CERPEN "Untuk yang Terakhir"
CERPEN "Untuk yang Terakhir"
UNTUK YANG TERAKHIR
Karya Tania Sabrina
Siang ini, sepulang sekolah. Aku masih stay di sekolah. Ada kegiatan ROHIS di sekolah yang harus menginap selam semalem. Its okay!
Aku baru awal kelas XI. Ini awal di mana aku dan teman2 angkatan rohisku bekerja sendiri. Meskipun tak sedikit kami sering bertanya kepada senior. Tak mengurangi kesempatan ke aku buat tanya ke kakak kelas setiap waktu. Sampai yang belum ku kenal pun ku tanyakan. Ya, karna kata orang aku orangnya supel. Kenal ga kenal ya anggap aja kenal. Toh, sama-sama manusia juga. Hehehe..
Singkat cerita, saat aku dan teman-teman kebingungan masalah tikar untuk tidur. Aku pun bertanya kepada salah satu senior yang belum aku kenal, Kak Firman. "Kak, maaf. Bisa minta tolong bagi tikar untuk yang perempuan sama yang laki-laki?" tanyaku. "Oh, ya. Sebentar ya, Dik." jawabnya.
Kak Firman pun segera menuju aula untuk mengambil tikar. Aku menunggu di luar. Tak lama, Kak Firman pun datang dan bertanya, "Ditaruh di mana ini, Dik?" "Di ruangan perempuan, Kak"
Kak Firman pun berjalan tanpa berkata apapun, aku membuntutinya sampai ruangan tidur perempuan. "Makasih, kak" kataku. "Sama-sama."
------
Paginya kami ada kegiatan outbound. Di mana aku jadi pemandu awal saat akan memulai perjalanan outbound.
"Oke, sudah siap semua?"
"SIAAAPPP!!!"
"Dimulai dari pertanyaan pertama dulu, yang bisa menjawab dia yang berangkat duluan. Mengerti??"
"Mengerti, kak!"
Pertanyaan demi pertanyaan aku berikan sampai tak ada kelompok yang tersisa di ruangan ini. Aku pun beranjak ke luar ruangan untuk melihat kondisi outbound berlangsung. Sampai di tengah halaman...
"Isyah!!" seseorang memanggilku, aku menoleh ke sumber suara.
"Eh, Kak....."
"Panggil saja Kak Firman."
"Hehehe iya. Ada apa, Kak?" tanyaku.
"Kamu ga jadi penanggung jawab, kan? Gantiin aku ya"
Aku setengah melongo, "Heh? Aku, kak?
"Iya, karena yang lain udah dapet pos."
"Ya sudah, kak. Oke!"
"Makasih ya!" dia pun tersenyum dan berlalu.
------
Kegiatan demi kegiatan telah dilewati. Sampailah kini di ujung acara. Dan lagi-lagi saat panitia sibuk membersihkan semua ruangan yang telah dipakai, ada yang memanggilku.
"Isyah!"
"Eh, Kak Firman lagi. Ada apa lagi, Kak?"
"Hehehe, kayanya dari tadi aku ngerepotin kamu terus ya?"
"Gapapa, kok, Kak. Kan, sama-sama bekerja. Jadi repot semua."
"Ya udah, tolong bawain makanan yang ada di hall. Itu makanan untuk panitia, dan bawa ke aula sekarang, ya!"
"Baik, Kak!"
Aku pun segera melaksanakan perintah dari Kak Firman.
Beberapa hari setelah kegiatan itu. Kak Firman makin sering berkomunikasi denganku. Awalnya aku cuek, tapi entah karena apa ada sesuatu yang membiusku sehingga aku dibuat nyaman olehnya. Astaghfirullah...
Makin sering pula aku bertemu dengannya. Sering juga aku diejek teman-temanku, karena setiap berpapasan dengannya aku terlihat salah tingkah.
"Cie, yang salting :p " goda Rey.
"Apaan sih? Siapa juga yang salting?!"
"Ada cinta setelah kegiatan kemarin nih. Uhuyy" goda temanku, Anis. Yang paling bawel.
"Ga kok, Nis, Rey. Jangan suudzon gitu dong. Nanti kalau beneran aku suka gimana?" tanyaku.
"Buruan jadian, terus traktiran. Hahaha.."
Selalu dengan jawaban seperti itu. Temanku memang gitu, suka banget 'ngomporin" aku. Tapi mereka seperti itu mencoba menguji aku. Sekuat mana, setangguh mana aku pegang prinsipku untuk tidak PACARAN!
------
Bodohnya aku masih terperangkap dengan jebakan ini. Masih saja terus berkomunikasi dengannya. Walaupun tak ada status pacaran, tapi aku merasa terjebak.
Sampai suatu hari...
"Syah, kok sekarang kalau mentoring lama banget?" tanya kakak kelasku.
Aku memang seorang pembina muda dimentoring kelas X. Ya, akhir2 ini pun aku memang sering lama dalam penyampaian materi. Karena sudah nyaman dengan adik-adikku. "Ya, gapapa mba. Tadi adik-adik lagi pada curhat panjang. Kan, kasihan kalau tidak ditanggapi."
"Lain kali jangan lama-lama lah. Kaya udah bener aja kasih materi banyak banget!"
NYEESSS! Seperti ada sayatan tajam di hati ini. "Iya mba, makasih"
Akt segera berlalu menuju masjid sekolah. Di masjid ternyata ada Kak Firman.
"Lho? Kamu kenapa, Syah?" tanyanya dengan bingung.
"Gapapa, kok, Kak"
Aku segera pergi, dan duduk di teras masjid bagian perempuan. Aku menangis.
"Isyah, kamu kenapa?" tbtb Anis datang.
"Anis.. Hiks.." dan aku ceritakan semua yang terjadi.
"Hm, mungkin kamu dikira modus sama Kak Firman, Syah. Secara hampir semua tau gosip kamu deket sama dia. Istilahnya kamu difitnah gitu, dikira pulang sore itu kamu mau pacaran"
Aku tersadar apa yang dikatakan Anis. Aku memang terlalu berharap semua akan indah jika dekat dengan seseorang walau tanpa status. Sampai aku tak menyadari akhirnya seperti ini. Aku salah! Aku bodoh! Aku menyesal!
Maafkan aku, Ya Allah. Menduakan-Mu dengan makhluk-Mu. Tak menyadari akan Cinta-Mu yang lebih tulus daripada dia. Aku juga bersyukur, Engkau masih menyadarkanku akan hal yang fatal ini. Semoga ini yang terakhir. Cukup mencintai dalam diam. Janji Allah lebih indah, jodoh sudah ditangan-Nya.
NO PACARAN BEFORE AKAD!
#STOPBAPER #AWASIKHWANMODUS #JOSH
Profil Penulis:
Hai! Salam kenal untuk semua.
0 Response to "CERPEN "Untuk yang Terakhir""
Post a Comment