CERPEN "Kakakku Pahlawanku"
CERPEN "Kakakku Pahlawanku"
KAKAKKU PAHLAWANKU
Karya Quintania HB
Setitik sinar matahari mulai menyilaukan mataku.
"Sshh... Panas sekali!" desisku gusar. Aku kembali membolak-balikkan tubuhku di atas ranjang, mencari posisi tidur yang nyaman.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu kamarku diketuk.
Tok! Tok! Tok!
"Ah, siapa sih? Mengganggu saja!" gumamku kesal. Aku beranjak dari tempat tidur, dan membukakan pintu.
"Sudah bangun rupanya," ujar orang itu datar. Aku mengucek-ucek mataku dan penglihatanku mulai jelas.
"Kakak? Ada apa kemari?" tanyaku. Kakak tak menjawab, dia hanya berdiam diri sambil menatapku.
"Kak?" ulangku. "Kakak tak apa, kan?" lanjutku khawatir. "Ayo duduk, kak," ajakku menggandeng tangan kak Dania. Kak Dania pun menurut, dan duduk di tepi ranjang bersamaku.
"Ada apa, kak? Ceritakan saja padaku," ujarku menatap mata kakakku. Ia terlihat begitu sedih dan murung, tak seperti biasanya yang selalu ceria dan menebarkan senyum dimana-mana.
"Hiks..." tiba-tiba saja, kak Dania menangis. Ia menangis di pundakku. "Loh? Kak Dania kenapa?" tanyaku kaget. Aku terkejut kakak menangis di pundakku dengan tiba-tiba.
"Delia... Kakak..." ucapan kak Dania terputus. "Kakak kenapa?" ulangku. Aku semakin gelisah dan khawatir. Tak biasanya kakak bersikap aneh seperti ini.
"Kakak...kakak mau minta maaf atas semua kesalahan dan perbuatan buruk kakak kepadamu..," sambungnya. "Maksud kakak apa?" tanyaku tak mengerti. "Delia... Kakak... Kakak mengidap penyakit leukimia stadium akhir," jawab kak Dania lirih. Aku terhenyak. "Ap...apa?! Kan..kanker, kak?! Nggak! Nggak mungkin! Kakak sehat kok! Aku tahu kakak cuma bercanda! Nggak mungkin, kak! Kakak nggak mungkin kena kanker!" seruku. Aku tak rela kakakku satu-satunya harus mengidap penyakit separah itu. Aku tak ingin kehilangan kakak.
"Tapi, Del.. Ini memang kenyataan. Kenyataan yang pahit. Kakak tak ingin membuat keluarga kita bersedih. Apalagi mama dan papa. Jadi, kakak harap jangn beritahukan ini ke papa mama, ya. Kakak lebih pilih kamu diam saja," ujar kak Dania. Mataku membulat besar. "APA?! Tidak! Aku tak mau! Aku harus mengatakannya kepada mama papa! Aku tak ingin ambil resiko!" sahutku. Aku sudah tak dapat menahan rasa sedihku. Air mataku mulai membasahi wajahku.
"Delia! Jangan! Kakak takut papa dan mama akan khawatir dan bersedih gara-gara kakak. Kakak ingin menghabiskan waktu-waktu terakhir bahagia bersama kalian semua. Kakak nggak mau mama dan papa mikirin kakak terus, kakak mau mama dan papa juga merhatiin kamu sebagai anaknya. Kita berdua anak mama papa, dan kita berdua harus membahagiakan beliau berdua. Tak sepantasnya kakak membuat mereka bersedih," jawab kak Dania. Aku memeluk erat kakakku itu. "Kak, aku tahu. Tapi, aku tak ingin kehilangan kakak. Kakak sudah seperti orangtuaku sendiri di saat mama papa sibuk bekerja. Kakak yang merawatku, kakak sangat menyayangiku, kakak memperhatikanku, kakak pemotivasiku, dan aku tak mau kehilangan itu semua dalam jangka waktu yang singkat," ujarku. Air mataku kembali menetes.
Aku melepaskan pelukan kami, lalu menatap mata sembap kakak. "Jangan bersedih, Adik Manis. Kakak yakin, kamu akan menemukan kebahagiaan tersendiri di hidupmu, dengan atau tanpa adanya kakak di sisimu," ucap kak Dania tersenyum. "Kakak memang yang terbaik," bisikku pelan sambil berusaha mengukir senyuman, meskipun itu senyuman sedih.
***
Esok harinya, kakak membangunkanku lebih awal.
"Delia! Ayo, cepat! Kita akan lari pagi hari ini!" ajak kak Dania. Ia membuka selimutku. "Kakak, ini masih sangat pagi!" balasku malas. "Iya, tapi kan sehat!" serunya lagi dengan semangat yang membara. Terpaksa, aku mengikuti perkataan kakak. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu terakhirku bersamanya.
Seusai mandi, aku segera ikut berlari di belakang kakak.
"Kakak tidak capai, kan?" tanyaku mulai memeriksa keadaan kakak. "Tidak, kok! Ayo, semangat! Jangan lesu begitu!" jawabnya tersenyum riang.
Kami pun kembali melanjutkan aktivitas ini sampai jam 7.00.
"Huh! Capai sekali!" keluhku mengusap keringat. "Kakak setuju!" timpal kak Dania.
"Ini, mau roti?" tawar kak Dania. Ia menyodorkanku satu bungkus plastik roti isi coklat. "Hmm... Makasih, kak," aku pun menerima roti pemberian kakakku itu.
Namun, tiba-tiba saja, telepon genggamku berdering.
"Ya, halo? Delia disini."
"Halo, Del. Ini aku Renita."
"Oh ya, Ren. Ada apa?"
"Aku cuma mau bilang, kamu kepilih mewakili sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat yang akan diadakan lima hari lagi. Tetapi, sekolah tidak punya waktu untuk membimbing kelompok kalian, maka kalian harus belajar giat sendiri di rumah. Itu saja, ya. Selamat!"
"Waah, makasih ya, atas infonya."
"Iya, sama-sama."
"Bye!"
"Bye!"
Klik!
"Siapa, Del?" tanya kak Dania seraya meneguk air dari botol minum yang ia bawa.
"Oh ini, si Renita bilang kalau aku kepilih mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat yang diadakan lima hari lagi. Tapi, harus belajar sendiri di rumah," jawabku meniru tutur kata Renita.
"Wah, selamat, ya! Kakak turut bangga denganmu! Itu sih gampang, kakak yang akan mengajarimu setiap harinya. Jadi, jangan kamu sia-siakan waktumu, ya!" sahut kak Dania mengacungkan ibu jari. "Sudah yuk, kita pulang! Sudah mulai siang, nih! Kakak takut kamu kepanasan." "Ayo!"
***
Sesampainya di rumah, kak Dania menyuruhku untuk cepat berganti baju.
Setelah ganti baju, aku menghampiri kakak yang tengah duduk manis di sofa kesayangannya. Di rumah hanya ada aku dan kakak saja. Mama dan papa sibuk bekerja dan pulang larut malam saat kami sudah tidur pulas dna bermimpi indah.
"Kak, aku sudah ganti nih. Mau ngapain?" tanyaku ikut duduk di sofa sebelahnya.
Kakak beranjak dari sofa dan mengangkat papan tulis putih yang terletak tak jauh dari tempat kami duduk.
"Nah, mari kita belajar untuk perlombaanmu!" ajak kakak dengan semangat. "Yah, kan masih lama lombanya. Besok sajalah!" pintaku. Aku memutar bola mata malas. "Eits, tidak boleh! Kamu harus belajar sekarang kalau mau hasilnya bagus! Jangan menunda-nunda pekerjaan! Gunakan waktu terakhir ini sebaik-baiknya! Kakak ingin kamu mempunyai kenangan indah bersama kakak," jelas kak Dania. "Baiklah."
Dan, kakak pun mengajariku dengan telaten. Ia sangat pintar dan rajin sehingga ia mengajariku dengan cepat dan gayanya yang khas.
Begitu seterusnya, sampai hari perlombaan pun tiba.
***
Empat hari telah kulalui bersama kakakku. Tiap harinya, ia selalu mengajariku tentang apapun. Akhirnya, hari yang dinanti tiba. Ini adalah hari perlombaan.
Aku mengayuh sepedaku untuk sampai ke alun -alun yang jaraknya terbilang dekat dari rumahku. Kakak menunggu di rumah.
Sesampainya di sana, aku segera bergabung dengan teman-teman sereguku.
Beberapa menit kemudian, perlombaan pun dimulai.
***
Beberapa soal telah kami lewati dengan mudahnya. Dan, hebatnya lagi, dari 10 pertanyaan, 9 soal aku jawab benar! Ini berkat kakakku!
Tinggal beberapa soal lagi, perlombaan selesai.
Soal terakhir ini memang cukup sulit dan membutuhkan pikiran yang logis untuk menjawabnya.
Teeet! Aku menekan bel untuk menjawab.
"260,9!" jawabku berteriak. Suasana semakin tegang setelah aku menjawab pertanyaan itu. Aku tak yakin dengan jawabanku barusan. "Bagaimana kau menghitungnya?" tanya temanku. "Sudah, itu tak penting," jawabku berusaha tetap serius.
"Jawabannya.................BENAR!!! Selamat untuk regu A, kalian menang!" seru sang MC. Suara tepuk tangan pun bergemuruh memenuhi ruangan terbuka itu.
"Waah, kamu hebat sekali, Delia! Selamat, ya!" seru guruku. Renita melambaikan tangannya, lalu mengacungkan ibu jari padaku dari kejauhan. "Terima kasih," balasku.
Kami seregu pun diberi piala, piagam, beserta uang sebesar Rp2.000.000,00. Dan, yang mewakili reguku adalah diriku sendiri.
***
Aku pulang dengan perasaan gembira. Piagam dan uang sudah aku masukkan ke dalam tas punggungku. Aku tak sabar memberitahukan ini ke kakak yang telah mendidikku dengan telaten. Aku sangat beruntung punya kakak seperti dia.
"Kakak! Aku pulaaaang!" teriakku ketika aku sampai rumah.
Tidak ada sahutan.
"Kakak! Aku pulang!" ulangku berteriak.
Tetap tak ada sahutan.
"Delia...," tiba-tiba ada suara wanita dari arah belakang.
Aku menoleh.
"Kakak dimana ya, bu?" tanyaku kepada tetangga itu.
"Sabar ya, Nak. Kakakmu ditabrak mobil tadi saat menyebrang jalan. Kini, ia suah tak tertolong lagi," ujar ibu itu memelukku. Aku terkejut. Seperti tersambar petir rasanya. Sakiit dan perih sekali. Aku tak kuasa menahan air mata. Aku melempar tasku tak tentu arah, lalu berlari menuju rumah sakit terdekat.
Aku berlari dan terus berlari. Air mataku tak mau berhenti mengalir.
Sesampainya disana, aku melihat kakakku terbaring lemas di ranjang rumah sakit dengan kulit pucat dan ditutupi kain putih. Sepertinnya, ia sudah akan dibawa ke kamar jenazah.
Aku mendekati ranjang itu, dan membuka perlahan kain penutupnya. Ak langsung terduduk lemas tak dapat berdiri lagi. Itu benar-benar kakakku, kak Dania. Kakak yang selalu menjadi pahlawanku tiap hari dan melindungiku serta mendidikku seperti layaknya orangtuaku sendiri.
"Kakaaaaaaaakk!!!!!" jeritku. Aku menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat tubuh pucat nan dingin kakak. Aku tak dapat berpikir jernih sekarang. Aku tak mempedulikan orang-orang yang menyuruhku diam karenaitu adalah rumah sakit. Tapi, aku tak bisa diam sekarang. Tak ada yang dapat membuatku diam. Tak ada yang boleh menggangguku. Aku harus terus bersama kakak.
"Dik, kami harus membawanya ke kamar jenazah sekarang," ujar seorang perawat muda di samping ranjang kakak. "Tidak! Aku tak ingin meninggalkan kakak! Kakak terlau berharga untukku! Kalian tak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan seorang kakak yang sangat sayang pada kita! Kalian nggak pernah tahu!" bentakku. Aku kembali menangis.
"Sabar, dik. Sabar...," hibur perawat yang lainnya berusaha menenangkanku. Akhirnya, dengan keputusan yang amat terpaksa, aku memperbolehkan jenazah kakak di bawa ke kamar jenazah.
***
Hari itu adalah hari paliiing menyedihkan yang pernah kualami sepanjang hidupku. Hari penuh kenyataan pahit yang menimpaku. Aku tak bisa melupakan semua kenanganku bersama kak Dania. Ia sangat berarti bagiku. Ia kehidupanku.
***
Perna pada suatu ketika, saat aku sedang terlelap, aku bermimpi bertemu dengan kak Dania. Ia terlihat sangaaaat cantik seperti bidadari surga. Ia berkata, bahwa aku harus merelakannya pergi dan aku harus memulai kehidupan baruku lagi dengan atau tanpanya. Ia juga berkata bahwa ia akan selalu ada di dekatku, di sisiku. Ia tak kan pergi jauh. Ia selalu menjagaku. Kak Dania bilang bahwa ia akan selalu ada di hatiku. Dan, namaku juga akan delalu terukir di hatinya. Aku harus kembali ceria seperti biasanya. Karena aku sangaaaaat sayang dengan kak Dania, aku akan menuruti apa yang ia minta.
Terima kasih kakak, selama hidupmu, kau selalu menyayangiku, merawatku, melindungiku, mendidikku, dan lain sebagainya. Aku sangat beruntung dan bahagia banget memiliki kakak seperti kak Dania. Terima kasih, Tuhan, kau telah memberikan kakak terbaik untukku. Aku sangat bersyukur, Ya Tuhan. Terima kasih sekali lagi kakak, kau benar-benar pahlawanku.
-TAMAT-
Profil Penulis:
Hai! Kenalkan! Namaku Quintania HB. Panggil saja Quint/Quinta yaa... Umurku 12 tahun. Aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Hobiku banyak sekali! Ada menulis cerita, menyanyi, membaca buku, bermain musik, dll.
Jika kalian ingin berkenalan denganku, atau memberikan kritik serta saran, bisa saja lewat sosial media ya :)
0 Response to "CERPEN "Kakakku Pahlawanku""
Post a Comment