CERPEN "Hadiah Dari Ayah" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Hadiah Dari Ayah"

CERPEN "Hadiah Dari Ayah"
HADIAH DARI AYAH 
Karya Pudja Arafat

Pagi yang cerah. Aku terbangun dari tidurku dan saat aku melihat kalender ternyata sekarang hari jumat, dimana orang tua dan aku akan mengambil buku yang isinya tentang angka angka hasil jerih payahku selama setahun. Aku langsung mengambil air wudhu dan shalat shubuh, setelah itu aku langsung berdoa berharap nilai rapor ku bagus. Aku shalat berjamaah bersama ayah. Setelah shalat dan berdoa aku berbincang dengan ayah,
“Yah, sekarang bagi rapor.”
“Jam berapa?”
“Jam 10 Pagi.”
“Oh kalau jam segitu ayah sudah pergi ke kantor, paling nanti diambil ibu.”
“Oh yasudah. Tapi ayah ingatkan janji ayah mau ngasih hadiah kalau raporku bagus?”
“Iya, kalau rapormu bagus nanti kamu langsung ke kantor terus berangkat bareng ayah membeli kado untuk kamu.”
“Oke yah.”
Aku pun langsung pergi ke kamar, aku begitu tidak senang setelah mengetahui bahwa nanti raporku akan diambil oleh ibu. Ibuku sangat galak, yang aku takutkan nilaiku ada yang jelek dan ibuku akan memarahiku di kelas. Tapi aku cukup terhibur saat ayah bilang akan membelikan kado untukku bila nilaiku bagus.

Pagi itu begitu tenang, selesai shalat aku langsung menyalakan laptopku lalu aku main game, tak terasa ternyata sudah jam 8 dan ayah mau pergi ke kantor.
“Ayah pergi dulu ya kak, semoga rapormu bagus!” kata ayah. Panggilanku dirumah itu kaka karena aku anak pertama.
“Oke yah.Hati-hati.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”

Ayahku pun pergi ke kantor, dirumahku tinggal ada ibu, adik adikku, pembantu, dan aku. Aku bergegas sarapan karena aku begitu lapar, tadi malam aku tidak sempat sarapan. Adikku pun begitu, tapi aku heran kenapa mereka siap siap padahal kan hari ini mereka libur. Aku mulai berpikir bahwa mereka juga dibagikan rapor hari ini. Aku memiliki 2 adik, yang pertama namanya Fika, saat itu dia kelas 5 SD dan yang kedua namanya Pepey dia kelas 1 SD. Setelah itu ibu mengampiriku dan berbincang denganku,
“Ka, ambil rapor jam berapa?”
“Jam 10 bu.” Kataku sambil makan.
“Cepat habiskan sarapanmu lalu mandi.”
“Jam 10 kan masih lama bu.”
“Iya memang, tapikan Fika dan Pepey juga dibagiin rapor hari ini jam 9.”
“Oh mereka juga hari ini?”
“Iya.Cepat habiskan dan mandi!”
“Ya.”
Setelah sarapan aku menuju kamar mandi, aku begitu malas karena aku akan menunggu adikku yang sedang bagi rapor. Makin lama saja aku mendapatkan hadiah dari ayah pikirku.
Setelah mandi aku pun bergegas siap siap sambil sedikit membereskan kamar.Walaupun aku punya pembantu tapi aku diwajibkan untuk membereskan kamar sendiri oleh ibuku.Ibuku sangat galak dan tegas.Kalau kamarku terlihat berantakan dia pasti memarahiku.

Aku langsung menuju ke mobil. Adikku sudah berada didalam, karena aku biasa didepan aku langsung membuka pintu depan. Ternyata ada Pepey disana.
“Aku didepan duluan!Wleee!” kata Pepey sambil mengeluarkan lidahnya.
“Oh.” Kataku.
Aku langsung membuka pintu belakang dan duduk dibagian tengah mobil.Aku begitu bête karena diperlakukan seperti itu oleh adikku.Aku langsung menyalakan hp dan bermain game.Tapi aku merasakan kantuk yang lumayan berat karena tadi malam ada pertandingan sepakbola dan aku tidur sangat larut. Tapi aku menahan rasa kantuk itu, entah mengapa rasa kesal ini bias menahan rasa kantuk. Yang aku pikirkan saat itu hanyalah hadiah dari ayahku, bukan rapor yang bagus.

Beberapa bulan yang lalu aku pernah mendapatkan nilai matematika 100 dan kata guruku mau nilainya berapapun harus ditanda tangan.Itu bukan hal yang berat bagiku, bahkan ringan kalau aku harus memperlihatkan nilai ini ke orang tuaku. Saat aku memberikan hasil ulangannya ke ayahku lalu aku berbincang dengannya,
“Yah ini ulangan matematika harus ditanda tangan kata gurunya.”
“Wah bagus nih nilainya. Yang lain ada yang 100 juga ngga?” Kata ayahku sambil menandatangani ulanganku.
“Yang itu materinya gampang, makanya bisa 100. Gatau, yang lain belum dibagikan.” Kataku
“Perlihatkan ke ayah semua nilai yang kamu dapat dong, jangan yang 100 doang.Kalau sampe kenaikan kelas nilaimu stabil dan kamu 10 besar ayah akan belikan hadiah.”
“Pelajaran yang lain tidak diwajibkan ditanda tangan, makanya tidak aku perlihatkan. Memang hadiah apa yah?”
“Dasar kamu pelit sekali.Hadiahnya ya terserah kamu asalkan kamu bisa naik kelas dan nilainya bagus.”
“Aku mau motor yah.”
“Insyaallah akan dibelikan asalkan nilai kamu bagus.Tapi kamu juga harus berbincang dengan ibu!”
“Iya nanti aku bilang ke ibu.”
Itu sedikit ulasan tentang janji ayahku beberapa bulan yang lalu. Ayah bilang akan membelikan motor bila nilaiku bagus dan 10 besar. Sampai kenaikan kelas ini aku rasa nilai semua pelajaranku stabil walaupun tidak selalu 100.Tapi cukup sulit untuk menembus 10 besar karena teman temanku banyak yang lebih pintar. Beberapa minggu sesudah uts aku berbincang kepada ibuku bahwa nanti kalau nilaiku bagus aku akan meminta motor ke ayahku. Ibuku mengizinkan asalkan tidak aku gunakan dijalan raya dan nilaiku tetap bagus.

Dan ternyata sekarang aku sudah berada disekolah adikku.Aku melihat jam tanganku ternyata sekarang sudah jam 9.30. Aku ingin tiduran dan menunggu dimobil, sebelum ibu turun dia berbincang dahulu denganku,
“Ka mau turun?”
“Engga aku dimobil saja.”
“Itu ada eskrim, kamu mau?”
“Aku sudah kenyang.”
“Oh yasudah.”
Begitulah perbincanganku dengan ibu.Ibu langsung turun dan mengatakan kunci mobilnya menggantungdi starter dan bilang jangan lupa dikunci.Aku langsung sedikit menurunkan kaca karena didalam mobil begitu pengap, aku tidak mau menyalakan AC. Lalu aku memejamkan mataku.

Baru sebentar aku tertidur, adikku membangunkanku. Dia ngobrol denganku,
“Geser kak!”
“Sabar dong!” kataku
“Heh jangan berisik!” kata ibuku
“Ini fikanya gasabaran. Naik kelas gak mereka?” tanyaku pada ibu
“Naik.Rankingnya tengah tengah. Kamu harus 10 besar makanya! Kata ibu.
Adikku begitu mengganggu tidurku.Aku sangat pusing.Sekarang ibuku menjalankan mobilnya menuju sekolahku yang tidak begitu jauh dari sekolah adikku. Setelah sampai aku langsung keluar dan menuju kelasku. Kedua adikku menunggu dimobil, kaca sedikit dibuka dan mobil dikunci, agar mereka tidak kehabisan oksigen.

Sampai dikelasku, ternyata sudah sepi dan cuma ada wali kelasku. Saat aku lihat jam ternyata sekarang sudah jam 11.15 pantesan saja sudah kosong. Lalu ibuku berbincang bincang dengan wali kelasku.Disitu sudah tidak ada teman temanku.Tampaknya aku terlambat sekali.Saat aku lihat lembaran ranking.Hanya terdaftar 10 orang disana dan tidak ada namaku, tampaknya aku gagal menembus 10 besar.Tapi guruku mengatakan bahwa jumlah nilaiku dan nilai temanku yang ranking 10 hanya terpaut dua nilai.Haduh begitu menyesalnya aku.Lalu aku melihat table ranking dan 3 sahabatku masuk 10 besar. Naufal rank 3, Aristo rank 9, dan Kemaal rank 10. Tapi aku memang anak yang paling malas diantara mereka, jadi aku rasa wajar kalau ranking ku lebih buruk daripada mereka.Ibuku selesai berbincang dengan wali kelasku dan langsung bersalaman lalu keluar kelas, begitupun denganku.Langsung saja ibuku menelpon ayah.Terdengar oleh ku ibu mengatakan bahwa nilaiku lumayan dibanding semester kemarin tetapi masih gagal menembus 10 besar.Selesai telepon dengan ayah aku langsung bertanya pada ibuku,
“Apa kata ayah?”
“Kita ke kantor ayah sekarang.”
“Oh.”
Aku berharap aku tetap mendapatkan hadiahku walaupun gagal mendapatkan 10 besar. Saat dijalan aku hanya berdoa agar aku mendapatkan motor dari ayah. Sesampainya di kantor, ayahku sedang ada tamu. Aku langsung duduk di sofa sambil menunggu ayahku.Raporku tampaknya sedang dipegang oleh ibu.Saat itu aku masih merasakan kantuk yang gagal disalurkan karena diganggu oleh adikku.Belum juga tertidur ayah langsung membangunkan aku dan mengajak jumatan.Aku lupa bahwa hari ini adalah hari jumat. Aku langsung bergegas ke masjid bersama ayah dan pegawai kantor.

Selesai shalat jumat aku dan ayahku langsung menuju ke kantor dan ayah langsung melihat raporku sambil berbincang denganku,
“Nilai olahraga aja 95, tapi matematika cuma 90.”
“Iya segitu udah lumayan yah.”
“Kamu rank berapa?”
“Gatau, yang diprint hanya yang 10 besar, tapi kata wali kelas nilaiku hanya berbeda 2 dengan anak yang rank 10.”
“Oh paling juga rank 11. Yasudah, kita siap siap ke dealer motornya.”
Aku sangat senang! Aku tak menyangka aku tetap mendapatkan hadiahku walaupun aku gagal masuk 10 besar.Aku langsung mengatakan Alhamdulillah berulang kali.
Saat sampai di dealer motornya aku langsung memilih. Tapi ayah mengatakan jangan motor yang mahal dan harus motor matic. Setelah lama berfikir akhirnya aku memilih motor Yamaha x-ride.Ayahku pun setuju dan langsung disiapkan. Tampaknya motor itu pun bisa langsung dibawa pulang, padahal stnknya pun belum ada. Ayahku menjelaskan kalau motor baru bisa tetap digunakan walau tidak ada stnk asalkan ada surat tilangnya. Aku pergi ke dealer motor ini diantar pegawai kantor ayah. Saat kembali ke kantor ayah aku ingin mencoba motor ini tetapi ayah bilang jangan karena ini dijalan raya dan ada polisi.

Setelah berminggu minggu aku memiliki motor ini, akhirnya aku diperbolehkan menggunakan motor ini kesekolah, aku mendapatkan izin sangat susah dan aku harus bekerja keras merayu ibuku agar mengizinkannya. Ayah sudah mengizinkan karena aku sudah ditest dan katanya aku sudah lancar namun aku harus tetap berhati-hati.

Pada hari jumat aku meminta izin menggunakan motor kesekolah karena ada berenang dan aku harus tetap mengikuti bimbingan belajar. Ibu dan ayahku mengizinkan aku berangkat menggunakan motor karena ini sangat urgent. Saat diperjalanan pergi, aku mengedarai sangat lancar.Setelah aku berenang dan bimbingan.Aku langsung pulang menuju rumah dan ternyata dijalan Moh.Toha dekat rumahku ada razia dan aku dipanggil polisi. Polisi itu langsung berbincang denganku,
“Maaf mas, apakah anda bisa memperlihatkan sim dan stnknya? Tampaknya mas terlihat seperti masih SMP?”
“Aduh pak, saya tidak punya sim dan stnk, tapi ini ada surat tilangnya.” Jawabku
“Ade tahu kan ini jalan raya dan bila mengendarai kendaraan bermotor harus memiliki sim?Boleh saya lihat surat tilangnya?”
“Iya pak, tapi ini sangat urgent sekali karena saya banyak tugas.Ini surat tilangnya.”
“ Tapi tetap tidak boleh de, walaupun ada alasan yang sangat penting. Kalau ade tidak punya sim tidak boleh mengedarai kendaraan bermotor.”
“Oh iya pak maafkan saya.Apa yang harus saya lakukan?”
“Ade tak perlu minta maaf. Sebenarnya motor ade harus ditahan tetapi saya mengenal ade dan saya juga mengenal orangtua ade.”
“Oh iya pak?”
“Sekarang ade cepat pulang. Ade itu Fabian kan anaknya Pak Sugih? Lain kali jangan membawa motor lagi ya de!”
“Iya pak, makasih atas nasihatnya.”
“Hati-hati dijalan de!”
Sesampai dirumah aku begitu lemas, hampir saja motorku diambil polisi. Aku rasa aku tidak akan diperbolehkan membawa motor lagi. Dan keesokan harinya ayah tau aku ditilang dan aku tidak diperbolehkan lagi membawa motor sampai aku mendapatkan sim.

TAMAT

Profil Penulis:
Nama: Pudja Arafat
Tempat tanggal lahir : TanjungPinang,27,Desember 2003
Alamat : jl. Sumatra no.15
Anak ke : 2

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Hadiah Dari Ayah""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel