CERPEN "Best Friend"
CERPEN "Best Friend"
BEST FRIEND
Karya Nada Putri
Hari pertama...
“Murid-murid, kalian kedatangan teman baru hari ini. Ibu harap kalian sambut dia dengan baik” tutur seseorang yang di panggil guru itu, “baik bu” semua menjawab serentak perkataan guru tersebut. Gadis itu melangkah masuk setelah guru mempersilahkannya, wajahnya terlihat sangat gugup namun juga sangat bahagia. “hai teman-teman,namaku Nina, salam kenal?” ucap gadis itu sambil tersenyum dan sungguh gadis yang ceria, “salam kenal” ucap seluruh teman barunya itu. Betapa bahagianya ia sampai tak bisa membayangkan kebahagiaan itu. “baiklah Nina, kau bisa duduk di bangku kosong disebelah Reva” lamunannya tentang sahabat baru dibuyarkan oleh seorang guru yang menyuruhnya duduk, “baik bu” ucap gadis itu sambil menuju tempat yang telah dipilihkan oleh gurunya.
“Hai anak baru, nanti kita bermain bersama ya?” ucap seorang gadis bernama Wanda, betapa senang hatinya saat mendengar kata kata itu, benar benar terasa asing di telinganya, tapi ia tak peduli akanhal itu saat ini, “hm, boleh” jawabnya dengan penuh kebahagiaan, “bagus”. Semua teman sekelasnya begitu heboh menanyai Nina, bahkan ada yang penasaran seperti apa sosok Nina, Nina tak menjawabnya dengan kata kata melainkan ia hanya tersenyum, baru kali ini ia merasakan kehangatan teman-temannya yang selama ini tak pernah ia rasakan, “ku harap akan terus seperti ini” ucaphnya lirih dalah hati.
Tiba-tiba saja ia teringat akan seorang gadis yang duduk disampingnya itu, ia mencoba mengingat nama gadis itu dan sekarang dia ingat, “Reva?” gadis itu menoleh seketika sebelum kemudian membuang wajah, Nina bingung jadi ia mencoba memastikannya lagi “kau Reva kan?” tanya Nina, namun gadis itu tak menjawab bahkan ia mendesah sambil berusaha menutup gendang telinganya. Entahlah, apa yang dikatakan Nina salah? Dia hanya ingin memastikan apakah gadis itu benar Reva atau bukan, apa yang dilakukan Nina salah? Ia kembali teringat tentang masa lalunya, semburat-semburat kesedihan dari masa lalunya begitu terlihat jelas. Nina menangis mendelik menyesalinya.
Hari demi hari berlalu, ia selalu tak sabar untuk bermain bersama teman barunya, namun ia merasakan kesepian yang dirasakan Reva, gadis itu nampak tak memiliki seorang teman, wajahnya pucat, kantung hitam di bawah matanya, bahkan pipinya lebih tirus dari biasanya. Nina mencoba mendekati gadis itu, ia hanya kasihan dan ingin menemani karena ia pernah merasakan kesepian yang amat sangat, lagi-lagi gadis itu acuh tak acuh terhadap Nina namun hal itu tidak membuat Nina menyerah untuk mendekati gadis itu, ia hanya ingin mengurangi kesepian yang dirasakan gadis itu dan hanya itu, tidak lebih.
Akhirnya gadis itu mulai membuka mulut, “Kenapa kau selalu mendekatiku, padahal semuanya menjauhiku?” Nina bingung akan pertanyaannya itu, mengapa gadis itu menanyakan pertanyaan konyol? Tentu karena Nina ingin bersahabat dengannya, belum sempat Nina membuka mulut gadis itu sudah mengatakan sesuatu yang lain “Kumohon, tolong jauhi aku, aku tau kau hanya ingin menolongku, tapi izinkan aku untuk menghadapinya sendiri, jika boleh jujur aku benci seorang teman, jadi tolong mengertilah.” Ucap gadis itu kemudian meninggalkan Nina yang terpaku seorang diri, tenggorokannya serak, ingin rasanya ia mengejar gadis itu untuk menanyakan alasan yang lebih logis lagi, tapi ia tak bisa mengejarnya, kakiknya terasa terpaku bersama bumi, ia ingin berteriak namun tak bisa.
Setelah kejadian itu, Nina masih tetap mendekati Reva, bahkan apa yang dikatakan Reva tak membuat tujuannya untuk menemani Reva itu buyar. Beberapa kalipun Reva menolak ajakan Nina, namun hal itu tak membuat Nina mundur, gadis itu hanya kesepian dan ia berusaha menutupinya dengan cara seperti itu, Nina yakin sebenarnya Reva adalah gadis yang berhati hangat, bahkan dia gadis baik. “Reva?”... “Reva?” sudah berkali kali Nina memanggil namanya namun gadis itu tak menjawabnya, “Reva kau dengar aku?” Reva menoleh dengan malas ke arah Nina, Nina hanya tersenyum simpul. “uhm, kau mau menceritakan semua yang kau rasakan padaku? Aku tau sejak dulu kau menyimpan sesuatu bukan? Suatu kenangan yang kelam mungkin, kau tau kita ini sahabat dan guna sahabat adalah sebagai tempat curhat saat kau tidak tahu kepada siapa kau mencurahkan isi hatimu” jawab Nina dengan tersenyum, gadis itu menjawab datar perkataan Nina, “jadi begitu” Nina merasa gemas dengan jawaban yang diberikan Reva, “ya, seperti itulah. Tidak hanya itu, sahabat juga akan membantumu untuk menyelesaikan suatu masalah dan mungin dia yang akan membantumu keluar dari masalah itu” lanjutnya lagi, gadis itu hanya terdiam dan merenung “itukah guna sahabat? Bahkan aku tidak mengerti arti sahabat” Nina tersenyum hangat “hm, jadi kau jangan sungkan untuk mengutarakan isi hatimu ke sahabatmu ini ya” keduanya tersenyum berasama dibawah teriknya sinar matahari.
Sejak saat itu sikap Reva yang awalnya dingin dan tak acuh perlahan memudar, berkat Nina ia mengubah pola hidupnya itu, bahkan kini ia sangat dekat dengan Nina, ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan menjaga Nina tak peduli apa yang akan terjadi, jika Nina melupakannya maka ia akan mengingatkannya. “hai” lamunannya dibuyarkan oleh seorang gadis yang menyapanya, “Nina” Reva terlihat sangat terkejut ketika Nina menyapanya, “hahaha, apa wajahku seburuk itu sampai sampai kau terkejut melihatku?” Reva menjawab pertanyaan Nina dengan terbata-bata “aku..aku..” “sst” Nina memotong perkataan Reva “tidak apa” lanjutnya.
Kring...kring... bel sekolah berbunyi 4 kali tanda waktu pelajaran telah habis dan saatnya untuk pulang. “Nina, temui aku dibelakang sekolah ya, aku tunggu di sana, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan” Nina mengernyitkan dahinya sedikit berpikir, tumben sekali Wanda mengajaknya tidak seperti baiasanya, seingatnya terakhir kali dia mengajaknya berbicara saat ia pertama kali menjadi murid baru, sejak itu Wanda tak pernah mengajaknya mengobrol. Mungkin ini serius, pikirnya lalu pergi menuju tempat yang telah diberitahukan Wanda.
“Ada apa” tanya Nina penasaran, Wanda tak menjawab dia sedikit terisak dan Nina bisa mendengarnya, “hey” Nina mencoba menyapa gadis itu lagi, namun tiba tiba gadis berteriak ke arah Nina “Aku benci Reva!” ucapnya dengar suara yang sangat melengking, Nina terpaku dan ia mulai merasakan kakinya mulai lemas “a..apa maksudmu? Kau membencinya? Tapi kenapa?” Wanda hanya menggeram, wajahnya penuh amarah dan semua amarah itu ia luapkan kepada Nina, “aku benci Reva! Dan siapapun yang mendekatinya harus berurusan denganku, dia gadis jahat! Dia pengkhianat! Aku benci dia! Aku benci! Benci! Benci!” teriakan Wanda semakin mengeras, Wanda terus terusan menangis dan berteriak sambil mencakari dan memukuli tubuh Nina, Nina menangis terisak disana, bukan hanya merasakan sakit dari pukulan dan cakaran Wanda, namun juga sakit hati karena mendengar perkataan Wanda, keduanya menangis bersamaan dengan hujan.
Nina bingung, ia masih tak percaya akan perkataan Wanda waktu itu, ia ingin mencari tahu apa yang dilakukan Reva sampai Wanda begitu membencinya. Ia teringat dengan gadis yang sering bersama Wanda kemanapun wanda pergi, kali ini ia sedang sendirian dan ini adalah kesempatan Nina untuk bertanya. “hey” gadis itu menoleh dan tersenyum ke arah Nina “hey juga” “uhm aku ingin bertanya satu hal kepadamu” ucap Nina, gadis itu sepertinya serius, “oh, hm tentu saja” gadis itu tersenyum. Keduanya mencari tempat yang tersembunyi namun enak untuk tempat mengobrol. “Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?” tanya gadis itu, “ini tentang Wanda, waktu itu dia berteriak kearahku dan berkata dia menbenci Reva, dia bilang Reva pengkhianat. Kau tahu kenapa?” gadis itu berubah menjadi diam tak bersemangat “kenapa kau tidak tanyakan kepada mereka sendiri?” bukannya menjawab, ia malah balik bertanya. Nina tidak mengerti, “ dia dan Reva saat itu adalah sahabat, Reva memiliki wajah yang mirip dengan kakaknya, Wanda adalah gadis yang sangat menyayangi kakaknya, tapi saat itu ia dikabarkan bahwa kakaknya pergi meninggalkannya, Wanda terus menunggu kepulangan kakaknya namun hal itu tidak terkabulkan, di saat yang sama Wanda mendengar bahwa Reva telah jatuh sakit dan telah di bawa keluar pulau untuk berobat, Wanda benar benar terpukul saat itu, ia kehilangan dua orang yang disayanginya, Wanda menjadi berubah, bahkan ia pernah ditampung di RSJ, dokter mengatakan saat itu Wanda mengalami Bipolar Disorder. Setelah itu, Reva kembali lagi ke rumahnya begitu juga dengan Wanda, bahkan Wanda diizinkan untuk bersekolah kembali, namun Wanda bukannya menyambut baik Reva melainkan ia malah membencinya, bahkan Wanda sering memukulinya” gadis itu bercerita panjang lebar tentang masa lalu Wanda, ternyata sungguh masa lalu yang kelam.
Nina menangis sendirian di dalam kelas, tiba-tiba seseorang menyodorkan tissue kepadanya, ia mendongak ke atas “Reva?” Nina terkejut melihat Reva yang berdiri di sampingnya, wajahnya datar namun terlihat peduli “kau berkata bahwa sahabat adalah tempat curhat yang akan mendengar isi hatimu bukan? Sepertinya kau ingin mengutarakan isi hatimu, jadi katakanlah” baru kali ini Reva menawarkan bantuan dengan menyodorkan sebuah senyuman. “Reva, apa aku boleh bertanya sesuatu?” Nina merasa sangat gugup, takut hal ini akan menyakiti hati Reva, “ya, ada apa?” “apa kau adalah sahabat Wanda? Apa kau membencinya? Apa kau...” belum selesai Nina bertanya, ia melihat mimik wajah Reva yang berubah, sedih atau kecewa entahlah Nina tak bia menebaknya, “maafkan aku” Reva pergi menginggalkan Nina sendirian.
Ingatan 5 tahun itu teringat kembali, saat pertama kali ia mendapatkan seorang sahabat. Ia benar-benar senang akan hal itu, sampai akhirnya ia jatuh sakit, sakit yang sangat parah sampai ia harus berpisah dengan sahabatnya, dokter bilang saat itu sedang tak ada obat karena sudah terlalu parah, namun untunglah dia bisa sembuh, namun peluang untuk ia bebas dari penyakit itu masih kecil. Saat ia mendengar bahwa mungkin penyakit itu akan muncul kembali, ia sedih. Bukan ini yang dia inginkan, dia ingin segera pulang dan segera bertemu sahabatnya. Hari itu telah tiba, ia kembali kerumahnya dan kembali sekolah, tapi bukan sambutan meriah yang didapat dari sahabatnya, melainkan sebuah mimpi buruk yang mencekam. Mungkin karena kejadian itu ia menjadi menutup diri karena ia benar-benar merasa bersalah, takut kesalahan itu akan terjadi yang kedua kalinya.
Lamunan Reva dibuyarkan oleh seorang gadis disampingya, Nina sahabat keduanya itu ditatapnya tajam dari ujung hingga ke ujung, wajah Reva terlihat pucat, dia lebih kurus dari biasanya, mata hitamnya itu seperti sudah menjadi ciri khasnya, matanya bengkak seperti habis menangis. Nina merasa kasihan, dipeluknya gadis itu dengan lembut dan baru kali ini Nina melihat gadis itu benar benar terlihat sangat rapuh karena selalu saja ia berhasil menutupi kerapuhannya. “ada apa?” tangisan Reva semakin menjadi-jadi “Aku takut, gimana kalau aku ninggalin kamu? Aku takut hal yang sama akan terulang kembali, takut.. hiks” “sst, tidak ada yang boleh mengatakan itu termasuk dirimu, jangan ya” ucap Nina sambil tersenyum, sepertinya gadis itu sudah sedikit lega.
Keesokan harinya, Reva tidak masuk sekolah. Nina terkejut, gadis itu tak mengirimkan surat bahkan nomornya tak aktif, Nina begitu khawatir namun ia mencoba meyakinkan bahwa Reva akan baik-baik saja. Sudah seminggu Reva tak datang ke sekolah, nomornya juga tak aktif, apakah Reva telah meninggalkannya? Apakah Reva tak lagi menganggapnya sahabat? Nina tidak ingin berburuk sangka kepada sahabatnya itu dan untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja ia mengunjungi rumah sahabatnya itu.
“Permisi” Nina menekan bel dirumah Reva, “ya, tunggu sebentar” “permisi bi, saya temannya Reva, apa Reva ada?” bibi itu tak menjawab secara langsung, ia terlihat seperti berpikir dan sedikit khawatir, “bi? Apa Reva ada” aku memecahkan lamunannya itu, “eh.. iya, sayangnya ia tidak dirumah sekarang, dia sedang pergi bersama keluarganya” karena penasaran Nina bertanya kemana mereka pergi “rumah sakit” “apa? Rumah sakit? Kenapa ia tak pernah memberitahuku?” Nina melihat wajah bibi itu sedikit merasa bersalah namun Nina tak peduli, dia langsung menuju rumah sakit dimana Reva dirawat.
Sesampainya di rumah sakit Nina bergegas menuju ke suster penjaga, ia bertanya dimana pasien bernama Reva Putri Andini dirawat, setelah tahu Nina langsung bergegas menuju ke ruang yang telah ditunjukkan oleh suster. Betapa terkejutnya ia saat berdiri di depan ruang ICU, ia tak percaya dan menganggap suster salah memberi tahukan kamar Reva Putri Andini, namun ternyata benar dan ia semakin yakin saat ibu Reva baru saja keluar dari ruangan. “Tante, apa yang terjadi?” Nina merasa khawatir dia ia terus terus menyalahkan dirinya dalam hati “Reva, membutuhkan donor darah dan pneumotoraksnya semakin parah, kantung paru parunya juga sudah benar benar rusak, dan yang paling mengejutkan... hiks” ibu Reva menangis semakin menjadi jadi, sebagai seorang ayah suaminya juga sangat terpukul, Nina merindukan sebuah keluarga yang seperti ini, sungguh keluarga yang hangat. “Ada apa Tante? Reva kenapa” Nina melanjutkan topik pembicaraan saat tadi “kata dokter organ tubuh Reva semua rusak, karena Reva sempat jatuh dari tangga sebelum pergi kerumah sakit, dan dokter bilang Reva tak bisa bertahan lebih lama lagi” Nina merasa terpukul, kenapa begitu cepat? Ia baru saja memiliki seorang sahabat, tapi kenapa harus pergi?
Nina langsung pergi menuju ke ruang lab tanpa memberitahu keluarga Reva, dokter bilang golongan darah Reva dengan Nina cocok, Nina merasa senang dan segera ia memberitahukan hal ini kepada keluarga Reva, “Tante, aku akan mendonorkan semua organku ke Reva, aku mohon ya” Nina tersenyum sambil memohon dengan amat sangat “tapi?” “Tante, aku ini sahabat Reva namun sebagai sahabat aku belum sempat memberi apa apa kepadanya, aku ingin memberi sesuatu kepadanya untuk terakhir kali” Nina terus memohon hingga orang tua Reva setuju dan berterimakasih kepada Nina. Sebelum operasi pendonoran dilakukan, Nina menulis surat untuk sahabat dan harapannya.
Operasi telah dimulai, Nina sedikit gugup dan telapak tangannya berkeringat, ia memang takut akan alat- alat bedah dari dulu. Operasi dilakukan selama 3 jam, untunglah semua berhasil tanpa kendala. Reva telah sadar sementara Nina ia masih tetap tidur, tidur untuk selamanya meninggalkan Reva dan orang orang yang ada di dunia ini. “Ma, Nina dimana? Reva pengen ketemu sama Reva” ibu Reva merasa gugup, bingung apa yang harus ia lakukan, bagiamana ia menjawabnya? “ma?” Reva terus menerus menanyakan dimana Nina dengan suaranya yang lirih. “Nina, dia udah meninggal, dia mendonorkan semua organnya ke kamu” Reva terkejut mendengar perkataan itu, tenggorokannya pahit seperti ada sesuatu yang mencekat, “tapi sebelum pergi, ia menulis surat kepadamu, mau membacanya sekarang” ibu Reva menawarkannya dan berharap Reva baik baik saja setelah membaca surat Nina “hm” ia mengangguk lesu. Reva membuka surat yang telah ditulis oleh Nina, ia menangis saat membacanya, ia membenci hidupnya itu, kenapa ia tak pernah bisa memiliki sahabat yang sejati? Selalu saja hanya sebentar, semua itu karena penyakitnya, ia membenci penyakitnya itu.
“Hai Reva.. kau pasti akan kesepian saat ini, mungkin saat kau membuka matamu kau tidak akan bisa melihatku lagi, tolong jangan murung lagi ya, carilah sahabat baru ya, gimanapun juga sahabat itu penting loh. Oh ya, kalau kamu berpikir penyakit kamu ini membuat kamu nggak bisa punya teman itu salah loh, tolong jangan salahin penyakit ya, kamu tau nggak kalau hal itu bisa bikit kita makin kuat. Aku mau curhat nih, sebenernya aku juga punya penyakit sih, aku nggak tahu ya, aku terpukul dan aku berusaha buat bunuh diri dan nggak pernah berhasil. Aku sakit, kata dokter otak besarku mengecil, suatu saat nanti aku nggak akan bisa jalan, mungkin aku bakalan berbaring di tempat tidur, aku sama sekali.tidak akan bisa menggapai mimpiku , aku tak bisa bayangkan itu, jika kau memperhatikanku berjalan mungkin kau akan melihat cara berjalan yang berbeda. Aku melakukan ini hanya ingin melarikan diri dari takdir, aku begitu takut untuk menghadapi kenyataan. Aku pengecut ya, padahal selama ini aku berusaha buat bikin kamu selalu bertahan dalam kondisi apapun, tapi nyatanya aku malah kabur dari yang namanya takdir. Maafin aku ya Reva, aku mohon satu hal, carilah sahabat baru tapi sisakan tempat yang cukup untukku, kau sangat baik, jangan mudah percaya dengan orag jahat, itu pesanku.” Nina Dewi.
Reva benar-benar terpukul akan kepergian Nina, namun semenjak Nina berpesan kepada Reva untuk mencari sahabat baru ia benar benar melakukannya, bahkan kini ia memiliki banyak teman namun masih menyisakan tempat yang cukup untuk Nina, “Nina, aku telah menepati janji, aku telah menuruti semua maumu, kau benar memiliki seorang teman itu menyenangkan ya, dan aku masih menyisakan sedikit ruang dihatiku untukmu, kau juga harus ingat aku disana ya” Reva tersenyum menatap langit, teringat saat pertama kali bertemu, Ia tak ingin melupakan masa yang indah seperti itu tidak ingin dan tidak akan.
Profil Penulis:
https://m.facebook.com/profile.php?ref=bookmarks
0 Response to "CERPEN "Best Friend""
Post a Comment