CERPEN "Seorang Ibu" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Seorang Ibu"

CERPEN "Seorang Ibu"
SEORANG IBU
Cerpen Karya Maria Chesa Alethania

Malam ini adalah malam yang sunyi bagi Anastasia. Malam ini, tak ada satupun orang yang menemaninya. Ayahnya sedang dinas keluar kota untuk menyelesaikan tugasnya sebagai wartawan. Sementara, ibunya telah tiada saat ia melahirkan Anastasia.

Hari-hari selalu membosankan bagi Anastasia, atau lebih nyaman dipanggil Icha. Hidup tanpa sosok wanita yang akan menyayanginya, memeluknya, dan menceritakan sebuah dongeng menjelang tidur. Itulah sosok seorang ibu bagi Icha. Mungkin, anak-anak lain yang memiliki ibu kini sedang berbaring diatas ranjang, ditemani seorang ibu disampingnya yang tengah membacakan dongeng disisinya hingga anak-anak itu tertidur. Ibu-ibu mereka akan menyelimuti mereka, memberikan kecupan di dahi mereka, lalu mematikan lampu kamar mereka, serta mengucapkan ucapan selamat tidur untuk mereka. Namun, itu tak akan terjadi di sepanjang hayat Icha.

Malam ini, Icha hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tak sekalipun matanya terpejam. Uh, malam menjengkelkan untuk Icha, karena harus berusaha, hanya untuk memejamkan matanya sekali saja, lalu tidur. Icha memandang ke sekeliling kamarnya. Boneka, lemari pakaian, dan meja belajar. Ya, hanya itu yang nampak di mata Icha. Tak mungkin Icha bisa memejamkan mata dengan benda-benda itu. Tapi, tunggu! Ada satu benda lain! JENDELA. Ya, benda yang ada dibalik jendela lah yang akan menjadi “obat tidur” bagi Icha malam ini.

Icha berlari mendekati jendela kamarnya, lalu melongok ke luar untuk menemukan “obat tidur” yang akan menenggelamkan dirinya ke dalam dunia mimpi. Di matanya, terlihat kilauan bintang yang menyebar dimana-mana. Malam ini , banyak sekali bintang-bintang yang menampakkan sinarnya. Namun, Icha tidak mencari bintang-bintang itu. Matanya melirik kesana-kemari,untuk mencari benda itu. Benda itulah yang ia gambarkan sebagai ibu untuknya. Aha! Icha menemukannya. Itu adalah BULAN.

Sebuah bulan berada di tengah bintang-bintang. Icha tahu, tampang bulan dari bumi dan tampang bulan saat ia mendekatinya berbeda sama sekali. Sebenarnya, bulan penuh dengan benjolan dan lubang-lubang, dan ia tak memancarkan sinarnya sendiri. Namun, ketika ia melihat dari jendela kamarnya, Akan terlihat jelas bahwa bulan sangatlah indah. Tiada malam jika tiada bulan. Sama seperti tiada sayang jika tiada IBU.

Malam sebenarnya adalah saat-saat langit terlihat gelap, menyeramkan, dan dingin. Tak heran, banyak hantu yang dikisahkan hanya keluar disaat malam hari. Malam identik dengan hawanya yang sunyi dan mencekam. Namun, terdapat “harta karun” dibalik gelapnya malam. Harta karun itu adalah bintang-bintang dan BULAN. Merekalah yang menyumbangkan cahaya di malam hari. Tanpa mereka, malam akan menjadi sangat gelap dan mencekam. Merekalah keceriaan yang muncul disaat malam tiba.

Sayang. Icha ingat, ia pernah mendengar seorang ibu yang bertanya kepada anaknya. Ibu itu bertanya: “Nak, apakah kamu menyayangi ibu?”. Pertanyaan yang bodoh sekali bagi Icha. Kalau Icha menjadi anak itu, ia akan menjawab: “Tentu! Aku sangat sayang kepada ibu!”. Namun, anak itu menjawab: “Ya, aku sayang ibu! Kalau tidak ada ibu, siapa yang mau memasukkan sebutir permen ke sakuku setiap hari?”. Icha sangat iba kepada ibu itu, karena sang anak menyayanginya karena sebutir permen, sementara ibu itu menyayanginya karena menurutnya sang anak juga menyayanginya setiap saat, bukan hanya saat hari itu ia meletakkan sebutir permen di sakunya. Bertahun-tahun Icha hidup tanpa rasa sayang seorang ibu yang melahirkannya. Ketakutan, kesedihan, kesunyian, selalu ada di hati kecilnya. Andai saja, ia pernah merasakan rasa sayang seorang ibu.... Tak mungkin rasa takut, sedih, dan sunyi itu menghantui dirinya.

Malam hari yang sunyi. Icha terus memandang ke arah bulan yang tengah memancarkan sinarnya. Terbayang wajah seorang ibu yang sedang tersenyum ke arahnya. Icha pun turut membalas senyum seorang ibu itu. Ah, senyum itu hanya bayanganku saja.. Andai senyum itu nyata ada di depanku, betapa bahagianya hatiku. Kata Icha dalam hati kecilnya.

Icha mulai sedikit demi sedikit ingin memejamkan matanya. Ia terus memandangi bulan yang sedang tampak di langit, sambil sesekali-kali terantuk-antuk. Namun, ia belum bisa memejamkan matanya sepenuhnya. Ia pun mengingat-ingat “obat tidur” lain yang bisa membawanya tidur malam ini. Ia tidak mengingat bendanya, namun ia ingat letaknya.

Jam dinding berbingkai ular. Itulah klu letak “obat tidur” keduanya. Ia segera berlari ke ruang makan, letak jam dinding kesukaannya bertengger. Jam itu bergambar tokoh kartun berwujud kucing, dan jam itu tidak berbingkai. Namun, klu itu tidak menjelaskan tentang jam dinding itu, namun benda yang terletak di bawahnya. Itulah “obat tidur” kedua Icha malam ini. Benda yang dilingkari bingkai kayu berukiran ular. Itu adalah FOTO IBU Icha.

Wajah ibu mirip sekali denganku. Namun, sayang, aku tak tahu seberapa besar kasih sayangnya untukku.. Tunggu! Kurasa, aku masih bisa mengukurnya... Ibu berani memberikan ruang di rahimnya untuk tubuhku. Ibu mau aku mengambil makanan yang ia makan dan minuman yang ia minum untukku. Ibu mau menanggung sakit yang luar biasa selama 9 bulan hanya agar aku bisa terlahir dengan selamat. Ibu mau mendorong tubuhku dari rahimnya dengan susah payah cuma karena agar aku dapat memulai kehidupanku. Dan yang terakhir, ibu mau menyerahkan NYAWAnya untuk kelahiranku sampai-sampai ia wafat di saat ia mendorong tubuhku keluar dari rahimnya yang telah kurusak. Kalau saja aku tidak lahir dari rahimnya, pasti ia tidak akan wafat dan masih bertahan hidup di dunia ini... Namun, ia mau aku lahir dari rahimnya, sehingga ia mau wafat demi kehidupanku. Aku harus bersyukur.. Bisa kupastikan, ia sangat menyayangiku.

Di malam insomnia bagi Icha. Kasih sayangnya telah mengantar Icha memasuki dunia mimpi yang indah. Pengorbanannya yang luar biasa untuk Icha telah membuat Icha tabah menghadapi kehidupannya yang pahit. Besarnya cinta yang telah ia tujukan kepada Icha telah membuat Icha bersyukur dapat lahir dari rahim seorang ibu yang mencintainya. Selamat tidur dan mimpi indah Icha..

PROFIL PENULIS
Penulis : Maria Chesa Alethania ( Chesa )
Tempat tgl lahir : Surabaya, 5 Januari 2003
Sekolah : SD Citra Berkat Surabaya (Kelas V)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Seorang Ibu""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel