CERPEN "Hujan Pagi Ini"
CERPEN "Hujan Pagi Ini"
HUJAN PAGI INI
Cerpen Karya Anas Maulana
Pagi ini hujan deras mengguyur. Masih saja aku termangu di sudut jendela memandangi rintik hujan yang menari-nari di atas genting rumahku. Suaranya merdu, menyanyikan lagu yang penuh ketenangan. Seakan dia tahu kegundahan yang sedang menusuk-nusuk hatiku. Tentang masa lalu yang pernah tertulis indah dalam kisah hidup yang terkadang membuatku sesak untuk menjalaninya.
Suara hujan semakin terdengar samar-samar dalam telingaku. Berganti dengan suara teriakan yang mencekam, seperti waktu itu. Saat aku tersesat dalam kerumunan orang-orang berjubah hitam. Dia berdiri mengelilingiku dengan membawa sebuah tongkat yang panjang. Di ujungnya ada sebuah celurit yang tajam dan panjang. Makhluk itu kemudian mengintimidasiku dengan suaranya yang garang, penuh dengan kemarahan kepadaku. Rasanya dia telah mengenalku lama, padahal aku belum pernah sedikitpun bertemu dengannya. Tapi kenapa? Seolah dia memiliki dendam kesumat denganku. Apa salahku?
Tanpa basa-basi lagi akhirnya orang itu menyabetkan tongkatnya kepadaku. Pukulan itu telak mengenaiku. Namun tiba-tiba suasana menjadi gelap. Aku tidak tahu sedang ada di mana. Aku memandang kesemua penjuru. Yang ada hanya gelap dan gelap. Tak ada cahaya sama sekali. Aku larut dalam ketakutan mencekam. Menangis sekeras-kerasnya, namun sepertinya tidak ada yang mendengarku. Aku jauh dari semua orang. Sendirian di tengah kegelapan. Tanpa cahaya dan arah yang akan aku tuju.
Dalam ketakutan mencekam itu, makhluk hitam bertongkat celurit datang lagi. Kali ini dengan wajah yang lebih buruk lagi. Dia menendangku dengan kerasnya. Aku hanya bisa merengek minta ampun. Tapi tetap saja tanpa belas kasihan dia masih saja menghardikku dengan kasar. Aku mencoba melawan, namun tubuh ini kaku seperti menyerahkan diri saja. Makhluk hitam itu akhirnya mendapatkanku dalam keadaan yang paling hina. Kepala ini telah siap dipancungnya. Aku hanya bisa pasrah menyerahkan hidup ini padanya. Namun saat dia memukulkan tongkat celuritnya tepat di leherku, ada sesuatu yang menghalangiku. Berkali-kali dia mencoba memenggal leherku, selalu gagal dan sampai akhirnya terpental. Aku keheranan, ada apa ini?
Tiba-tiba datang sosok makhluk putih bercahaya. Dia mendekatiku, lalu membawaku jauh dari kegelapan itu menuju pada cahaya terang benderang. Aku heran, bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang dalam keadaan susah dan terdesak? Padahal aku tidak meminta bantuan siapapun dan perasaan aku tidak mengenal mahkluk itu. Akhirnya, aku beranikan diri untuk bertanya padanya.
“Siapa anda, dan kenapa menolongku?”
“Aku diutus ibumu untuk menolongmu” jawabnya singkat.
“Ahhhkkk….Ibu?”aku terkejut.
Hahhhh,…aku terbangun dari lamunanku.
Ternyata hanya mimpi buruk. Sering aku didatangi makhluk gelap itu. Tapi keadaan itu seperti nyata senyatanya. Aku teringat sosok ibuku. Wanita tua yang sering terlupakan. Bahkan aku tidak ingat jika masih memiliki ibu. Wanita tua yang melahirkanku dalam keadaan miskin. Tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah harapan dan doa yang selalu didongengkan padaku. Saat aku masih kecil dulu. Tentang kejujuran dan kebaikan hidup.
***
Hujan masih saja membasahi setiap sudut rumahku. Tidak henti-hentinya seakan tanpa mengenal lelah. Ahhhh,..Aku teringat cerita masa kecil dulu saat masih bersama ibuku. Dia selalu memberiku sepotong tempe goreng untuk makan pagi saat akan berangkat sekolah. Padahal dia sendiri merelakan untuk tidak berlauk, makan seadanya cukup dengan sambal dan garam. Dia tidak ingin anaknya bodoh, jadi makanannyapun harus bergizi, sayang dia hanya mampu memberiku sepotong tempe goreng. Ibuku seperti hujan ini. Tanpa lelah memberi kehidupan untuk bumi.
Hujan ini masih sama seperti dulu. Aku kenal betul rintihan suaranya. Sama seperti saat aku hidup di desa dulu. Persis ketika hujan mengguyur, aku selalu berdiri di pojok jendela untuk menikmati setiap tetes suasana dinginnya. Lalu tiba-tiba ibu datang dan menyelimutiku dengan kain sarung lusuh miliknya. Katanya agar aku tidak kedinginan lalu masuk angin. Pernah suatu kali dia bertanya padaku. Kenapa aku suka sekali memandangi hujan, tepat di dekat jendela? Aku menjawab jika hujan itu mampu menyampaikan pesan kepada orang lain meskipun mereka berada berjauhan. Ibuku hanya tersenyum mendengarkanku.
Suatu ketika, aku bermain hujan di depan rumahku. Saat itu kemarau panjang melanda desaku. Sebagai wujud suka cita, aku bermain hujan dengan teman-teman. Meloncat kegirangan, bersenandung bahagia dan lupa segalanya. Sampai akhirnya aku sakit. Ibu dengan lembut dan penuh kesabaran merawatku. Meskipun waktu itu aku cuma dikerokin olehnya, akhirnya demamku bisa sembuh.
“Ibu, kalau nanti aku besar, ingin jadi orang kaya” kataku kepada ibuku.
Ibu hanya tersenyum sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
“Kalau nanti aku sudah kaya, kita bisa makan enak, tidur di kasur yang empuk, dan juga mempunyai rumah yang mewah. Nanti ibu ikut yah” kataku.
“Heemz,..iya,..nanti adik akan jadi orang kaya. Tapi jangan lupa, untuk berbagi dengan yang lain yah!” kata ibu menasehatiku.
Aku masih ingat betul kata-kata ibu. Terngiang segar dalam setiap sudut memoriku, mengusik dalam-dalam hingga tak mungkin bisa aku lupakan. Kata itu seperti satu keironisan hidup. Aku bekerja keras. Bersungguh-sungguh dalam belajarku. Aku selalu menjadi juara kelas dan mendapatkan bea siswa sampai ke perguruan tinggi bahkan sekarang mendapatkan kursi empuk sebagai salah satu manager di sebuah perusahaan Nasional ternama. Dulu orang-orang disekitarku menghinaku sebagai anak miskin, anak tempe yang mustahil bisa sukses dan kaya. Aku dendam pada mereka. Hah..lalu kenapa saat aku kaya harus berbagi pada mereka? Apakah ibuku sudah gila? Tidakkah dia merasakan sendiri penderitaan hidup sebagai orang miskin? Lalu apa untungnya berbagi dengan orang yang telah menghina kita!
Bullshit…! Semua omong kosong..!
***
Hujan masih belum berhenti. Semakin deras menumpahkan amarahnya. Sedang anginpun ribut dengan sendirinya, seolah minta diperhatikan orang-orang. Bahkan dia rela merubuhkan pohon-pohon, menerbangkan rumah-rumah penduduk hanya untuk sekedar diperhatikan. Tapi aku tidak ambil pusing. Aku duduk di sebuah sofa empuk yang aku pasang di sudut jendelaku. Secangkir jeruk panas menemaniku untuk melanjutkan lamunanku tentang ibuku. Sosok makhluk yang terkadang aku sulit mengerti jalan fikirnya.
Ibu sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan. Namun aku tidak pernah sedikitpun melihatnya mengeluh atas kehidupan ini. Baginya, kebahagiaan itu tidak bisa diukur dari harta dan benda. Antara kesedihan dan bahagia hanya dipisahkan oleh tabir tipis yang dia sebuat sebagai keikhlasan. Aku tidak habis fikir, bagaimana ibu bisa ikhlas atas keadaan hidupnya? Senyumnya ringan namun mencerminkan kedalaman makna hidup. Sering aku merasa kuat saat kulihat ibu tersenyum menghadapi kegetiran hidup yang membelit kami. Ibu memberiku kekuatan untuk bertahan sekaligus maju berperang menghadapi brutalnya kehidupan.
Satu hal yang membuatku terkesan pada ibuku adalah kemampuan memberinya, biarpun dia sendiri miskin. Pernah suatu ketika ada tetangga yang membutuhkan beras untuk dimasak. Katanya, anak-anaknya masih kecil dan dari kemarin belum makan. Sedang dia janda yang baru saja ditinggal mati suaminya. Ibu dengan ringan memberinya beras, padahal itu beras terakhir yang kami punyai. Terpaksa keesokan harinya kami terpaksa makan nasi aking. Waktu itu hatiku sangat dongkol. Kenapa harus memberikan beras itu kepada orang lain? Padahal aku sangat menginginkan makan nasi, meskipun lauknya hanya tempe. Pernah suatu ketika aku berontak padanya.
“Ibu, kenapa memberikan beras kepada orang lain? Padahal aku ingin makan nasi?’ tanyaku dengan muka musam.
“Nak,.bukankah memberi itu perbuatan yang baik?’jawabnya ringan.
“Tetapi kita kan miskin bu,.! Seharusnya orang-orang kaya yang memberi beras itu. Kita masih miskin’ jawabku tidak mau kalah.
“Nak,…kekayaan orang tidak diukur dari banyaknya harta bendanya. Tapi kekayaan yang sejati itu ada di sini’ kata ibu sambil menunjuk tepat di dada sebelah kiriku.
Bagi ibu, kekayaan itu diukur dari kemampuan memberi manfaat pada orang lain bukan pada kepemilikan harta dan benda. Baginya, pada hakekatnya manusia tidak memiliki hak milik di dunia ini tetapi hanya hak pakai atas ‘titipan’ Tuhan. Ibu menganggap ringan dunia ini. Karena hanya bersifat sementara dan terbatas juga dibatasi oleh Yang Maha Tak Terbatas, yakni Tuhan. Ibuku, makhluk miskin yang bahagia.
***
Hujan mengendorkan serangannya. Kali ini hanya tersisa rintik-rintik yang lemah. Suaranya parau seolah ajal telah mendekat padanya. Dedaunan mulai pasang dada. Memperlihatkan keperkasaanya bahwa mereka bisa menghadapi guyuran hujan dengan tegar dan gagah. Aku masih duduk tersandar di kursi kesayanganku. Jeruk panasku mendingin. Kupandangi foto kusam yang masih kusimpan dan kuabadikan pada sebuah pigura emas berukuran 10R. Lukisan masa lalu tentang ibu dan diriku yang diambil 20 tahun yang lalu, saat aku lulus MI (Madrasah Ibtidaiyah). Di foto itu, ibu sedang menggandengku dengan penuh kasih sayang. Setting tempat waktu itu di depan rumah persis setelah selesai hujan. Waktu itu aku masih memakai seragamku.
Rasa hangat menyelinap dalam kudukku. Teringat Ibuku di desa. Mungkin ini yang sering disebut rindu atau kangen. Perasaan ingin bertemu dengan seseorang yang kita sayangi. Entah aku sadar atau tidak, ternyata aku kangen dengan ibuku. Rasanya begitu singkat, sudah 20 tahun semenjak foto itu diambil, aku pergi ke kota untuk sekolah dan berjuang demi hidupku. Dan aku berhasil. Sudah lima tahun aku tidak pulang kampung. Terbesit dalam fikirku. Bagaimana wajah ibuku sekarang? Apakah masih kusam seperti yang dulu? Penuh kesederhanaan dan selalu tersenyum meskipun dalam keadaan susah.
Belum selesai lamunanku tentang ibuku. Tiba-iba HP ku berdering. Segera saja aku meraih Blackberryku.
“Assalamualaikum,..ini dengan Pak Jaka?” suara dalam HPku.
“Iya benar, ini saya, Jaka Satria. Ini siapa dan ada perlu apa ya?” jawabku singkat.
“Saya Prayogo, Lurah desa Sendang Makmur. Begini pak, saya ingin memberitahukan bahwa ibu anda, Bu Aminah, tadi pagi telah meninggal dunia”
Belum selesai suara yang ada dalam HP ku bicara, seperti tersambar petir, aku kaget setengah mati. Ibu yang selama ini hadir dalam lamunanku sudah tidak ada. Ibu yang sederhana dan selalu tersenyum dalam keadaan susah telah pergi untuk selama-lamanya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Semua tampak gelap, persis seperti mimpi-mimpi buruk yang menghantuiku selama ini. Gelap dan tanpa cahaya.
“pak..pak…pak…pak Jaka…!? Anda baik-baik saja bukan?” suara dalam telepon menyadarkanku.
“I…i..iyaa,..iya pak,,saya baik-baik saja.” Kataku sedikit parau.
“ohh,..Begini pak,.pemakamannya nanti sekitar Dhuhur jam 1 siang,.anda diminta pulang untuk memberikan penghargaan terakhir pada ibu anda” pintanya.
“I,..i..iyaa pak,,dalam 2 jam saya akan sampai di sana” jawabku singkat sambil bergegas untuk menyiapkan mobilku.
“Tut,..tut,..tut,..”HP ku tak matikan.
Segera aku memesan tiket penerbanganku ke Semarang. aku membawa istri dan 2 anakku. Aku ingin mengenalkan mereka pada sosok luar biasa yang telah mendidikku keikhlasan dan kemampuan memberi. Namun sepertinya semuanya tinggal harapan.
Hari itu hujan. Aku sengaja tidak memakai payung. Untuk mengenang saat-saat dimana ibu menyelimutiku dengan sarung lusuhnya. Tak terasa, air mataku bercampur dengan air hujan pagi itu. Tak ada lagi ibuku. Aku sangat menyesal selama ini telah meninggalkannya. Tidak ada komunikasi. Tidak ada kasih sayang anak kepada ibu. Aku baru sadar. Harta terbesarku adalah ibuku. Andai ada kesempatan lagi, satu kali saja. Aku rela menukar seluruh kekayaanku untuk nyawa ibuku. Aku rela hidup miskin asalkan bisa hidup bersama ibu seperti dulu. Aku ingin tempe goreng seperti dulu. Aku rela kelaparan karena berasnya sudah dikasihkan ibu ke tetangga. Aku ingin hujan-hujan lalu di kerokin ibu. Aku rela. Aku rela miskin demi ibu. Maafkan aku ibu. Maafkan atas kedurhakaan anakmu ini. Maaaaf ibu. Aku tahu kasih sayangmu seperti hujan pagi ini, yang tak mungkin terhitung dan tak bisa dihitung. Seperti air mataku ini. Tak terhitung jatuhnya seperti hujan pagi ini.
Semarang, Januari 2012
PROFIL PENULIS
Anas maulana, pemuda usia 26 tahun. mantan Ketua Senat mahasiswa dan presiden BEM yang suka selakli menulis. Saat masih mahasiswa, tulisannya banyak dimuat di SUrat kabar Lokal seperti "Suara Merdeka". saat ini kesibukannya sebagai guru bahasa inggris di SMK dan melanjutkan studi s2 si Universitas di Semarang. dia sangat suka menulis cerpen, puisi, dan juga karya ilmiah.
0 Response to "CERPEN "Hujan Pagi Ini""
Post a Comment