CERPEN "Doktrin Modern"
CERPEN "Doktrin Modern"
DOKTRIN MODERN
Karya Agnes Oktavia Inggar Damayanti
Dalam kehidupan fana ini, semua diciptakan berlawanan ada laki-laki dan perempuan, ada baik dan buruk, serta ada pro dan kontra. Manusia merupakan makhluk berakal yang memiliki batas intelektual. Perbedaan ini tersirat dengan adanya cendekiawan dan orang awam. Tidak bisa dipungkiri, manusia berilmu lebih diakui dan disegani di mata dunia. Hal ini sudah terpampang nyata dalam salah satu sumber realigi yaitu Al-Qur’an, surat Al-Mujadalah ayat 11 :
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan rang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Begitu pula, ajaran realigi lainnya juga menuntut kita (manusia) untuk pintar. Terbukti dalam firman Tuhan yaitu Al-Kitab, Lukas 12:54
“Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata bahwa akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi.”
Maka dapat disimpulkan bahwa manusia laksana air tenang yang dapat merombak lautan. Pikirannya merupakan cekaman perkasa bagi bentala. Oleh karena itu, manusia dituntut pintar agar tidak terbelakang.
Cerita menarik ini berawal dari sosok manusia yang sedang mengemban ilmu di tingkat menengah ke atas, yaitu Fatima dan Gemma. Sesuai dengan arti namanya, mereka gadis cerdas, pintar, dan kritis terhadap diri sendiri dan orang lain. Perbedaan agama bukanlah ihwal penting dalam kehidupan social mereka, hidup toleransi menjadi dasar persahabatannya. Fatima dan Gemma memiliki kebiasaan unik yang sama, yaitu beradu argumentasi tentang isu-isu global yang sedang trend di media social. Justru, mereka saling berbagi bersumber dari masing-masing kitab keyakinannya, tidak lain semata-mata hanya untuk menambah wawasan saja, bukan saling menjatuhkan.
Pada suatu hari yang mendung, kelas 12 SOS-1 sedang jam kosong, karena sang guru tidak masuk untuk pergi honeymoon.
“Fat, lu ngapain sih gua liat sibuk sendiri dari tadi?”, sapa Gemma
“Eh elu, nih gua lagi streaming You Tube.”, balas Fatima
“Anjay, lagi kaya kuota nih anak. Btw, hotspotlah Fat!”, rayu Gemma
“Nah, kebiasaan buruk nih lu.” (Fatima tertawa kecil sambil menghidupkan hotspot pribadi)
Sembari mereka streaming, kedua remaja yang memiliki huruf awalan pada namanya berurutan itu tertarik pada salah satu trending topics di You Tube.
“Gem, tau isu global yang trending sekarang gak?”, Tanya Fatima
“Tau dong, masalah Konspirasi Bumi Datar kan.”, jawab Gemma
“Yaps! Sumpah gua excited setelah liat video-video ini. Bayangin aja, ratusan tahun Teori Bumi Bulat tertanam di memori anak bangsa lalu semua ilmuwan dunia meneliti secara ilmiah dan telah diratifikasi serta diakui dunia hingga sekarang ternyata, muncul argument baru bahwa bumi itu datar. Gimana gak bingung coba?”, terang Fatima
“Iya, gua awalnya juga mikir gitu. Jadi, selama ini kita dibohongi dan dijajah mindset kita oleh kaum liberal. Dulu waktu gua masih SD, masalah ada orang yang berhasil menapakkan kakinya di bulan sempet takjub sih soalnya emang masih ingusan dan wawasan masih sempit. Tapi setelah gua SMP terbesit pikiran ragu. Masak iya sih, orang bias pergi ke bulan? Tapi kalo liat teknologi yang semakin canggih, bias aja emang bener.”, kata Gemma dengan nada serius.
Perbincangan mereka terhenti sejenak karena ada salah satu guru masuk ke kelas. Pergantian jam terasa cepat, mereka harus berhadapan dengan pelajaran lintas minat, Biologi. Kali ini mereka mendapatkan bab tentang Gerhana. Aspek yang memiliki korelasi dengan pokok pembahasa mereka. Dalam penjelasan guru mereka, gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari, begitu pula sebaliknya gerhana bulan. Dalam pendidikan, bumi mengelilingi matahari dan NASA dapat menghitung jarak bumi ke bulan atau matahari. Semua ini mengacu pada Teori Bumi Bulat. Hal ini tentu sangat mengecoh pikiran Fatma dan Gemma.
…
Minggu yang cerah dihiasi kilau sinar mentari, membangkitkan semangat Fatima untuk tidak bermalas-malasan. Dia mencoba mencari tau lebih jauh tentang Flat Earth. Dia berusaha menggali info lebih dalam dari berbagai sumber, tidak terkecuali menurut pandangan agamanya, Islam. Sama halnya dengan Gemma, dia bersikukuh mencari kebenaran higga bertanya pada gurunya di sekolah minggu atau gereja.
Kesokan harinya saat jam istirahat. Mereka berdua ergi ke perpustakaan untuk melihat buku-buku sains.
“Liat ini Fat! Disini dijelaskan kalo bumi itu globe, bumi beredar pada porosnya. Ini juga ada bukti foto waktu Neil Amstrong berhasil mendarat di bulan sambil mengibarkan bendera AS.”, ucap Gemma dengan serius
“Tapi coba kita teliti lagi, bulan adalah ruang hampa udara dan tidak ada oksigen. Tapi kenapa bendera ini bisa berkibar? Ini hanya rekayasa CGI. Liat ini, Flat Earth Society membantah argument Ball Earth.”, kata Fatima
“Secara fisika ini disebabkan karena kekekalan momentum sudut. Bisa saja karna di bulan tidak ada udara, maka tidak ada gesekan yang menghambat kibaran bendera sehingga terjadi gerakan lambat berhenti lalu terekam dalam gambar. Tapi jika ini hoax, bagaimana dengan peluncuran rocket ke luar angkasa yang kita lihat selama ini di You Tube?”, balas Gemma
“Menurut hasil dari FES, ternyata rocket itu tidak terbang vertical melainkan melengkung. Karena, hakikatnya langit itu tidak bisa ditembus. Selain itu, gua kemarin liat kalo Antartika itu ada di pinggiran bumi. Terbukti bahwa pesawat yang terbang ke seluruh arah akan berujung di Antartika.”, tegas Fatimah
“Padahal, di kurikulum pendidikan Antartika berada di sudut atas globe. Gua canggung, Fat. Mana yang mesti gua yakini, gua niat cari ilmu bukan untuk dibodohi!”, balas Gemma dengan nada kesal.
Perdebatan yang menyita waktu istirahat itu terus berlangsung. Mereka beradu argument hingga tidak menyadari bel masuk.
“Fat, sekarang begini lu percaya ga sih bumi datar?”, tanya Gemma
“Ya, setelah melihat bukti-bukti. La lu gimana?”, Tanya Fatima
“Tidak! Gua emang gak percaya kalo Neil perah ke bulan. Tapi gua percaya bumi itu bulat.”, balas Gemma
“Ini jelas Gem. Flat Earth Society sudah berhasil membantah teori itu dengan sekian bukti. Ini semua trik penguasa dunia, trik kaum liberal dengan sengaja membuat ilusi bumi bulat melalui dogma-dogma sains modern untuk kepentigan tertentu, yaitu bisnis triliunan dollar yang disembunyikan oleh Amerika.”, balas Fatimah
“Gua gak mau terpengaruh doktrin modern, sehingga gua melupakan ajaran agama gua. Logikanya, dunia ini sudah penuh kesandiwaraa Fat. Negara-negara liberal berlomba-lomba menjadi penguasa dunia, bisa saja ini semua juga trik mereka untuk mengecoh pikira manusia di seluruh dunia, dan tanpa kita sadari kita sedang dalam permainan kaum liberal. Manusia kaan melakukan segala cara untuk mencapai keinginannya. Hanya sumber agama kitalah yang terpercaya!”, kata Gemma
“Iya gua paham. Emang gak seharusnya gua percaya 100%. Maafin gua Gem kalo terlalu fanatik dengan teori ini.”, ucap Fatimah dengan menyesal
…
Perbedaan argument bukan suatu hal tabu. Manusia diberi akal untuk berpikir atas kekuasaan Tuhan. Manusia diberi sumber agama sebagai pedoman. Namun, semua dikembalikan pada diri sendiri, kea rah manakah kita akan menuju?
Berjalannya waktu menyadarkan pola pikir kedua gadis SMA itu. Mereka bertemu untuk suatu penyelesaian.
(Gemma berjalan menemui Fatimah yang sedan duduk di gazebo)
“Baca apa lu, Fat?”, tanya Gemma sambil memegang bahu Fatimah
“Nih, ovel karya Habiburrahman El Shirazy. Lu dari mana?”, tanya Fatimah
“Gua dari ruang bu Kristin, gua tanya pandangan Al-Kitab tentang bentuk bumi. Emang bener, dalam agama gua bentuk bumi itu bulat. Terbukti pada Yesaya 40:22, yaitu dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknnya seperti belalang. Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman.”, jelas Gemma
“Oh begitu, baiklah itu hakmu untuk meyakini Gem. Aku juga sudah menemukan jawaban dari s semua ini, pertama gua liat video Dr.Zakir Naik dia menerangkan bahwa bentuk bumi bulat gepeng atau seperti telur unta seperti yang dijelaskan dalam surat An-Naziat 79:30. Gua udah liat di Al-Qur’an dan memang benar.”, balas Fatimah
“Nah, semua sudah terjawab. Itu juga hak kita mau meyakini yang mana berdasarkan agama kita. Jadi kita juga tidak boleh terlena dengan doktrin modern serta percaya begitu saja.”, jawab Gemma
Profil Penulis:
Semoga menambah wawasan kalian.
Follow instagram : agnesoktaviaa
0 Response to "CERPEN "Doktrin Modern""
Post a Comment