CERPEN "Laksamana Laut Gagah Perkasa" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Laksamana Laut Gagah Perkasa"

CERPEN "Laksamana Laut Gagah Perkasa"
LAKSAMANA LAUT GAGAH PERKASA
Karya Mskmarzuan

Fajar mulai meyinsing, cahaya langit nampak kemerah-merahan di langit sebelah timur, cahaya terang yang memancar secara horizontal pada garis cakra wala, terlihat seseorang lelaki yang sedang berjalan kearah sebuah pelabuhan di pinggir pantai, dia mengenakan topi cow boy, celana panjang, baju berlengan panjang sembari mentupi wajahnya dengan penutup wajah, terlihat dia sedang menenteng bawaan berupa bekalan, dan sebatang kayu yang berukuran 250 cm, di saat jutaan pasang mata sedang terlelap tidur, seorang lelaki gagah nan perkasa seperti seorang laksamana yang sedang menyiapkan kapalnya untuk berangkat patroli di laut, tapi dia bukanlah laksamana angkatan laut, atau laksamana do re me, aku menjuluki ia dengan laksamane laut gagah perkasa.

Ia seorang laksamane yang tangguh, berjuang melawan hantaman gelombang, angin hari itu bertiup sangat kencang tiada seorang yang berani menyebrangi pulau seberang dengan jongkong dan melawan tiupan angin itu, hanya ia laksamane yang tangguh menentang angin yang bertiup kencang, gelombang yang tinggi terlihat memecah di pinggiran pantai dari sebuah selat di pulau seberang, tanpa ada rasa takut sedikitpun ia terus menganyoh jongkongnya perlahan namun pasti.

“Sekali dayung tiga pulau dia lewati”, pepatah yang sangat pantas untuk seorang laksamane yang gagah berani, alat tempurnya ialah beberapa utas tali yang di lilitkan pada sebuah luak yang terbuat dari kayu mentigi, beberapa mata pancingan dan timah melengkapi peralatan yang ia butuhkan selama di laut.

Jongkong adalah kendaraan yang ia gunakan untuk mengapai tujuanya, sebuah jeregen terisi air yang di dalamnya di isi ikan selar yang hidup untuk menjadi umpan pancinganya. Semangat tanpa kenal letih, itulah ia laksamane laut gagah perkasa.

Angin utara di laut cina selatan memecah membentuk gelombang dan alun yang tinggi, terkadang ia seperti tenggelam ketika gelombang menaik tinggi, ia sudah terbiasa akan hal itu, aku salut kepada lelaki itu. Hanya ingin menghidupkan keluarga kecilnya ia pertaruhkan nyawa di atas angin dan gelombang yang memecah ketika musim utara datang.

Aku sempat berpikir apakah ia gila, berani melawan angin dan gelombang, kalau ia mengunakan kapal masih bisa ku pikir jernih, akan tetapi ia melaut dengan sebuah jongkong, sampan kecil untuk mencari ikan, yaitu kendaraan laut yang terbuat dari sebatang pohon besar. Tanpak dengan gagah berani ia menganyoh jongkong dengan sedikit tergesa-gesa mempercepat dayunganya ia harus menempuh selama dua jam jarak yang cukup jauh, ia mendayung jongkongnya hingga sampai di tempat pemancinganya.

Kopi peneman rasa suntuk kala ia sendirian di tengah lautan yang luas, ketika terik matahari mulai menyengati kulitnya, pipinya terkadang memerah padam, matanya agak kurang awas pada sesuatu, ia sedikt rabun, namun ia memiliki kelebihan tanpa mengunakan radar ia bisa merekam keadaan suatu karang di bawah permukaan lautan yang biru nan dalam, ia bisa menandai karang-karang di dalam lautan dengan ujung sebuah pulau, karang-karang yang di huni jutaan ikan sebagai tempat ia mengais rezeki dari tuhan sang pencipta alam semesta.

Aku sangat penasaran keinginan tahu ku sangat kuat pada apa yang ia lakukan di lautan sana, sore itu ia pulang dari laut membawa banyak ikan, empat ekor ikan sunu, tiga ekor manyu dan beberapa ekor ikan selar. Setidaknya hari itu lebih dari lima ratus ribu rupiah uang yang ia peroleh dari hasil pancinganya.

Pada malam hari itu aku mengunjungi ia di rumah, aku berkata jika boleh aku ingin ikut dia melaut aku sangat penasaran bagaimana usahanya di laut sehingga ia berani mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sesuap nasi. Dia bertanya kamu tahan tidak mabuk laut, angin kencang dan gelombang cukup kuat di laut, aku hanya bilang aku ingin mencobanya dari pembicaraan kami itu akhirnya di sepakati kami akan pergi melaut bersama.

Pagi itu pun tiba, cuaca agak mendung, angin masih cukup kencang, kami berangkat bersama dengan menaiki sebuah pompong atau di sebut dengan motor laut, dan sebuah jongkong yang di letakan di atas pompong, aku bersama adek sepupu ku, mesin pompong sudah di hidupkan kami pun segera meluncur, tidak tampak nelayan lain yang melaut saat itu, atau mungkin kami agak kesiangan ku lihat jam tangan ku sekitar jam 6.15 wib, biasanya nelayan melaut sebelum fajar menyinsing. Aku duduk berdampingan dengan sepupu ku sementara laksamane laut gagah perkasa memegangi kemudi pompong yang sedang melaju.

Akhirnya kami sampai juga setelah lebih dari 30 menit waktu yang kami tempuh untuk sampai di tempat pemancinganya. Alun cukup tinggi, setelah sampai langsung saja ia menurun kan jongkongnya dari atas pompong ke permukaan air, dia memandu kami dengan jongkong menujukan arah pemancingan, sementara dia di dalam jongkong terlihat berusaha megulurkan talinya hingaa sampai ke dasar laut.

Dia menginstruksikan kami dari kejauhan terkadang alun serta arus yang cukup kuat dengan cepat menghanyutkan kami yang berada di dalam sebuah pompong dengan kondisi mesin di matikan, meski angin kencang arus kuat kami tetap harus mengulurkan tali pancingan kami sampai ke dasar laut.

Benar sungguh setelah sampai di dasar laut tali kami langsung saja di sambar ikan, kami mengunakan tali rawai yang memiliki 15-20 mata pancing kecil, mata pancing dengan berukuran 20 yang di ikat dengan bulu-bulu yang bewarna agak kehijauan di campur dengan kapas bewarna putih.

Tapi kami tidak lama bisa memancing, karena beberapa kali tali pancing kami harus tersangkut karang dan putus, alun dan gelombang membuat aku terasa tidak nyaman angin yang sejuk membuat aku kedinginan dan turun hujan yang tidak begitu lebat, aku terasa mabuk laut dan serasa ingin muntah di tambah ketika aku mencium bau ikan yang tidak enak, tapi kutahan agar jangan sampai muntah.

Itu bedanya aku yang tidak biasa melaut dengan seorang laksamane yang gagah berani yang tidak nampak oleh ku sedikit pun rasa kekahwatiran, rasa akan takut pada sebuah bahaya yang akan menimpanya, dia sudah sangat terbiasa dengan keadaan cuaca yang extereme sekalipun, dan dia sudah tahu bagaimana cara untuk mengahadapi jika sewaktu-waktu bahaya mencekam.

Adek sepupu ku sudah terbaring lemas sepertinya ia sudah mabuk laut, kami sudah mendapatkan banyak ikan dan cukup untuk membuat lauk, akhirnya karena kami tidak memiliki pancingan lagi, kami menghampiri laksamane.

Aku berkata kami izin pulang dulu karena tidak memiliki pancingan lagi, dia berkata ya pulanglah dulu, kami pun bergegas untuk pulang, aku seperti sangat tidak sabar untuk sampai kedaratan ada rasa takut yang menghampiri ku dengan melihat cuaca dan gelombang yang begitu kuat, akhirnya kami sampai dengan selamat di daratan. 

Sang laksamane masih di laut masih mengatungkan hidupnya untuk mencari nafkah bagi anak dan istrinya, seorang yang benar-benar gagah perkasa, siap mati kapanpun hanya demi memperjuangan kehidupan keluarganya.

Itulah dia Sang laksamane laut gagah nan perkasa.   

Profil Penulis:
Nama: marzuan
Moro-karimun-kepulauan riau
fb: Mskmarzuan

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Laksamana Laut Gagah Perkasa""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel