CERPEN "Dzulhijjah Buat Emak" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Dzulhijjah Buat Emak"

CERPEN "Dzulhijjah Buat Emak"
DZULHIJJAH BUAT EMAK
Cerpen Karya Dzulfikar Nasrullah

Keringatnya masih belum kering, namun senyum yang terlukis di wajahnya membuat teduh ruangan berukuran 4x6 meter itu, ruangan yang sedimensi dengan pas foto itu tak pernah kemarau dengan kasih sayang. Bapak yang berkulit coklat legam, emak yang pandai memasak dan Syu’eb, bocah yang menginjak usia masuk SD, yang bulan lalu khitan di hari kemerdekaan yang dirayakan orang se kabupaten, pada hajatan sunat masal atas terpilihanya bupati baru.

Dalam perspektif Syu’eb pahlawan nasional hanya ada dua, bapak dan emak. Ya mereka berdua lah yang secara nyata mengisi perut bocah itu, dan mengajarinya mengaji. Mengaji adalah moment terindah bagi Syu’eb. Lewat mengaji Syu’eb tahu bahwa namanya ternyata adalah nama salah satu dari 25 rasul, yang diutus untuk kaum madyan. Dan mengaji adalah satu-satunya media belajar buat Syu’eb, karena dinegeri tidak ada pendidikan geratis, semua syarat dan ketentuan berlaku, janji para pejabat negeri ini masih disembunyikan untuk dijanjikan lagi di pemilu yang akan datang.

Pernah ada seorang calon kepala desa datang kerumah Syu’eb, dia meminta agar becak bapak Syu’eb tempat duduknya dipasangi foto calon kades tersebut, dengan imbalan Syu’eb akan di sekolahkan. Namun bapak Syu’eb menolak, beliau lebih memilih tulisan lambang NU dan diatasnya dikasih tulisan “SAYA”.

Bapak Syu’eb yang profesinya sebagai tukang becak itu, dulunya pernah nyantri di pesantren salah satu pendiri NU, walau harus boyong sebelum waktunya dengan alasan klasik, ekonomi. Waktu pamitan ke Kyai, kyainya berpesan,
“apapun pekerjaan kamu nanti, jangan lupa dijaga sholatnya,”

Dan oleh kyainya, bapak Syu’eb dihadiahi sarung,
“ini buat kamu dan ini buat anak kamu besok.”
Sarung dari kyai itulah yang dipakai Syu’eb pada waktu khitan, dimana disarung tersebut ada tulisan arab yang kalau dibaca “MUHAMMAD SYU’AIB”.
Nikmat paling indah yang dicemburui pemuda sekampung dari bapak Syu’eb adalah emaknya Syu’eb. Bunga desa yang entah apa sebabnya mau dipersunting oleh bapak Syu’eb. Pernikahan keduanya sangat dramatis dan banjir air mata.

Ditengah moment yang sakral itu banyak isu yang tersebar, mulai dari isu kalau bapak Syu’eb sudah menghamili ibu Syu’eb, ada juga yang bilang kalau bapak Syu’eb pakek pelet atau isu-isu lain yang memojokkan status bapak Syu’eb. Namun faktanya adalah, keduanya menikah, dikaruniai anak dengan waktu kehamilan yang normal, dan sanggup mengarungi hidup dengan kondisi dibawah cukup.
***

Syu’eb, hadiah terbaik dari Allah buat keluarga ini, ketika bocah seusianya minta di belikan sepeda, playstation atau semacam itu ketika khitan, Syu’eb hanya minta diajak keliling kota sehari dengan becak bapaknya.

Ya pekerjaan bapak Syu’eb memang berbeda dengan pekerjaan para PNS atau pekerja kantoran, bagi pekerja lapangan semcam bapak Syu’eb, setiap hari adalah kerja, becaknya adalah warisan dari kakek Syu’eb, menjadi tukang becak sejak kakek Syu’eb meninggal, semiggu ba’da keluar dari pesantren. Sarung pemberian kyainya slalu ada dalam kotak kecil di belakang tempat duduk becaknya, setiap terdengar adzan, dia berhenti untuk menunaikan shalat. Bahkan pernah dia dimarahi penumpang, karena tak mau menarik becaknya gara-gara mendengar suara adzan. Bapak Syu’eb patuh betul pada dawuh Kyainya, terlebih beliau percaya kalau ridho guru itu setingkat dengan ridho Allah.

Maka seminggu ba’da khitan, ketika Syu’eb sudah bisa berjalan normal, berangkatlah keluarga itu keliling kota. Bapak Syu’eb mengayuh becak dengan penuh suka cita, sementar si emak, menunjukkan Syu’eb nama-nama tempat yang dilewati. Bapak dan ibu Syu’eb sejenak bernostalgia, masa pacaran keduanya ba’da menikah. Ya keduanya tak sempat pacaran sebelum menikah, keduanya bertemu di suatu malam jum’at waktu diba’an. Lalu paginya bapak Syu’eb melalui kyai kampung yang masih uwaknya melamar ibu Syu’eb. Menikahlah keduanya seminggu kemudian. Itulah salah satu sebab mengapa pernikahan keduanya dijadikan gunjingan, ditambah pekerjaan bapak Syu’eb yang hanya tukang becak.

Sampai di suatu warung es di kiri jalan, becak SAYA NU itu berhenti.
“kita minum es, disini ya” tawar bapak Syu’eb

Syu’eb dan ibunya mengangguk, bertiga mereka memesan es campur, dan moment seperti merupakan moment langka, karena butuh beberapa minggu untuk menyisihkan uang demi menikmati tiga mangkok es campur di negeri ini, bagi tukang becak macam bapaknya Syu’eb.
“Pak, emak lama gak masak daging ya.” Kata emak sambil memandangi tulisan “Warung Sate Ujang Bujang”
“Terakhir waktu Idhul Adha tahun kemaren ya mak, saat bapak diminta khutbah di desa tetangga, dapatnya daging banyak.” Jawab bapak sambil ikut memperhatikan tulisan itu.
“Bulan Dzulhijjah besok kita masih dapat masak daging gak ya pak?” Tanya emak Syu’eb sambil mengerutkan dahi.
“Ya semoga ya mak, insya’allah, Allah akan ngasih jalan, tapi jangan terlalu berharap kayak tahun kemaren, bismillah Allah tahu yang terbaik.” Jawab bapak Syu’eb menghibur

Syu’eb yang menyaksikan keduanya, terus makan es dalam hatinya
“Ya Allah, kasih jalan buat bapak, biar besok Idhul Adha emak bisa masak daging”
***

Allahu Akbar,,,Allahu Akbar,,,Allahu Akbar…
Gemuruh takbir menggema di malam itu menandai besok adalah Idhul Adha, Syu’eb sudah di masjid sejak Maghrib, bersama beberapa kawannya. Bapak Syu’eb masih belum pulang, biasanya beliau pulang ba’da Isya’, beliau shalat Maghrib di jalan, dan jama’ah Isya’ di rumah setelah itu beliau menjelma menjadi ustadz buat Syu’eb. Sementara itu di rumah, emak Syu’eb malantunkan Al Qur’an sambil menunggu imamnya pulang.

Ba’da shalat Maghrib, Syu’eb dan kawannya pulang, karena besok Idhul Adha, ngaji di masjid diliburkan, walaupun tidak libur, Syu’eb biasanya tetap pulang, karena dia belajar al Qur’an dengan emaknya, butuh beberapa lembar ribuan untuk mengaji di masjid di kampung Syu’eb, yang kabar berita pengajarnya sarjana, jadi harus bayar karena dulu dapat sarjananya mahal.
“Eh, besok mamak kamu kalau dapat daging masak apa?” Tanya teman Syu’eb diantara gemuruh takbir yang terdengar.
“Masak rendang,”
“Kalau ibu aku, masak soto daging”
“Ah, ayah aku biasanya dibikin sate itu daging”
“Eh, Syu’eb kalau kamu besok dapat daging, dimasak apa.”
“Terserah emak mau dimasak apa,” jawab Syu’eb, dalam hatinya “semoga besok dapat daging”.
Gemuruh takbir, diiringi suara jangkrik mengganti berisiknya percakapan Syu’eb dan teman-temannya.
***

Tak seperti tahun kemarin, bapak Syu’eb tidak diminta untuk menjadi khatib, hanya beliau sekarang jadi tim qurban di desanya, otomatis beliau tidak narik becak. Ba’da shalat id, beliau dengan golok pemberian uwaknya sudah siap di depan masjid, bersama para bapak-bapak yang lain karena beliau memang tidak pulang dulu ke rumah. Tahun ini kampung Syu’eb mendapat banyak hewan qurban, 5 ekor kambing dan seekor sapi pemberian pak Kades terpilih.

Di rumah, ibuk Syu’eb sudah memasak nasi dan menyiapkan bumbu untuk memasak daging, sementara Syu’eb juga masih di masjid, untuk menyaksikan proses penyembelihan qurban.
Tak butuh lama untuk memproses hingga membagi hewan tersebut, menjelang dhuhur, semua daging sudah dibagi, dan jatah panitia sudah dibagikan, di kampung Syu’eb para panitia mendapat jatah sebagai warga dan jatah sebagai panitia, yang kedua jatah itu dibagikan di masjid, jadi para istri mereka harus menunggu mereka pulang untuk memasak daging tersebut. Karena bapak Syu’eb dipanggil oleh uwaknya, Syu’eb diminta untuk pulang duluan sambil membawa daging jatah bapaknya.

Jarak antara masjid dan rumah Syu’eb tak seberapa jauh hanya melewati beberapa rumah, dan 500 meter pematang sawah. Di tengah perjalanan, Syu’eb membayangkan betapa senangnya emaknya, karena membawa daging yang cukup banyak, sekitar setengah kilo. Mendengar suara adzan, Syu’eb berhenti, setelah mengambil wudhu’di mata air yang menjadi sumber irigasi sawah di desanya, Syu’eb memakai sarung yang semula dislempangkannya. Di kampung Syu’eb hampir semua sawah terdapat gubuk , disamping untuk istirahat setelah bekerja, gubuk itu juga berfungsi untuk shalat, kebanyakan orang kampung Syu’eb berprofesi petani.
Ba’da sholat, Syu’eb merebah sebentar, karena cuaca waktu itu masih sangatlah panas.
***

Hari sudah menjelang Maghrib di rumah Syu’eb, dan harta berharga rumah ini belum datang juga, emak wajahnya sudah sangat kusut, takut kalau anak semata wayangnya ini kenapa-napa.
“Emak, tenang ya, Insya’Allah tidak akan terjadi apa-apa”
“Tenang gimana? bapak sih, mestinya tadi anaknya diajak pulang bareng, malah ditinggal”

Bapak hanya tersenyum tipis menanggapi kegusaran emak, dan berkata
“Baiklah, kita sholat Ashar dulu, setelah itu bapak akan mencari Syu’eb”
Akhirnya emak sedikit tenang, dan keduanya shalat di penghujung ashar.
***

“Assalamu’alaikum” suara salam yang tak asing bagi rumah ini.
Emak yang baru selesai wirid, langsung berlari keluar,
“Ya Allah, Syu’eb kamu kemana saja, bapak sama emak sampai khawatir”

Syu’eb langsung tersimpuh memeluk kaki emak, sambil menangis.
“Ma’afain Syu’eb mak, ma’afin Syu’eb”
“Lho-lho kenapa,? Kenapa kamu nangis?”

Syu’eb hanya terisak-isak menjawab pertanyaan emak,
“Ma’afin Syu’eb mak”
“Ma’af kenapa?” Tanya emak, kebingungan.
“Daging yang Syu’eb bawa dari masjid hilang…, tadi Syu’eb ketiduran di gubuk, pas bangun daging yang Syu’eb bawa tidak ada” Jawab Syu’eb sambil melanjutkan tangisnya.

Bapak Syu’eb yang dari memperhatikan bocah itu, hanya tersenyum.
“Sudah-sudah, sudah Maghrib, kita sholat dulu setelah itu makan, kamu laparkan???” kata bapak
“Ma’af ya mak, emak jadinya gak bisa masak daging”

Emak tersenyum, sambil menghibur Syu’eb,
“Syu’eb, bahagia itu gak harus makan daging kan?, buat apa emak makan daging tapi kamu gak pulang ke rumah, ya udah mari sholat yuk, setelah itu kita makan, kamu pasti lapar, seharian gak makan”
***

Ba’da Maghrib, keluarga kecil itu berkumpul di ruang depan, dan Syu’eb masih dengan tangis penyesalannya.
“Udah, ’Eb berhenti nangisnya, ntar air matanya habis lho, ayo mak, keluarin masakannya”

Semangkuk soto daging dan 9 tusuk sate dikeluarkan emak dari dapur. Melihat hidangan itu Syu’eb kaget,
“e…emak dapat daging dari mana?”
Emak hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan syu’eb.
Sementara syu’eb makan daging yang dibawanya sendiri, Ruangan kecil itu serasa restoran mewah, diiringi harmonisasi suara jangkrik. Dan di luar keluarga sederhana ini, ada banyak anak, bapak, dan emak yang masih berburu Dzulhijjah yang daging qurbannya mengurbankan manusianya.

“nikmat yang paling indah adalah mensyukuri rasa syukurmu”
3 oktober 2013

PROFIL PENULIS
Dzulfikar Nasrullah
Mahasiswa STAI Al Fithrah Surabaya
Tinggal di twitter @en_dzul
No. Urut : 1257
Tanggal Kirim : 14/04/2014 8:35:56

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Dzulhijjah Buat Emak""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel