CERPEN "Kata Hati Untuk Ayah di Syurga" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Kata Hati Untuk Ayah di Syurga"

CERPEN "Kata Hati Untuk Ayah di Syurga"
KATA HATI UNTUK AYAH DI SYURGA
Karya Muliani

Sudah  hampir  tiga  tahun  lebih  aku  tidak  merasakan  kebahagiaan  bersamanya. Senyuman, tawa, dan  canda  yang   ada pada  dirinya.  Kini  tidak  dapat  kulihat  lagi, tidak ada  lagi  sosok   lelaki tempat  aku  mengadu,  tempat  aku  mencurahkan  kesedihan  dan kebahagiaanku.  Pahlawan  dalam  keluargaku , pengorbanan  darinya  yang tak  pernah  aku  lupakan.  Kini  dia  telah  pergi  meninggalkan  kami , meninggalkan  bayangan  kebahagiaan  kepada  kami  sekeluarga.  

Oh iya,  aku  lupa  memperkenalkan  diriku , hehee... Maaf  ya  teman-teman .  Perkenalkan  namaku  Muliani , panggilan  akrabku Muli.  Aku  mempunyai  dua  adik  perempuan.  Ibuku  hanya  pengurus  ibu  rumah  tangga, Ayahku  seorang  petani  kecil.  Ya,  kehidupanku  hanya  singkat  kata , yaitu  “Sederhana / berkecukupan” .  Allhamdulillah  kami  sekeluarga  dapat  memenuhi  kebutuhan hidup  sehari-hari.  Tuh orangtua ku  bisa  mengurus  anak-anaknya  sampai  sekarang.  Keluargaku  selalu  mengajarkan  budi  pekerti  yang  baik  kepadaku.

Pagi  itu  aku  duduk  memasang  sepatu  di teras  rumah,  lalu  ayahku  menghampiri.
        
“Nak,  belajarnya  yang  benar ya,”  tutur Ayah kepadaku.
“Iya yah , terus  doakan  anakmu  ya,  aku  ingin menjadi  wanita  yang  berkarier  nantinya,”  lalu  aku  besalaman  dengannya , dan  lekas  pergi  kesekolah.  

Sesampai  di sekolah  aku  langsung  gabung  dengan  teman-teman  yang  sedang  santai  di kantin.  “Pagi  semua,” kataku. “Pagiii... “ jawab  temanku  semua.
        
“Say  besok  kan  sudah  dimulai  tuh  acara  class meetingnya, jadi  kita liburkan  belajarnya,  gimana  kalau  kita  ngumpul  di rumah aku aja,” kata  temanku  Ratna.
“Ide  bagus  tuh!  kita  makan-makan  aja  yuk,” sahut  temanku  Nelly.
“Huhh dasar  kamu ya,  makan  melulu  yang  ada  dipikiranmu itu,” kataku  dengan  ngeledek.
        
TEEETTT...Teettt..Teett...!! Bel  masuk  sudah  berbunyi.  Kami  semua  pergi  meninggalkan  kantin  dan  menuju  kelas  masing-masing.  Setiap  hari  kami  selalu  berlima,  kami  berempat  menuju  kelas  Vlll  yaitu  aku, Ratna, Elly  dan Hafifah, tinggal  Nelly  saja  sendiri  menuju  kelas  Vll. Aku  sekolah  di SMP NEGERI 5 AMUNTAI.  Dimana  setiap  waktu  kami  berlima  selalu  gabung,  saat  ke kantin, ke perpustakaan  dan  kemana-mana selalu  berlima,  ya  itulah  persahabatanku.  Kringg... handpone  ku  berbunyi “ Say  habis  ini  kita  ngumpul  di  belakang  yuk!”  Oh  ternyata  sms  hafifah  dari  kelas  Vlll B. “ Oke !!”  balasku  singkat.  Takut  ketahuan  Bapak  Guru,  waktu  SMP kan  dilarang  bawa HP.
        
Waktu  itu  pelajaran Bahasa Inggris  mataku  terasa  sangat  ngantuk, beberapa  jam  kemudian  pelajaran  pun  telah  selesai.  Seperti  biasa  aku  dan  teman-temanku  gabung  kembali.
        
“WOYY,,!!!!,” terdengar suara dari  belakang.
“Aaaaaaa.....” kami  semua  terkejut.

Huhh ternyata Laily pacarnya Elly. Mereka  sudah  lama banget  pacarannya, kemana-mana  selalu  berdua.  Sebab  itulah  sering  terjadi  kesalah pahaman  antar  persahabatan  kami.
        
“Eehhh, apaan  seh ! tukan  selalu deh Laily ini buntutin  kita, gak seruu ahh..” cemberut  Ratna.
“Sudah sudah, gak  boleh  gitu dong Ratna,” Sahut Nelly. Begitulah  yang  terjadi  antara kami,  ada  yang  sering  ngambek,  sering  jail pokoknya  sifat kita  itu  beba-beda  deh.  Kecuali aku, aku  gak  pernah  buat  masalah gak  pernah  nyusahin  mereka (hehee muji  diri sendiri  neh  ?).
        
Hari  terus  berlalau  meninggalkan  semua  kenangan-kenangan, suasana  hati  berganti-ganti. Pada  saat  itu  Ayahku  jatuh  sakit,  entah  itu  sakit  apa. Aku  sangat  sedih  dengan  keadaan  seperti  ini.
        
“Nak  kamu  harus  menjadi  orang  yang  berguna  ya, terutama didalam  lingkungan  keluarga. Kamu  anak  pertama,  jadi  kamu  harus  bisa  mengajarkan  adik-adikmu  sifat  yang  baik.”
“Iya iyaa,,,pasti  dong  yah! aku  akan  menjadi  seseorang  yang  berguna,”  sahutku  sambil  mengambilkan  makanan  untuk  Ayahku.

Setelah  satu  minggu  kejadian  itu  berlalu,  kejadian  yang  menggoreskan  luka  dihati  datang  menimpa  diriku.
        
Hari  senin  jam 14.05  aku  sampai  di rumah dari  luar  sudah kelihatan  sepi. Aku masuk kedalam  rumah, apa yang terjadi ? ada  apa  ini ? aku  kaku melihat  semua ini. Ayahku  terus  muntah,  sedangkan  ibuku  tidak  ada di rumah, keluargaku  tidak  ada  seorang pun  di rumah. Hanya  ada  tetangga  yang  merawat  dia, air  mataku  tidak  terasa  lagi.
        
“Ayah, Ayah kenapa ?” tetapi dia tidak  bisa  menjawab  pertanyaanku.

Saat  itu  Allah  telah  berkehendak  lain,  dia  telah  mengambil  Ayahku  untuk  selamanya. Aku  tidak  sanggup  menerima  semua ini, keesokan  harinya  semua  keluargaku  berkumpul  menyaksikan penguburan  jenazah Ayahku.

Kini  aku  terus  teringat  nasehat  yang  selalu  ia  berikan  kepadaku, sekarang  aku  hanya  tinggal  bersama  ibuku  dan adik-adikku.  Aku  tidak  bisa  merasakan  kebahagiaan  yang  sempurna  dalam  kehidupanku, tanpa  sosok  Ayah  yang  sangat  bertanggung jawab. Terbesit satu hal yang menggores dihati ini, dulu aku sering marah-marah dengannya, sering membentak perintahnya.  Tapi  aku akan  berusaha  menjadi  apa  yang ia  inginkan  untukku.
        
Saat ini, nanti  dan  kemudian... Aku  tidak  bisa  melihat  sosok  Ayahku  lagi,  aku  hanya  bisa  mencurahkan  isi  hatiku  dalam  keadaan  senang dan  sedih  di kertas  putih  yang  tetulis  dari  ujung  pena  ini. Hanya  ini  yang  bisa  aku  lakukan, yang  terkadang  ditemani oleh  air mata.

Unsur Instrinsik
Tema: Kehilangan sosok seorang ayah
Alur: Alur Mundur
Penokohan : 
Aku = baik
Ayah = baik, bijak
Ratna, Elly, Nelly, Hafifah, Laily = humoris, baik
Latar: Rumah , Sekolah, Kantin
Sudut Pandang: Sudut pandang pertama
Gaya bahasa: Majas Alegori
Amanat: Berbaktilah kepada orang tua selagi mereka masih bersamamu.
  
Profil Penulis:
Muliani, lahir di kota Amuntai, Teluk sarikat, 04 Mei 1998. Memulai pendidikan langsung ke SD Teluk Sarikat, karena dulu ia tidak mau masuk sekolah Taman Kanak-kanak (TK), berbagai macam bujukan dari orang terdekat tetap ia tidak mau masuk sekolah TK. Setelah ia selesai belajar di SD selama 6 tahun, lalu ia melanjutkan Sekolah Lanjut Tingkat Pertama di SMP N 5 Amuntai.  Selepas SMP, ia berencana melanjutkan ke MA Rakha, akan tetapi niatnya gagal karena tidak mempunyai kemampuan yang tinggi. Akhirnya ia melanjutkan ke SMKN 1 Amuntai. Ia anak pertama dari tiga bersaudara, pengalaman yang ia dapat tidak terlalu banyak. Akan tetapi dari kecil ia sudah bercita-cita menjadi penulis terkenal, semoga dengan usaha kecil ini ia bisa menggapai impiannya.
ingin kenal lebih lanjut bisa berteman di facebook Muliani As-syifa. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Kata Hati Untuk Ayah di Syurga""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel