CERPEN "Semburat Kasih tak Dikenal" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Semburat Kasih tak Dikenal"

CERPEN "Semburat Kasih tak Dikenal"
SEMBURAT KASIH TAK DIKENAL
Karya Mentariede

Sinar mentari masih malu-malu muncul dari peraduannya. Jalanan pun masih lengang. Hanya terdengar kokokan ayam menyambut pagi yang masih dingin. Badrun, dengan berseragam sekolah, bersemangat mengayuh  sepedanya. Tujuan pertamanya bukan ke sekolah, melainkan ke pasar. Ada beberapa bahan dagangan ibunya yang sudah mulai habis. Maklum ibunya adalah penjual ‘Nasi Kucing’ (sebutan masyarakat kotanya untuk nasi rames) yang cukup laris di desanya sehingga bahan dagangannya begitu cepat habis.

Setelah mengayuh cukup jauh, akhirnya Badrun sampai juga di pasar. Ia pun bergegas menuju sebuah kios di tengah pasar dimana kios tersebut tidak hanya menjual sayur-sayuran tetapi juga bumbu dan rempah-rempahnya. Hal itu sangat memudahkan Badrun sehingga ia tak perlu lelah berkeliling pasar untuk mencari bahan dagangan satu per satu. Jadi sisa waktunya sebelum ke sekolah dapat ia gunakan untuk membantu ibunya menata warung.   

Rutinitas seperti itulah yang selama ini dijalani Badrun sebelum pergi ke sekolah. Lelah? Mungkin tidak. Tetapi terkadang rasa iri itu menyeruak. Saat melihat teman-temannya turun dari besi-besi mengkilat dengan roda – keluaran terbaru. Melenggang gagah dengan handphone yang juga model terbaru, sedangkan dirinya selalu tampil lusuh bermandikan cahaya matahari. Ah..cepat-cepat ia menepis pikiran-pikiran itu. Sudah beruntung Ibunya mau menyekolahkan ia di sekolah elite itu. Badrun sendiri tak pernah tahu bagaimana Ayah dan Ibunya melunasi uang sekolahnya yang terbilang mahal itu, tetapi yang jelas tak pernah sekalipun pihak sekolah memberikan surat tunggakan kepada dirinya.

***

Bel tanda pulang mulai berdering. Sinar sang surya kala itu  begitu menyengat hingga sanggup melunturkan semangat siswa-siswi SMA Surya Dharma, begitu pula dengan Badrun. Entah mengapa akhir-akhir ini semangatnya mulai pudar. 

Badrun  mengayuh sepedanya dengan malas. Semangat dan konsentrasinya benar-benar telah menguap. Pikirannya melayang entah kemana. Dan tiba-tiba.. Brakk!! Sepeda Badrun menabrak sedan mewah berwarna merah yang mengkilat diterpa cahaya matahari. Seorang lelaki setengah baya perlahan keluar dari sedan itu. Menghampiri bagian belakang mobilnya dan mengusap berulang kali goresan-goresan kecil di mobilnya yang baru saja ditabrak Badrun.

Badrun terlihat cemas. Sedan mewah itu nampak begitu mahal. Ia tak sanggup membayangkan berapa banyak lembaran rupiah yang digunakan untuk perawatannya. Apa yang harus ia lakukan jika Bapak itu sampai meminta ganti rugi? Pertanyaan itu sontak membuat kepalanya pening.

Lelaki separuh baya itu kemudian menghampiri Badrun. Memperhatikannya sejenak kemudian mengusap-usap kepala Badrun. Rona ketakutan masih nampak di wajah anak muda itu.

“Kamu tidak apa-apa, Nak?” kata Bapak itu dengan lembut. Badrun hanya sanggup menggelengkan kepalanya. Pertanda bahwa ia baik-baik saja.
“Ya sudah, lain kali hati-hati ya nak,” lanjut Bapak itu.
Badrun tercekat. “Apa yang dilakukan Bapak itu? Kenapa tidak segera meminta ganti rugi? Jelas-jelas sedan mewahnya tergores saat kutabrak tadi.” Batin Badrun disesaki beribu tanya. Badrun masih dalam keheranannya saat Bapak itu masuk  dan memacu kembali sedan mewahnya.

***

Badrun tak percaya menatapi sedan mewah yang tadi ditabraknya terparkir apik di dekat warung sang ibu. Bekas goresannya pun masih ada. Badrun sangat cemas dan bergegas berlari menuju warung. Ia takut jika pemilik sedan tersebut meminta uang ganti rugi kepada ibunya.

Saat di ambang pintu, Badrun tercekat. Berulang kali ia mengusap matanya tetapi tetap saja keadaan di depan matanya tidak berubah. Ia melangkah perlahan memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Benar saja. Ia melihat si Bapak – pemilik mobil sedan sedang mencuci piring di warung ibunya. Dengan lengan kemeja yang digulung setinggi siku, si Bapak terlihat cekatan.

“Ibu! Ibu!” kata Badrun sambil melambaikan tangan kepada ibunya dan memberikan isyarat agar ibunya keluar dari warung.
“Ada apa Badrun?” kata Ibu sambil membersihkan tangannya dengan serbet.
“Itu siapa Bu?” 
“Oh itu. Teman SMA Ibu,” jawab sang ibu sekenanya sembari melenggang masuk ke dalam warungnya lagi.
“Teman SMA?” Sejuta tanya masih bergelayut di pikiran Badrun.

***

Terik sang surya menemani langkah Badrun keluar dari gerbang sekolah. Dituntunnya sepeda kesayangannya itu dengan lesu. Pikirannya masih kacau. Tempo hari slentingan-slentingan aneh dari para tetangga mampir juga di telinganya.        

“Ah..Ibu tidak mungkin seperti itu,” pikirnya.

Langkahnya terhenti seketika saat seseorang dengan membawa bungkusan datang menghampirinya. Sebuah kantung plastik besar yang terlihat cukup berat. Diperhatikannya dalam-dalam orang itu.  Ia kini ingat itu adalah Bapak yang mobilnya ia tabrak kemarin.

“Jaga baik-baik benda ini ya Badrun,” kata Bapak itu sambil menyerahkan bungkusan yang dibawanya.

Belum sempat Badrun menjawab, Bapak itu bergegas kembali ke sedan merahnya dan pergi begitu saja. Badrun amat penasaran dengan isi bungkusan itu. Apalagi dengan sikap si Bapak yang menurutnya sangat aneh. Perlahan ia buka bungkusan itu.

“Astaga!!” pekik Badrun ketika mendapati bungkusan tersebut ternyata berisi laptop dan handphone yang masih tersegel utuh. Benda-benda itulah yang sangat diinginkan Badrun saat ini. Ia tak habis pikir bagaimana si Bapak bisa tahu tentang keinginannya itu. Lalu apa maksud si Bapak memberikan benda-benda ini padanya?

Bukannya senang justru perasaan curiga-lah yang kini berkecamuk di hati Badrun. Jangan-jangan slentingan mengenai pria selingkuhan ibunya itu benar. Melihat gelagat si Bapak, Badrun kini yakin bahwa Bapak pemilik sedan merah itulah yang menjadi selingkuhan ibunya selama ini.

Rasa marah Badrun kini membuncah sampai ke ubun-ubun. Perasaan ngeri datang saat ia membayangkan Ayah dan Ibunya bercerai. Cepat-cepat Badrun menaiki sepedanya dan mengayuhnya kuat-kuat. Tangannya menggenggam erat kemudi sepeda. Pikirannya kalap. Urat-urat kemarahan terlukis jelas di wajahnya. Terkadang air matanya menetes dari kedua pelupuk matanya yang mulai memerah.

Dikayuhnya lagi sepedanya lebih kuat. Ia ingin cepat sampai di warung ibunya. Ia yakin si Bapak pasti ke warung ‘Nasi Kucing’ milik ibunya itu. Benar saja. Badrun lagi-lagi melihat mobil sedan si Bapak terparkir di dekat warung. 

Kondisi warung yang sedang ramai tak lagi dipedulikannya. Ia bergegas menghampiri si Bapak yang tengah mengobrol dengan sang ibu. Perasaan marah kini sudah menyelimuti seluruh otaknya. Dengan kasar ia pun mendorong bungkusan berisi laptop dan handphone yang dibawanya ke dada si Bapak. Si Bapak hanya bisa mendekap bungkusan tersebut sambil menatap Badrun dengan tatapan tak percaya.

“Anda kira hadiah itu dapat membuat saya mengijinkan Anda menikah dengan Ibu!” teriak Badrun. Ibunya hanya bisa menarik-narik seragam sekolah Badrun sambil terisak.
“Jangan harap! Jangan harap Anda bisa merebut Ibu dari Ayah! Sekarang saya ingin Anda pergi dari sini! Saya tidak ingin melihat Anda lagi!  Pergi!!” Teriakan Badrun sontak membuat para pembeli berhamburan keluar. Begitu pula dengan si Bapak, rasa duka dan kecewa mendalam tergurat jelas di wajahnya. Mulutnya serasa terbungkam dihantam tuduhan-tuduhan dari Badrun.

Ayah Badrun yang baru saja menginjakkan kaki di warung terlihat kaget dengan tingkah Badrun yang tidak seperti biasanya. “Ada apa ini Badrun?” tanya Ayahnya sambil berdesak-desakan dengan para pembeli yang berhamburan keluar.

“Itu! selingkuhan Ibu. Ayah…Badrun hanya tidak ingin Ayah dan Ibu sampai bercerai,” kata Badrun sambil terisak.
“Siapa? Pak Budiman? Astaga Badrun..Badrun,” kata Ayah sembari mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.
“Kamu salah paham, Nak,” ucap Ibu disertai isakan tangis.

Ayah kemudian menepuk pundak Ibu mengisyaratkan bahwa Ayah meminta Ibu untuk diam dan membiarkan Ayah untuk menjelaskan semuanya kepada Badrun. Ibu hanya bisa tergolek lemas di sudut ruangan.

“Maafkan Ayah dan Ibu, Badrun,” ucap Ayah sembari memberi Badrun segelas air putih dan menyuruhnya duduk. Ayah kemudian melanjutkan ceritanya. 
“Dulu ada seorang bayi yang ditinggal mati ibunya saat melahirkan. Ayah si bayi sendiri menderita suatu penyakit...,” Ayah menghentikan sejenak ceritanya dan menarik nafas dalam. “Epilepsi. Sang ayah menderita epilepsi sehingga ia merasa tidak sanggup apabila harus merawat bayinya sendirian,” sambung Ayah.
“Lalu apa hubungannya dengan masalah ini, Ayah?” tanya Badrun sambil meneguk air putih dari gelasnya.
“Dengarkan dulu Badrun,” kata sang ayah sambil menepuk pundak putra kesayangannya itu. Badrun hanya bisa mengangguk.
“Ayah yang takut epilepsinya itu akan mencelakakan putranya akhirnya menyerahkan si bayi kepada sahabatnya. Sahabatnya itu sudah lama menikah tetapi tak kunjung dikaruniai keturunan sehingga sang sahabat pun menerima si bayi dengan senang hati. Ayah sang bayi sendiri tetap menafkahi putranya dengan harapan jika putranya nanti sudah remaja, ia akan mengambil kembali putranya tersebut. Namun kenyataannya lain, sang sahabat sudah terlanjur menyayangi si bayi yang dengan segenap jiwa telah ia rawat dan ia pun bersikeras untuk tidak menyerahkan si bayi yang kini mulai beranjak dewasa,” ucap Ayah dengan gumpalan air menggenang di pelupuk matanya. “Badrun, kau tahu, Nak, siapa bayi itu?” lanjutnya.

Badrun hanya bisa menggeleng. Rasa takut kini meraung-raung di sudut hatinya.

“Bayi itu adalah kau anakku..kau Badrun,” ayah Badrun kini tak dapat lagi menahan air matanya. “Dan sang ayah yang menderita epilepsi itu adalah... Pak Budiman, Badrun. Pak Budiman. Orang yang kau tuduh menjadi selingkuhan Ibu. Ia adalah ayah kandungmu, Nak. Ia sahabat Ibumu. Selama ini ia pula-lah yang membiayai sekolahmu dan memenuhi semua kebutuhanmu.”

Pyarr! Badrun tercekat. Gelas yang dipegangnya jatuh berhamburan di lantai. Rentetan kata-kata sang Ayah bak kereta yang menghantam kepalanya. Tangan dan kakinya kini lemas. Tatapan matanya kosong. Sayu. Menatap lurus tempat parkir yang bahkan dahulu sempat ada semburat kasih yang mewarnainya. Kini? Tak berbekas. 

Profil Penulis:
Mentariede adalah nama pena dari Mentari Eka Dewiyanti. Penulis adalah lulusan Politeknik Negeri Semarang Jurusan Akuntansi. Gadis yang lahir di Semarang pada tanggal 2 Mei 1994 ini memang gemar menulis sejak kecil. Baginya menulis adalah suatu bentuk rekreasi. Dengan menulis, pikiran kita akan bebas berkelana kemana saja dan bebas membayangkan hal-hal indah dimana saja.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Semburat Kasih tak Dikenal""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel