku mulai berfikir kenapa ayahku tidak mau memberikan yang aku minta? Sempat aku membentaknya dan mengatakan kalau dia pelit. Aku mogok makan dan membenci ayahku, kasar padanya. Potret wajahnya di kamarku aku pungut satu persatu dan ku asingkan.

"Makanlah nak, ayah ga mau kamu sakit. Cuma kamu anak ayah yang paling cantik, kamu kenapa" aku cuma menoleh dan menatap sepiring nasi tanpa melihat wajah ayahku.

Hari berganti bulan, ayahku sering sakit-sakitan. Badannya yang dulu gemuk sekarang menjadi kurus. Aku tidak peduli dengan keadaannya. Aku akan memanggilnya ayah kembali kalau aku sudah mendapatkan teddy. Terlalu egois ya aku??

Sakitnya sudah berjalan 1 tahun, dan dua bulan lagi tanggal 11. Hari yang sangat aku tunggu-tunggu.
Tapi sejak sakitnya ayah ku semakin parah, aku kasihan melihatnya. Entah sakit apa yang di deritanya, usia yang sangat kecil untuk mengerti apa arti itu leukimia.

Tepat tanggal 11 november 2009, ketika mata ini terbuka untuk memulai aktifitasku. Ketika di mana mulai hari itu aku bejanji akan merawat ayahku sampai sembuh.  Kucari ayahku ke kamarnya tapi tak ada. Di dapur juga tidak ada. Sampai jam 20.45 belum juga pulang. Aku khawatir dan kucari potret ayahku yang ku asingkan dulu. Ku peluk potret wajahnya yang penuh dengan kasih sayang. 

"Ayah kemana? Pulanglah, aku butuh ayah. Aku sudah gak mau boneka itu. Aku cuma mau ayah menemani aku. Pulanglah yah" Air mataku yang dulunya mengalir cuma di saat aku jatuh, kini ia lancar mengalir deras.

Aku tertidur di dekat pintu meringkuk sambil mendekap potret wajahnya, tiba-tiba pintu terbuka. Aku langsung bergegas bangun.
"Ayah? Ayah darimana saja? Kok seharian gak di rumah? Ayah kan lagi sakit? Kenapa keluar?" pertanyaanku tak di jawab cepat.
"Ayah mencari uang nak untuk memberikan ini" sambil menunjukan sebuah boneka beruang yang besar dan cantik.

Setelah itu

BRUKKK!!!

Ayahku terjatuh dan dari hidungnya mengalir banyak darah. Aku takut ayahku kenapa-kenapa. Aku panik. Aku menjerit 
"Ayaaahhh!! Ayah kenapa! Bangun yah" akhirnya kupanggilkan tetanggaku untuk segera membawanya ke dokter

Selang beberapa jam setelah dokter memeriksanya. Ia keluar dengan muka yang kecewa

"Maaf, apakah anda keluarganya"
"Iya pak, saya anaknya. Ayah saya tidak apa-apa kan pak?" 
"Saya minta maaf nak. Tuhan sudah punya rencana lain, ayah anda sudah ikut denganNya."
"Maksud dokter, ayah saya sudah tidak bisa bernafas lagi!" dengan suara yang sedikti menjerit"
lututku terasa tak bertulang, jatuh tertunduk dengan memeluk erat boneka darinya

"Ayah maafkan aku, kembalilah yah. Peluk aku, cium aku ketika aku mau tidur. Suapin aku, bacakan dongeng buatku, nyanyikan aku lagu terindah yang pernah kau dengar. Ayah aku sayang ayah, kalau saja aku tidak meminta ini pasti ayah masih bisa mendongengkan aku"
"Kenapa ayah pergi disaat aku butuh ayah, bukan ini yang aku mau. Kambalilah yah."
dengan airmata yang terus mengalir dan langkah rapuh ku mendekat dirinya.
Ku usap wajah dinginnya, ku genggam erat jemarinya yang sudah kaku. Ku cium dan ku peluk dirinya. Ku menangis sejadi-jadinya di atas tubuh nya.

Tuhan kini aku telah menjadi anak remaja yang cantik, bahagiakan ayahku di taman indahmu. Kelak kita akan bertemu ayah.

I love you ayah 

Profil Penulis:
Nama : Endah Larasati
Sekolah di SMAN 1 BRINGIN semarang jawa tengah
Alamat facebook : Endah Endah

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Tangis Sesalku Untuk Ayah""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel