CERPEN "Keajaiban Cinta Ibu"
CERPEN "Keajaiban Cinta Ibu"
KEAJAIBAN CINTA IBU
Cerpen Karya Fackrullazi
Ruang praktek Dokter Rahmadi speasialis penyakit tulang sore ini sedikit ramai. Di ruang tunggu ada sekitar sepuluh pasien yang duduk dengan sabar. Aku menatap wajah mereka satu per satu. Wajah-wajah lesu namun menyimpan harapan. Ada yang kakinya begitu lemah hingga untuk bangkit pun mesti dipapah, ada yang kakinya bengkok membentuk huruf O atau X dan beberapa pasien lain yang tak aku ketahui apa penyakitnya.
Kutatap kedua kakiku. Tungkai lurus dan panjang yang seolah tak menyimpan tenaga sedikit jua. Selama ini jangankan untuk berlari, bermain selayaknya anak seumurku, untuk berjalan aku harus dibantu dengan kruk atau berpegangan di tepi meja, kursi, atau dinding. Seringkali aku memilih untuk beringsut di lantai untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketimbang harus menghabiskan tenaga hanya untuk melangkah satu dua. Aku menoleh ke samping.
“Bur berdoa ya, Nak. Semoga dokter yang ini bisa bantu sembuhin kaki Bur,” suara lembut mamak menyejukkan hatiku.
“Iya, Mak. Bur pengen bisa kayak kawan-kawan lain. Bisa main. Bisa sekolah,” kata terakhir meluncur tersendat dari bibirku. Sekolah. Di usiaku yang menginjak enam tahun semestinya aku sudah duduk di kelas satu. Tapi mengingat kondisiku, rasanya itu tak mungkin. Bagaimana aku bisa berjalan ke sekolah? Bagaimana jika guru menyuruhku menulis di papan tulis? Bagaimana jika.... Aku menggelengkan kepala mencoba mengusir ketakutan di benak. Biarlah aku terlambat masuk sekolah asalkan kakiku sembuh.
“Mak...haus,” aku menunjuk leherku. Mamak dengan sigap mengambil botol air mineral berisi teh manis dan menyorongkannya kepadaku. Aku minum dengan lahap.
“Pelan-pelan, Bur. Nanti tersedak,” Mamak mengingatkan. Aku menurut.
Setelah hausku hilang, kukembalikan botol itu pada Mamak. “Mak, bapak nggak ikut ngantarin Bur berobat?”
Mamak terdiam sejenak. Botol air teh di tangannya menggantung di udara. Mamak menatapku dengan rasa kasih.
“Bapak banyak kerjaan, Bur,” bujuknya.
“Tapi, Bur lihat tadi Bapak duduk-duduk saja di rumah, Mak. Bur pikir kita akan ke dokter naik mobil Bapak, tapi malah naik becak,” gugatku perih.
Mamak menghela napasnya. Panjang dan lama. Dadanya turun naik mengatur emosi yang mendesak.
“Bapak nggak sayang sama Bur ya, Mak?” ujarku lirih. Aku menunduk.
Mamak tersentak. Semula bibirnya membuka, seakan ingin membantah kata-kataku. Tapi kemudian dia memilih diam. Aku tahu, kata-kataku benar. Bapak memang tak sayang padaku.
“Kenapa Bapak nggak sayang sama Bur, Mak?” tuntutku lagi. Mamak tergagap mendengar rentetan pertanyaanku. Untunglah pada saat itu seorang perawat muncul di depan pintu dan memanggil namaku.
“Burhan. Silakan pasien yang bernama Burhan untuk masuk ke ruang periksa,” suara lembut mengalun di ruangan. Mamak mendesah lega, tak harus menjawab pertanyaanku. Aku pun tiba-tiba diliputi harapan yang melambung tinggi. Pertanyaan tadi menguap begitu saja dari kepala.
“Ayo, Bur. Kita masuk.” Mamak membereskan tasnya, lalu merengkuhku dalam pelukan. Aku bergayut di lehernya, sepenuhnya bergantung padanya.
Di dalam ruangan bercat putih bersih, seorang dokter separuh baya dengan wajah ramah menyambutku.
“Silakan duduk, Ibu,” sapanya ramah.
Ibu duduk setelah terlebih dahulu mendudukkanku di kursi sebelahnya.
“Siapa nama anaknya?” tanya dokter.
“Burhan, Pak Dokter,” jawabku. Dokter tersenyum. “Anak pemberani,” jawabnya.
“Coba ceritakan pada saya apa keluhan anaknya, Bu?” kali ini Pak Dokter menatap lurus pada Mamak. Dengan terbata, mamak menceritakan segala yang dia ingat tentang aku. Pak Dokter mengangguk-angguk. Kemudian dia berkata,” Suster, tolong bantu baringkan anak ini di kasur.”
Suster cantik berwajah lembut mengangguk. Tangannya merengkuh tubuhku dan membaringkan aku di kasur berseprai bersih. Dokter kemudian datang menghampiri.
“Nah, biar bapak dokter periksa dulu ya kakinya. Nanti, kalau ada yang sakit saat dipegang, Burhan kasih tahu. Mengerti?”
Aku mengangguk.
Pemeriksaan berlangsung cepat. Sesekali aku menjawab pertanyaan pak dokter apakah bagian kaki yang disentuhnya terasa sakit atau tidak.
“Suster, tolong dudukkan anak manis ini,” perintah pak dokter lagi. Suster tersenyum manis.
“Ibu,” Pak Dokter mulai bicara pada Mamak,” Burhan ini terkena penyakit lumpuh layu. Penyebabnya adalah virus.”
Hanya itu yang bisa kumengerti dari penjelasan dokter. Selebihnya aku tak mampu menangkap apa maksud perkataannya. Aku menatap wajah mamak, sepertinya ada hal-hal yang tak dia mengerti, tapi segan bertanya.
“Jadi pengobatannya bagaimana, Pak Dokter?” akhirnya mamak memberanikan diri bersuara.
“Burhan akan saya beri obat dan suntikan. Ikuti petunjuk pengobatannya ya. Lalu seminggu sekali datang kemari untuk saya periksa. Mudah-mudahan sembuh.”
Pak Dokter menulis resep di secarik kertas. “Silakan tebus di apotik, Bu. Dan kamu anak manis, semoga lekas sembuh ya.”
Mamak menyentuh bahuku, “Ayo, bilang terimakasih sama Pak Dokter.”
Aku tersipu. “Makasih, Pak Dokter.”
“Sama-sama anak manis,” jawab Pak Dokter. Kami keluar dari ruang praktek diiringi suster.
“Mak, obatnya mahal ya?” kataku ketika berada di apotek. Mamak hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Buat anak Mamak, apapun akan Mamak usahakan,” dia mengelus rambutku perlahan. Aku menunduk, rasanya aku ingin menangis.
“Eeh, anak lelaki kok menangis? Nggak keren ah,” Mamak mencoba mencandaiku. Aku tertawa, mengusap airmata yang nyaris tumpah.
“Bur janji, Mak. Bur akan selalu berusaha membuat Mamak bahagia,” aku memandang perempuan yang sangat aku sayangi itu. Mamak tersenyum.
****
“Maaaak, Bur pergi sekolah dulu yaaaa,” aku berteriak dari depan pintu. mamak buru-buru keluar dari kamar dan balas berteriak.
“Eeeh, siniii. Salam dulu sama Mamak,” perintahnya. Aku nyengir dan berlari kembali ke dalam rumah. Kuraih tangan Mamak dan menciumnya takzim.
“Bur sekolah dulu ya, Mak,” ulangku.
“Belajar yang rajin ya, Nak,” pesan mamak. Aku mengangguk.
Tiga bulan berlalu sudah sejak pertama kali kami mengunjungi dokter Rahmadi. Berkat kegigihan mamak, obat-obat dari dokter dan keinginanku untuk sembuh, akhirnya aku bisa berjalan. Sekarang aku mulai bersekolah dan merajut harapan.
Mamak, Bur ingin membuatmu bahagia.
PROFIL PENULIS
Nama : fackrullazi bachtiar, S.Pd
Tempat, Tanggal Lahir : lapang barat, 2 desember 1984
Pekerjaan : Guru SMK Negeri 1 Nglegok
Pendidikan : S1 Pendidikan mipa
Alamat Kantor : Smp N2 jeumpa,bireuen
nama email/fb: boer_fd@yahoo.com / fan de boer
No. Urut : 738
Tanggal Kirim : 31/01/2014 22:47:28
0 Response to "CERPEN "Keajaiban Cinta Ibu""
Post a Comment