CERPEN "Alkisah di Sebuah Desa"
CERPEN "Alkisah di Sebuah Desa"
ALKISAH DI SEBUAH DESA
Cerpen Karya Ponpes Islamic Centre Muhammadiyah (ICM) Lubuklinggau
Ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan masih banyak lagi.
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, namun ia sering berdoa memohon kepada Allah Swt,
''Ya Allah tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi, aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati''
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara, karena kejahatan yang sudah dilakukannya.
Suatu hari ia kembali mencuri dirumah, namun malang nasibnya, ia tertangkap dan kemudian dia dibawa ke hadapan raja untuk diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan keseluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari didepan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul 6 pagi.
Berita hukuman itu sampai keterangan si ibu, dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa bersujud kepada Allah Swt,
''Ya Allah ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya''
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan.
Tapi keputusan sang raja sudah bulat, anaknya harus menerima dan menjalani hukuman.
Dengan hati hancur, ibu kembali kerumah. Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena sudah kelelahan.
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya.
Terbayang dimatanya wajah ibunya yang sudah tua dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba.
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat 5 menit dan suasana sudah mulai berisik.
Akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang.
Ia merasa heran karena sudah sejak dari tadi dia menarik tali lonceng, tapi suara dentangannya tidak ada.
Saat mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat dimana lonceng itu diikat.
Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.
Tahukah anda apa yang terjadi ?
Ternyata didalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah, dia memeluk bandul didalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi. Sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur didinding lonceng.
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara itu si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.
Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng, sambil memeluk besi didalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya. Betapapun jahatnya si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya.
Pesan : Marilah kita mengasihi orang tua kita masing-masing selagi kita masih mampu, karena mereka adalah sumber kasih Allah bagi kita didunia. Sesuatu untuk dijadikan renungan untuk kita, Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.
PROFIL PENULIS
Nama : Imam Dwi Prastyo
Tempat/Tanggal Lahir : Lubuklinggau, 16 September 1999
Golongan darah : B
Tinggi : 173 cm
Status : Pelajar
Asal Sekolah : Smp Negeri 1 Lubuklinggau
alamat Facebook : imam_dwi99@yahoo.co.id
0 Response to "CERPEN "Alkisah di Sebuah Desa""
Post a Comment