CERPEN "Saat Yang Dinanti Tak Selalu Dimengerti"
CERPEN "Saat Yang Dinanti Tak Selalu Dimengerti"
SAAT YANG DINANTI TAK SELALU DIMENGERTI
Karya Nuha Hanifa
Saat yang Berarti Tak Selalu Dimengerti
Matahari mulai tinggi, menyisakan terik panas yang terangi bumi, seakan-akan tak ada habisnya tuk menyinari. Jalanan kota terasa lenggang, menyisakan udara panas yang mengelilingi. Sorotan mata para pelajar menandakan kelelahannya. Bahkan beberapa kuli bangunan memutuskan tuk merebahkan diri. Bumi ini makin panas, dengan tambahan karbon dioksida yang tersebar dan membakar. Bumi ini mulai tua, tua karena termakan usia. Tapi inilah hidup, kehidupan bak roda yang berputar, berganti posisi bagai kisah yang tak pernah berhenti. Pelataran rumah yang nampak mulai usang karena termakan usia, tapi inilah hidup, terkadang merasa diatas bahkan merasa dibawah jua.
Perkanalkan, namaku Nasywa Salsabila aku duduk dikelas 3 sekolah menengah atas, dan sebentar lagi aku akan merasakan bangku kuliah seperti kakak perempuanku satu-satunya. Kakakku bernama Ayesya Salsabila, aku tinggal bersama kakak dan bundaku. 3 tahun yang lalu, ayahku menderita penyakit jantung, dan akhirnya Allah memanggil ayah lebih awal. Kemudian bunda memutuskan untuk membangun sebuah toko di pinggir pasar.
Pagi itu aku buru-buru untuk berangkat pagi, karena ada jam tambahan di sekolah. Pukul 05.30 tepat aku segera bersiap untuk berangkat sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu dan menata ulang alat sekolahku. Tapi ketika aku sedang menyisir rambut di depan cermin, ku temukan beberapa helai rambut yang nampak rontok.
“Duh, ini rambut siapa? Kok bertebaran dimana-mana.” Pintaku, tak perlu berpikir panjang lagi, aku sudah membereskan rontokan rambut itu dan bersiap ke sekolah.
Pagi itu, kakak nampak tak bersemangat pergi ke kampus, kakak hanya mondar mandir ke kamar, sepertinya kakak nampak bingung. Akhir-akhir ini juga kakak nampak aneh, nampak tertutup kepadaku, bahkan kepada bundapun kakak juga tertutup. Kakak lebih sering mengenakan kerudung ketika di rumah, bahkan hanya untuk tidurpun kakak tetap menggunakan kerudung.
“Kak, kakak kenapa? Dari tadi mondar mandir ke kamar terus.” Tanyaku. Sepertinya kakak nampak tak menghiraukan pertanyaanku, kakak hanya menoleh sebentar kemudian masuk ke dalam kamar.
“Kak, aku tanya sekali lagi deh, kakak sebenarnya kenapa?” tanyaku mulai gemas.
“Kakak nggak kenapa-kenapa kok dik, kakak cuman bingung sama tugas skripsi, dari kemaren tugasnya nggak selesai-selesai.” Jawab kakak yang nampaknya mulai angkat bicara.
“Oh, kakak nih, kirain kenapa. Perlu aku bantu kah kak? Mungkin aku bisa.” Gurauku.
“Hahaha,, adik nih, adik aja ngerjain tugas sendiri aja bingung mau bantu kakak.” Gurau kakak setengah mengejek.
Pagi itu tawa kami pecah. Dan sepertinya kakak mulai sedikit tenang. Senyuman kakak nampak tergambar jelas di wajahnya, aku selalu senang apabila kakak sudah bisa tertawa lepas. Setelah sekian tahun aku dan kakak selalu saja bertengkar tiap pagi, tapi sudah beberapa tahun terakhir kakak sudah tidak pernah menyulut api pertengkaran.
Aku berangkat pukul 06.15 berharap tiba di sekolah tepat waktu.Fajar pagi menyambut dengan hangatnya mentari, ditemani udara segar yang menyelimuti. Pagi ini langit nampak cerah, beberapa burung beterbangan menghiasi langit. Setiba di sekolah, pukul 06.30 tepat. Ku masuki pelataran sekolah dengan sedikit tergesa-gesa takut pelajaran tambahan sudah dimulai. Tapi kelas nampak masih kosong, hanya ada beberapa murid saja yang sudah siap untuk menerima pelajaran tambahan. Aku duduk di depan pojokan, menunggu sebuah keajaiban. Tak lama kemudian aku mengeluarkan sebuah buku, buku itu hanyaku jadikan sebuah sandaran, aku merasakan ada yang aneh dengan kakak, mulai dari muka kakak yang nampak murung, hingga banyak rambut rontok yang ku temukan di depan cermin. Aku berusaha untuk menghibur diri, dengan mengalihkan pikiranku agar tidak terfokus pada masalah yang barusan aku dapati. Aku teringat dengan sebuah pertengkaran kecil dengan kakak ketika kami masih sama-sama duduk dibangku sekolah dasar.
“Hei, kamu kenapa? Kok senyum sendiri?” Tanya Nela.
“Enggak papa kok, aku cuman mbayangin seseorang.” Jawabku spontan.
“Hayo, siapa?” Tanya Nela sedikit menggoda.
“Eh, lupakan aja lah nggak usah dibahas lagi, ehm.. eh aku mau tanya sebentar dong. Penyakit apa yang efek sampingnya rambut rontok?” tanyaku setengah penasaran. Aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, tetapi kalimat itulah yang keluar dari mulutku.
“Ehm, rambut rontok, entahlah. Kanker mungkin, tapi juga bisa yang lain sih, tergantung dengan cirri-ciri yang lain.” Jawab Nela sedikit tak percaya dengan ucapannya.
“Kanker? Oiya kanker ada cirri-ciri rambut rontoknya ya?”
“Iya, kebanyakan sih gitu.” Jawab Nela sambil berlalu meninggalkan tempat dudukku.
Aku mulai bertanya-tanya dengan jawaban Nela, tapi bagaimana aku bisa percaya. Sudahlah lupakan aku tidak ingin memikirkan berat-berat tentang pertanyaan itu.
Pukul 14.00 pelajaran sekolah telah usai, ku kemas kembali alat sekolahku ke dalam tas ransel. Ditemani berjuta pertanyaan, ku langkahkan kakiku untuk pulang ke rumah.
Beruntung jarak dari sekolah ke rumah tak begitu jauh. Setibanya di rumah bunda dan kakak menyambutku dengan senyuman dan sapaan ringan.
“Dik, bagaimana sekolahnya, capek kah?” Tanya kakak sedikit menggodaku.
“Apa-apaan sih kak, biasa aja lagi.” Jawabku tak bersemangat, sambil berlalu menuju kamar. Ku dapati rontokan rambut di depan cermin untuk yang kedua kalinya.
“Ini rontokan rambut siapa?” ucapku bingung.
“Ada apa dik?” Tanya kakak. Ketika kakak melihat rontokan rambut berada ditanganku, kakak seolah-olah tak percaya. Kemudian kakak menutup pintu dan mulai meneteskan air mata. Aku berusaha untuk tetap berpikir positif.
“Kak, kakak kenapa? Cerita sama aku aja kak?” hiburku.
“Dik, kakak mau cerita, sebelumnya kakak minta maaf, kakak menyesal telah berbohong kepada adik dan bunda. Sebenarnya sebulan setelah meninggalnya ayah, kakak merasakan sebuah tanda-tanda, mulai dari badan kakak yang nampaknya tak enak, sampai ketika kakak sedang mengikuti lomba lari antar sekolah, kakak sering sekali pingsan, bahkan ketika kakak terkena sinar matahari, pusing yang tak tertahan pasti akan menyerang. Hingga akhirnya beberapa bulan yang lalu kakak putuskan untuk pergi check up ke rumah sakit. Dan ternyata..” cerita kakak terhenti, tangisan kakak seolah-olah tak perbolehkan kakak bercerita kepadaku. Aku hanya bisa manatap wajah kakak lamat-lamat. Dan mengusap wajah kakak agar tak mengeluarkan air mata. Tapi seolah-olah usapan tanganku hanya membuat kakak semakin terisak dengan tangisannya.
“Kak, kakak sebenarnya kenapa?” tanyaku sekali lagi. Kakak hanya menjawab dengan tangisan yang makin menjadi-jadi, pertanyaanku hanya akan membuat kakak semakin terpuruk dan tak bisa membendung tangisannya. Seketika itu pula aku bingung untuk menenangkan kakak, baru kali ini ku lihat kakak menangis hingga tersedu-sedu.
“Sebenarnya kakak mengidap kanker kelenjar getah bening, kanker itu hanya menyerang organ dalam saja.” Ucapan kakak membuatku tersentak, seolah tak percaya aku memeluk kakak, lebih erat dan lebih erat lagi. Air mataku tak bisa terbendung, aku tak sanggup untuk selalu berpura-pura. Jawaban Nela ternyata benar, dengan kesimpulan yang ku dapat, kakak benar-benar terserang penyakit kanker.
“Kak, jangan bohong kak, lelucon kakak nggak lucu.” Jawabku seolah tak percaya. Kakak, hanya menatapku dengan mata yang mulai memerah, aku hanya bisa membalas tatapan mata kakak dengan sedikit kecewa.
“Bunda nggak tau kak?” tanyaku sekali lagi.
“Enggak dik, jangan beritahu bunda, kakak nggak mau bikin bunda kecewa sama kakak.” Jawab kakak dengan nada memohon.
“Tapi kenapa kak, aku nggak tega liat kakak gini terus.”
“Kakak sudah masuk stadium lanjut dik, kakak nggak mau bikin bunda jadi ikut sakit-sakitan.” Jawab kakak sembari mengusap air mata.
“Tapi kak!” bentakku kepada kakak, kakak hanya menggeleng pelan. Sebenarnya aku sedikit dengan keputusan kakak, seharusnya kakak membicarakan ini semua dengan bunda, tapi semua keputusan kakak tidak akan pernah diganggu gugat. Kakak memang keras kepala, kakak juga galak, tapi aku tetap sayang kakak.
Dimalam harinya, ku putuskan untuk mendekati bunda. Bunda sedang bersiap-siap untuk tidur, ku putuskan untuk malam ini tidur bersama bunda.
“Bun, aku mau tanya sesuatu bun, bunda kadang terbesit sebuah pertanyaan tentang kak Ayesya nggak? Ya kayak misalnya akhir-akhir ini kakak sering banget pakek kerudung, atau pertanyaan yang lainnya?” Tanyaku menggoda agar bunda penasaran.
“Emang ada apa dengan kak Ayesya? Kakak nakal lagi? Atau kakak mulai aneh sama kamu? Tadi kayaknya bunda liat Nasywa sama kak Ayesya cerita di kamar deh. Hayo Nasywa diceritain apa sama kakak?” Tanya bunda menggoda.
“Bunda ni apa-apaan, tadi aku sama kakak enggak ngapai-ngapain kok bun, masalah perempuanlah bun, biasa.” Gurauku kepada bunda.
“Udahlah Nasy, tidur ya, udah malem besok kalo kesiangan gimana.” Pinta bunda agar aku bersegera tidur.
Kuurungkan niatku tuk membuka obrolan dengan bunda, mungkin itu kode keras agar bunda juga bisa beristirahat setelah seharian bekerja.
Dipagi harinya seperti rutinitasku yang biasa, berangkat pagi agar ikut pelajaran tambahan. Tapi pagi ini tak seperti biasanya, kakak seperti terlihat lebih murung dari hari kemarin. Aku mulai khawatir dengan keadaan kakak yang dari hari kehari semakin memburuk. Aku hanya bisa berdo’a agar diberikan yang terbaik untuk kakak.
Sepulang dari sekolah aku membuat agenda bersama Nela, kita akan belajar bersama di rumah Nela, tapi ketika tiba di rumah, aku melihat kakak duduk di sofa sambil melihat TV. Aku hanya menatap kakak dari kejauhan,hingga akhirnya kakak mulai angkat bicara kepadaku.
“Dik, sore ini adik ada agenda?” Tanya kakak.
Ku tatap wajah kakak lamat-lamat, nampaknya keadaan kakak mulai membaik, wajah kakak terlihat begitu bersinar, pancaran matanya seolah-olah memberikan sebuah harapan.
“Enggak kok kak, kakak mau cerita lagi kak?” tanyaku penasaran.
“Iya dik, kakak pingin cerita sama adik.” Jawab kakak dengan senyum yang mengembang.
Aku tak ingin membuat kakak kecewa, sebenarnya sore ini aku akan belajar bersama Nela, tapi untuk urusan yang kali ini aku tak akan mengecewakan kakak. Akan ku lakukan semua demi kakakku. Ku masuki kamar kakak, aku hanya duduk terdiam di atas springbed.
“Dik, kakak cuman mau bilang kok, mukanya nggak usah tegang gitu deh dik, kakak nggak akan ngobrolin hal yang sangat serius kok dik.” Pinta kakak seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Ih, kakak nyebelin, mukaku juga biasa aja kok kak, ye.” Ejekku tutupi rasa tegangku.
“Gini dik, kakak cuman mau minta adik jagain bunda ya, jagain yang bener jangan pernah bikin bunda kecewa ya, kakak sayang adik sama bunda. Oiya dik, besok kalo udah masuk kuliah yang serius ya, kuliah bukan tempat buat main-main, kakak yakin adik punya bakat untuk mengembangkan bakat adik.” Senyum kakak mulai mengembang, dan tanpa disangka-sangka, kakak memelukku.
“Iya kak, adik jagain bunda. Kak aku udah mau kuliah kenapa kakak masih anggep aku kayak anak kecil kak?” rengekku tak sependapat.
“Bercanda sih dik. Tapi pesan kakak beneran dilakuin ya dik.” Kakak hanya menyenggolku dan tersenyum riang. Wajah kakak nampak berseri-seri, bahkan wajah kakak nampak lebih terlihat lebih cantik.
Pukul 20.00 malam, aku berpamitan untuk belajar kelompok di rumah Nela, beruntungnya rumah Nela tak jauh dari rumahku. Jalanan nampak sepi, menyisakan lampu jalan yang remang-remang. Langit tampak cerah, semburat cahaya bulan purnama begitu jelas terlihat.
“Eh, bulannya bagus ya.” Pinta Nela.
“Iya, bulannya jelas banget, cantik lagi.” Sambungku.
Pukul 21.00 tepat, kami putuskan untuk melanjukannya besok.
“Aku lelah belajar.” Ucapku setengah mengeluh.
“Eh, jangan bosan belajar dong, bentar lagikan ujian.Inget janji kita, buat lulus dengan nilai yang baik, dan jangan mengecewakan bunda.” Nasehat Nela memang ampuh, untuk mengobati rasa bosanku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 aku harus segera pulang. Aku berpamitan dengan Nela serta orang tua Nela. Dalam perjalanan pulang, aku merasa ada yang aneh dengan diriku, aku tak nyaman dengan apa yang aku lakukan.
Setiba di pelataran rumah, aku dikejutkan dengan orang-orang yang telah berkumpul di dalam rumah. Aku mengira bunda sedang mengadakan pengajian tapi kenapa orang-orang disekitar tampak berkaca-kaca.
“Bu, bunda kenapa?” tanyaku kepada salah seorang tetanggaku.
“Bukan bundamu nak Nasywa, tapi kakakmu, kak Ayesya.”
“Ibu, nggak usah bohong bu, tadi kak Ayesya masih ngobrol sama aku. Bu, jangan bercanda.” Aku tak percaya, aku berlari-lari kecil meninggalkan pelataran, menerobos orang-orang di depan yang menghalangi pintu masuk. Ku liat sekeliling, terlihat jelas jasad kakak yang nampak kaku pucat, di sebelahnya ada bunda yang sedang tersendu-sendu menahan kesedihan.
Seolah tak percaya ku dekati bunda yang sedang memandangi jasad kakak. Tak lama kemudian, bunda menatapku dan memelukku, aku juga tak bisa menahan rasa sakit ini, kehilangan seorang anggota keluarga yang selama ini selalu berusaha untuk selalu melindungiku. Kakak, terimakasih atas nasehat kakak, terimakasih atas pelajaran yang selama ini kakak berikan, terimakasih atas segalanya.
Malam itu menjadi malam berduka setelah kepergian ayah, aku tak tahu atas apa yang harus aku perbuat, maaf yah, aku tak bisa menjadi adik yang selalu taat kepada kakak dan bunda. Malam semakin larut, menyisakan aku dan bunda berada di dalam kamar untuk segera beristirahat. Sebelum tidur, ku putuskan untuk membuka obrolan.
“Bunda, maaf ya, sebenarnya aku mau beritahu bunda dari jauh-jauh hari tapi kakak melarang bun, maaf ya bun.”
“Iya nggak papa, sebenarnya bunda udah tau waktu kakak cerita sama Nasywa, suara kakak terdengar jelas dari luar, bunda juga sempat menitihkan air mata, akhirnya bunda angkat bicara sama kakak, bunda udah suruh kakak buat kemoterapi, tapi kakak menolak mentah-mentah, bunda udah cari obat herbal sana sini tapi kakak juga nolak buat minum. Maafin bunda juga ya Nasy, bunda belum bisa ngejaga kakak sama Nasywa.”
Aku dan bunda saling berpelukan, berharap yang terbaik untuk esok yang lebih baik.
~ Jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang telah Allah beri~
Profil Penulis:
Nama : Nuha Hanifa
Tempat Tanggal Lahir : Sleman, 30 Agustus 1998
Asal kota : Yogyakarta
Facebook : Nuha Hanifa
0 Response to "CERPEN "Saat Yang Dinanti Tak Selalu Dimengerti""
Post a Comment