CERPEN "Mencari Sila Ke Lima" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Mencari Sila Ke Lima"

CERPEN "Mencari Sila Ke Lima"
MENCARI SILA KE LIMA
Karya Tommy Duang

Hari sudah senja. Siang hampir lewat, malam datang membayang dan terang tampaknya kehabisan cahaya. Jalanan sepih. Bising telah lelap dan ribut sudah tertidur. Semuanya seakan tak peduli dengan apa yang tengah terjadi. Atau mungkin mereka sudah terlampau lelah menggantungkan harap pada langit yang bisu dan bumi yang tuli. Atau bahkan muak dengan segala tanya dan jerit piluh serta lolong duka. Dan juga jijik pada luka, nanah dan borok nurani manusia. Kini, di remang senja ini hampir semuanya tak tersisa, selain semilir angin mencumbu resah lelaki beruban itu.

Dia terdiam di antara mimpi yang tertinggal dan harap yang padam. Bukan karena malas dalam darah. Bukan pula karena bodoh di kepala atau kerdil di nurani. Hanya saja karena dia terlempar dan berdiam di bentangan tanah yang selalu saja menutup mata pada benar dan salah, baik dan buruk. Sepanjang hari ini—satu-satunya hari yang dimilikinya—dihabiskannya dengan melemparkan segenggam tanya pada legam aspal jalan. Kepada rumput yang bergoyang. Batu yang tak peduli. Aliran air yang resah dan karang yang congkak. Bahkan berani meminjam catatan rumpun ilalang dalam nyanyian para musisi. Sial. Semuanya menggeleng. Semuanya terdiam. Semuanya menjawab tak mengerti.

Lalu? Ke manakah dia berlari ketika sejuta tanya membungkam nalar? Dia pernah berpikir untuk meminjam perahu nelayan dan menyeberang ke negeri para dewa. Dan dari sinilah dia memulai cerita panjangnya. Cerita tentang lelaki tua yang beruban dalam pengembaraan mencari sayap garuda yang patah, di negeri yang tak lagi bertuankan nurani. Dan juga awal kisah tentang ziarah pencarian nama untuk sebentang tanah. Indonesia tanah air beta. Tanah yang bungkam ketika lapar dan dahaga ditertawakan oleh mereka yang dipertuankan. Tanah yang tuli dan membisu ketika kerinduan akan kehidupan dibantai serakah para tuan berdasikan merah. Dan juga tanah yang mengkomedikan air mata anak jalanan, di gelanggang para dewa. 

Lelaki tua itu menambatkan perahunya di dermaga pelabuhan negeri dewa. “Hai pengembara, untuk apa engkau datang sejauh ini, mendayung perahu dengan lenganmu yang rapuh dan membelah ombak dengan keringat di wajah? Dan siapakah yang ingin kau temui?” tanya penjaga pelabuhan. 

“Aku ingin berjumpa dengan tuanmu.” 
“Untuk berjumpa dengan tuanku, ada harga yang harus kau bayar. Zaman sekarang tidak ada yang gratis—pelaut koq harap gratisan. Termasuk informasiku ini. Dulu pernah ada seorang pemuda bodoh dengan sejuta tanya di kepala dan kerut di dahi, pergi berjumpa dengan tuanku. Dan dia tidak pernah kembali lagi. Selamat berjuang. Aku yakin engkau mencari sesuatu yang baik.” 
“Hai pelaut, siapakah engkau sehingga merasa pantas berlabuh di kediaman yang agung?” tanya sidang para dewa. 
“Hak atas keadilan.” Jawabnya. Letih. 
“Tentang keadilan. Konsep lama yang tidak lagi mendapat tempat dalam peradapan sekarang.” Para dewa menimpali. “Hari sudah senja. Dan engkau masih berbicara tentang hal-hal seperti itu? Tidak apa-apa. Untuk mendapat jawaban, ada harga yang harus engkau tebus. Bahkan dengan kepalamu sendiri.”
“Apakah keadilan itu ada di sini?”
“Sssst. Di sini tidak ada apapun selain keserakahan. Pergilah kepada para sofis yang selalu melamun di tebing waktu. Mungkin mereka tahu di mana keadilan itu disembunyikan.”

Pelaut tua itu kembali mendayung perahunya dalam keletihan. Dia tidak mendapatkan apa-apa selain kehilangan banyak hal sebagai tebusan atas keberaniannya menyambangi negeri para dewa. Dia menghitung pengeluarannya hari ini. Dua butir air mata sebagai harga sewa perahu nelayan. Sereguk keringat yang diminta penjaga pelabuhan. Dan harga diri yang diinjak sidang para dewa. Sekarang apa yang tersisa? Hanya secangkir semangat yang membawanya ke kediaman para sofis. 

“Keadilan. Terakhir kali kami melihatnya terbaring resah dalam legam sayap-sayap garuda yang tak lagi muda. Kami tidak pernah tahu kapan kebajikan bernama keadilan itu keluar dari sana dan menikmati pekat kopi pagi di meja makan isteri dan anak-anakku. Hanya itu yang kami tahu dan menjualnya mahal kepada para pencari kebajikan.”
“Dan di belantara manakah garuda itu bersarang?”
“Garuda itu hanyalah pajangan belaka. Parafernalia untuk ruang kuliah dan kantor para tuan. Di sanalah dia berada. Di dinding itu. Dan tidak pernah peduli dengan kesusahan kita. Dia mengetahui banyak hal. Pemahamannya akan sebentang tanah ini melampaui yang benar dan yang salah. Tetapi dia tidak pernah peduli dengan kita.” 
“Siapa yang memajangnya di sana?”
“Dengarlah wahai pengembara. Dia sudah ada sebelum aku datang. Bahkan mungkin sudah ada sebelum adanya waktu. Dan dia akan tetap terpajang di sana. Bahkan tak peduli aku kehabisan waktuku. Selamanya dia akan menjadi pajangan, parafernalia untuk ruang kuliah dan kantor para tuan.”
“Guru, aku telah mendatangimu dengan letih di jiwa dan penat di badan. Inikah jawabanmu? Memenjarakan aku dalam rimba pencarianku sendiri? Katakan padaku berapa harga yang harus kubayar dan kemanakah kaki ini akan kubawa berlari untuk menguraikan sejuta tanya di kepala beruban ini?”
“Bayarlah aku dengan segelas pekat dari meja makan isterimu. Dan engkau wahai pengembara yang malang, pergilah kepada para imam, nabi yang memahami banyak hal tentang Tuhan, filsafat dan dunia. Merekalah generasi terakhir yang mewarisi keadilan dan kebajikan hidup Sang Maha. Mungkin mereka akan menuangkan pada dahagamu segelas anggur dari cawan malam terakhir. Atau membasuh debu di keningmu dengan darah yang tercecer di via dolorosa. Atau bahkan menyelimuti luka nuranimu dengan kain kafan yang dicuri dari kubur kosong dan membaringkan letihmu di palungan anak domba.”
“Berlarilah dan berlari ke kedamaian yang hening di tengah belantara yang tak terjamah.” Teriak mentari yang sudah meninggi. “Mungkin mereka masih menyimpan sejumput harap untuk memuaskan dahagamu itu. Jangan bertanya banyak hal karena mereka hampir selalu kekurangan waktu. Cukup menempatkan kejujuran di resah mata dan mereka segera mengerti akan pening di kepala dan galau di nuranimu.”

Tidak pernah ia bayangkan. Ternyata untuk mencicipi keheningan itu banyak harga yang harus dia bayar. Mulai dari tenaga mendaki gunung dan menuruni lembah. Setetes darah untuk membasahi cawan emas di altar. Sereguk peluh yang tertumpah di penggilingan gandum. Secangkir semangat menyusuri jalan sengsara dan seonggok daging terabik di ujung cambuk para tirani. Sampai pada dua tetes terakhir dari resah bola mata untuk menangisi Kristus yang tersalib sendirian. Untuk kedua kalinya. 

“Tentang keadilan itu, banyak ditulis dalam buku-buku tua yang dipoles dengan keanggunan yang rapuh. Tidak sedikit pula otak yang berpikir tentang hal itu dan mulut yang membicarakannya, bahkan konsep-konsep itu dijual dengan harga lebih mahal dari tiga puluh keping perak. Jika engkau datang dan bertanya, di manakah keadilan itu, ya di sana, terperangkap di dalam konsep-konsep yang sengaja dirumit-rumitkan.” Kata sang imam kepala. 
“Bukankah kalian selalu membicarakannya dari mimbar di Minggu pagi?”
“Sssst sudahlah. Banyak dari antara kami yang hanya pandai berkotbah. Mencuri decak kagum umat dengan etika dan estetika beretorika. Tetapi kata-kata kami kadang tidak meresap dalam jiwa. Bagaikan roh yang melayang-layang di atas permukaan air, tanpa menyentuh keruh hati kami. Dan ketahuilah wahai pencari keadilan yang kesorean, masih ada banyak hal lain lagi yang belum saatnya engkau mengerti.”
“Bapa, hari telah senja. Terang beranjak hilang dan malam hampir datang. Dengan apakah aku membasuh letihku, ketika segala tanya tak bersua jawab? Haruskah aku pulang membawa resah di kantong celana untuk dituangkan dalam bokor nasi di meja makan isteri dan anak-anakku?”
“Anak, semua tanya memiliki jawabannya di teduh mata dan bening hati Sang Maha. Pergilah ke sana dan bertanyalah. Dia berdiam di ketenangan yang bernama surga.”
“Surga? Di masa yang teramat lampau, aku pernah mendengarnya dalam dongeng ibuku. Dan di manakah jalan menuju surga itu?”
“Ya ampun, aku hampir lupa bagaimana rupa jalan itu. Hanya tiga ingatan tentang jalan itu. Sempit. Ditumbuhi semak-semak. Jarang dilalui. Maafkan aku karena kelalaian ini. Seharusnya aku menghabiskan banyak waktuku untuk berkontemplasi tentang bagaimana jalan ke surga, bukan tentang bagaimana surga itu berjalan.”

Ketika sang pengembara sampai di pelataran kediaman Sang Maha yang agung, dia menumpahkan segala tanya dengan air mata yang kering. Dia seperti seorang pasien di ruang kerja dokter. Menumpahkan sejuta keluhan dan selaksa tanya di kepala.

“Tuhan sekiranya Engkau mendengarkan aku, aku datang bukan dengan selangit pujian dan rayuan memelas. Korban bakar dan persembahan tidak Kau sukai. Pujianku tidak menambah kemuliaan-Mu. Karena itu, aku mendatangi-Mu dengan seneraka marah yang siap kumuntahkan pada keagungan pesona-Mu. Kau dengar. Seharusnya kau malu, menelanjangi kami di bawah matahari, demi sesuap nasi dan sejumput asa. Sementara orang-orang-Mu itu, kenyang, menguap dan tertidur di balik mantol kebapaan-Mu. Kau, iya Kau Tuhan! Di mana adil-Mu?
“Akan tetapi, maaf. Terlalu lancang aku menyapa-Mu. Kelancangan ini ada karena aku tidak tahu lagi ke manakah aku berlari. Hanya Engkaulah harapanku. Aku tahu, aku takkan pernah Kau buang keluar. Karena itu ya Tuhan, di pintu-Mu aku mengetuk. Aku tidak bisa berpaling.

*Judul ini diadopsi dari judul sebuah novel karya Audrey Yu Jia Hui: Mencari Sila Kelima: Sebuah Surat Cinta Untuk Indonesia.

Profil Penulis:
Facebook: Tommy Duang

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Mencari Sila Ke Lima""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel