CERPEN "Aku Ingin Menjadi Penulis"
CERPEN "Aku Ingin Menjadi Penulis"
AKU INGIN MENJADI PENULIS
Karya Taurusien Liany
Sore itu tepatnya pukul 15.45 kuayunkan pedal sepedaku sambil bernyanyi-nyanyi. Sepeda yang selalu menjadi sahabat terbaikku yang selalu menemaniku. Meskipun usianya lebih tua dariku tapi, dia tak pernah mengeluh akan dirinya, meskipun sepeda ini tampak tua sekali tapi, itu tak menjadi masalah bagi diriku untuk terus bersamanya. Karena, sepeda ini adalah harta kenangan satu-satunya dari ayahku. Ya, ayahku telah lama meninggalkan aku dan ibu. Sekarang ibuku lah yang menjadi tulang punggung keluarga kecil kami.
Namaku, Nur Ramadhani. Kalian bisa memanggilku 'Nuni'. Aku diberi nama oleh kedua orang tuaku yang artinya 'Nur' adalah cahaya dan 'Ramadhani' karena aku lahir pada bulan Ramadhan. Sekarang kalian tahu kan asal namaku, ibuku bilang suatu saat nanti aku akan menjadi cahaya yang bersinar terang seperti indahnya cahaya dibulan ramadhan. Aku kan menjadi cahaya penerang kebahagiaan ibu dan ayahku disana serta orang-orang yang kusayangi.
Aku bersekolah diSMA 2 Bandung. Dan mengambil jurusan IPA. Karena, aku ingin menjadi seorang dokter. Hobiku adalah membaca buku. Jika, ada jam pelajaran kosong aku segera keperpustakaan dan jika, ada selingan waktu kosong dirumahku, aku sering mengungkapkan apa yang sedang kualami, seperti menulis kata-kata dan puisi. Hingga akhirnya lambat laun aku bisa mengungkapkan perasaanku lewat sebuah cerpen. Meskipun tak begitu sempurna seperti karyanya Asma Nadia. Tapi, aku telah berusaha. Dan, akhirnya menulis menjadi hobiku dalam mengisi waktu kosong.
Ibuku hanyalah seorang pembantu yang bekerja paru waktu disebuah rumah yang besar. Bisa dibilang orang kaya. Ibuku selesai bekerja hingga larut malam. Tadinya majikan ibuku meminta agar ibuku tinggal disana saja. Tetapi, ibuku menolak permintaan majikannya. Menurut ibuku, akan lebih baik jika dia tetap tinggal dirumah peninggalan suaminya saja, lagi pula ibuku tak tega jika melihatku harus tinggal sendirian. Majikan ibuku sangat baik. Terkadang majikan ibuku memberi kami makanan atau barang lainnya untukku. Meskipun ibu sering menolknya karena, merasa tak sopan. Tapi, majikan ibuku terus memaksa agar kami menerimanya, itulah sebabnya ibuku selalu bersikap sopam dan menjaga rumah majikannya dengan sangat baik.
Hingga pada saat itu memasuki bulan keempat. Yaitu, bulan April. Aku dipanggul kekantor sekolahku. Karena, terlambat dan tidak membayar Spp 4 bulan ini. Aku tak tega melihat ibu bekerja dan aku juga tak tega jika harus meminta uang pada ibu untuk membayar Spp. Dan akhirnya aku meminta tambahan waktu kepada guruku selama 1 bulan lagui. Dan bulan MEI nanti aku akan membayar semuanya. Lalu, guruku itu pun memegang janjiku dengan persyaratan jika, bulan Mei nanti aku belum juga membayarnya maka, aku terpaksa akan berhenti sekolah.
Pada saat itu. Aku mulai mencari cara agar dapat membayar uang spp, aku pergi kesalah satu 'Warnet' dekat rumahku untuk mencari tahu tentang pekerjaan untuk anak seusiaku.dan setelah berjam-jam mencari . Tak kutemukan pekerjaan yang layak untukku. Aku pun sempat menyerah dan ketika aku ingin menutup beranda google. Tak sengaja aku melihat ada sebuah iklan yang menawarkan jasa seorang penulis. Jika menang, akan mendapatkan uang 1 juta untuk 5 cerpen. Dan aku segera mencari tahu lebih jelas lagi tentang cerpen itu. Dan akupun melihat semuanya . Rasa keinginanku sangat kuat. Apa yang menjadi harapanku selama ini akan aku kejar. Tetapi disana ada syarat agar setiap minggunya aku harus mengirim cerpen. Dan bukan hanya mengirim cerpen. Namun. Aku juga dibayar untuk 1 buah cerpen yaitu senilai 50 ribu.
Dan aku bersedia untuk itu. Aku yakin pasti cerpenku akan menarik. Aku yakin itu. Dan akhirnya aku mengetahui jalan Allah Swt selanjutnya. Apa yang diberikannya saat ini adalah kesempatan besar bagiku. Siapa tahu nanti aku juga bisa menjadi penulis Best Seller seperti Asma Nadia,Tere liye,Dkk.
Saat itu aku langsung menyun sepedaku menuju rumahku. Aku sangat bahagia dan sesampainya aku dirumah . Aku segera membersihkan rumah dan makan siang. Stelah itu kuambil pulpen dan beberapa lembar kertas HVS. Aku mulai mencari cerita yang menarik berdasarkan pengalamanku dan cerpen lainnya. Kuambil dua buah diantara cerpen yang sudah kubuat. Hingga setiap pulang sekolah aku selalu menghabiskan waktuku bersama cerita-ceritaku. Karena, waktu dan tanggal pengirimannya hanyalah tinggal beberapa hari lagi. Lebih kurangnya sekitar seminggu lagi. Aku harus segera menyelesaikan 5 cerpen. Cerpenku yang pertama berjudul:
1. Aku ingin menjadi Penulis.
2. Meraih Mimpi atas sejuta Harapan.
3. Jangan takut mencoba.
4. Akan ku berikan cahaya kepada Ayah dan Ibu.
5. Dia guru terhebat.
Nah itulah ke -5 cerpenku. Seperti yang telah kukatakan. Meskipun cerpenku belum sepenuhnya sempurna. Setidaknya aku telah mencobanya. Karena, aku tahu Allah selalu ada disampingku. Dan selalu memberikan yang terbaik atas usaha-usahaku.
*Seminggu Kemudian*
Hari ini tepat hari pengumuman terakhir untuk lomba cipta cerpen. Aku merasa takut. Tapi, aku harus percaya diri. Aku segera mengirim cerpenku lewat kantor pos .karena tempat lombanya ada dikota Bandung. Dan aku hanyalah tinggal duluar kota bandung .dikota terpencil dibandung. Sekarang aku hanya akan menunggu hasilnya. Aku selalu berdoa agar cerpenku dapat diterima. Dan setiap 2 hari sekali aku mengunjungi 'warnet' untuk melihat pemenangnya. Tapi, 1 minggu telah berlalu. Nama pemenang itu belum juga disebutkan. Dan aku sempat menyerah seakan mimpi buruk selalu menghampiriku. Aku takut jika cerpenku tidak diterima . Lalu bagaimana dengan sekolahku. Akankah aku berhenti. Akankah aku membuat air mata ibu jatuh dipipinya itu. Oh.. Tuhan aku tak sanggup atas semua ini.
*2 minggu kemudian*
Hari ini aku merasa letih sekali. Ntah apa yang membuatku lemah seperti ini. Ataukah rasa takut yang membuat jiwaku sakit saat ini.? 'Ntah lah, akupun tak tahu'. Kubaringkan tubuhku diatas kasur yang tak seempuk kasur Mewah. Tap, inilah kasurku. Aku masih membayagkan dan melamunkan nasib cerpenku. Sudah 2 minggu kutunggu namun tak jua keluar hasilnya. Atau mungkin begitu banyaknya penulis lain yang mengirimkan cerpen. 'Ntah lah. Akupun tak tahu'
Dan saat itu. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku. Lalu kubuka. Terlihat seorang laki-laki berbaju Orange membawa selembar amplop untukku. Dan menanyakan apakah benar ini rumahnya saudara Nur Ramadhani? Lalu kujawab. 'iya pak, benar. Ada apa ya? Dan pak pos itupun memberi amplopnya kepadaku dan mengatakan. Ada pesanan untukku. Lalu dia permisi pergi.
Jantungku terasa berdetak sangat kencang. Tak mengerti apa yang dirasakan. Senangkah? Sedihkan? . Lalu kubuka amplop itu dan kubaca isinya dan betapa terkejutnya aku saat itu. Ternyata ini dari DR-Mizan. Yaitu yang mempromosika lombanya dan disana bertuliskan. 'selamat'. Alangkah tercengangnya aku saat itu. Tubuhku bergemetarab dan jantungku berdetak tak menentu dan diikuti air mata yang jatuh membasahi kedua pipiku. Tak terkira ternyata aku memenangkan lomba itu. Dari beratus-ratus orang mengikutinya. Aku termasuk ke-7 besarnya. Karena 10 besarnya akan mendapatkan 1 juta. Maksudku, 1-10 besar. Dan tak meyangka semuanya akan seperti ini. Rasa takut yang terus menghantuiku selama ini telah membawaku menuju mimpi yang kuinginkan . Diamplop itu bertuliskan.
"Selamat kepada saudara ' Nuni Ramadhani' dengan nama pena 'Nuni Aster' yang telah memenangkan lomba cipta cerpen ditahun 2015/2016 ini sebagai pemenang juara ke- 7 dari beratus-ratus orang. Dan hadiahnya akan segera kami proses dan sesau syarat yang berlaku. Saurdara dapat mengantarkan 1 buah cerpen setiap minggunya dan dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu juga anda akan mendapatka beberapa cetakan buku dengan karya anda. Sehingga kami dapat membantu anda dalam menjadi penulis terbaik. 'Best seller' mohon ditunggu kabar selanjutnya. Terima kasih DR-Mizan..
Itulah isi surat dari DR-Mizan. Aku sungguh bahagia masih tak menyangka bahwa keinginanku telah terwujudkan. Ini seperti mimpi tapi ini nyata. Sekarang aku meras jiwaku yang sempat mati, hidup seketika mendengar semua ini. Aku akan berusaha menciptakan cerpen lainnya untuk kukirimkan. Dan sekarang aku bisa membayar uang Spp ku tanpa mengambil keputusan menjadi seorang penulis ini aku bosa membantu ibuku.
*3 hari kemudian*
Hari ini telah memasuki hari ketiga surat itu disampaikan.aku menunggunya dan tiba-tiba pak pos datang kerumahku. Langsung kulangkahkan kakiku untuk meminta kirimannya. Lalu pak pos itupun memberi amplop berwarna agak kecoklatan dan selembar kertas. Kubuka kertas itu dan kubaca. Yang isinya:
"Kepada saudara Nuni Aster. selamat atas keberhasilannya .karena, telah memangkan lomba cipta cerpen. Dan bukunyapun akan kami cetak dan dapat ditemukan diberbagai toko buku. Selamat atas hadiahnya.. Dr-Mizan
Sekarang aku telah menerima uangnya. Tak ku sangka baru pertama kali dalam hidupku. Aku memegang uang sebayak ini. Dan aku merasa hasil usahaku tidaklah sia-sia. Allah Swt Maha Adil dalam segala sesuatu. Sekarang aku dapat membayar uang Spp. Dan kubiarkan agar ibu tak mengetahuinya. Aku tidak ingi ibu bersedih. Biarlah ibu tahu dengan sendirinya. Aku akan membahgiakan ibu. Aku tak akan membiarkan ibu bekerja lagi. Karena sudah saatnya ibu menikmati dunia kebahagiaan tanpa bekerja. Aku akan terus berusaha hingga aku dapat menjadi penulis best seller seperti Asma Nadia.
Aku janji ibu. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu dan menjadi cahaya penerang untuk ayag disana. Aku sayang Ayah dan Ibu.
Terima kasih. Selesai.
Profil Penulis:
Iis Aprilliani.
Mohon kritik dan saran bagi pembaca. Saya sadari didalam cerpen itu masih sangat banyak kekurangan penulisan yang kurang jelas. Baik itu kata-katanya. Dsb. Saya mohon maaf. Demi perbaikan yang akan datang
0 Response to "CERPEN "Aku Ingin Menjadi Penulis""
Post a Comment