CERPEN "Penjejak Cakrawala" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Penjejak Cakrawala"

CERPEN "Penjejak Cakrawala"
PENJEJAK CAKRAWALA
Karya PRD

Fenomena dunia  mengisi liputan jagat raya. Membalut informasi, membahas kehidupan bumi.  Kisah fakta maupun desas desus kabar burung, setiap hari menjadi sumber kehidupan penting yang tak bisa terlewatkan. Rentetan kertas selebaran, koran dan selogan hingga kotak elektronik yang bersuara nyaring menyala, seakan tak pernah berhenti hingga kehidupan ini berakhir nanti. Tatap mata mereka haus informasi, telinga yang siap siaga mendengar setiap lontaran orang-orang penting penentu nasib bangsa ini. Fokus memerhatikan, kemanakah  langkah bangsa akan dibawa pergi ?. Kira-kira begitulah ungkapan ketika mata dan telinga mereka sedang menangkap suatu kejadian, seakan dunia ini telah tergantung dengan setiap kabar yang diberitakan.

“ Banjir melanda kawasan pekanbaru dan sekitarnya”, “ harap para pengguna jalan berhati-hati melewati titik padat kemacetan jalan Sudirman”, “ tertangkapnya anggota DPR dalam kasus suap PON, apakah uang rakyat hanya untuk mereka yang berkuasa ?”, “ Harga sembako yang terus melonjak naik, membuat masyarakat khawatir dengan kebutuhan pangan yang meningkat”, “ kemana peran pemerintah selama ini dalam menegakkan keadilan ?” “ benarkah dibalik asap Riau terjadi kongkalikong besar antara penegak hukum dengan para penggerus lahan ?”, “kami rakyat kecil, dan ketika kami menyaksikan berita tentang naiknya semua kebutuhan pokok, kami hanya dapat meringis dan berharap pemerintah dapat menanggulanginya dengan cepat”, “ presiden RI beserta para mentri melakukan kunjungan keluar negeri di tengah krisis ekonomi, apakah rakyat tidak penting lagi ? ”, “ teroris”, “kejahatan dan pembunuhan”. Semua bersuara riuh, memecah dimana-mana.

Itu bukanlah bualan belaka tak berlandasan, dibaliknya ada mereka,orang-orang yang berjuang untuk rakyat yang menunggu kepastian, berlari kesetiap sudut negeri hingga tak ada lagi nanti tempat untuk di kunjungi. Menjadi yang tercepat dan akurat, berkutik dengan mata yang terus menyala dan telinga nyaring menunggu untuk aksi, telpon berdering menandakan mereka akan berjalan lagi.

Dulu aku selalu ternganga di depan elektronik kotak yang disebut TV itu, berhayalkan angan yang jauh dari kenyataan,” bagaimana bisa orang-orang  masuk kedalam kotak yang hanya seukuran meja kecil ? “, “ dan bagaimana mereka bisa berjalan dari suatu tempat ke tempat yang lain ?, wah itu adalah pekerjaan keren!”. Pertanyaan yang menggelitik lambat laun berubah menjadi suatu kepastian informasi, seiring aku bertumbuh hal-hal itu menjadi lebih terang dalam akalku, “ bukan mereka yang masuk kedalam sana, namun ada suatu sistem yang terhubung menyebabkan mereka muncul dalam kotak itu, tapi itu masih pekerjaan yang keren”.

Kini semua bukan lagi hayalan, aku telah berdiri disini, berlari kesana kemari untuk memastikan suatu kejadian, menghilangkan dahaga mereka yang haus akan informasi itu. Dan inilah kami, para pemberita, namun tak hanya sekedar itu kami juga Sang pencari, pencari yang akan terus mengejar setiap detik yang membuat perubahan dunia ini. Dari kami dunia ini menjadi melihat, mendengar dan tak hanya buta dengan kepalsuan dan segala macam mantra-mantra penenang yang mereka-mereka berikan untuk menutupi segala kemunafikan yang ada

“Berita tentang korupsi lagi Jo ?”, “ yah, kurasa begitu Zik, tak ada hentinya kasus ini, muak sudah rakyat mendengar kasus petinggi berbibir manis yang hanya memanfaatkan harapan mereka, kemudian tersenyum licik mengeruk harta hak rakyat”, Jo hanya kuasa mengangguk mendengarku menggerutu karena kekesalan ini. Dia Jordan kameramen seperjuanganku, dan aku adalah Zikra Sang pencari, kami berdua adalah orang-orang yang terus berlari dengan pasti. Namun terkadang berita-berita tentang petinggi yang korupsi, membuat kami tak habis pikir. Kapan kiranya isu tentang mereka di negeri ini bisa berakhir, bukan hanya mereka yang duduk di gedung DPR, orang-orang berbadan tegap Sang penegak keadilan “KATANYA”, juga tak kuasa menahan godaan itu.
“Nasib kita ya buk, wes rakyat jelata, opo kata orang besar ya ikut aja, “, “wes pak, kita yo nggk bisa apa-apa, di dengar pun tidak, mereka bisa berleha-leha dengan kekayaan, lah kita ? suara rintih tangis kita, mbok yo macam angin lewat saja pak, tak  berguna”. Siang itu aku mendengar suara-suara kecil mereka yang terlupakan oleh penguasa negri ini, hak mereka yang tak tahu lagi apakah berarti atau tidak bagi orang-orang tinggi itu, dulu hanya janji yang bisa membuat mereka berpijak dengan satu harapan yang kecil juga, “semoga janji kali ini bisa engkau jaga, karena sungguh kami sangat berharap akan itu”, namun kepercayaan mereka menjadi sia-sia, berkali-kali tertipu berkali-kali jua mereka percaya, “tak bisakah kalian mendengar suara itu, mungkin hanya bisikan, tapi tolong dengarlah !”.

Untuk kesekian kali, ratap yang terdengar itu menguatkan tekadku, tekad kami yang berjuang tiap hari, berlari mencari setiap lekuk, celah atau apapun itu peristiwa yang ada. Jika mereka tak bisa mendengarkan suara-suara kecil itu, maka disinilah kami akan berperan, berteriak dan membuat mereka terpaksa dan harus mendengar, melihat, bahkan tertekan. Bukan untuk menyiksa, bukan kami menyudutkan, namun kami ingin membuka mata dunia ini. Lihatlah, dengarlah dan tolong bertindakalah.

“ Berita tentang pembakaran lahan di Riau, klarifikasi tentang kebenaran kabar bahwa adanya permainan antara aparat dan bos lahan tersebut, 18  tahun sudah rakyat Riau tersiksa akibatnya, jika semua adalah kerja sama aparat, maka kita harus membuka kebohongan mereka kepada rakyat”, “ Zikra tolong hubungi Jordan dan segera berangkat ke Riau, dan dapatkan data seakurat mungkin”, “ baik pak”, “ dan tolong hubungi kru barat dan timur, tolong tinjau kasus penggusuran lahan kumuh pinggiran jakarta dan ikuti sidang Jenika”, “ apakah kita tetap mengikuti sidang Jenika bos ?, bulanan sudah dan hanya memperbodoh aparat hukum”, “ proses hukum orang kaya, membuat iri orang miskin saja”, “ semua bagai disapu dengan uang”, “ bahkan negara ini sebentar lagi juga akan disapu dengan uang”.

Begitulah spekulasi orang yang prihatin dengan fenomena kehidupan yang tak berhenti, hidup yang semakin tak berarti hingga keadilan yang hilang di tinggal pergi. Semua buta, dan sengaja buta karena enggan untuk melihat sekelilingnya. Telinga yang tertutup rapat bagi mereka yang berkuasa. Namun disini kami masih berdiri dan terus berlari untuk mengejar setiap informasi, mungkin mereka buta dan tuli, tapi tak selamanya mereka sanggup untuk menutup mata hati, jika pun ia, kami masih percaya ada orang diluar sana yang ingin untuk mengetahui.

“PEKAN BARU KOTA MADANI”, mendarat kami di kota setengah jakarta ini, penghasil minyak bumi katanya, salah satu Provinsi terkaya di indonesia, namun hampir seluruh kekayaan negrinya di gerus orang-orang asing. 18 tahun sudah, misteri asap menyelimuti negri Melayu ini, ribuan orang menderita dibuatnya, dan 18 tahun juga tak ada kepastian tentang apa penyebab kebakaran besar yang membunuh hutan mereka. Berita tersebar kepenjuru negeri, bahkan negeri sebelah juga terusik, hujat mereka terdengar menambah permasalahan. Tahun berganti, namun kejadian ini tetap terjadi, pertanyaan besar tak dapat terhindar lagi, “APAKAH PEMERINTAH TAK MENDENGAR INI ?”.  “ haruskah kami bertindak sendiri ?”, “ kami ingin berdiri sendiri”, “ biarkan Riau berpisah dengan NKRI”, “ surat untuk bapak presiden...”. Rintih mereka menggema, harap untuk didengar dan tolonglah bertindak untuk kami, namun untuk kesekian kali mereka tak pernah bergeming. Jadi, apakah salah bagi kami untuk berbicara ? ungkap semua hal yang tertutup itu.

Hari esok menjadi hari panjang, semua peralatan telah terkemas. Aku dan Jo bersiap menuju medan tempur, bukan untuk berperang tapi untuk menjejak. Sekali lagi menjejak di salah satu sudut negeri ini, mengumpulkan setiap kata-kata mereka yang sangat berpengaruh dan selalu ditunggu. “ Permisi pak kami dari saluran TV Pembela Rakyat, bisa minta waktu atasan sebentar pak ?,” maaf pak, kami ingin meminta sedikit penjelasan tentang kasus kebakaran lahan di Riau, apakah bisa pak ?”,” maaf pak kami hanya ingin meminta keterangan dari kepolisian pak”, “maaf pak, permisi pak”,” dari mana dek ?”, “ anda wartawan ya ?”, “ maaf tidak bisa”, “ maaf-maaf, sibuk”,” tidak ada “ , “tolong, bisakah anda pergi dari sini ?”. Dan begitulah memang sikap sombongnya orang-orang itu, hanya jawaban singkat nan angkuh serta pengusiran  yang kami terima setelah memohon kepada meraka. Meraka tak perduli kemudian pergi berlalu, namun bukan berarti harap pupus sampai disini, semangat kami adalah semangat juang45, membawa nama keadilan bagi rakyat yang ingin tahu kabar sebenarnya. 

Lain tempat juga mereka jelajahi, grup barat dengan Eko sang pencari, berjalan tegap dengan Diki yang setia. “ Kasus Jenika Ko ? sidang keberapa ?”,” yang ke 26 Dik, hari ini kita stay di sidang, terus nanti wawancara pengacara Jenika ya, standby kan alat ya Dik”, “ siap kapten”. Kembali kami mengikuti permainan teka-teki untuk keadilan ini, ntah siapa yang berdusta tak bisa kami nilai dengan pasti. Wajah mereka polos tak berdosa, selalu berkelik kalau merekalah yang paling benar. Sedang ia yang telah pergi di atas sana mungkin terheran dengan topeng-topeng pemain teater di pengadilan itu. Mereka hanya sibuk berpamer diri dengan kehebatan mereka. Bukan kami mendukung permainan ini, tapi kami disini hanya ingin memberitahukan kepada publik, betapa liciknya keadilan di negri ini. Kami ingin mengetuk pintu hati orang-orang yang bermuka dua itu, tak malukah wajah mereka selalu muncul di sana-sini ? ataukah bangga mereka melihat senyum palsu yang mereka lontarkan itu ?. Apakah kalian hanya bisa membanggakan kekayaan saja ?, sedang mereka yang tak berpunya hanya bisa pasrah jika bersalah.

Kembali kami di hari selanjutnya, sinar mentari pagi mengajak kami bersemangat untuk saling menghadap dan menatap. Kembali berdiri kami di gerbang tinggi Kepolisian Daerah Riau yang megah ini, melihat sejenak kegiatan di dalamnya. Tak ada kejanggalan, semua berjalan seperti biasa, sungguh wayang di negeri ini sangat pandai bersandiwara. Mendekat sedikit kami ke pagar besi itu, berharap mereka dapat melirik niat ini, kami bukanlah orang yang ingin menjatuhkan mereka, kami hanyalah pencari jawaban akan kebenaran yang kalian sembunyikan. Langkah kaki yang masih tegap dengan semangat dan sekali lagi harapan untuk mendapatkan informasi dari mereka yang berkuasa ini.

Sejenak mata melirik keseliling tempat itu, tak sengaja tatapanku tertuju akan suatu pemandangan yang mengusik keingin tahuan. Aku melihat sosok bapak tua di pojok pagar yang tinggi itu, ia juga memandang miris kearah pagar besi tinggi tampat para penegak keadilan yang perkasa itu bernaung. Ntah mengapa hatiku berbisik untuk menemuinya, apakah ada jawaban darinya atau tidak, aku pun tak tahu. “ Jo, ayo temui bapak itu sebentar”, “ untuk apa ?, kita harus menemui atasan Kapolda dulu Zik”, “ sebentar saja, hatiku mengatakan ia punya jawabannya”. 

Ia adalah mantan penegak keadilan juga, dulu ia berjulukan Kompol Purnawirawan Arjuna. Nama dan gelar yang cakap untuk seorang penegak keadilan, namun ntah mengapa ia harus hengkang dari tempat itu. Alasannya mengejutkan kami, ia tak ingin terlibat lagi dengan tangan-tangan kotor mereka yang berpura berbuat kebaikan.


Sedikit lagi kami mengulik, dan ia pun mengatakan kebenarannya. “ Tak ada lagi kebenaran dan kepercayaan di negri ini, jika kalian ingin percaya kepada penegak hukum maka percayalah dengan menggenggam 1000 alasan untuk curiga, karena kita tak pernah tahu siapa saja yang memiliki topeng itu, siapa saja bisa bersenjata dua”, “ kalian tahu, asap Riau ini telah berlangsung belasan tahun, dan selalu terulang, mungkin kalian mempunyai segudang pertanyaan mengapa itu terjadi, yah, memang ada  yang harus kalian ungkapkan dari hal itu, selama ini masyarakat hanya diam dan mengira semua ini hanyalah bencana, namun tidak, ini adalah tipu muslihat dan settingan belaka pera petinggi itu, mereka yang telah melindungi orang-orang asing perusak hutan melayu ini, saya tahu pernyataan saya saja tak cukup untuk membuktikannya, kalian tetap harus mendapatkan buktinya, saya tahu kalian bukanlah seorang polisi, bukan juga seorang penyidik tapi kalian sangat berpengaruh bagi bangsa ini, kalianlah pembuka mata rakyat, maka teruslah berjuang untuk itu”. 

Sungguh ucapannya mengetuk hatiku kembali, inilah sosok yang seharusnya bertahan di negri ini, sosok yang harusnya ada mengemban beban dan merelakan punggung mereka untuk memangku tanggung jawab akan keamanan rakyat . Namun sayang, mereka hanya bisa terbuang dan terasingkan. Walaupun hanya sedikit informasi, namun itu adalah titik terang dari teka-teki panjang ini, dan kami akan terus berjuang untuk membongkarnya dan  mereka akan malu melihat diri mereka yang perkasa itu nantinya. Karena setiap teka-teki mempunyai jawaban, dan kami berperan menemukan dan mengatakan jawaban itu.

Semua teka-teki mempunyai jawaban, itulah kepercayaan kami dan hari ini semua itu telah terbukti. “5 Oktober 2016, hakim memutuskan terdakwa atas nama Jenika Kumala wongso divonis hukuman penjara selama 20 tahun, tok,tok,tok..”. Putusan hakim itu mengungkap segalanya, mereka yang kemarin tersenyum licik kini hanya dapat tertunduk, putusan telah jatuh dan kebenaran telah terungkap. Wajah mereka lantang menjadi buah bibir diseluruh negeri, rona bahagia juga terpancar dari mereka yang menantikan putusan keadilan itu, mereka yang berharap lama keadilan untuk berpihak. Usai sudah teka-teki panjang ini, “ ini adalah liputan terakhir kita disini Ko, kuharap kasus seperti ini tidak pernah terulang lagi dan jangan sampai teater baru mereka ciptakan lagi”. “ kau benar dik, geram sudah rakyat menontonya, namun kini semua telah lega, karena yang salah tetap akan bersalah dan kita akan mencari kasus dan berita yang baru lagi”, “ yah, ini belum akhir dari kita, waktu masih berjalan dan kita akan tetap akan berlari dan kembali menjejak lagi”.

Langit sore Pekanbaru menawarkan sinar sendu Sang mentari, kembali kami menuju Ibukota . Banyak hal yang membuat kami semakin mengerti akan pentingnya peran yang kami lakoni ini. Kami bukanlah perusuh, kami bukanlah pengadu domba, kami bukanlah pemanipulasi kebohongan. Tapi kami adalah Sang pencari, yang akan selalu menjejak di cakrawala dunia ini, kami akan terus bertempur dengan waktu, demi kepastian-kepastian yang dinanti oleh bangsa ini. Dan kami tak akan pernah berhenti untuk berdedikasi, karena setiap informasi telah menjadi landasan pasti untuk membangun bangsa yang besar ini menuju peradaban dunia.

Profil Penulis:
PRD

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Penjejak Cakrawala""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel