CERPEN "Temaram Malam Kupu Kupu di Jalan Nusantara"
CERPEN "Temaram Malam Kupu Kupu di Jalan Nusantara"
TEMARAM MALAM KUPU KUPU DI JALAN NUSANTARA
Karya Ilyas Ibrahim Husain
Sore itu aku menyusuri Jalan Nusantara dengan sepeda onthel peninggalan kakek, dahulu ketika Kota Makassar masih dalam naungan Hindia-Belanda jalan ini disebut de pasaarstraat, atau Jalan Pasar, karena dahulu para pedagang Cina, Bugis, India, dan Makassar berkumpul menjajakan barang dagangannya. Kini de pasaarstraat telah menjelma menjadi kawasan Pelabuhan Makassar yang dikenal sebagai Pelabuhan Soekarno-Hatta.
Disebelah kiri Jalan Nusantara berjejer kontainer-kontainer yang berlabuh dari penjuru pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, kebanyakan berasal dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kontainer-kontainer itu biasanya hanya transit beberapa hari dan akan di kirim kembali ke berbagai Wilayah di Indonesia Timur.
Sedangkan disisi kanan Jalan Nusantara terdapat ruko bertingkat-tingkat, kebanykan di pagi hari masih tertutup rapat, hanya beberapa yang terbuka sebut saja salah satu ruko yang digunakan untuk menjual tiket pesawat dan kapal laut yang berhadapan persis dengan pintu masuk pelabuhan Soekarno-Hatta. Kembali aku memacu sepedaku menikmati suasana Minggu Pagi Kota Makassar, tidak ada yang istimewa bagiku Jalan Nusantara pagi ini.Sekali lagi kukatakan tidak ada yang istimewa di pagi hari Jalan Nusantara, menyusuri jalanan lurus beraspal yang masuk dalam kawasan administrasi Kecamatan Wajo Kota Makassar.
Ke-istimewaan itu baru menampakkan wujudnya menjelang si Raja Siang terbenam di Ufuk Barat, Bulan menampakkan dirinya dengan penuh godanya, dan temaram malam pun menghadang Jalan Nusantara.
Sebutlah “Aku”… yah sebutlah diriku “Aku”…
“Aku” yang bersedia menceritakan kisah “Dia” dan “Mereka” yang menjadi saksi dunia malam Jalan Nusantara, kenapa saya tidak menyebutkan Nama-Ku? tidak menyebutkan Nama-Nya? Dan Nama Mereka? sesungguhnya dan yang sebenarnya jika kusebutkan maka saya takut diriku, dirinya dan mereka akan diserang massa.
Aku kembali menceritakan kisah ini, ketika “Aku” menyusuri jalan Nusantara di malam hari, bersama temaramnya malam menepikan mobil Honda Jazz pemberian ayahku yang seorang kepala dinas di Kabupaten yang banyak kelelawarnya.
“Selamat malam mau kongkow lagi?” tanya si “Dia” salah satu Kupu-Kupu Malam yang paling cantik di Jalan Nusantara, ia menatapku menundukkan badannya yang membuat kedua “susu” – nya menyumbul, mau tumpah di hadapanku. Pemandangan itu terkadang membuatku panas dingin.
“Yah kali ini tidak kongkouw dulu, hanya mau menikmati Coqtail di dalam” sahutku yang masih dibalik kemudi mobil. “Dia” kemudian menghisap sebatang Mild yang dikatupkan pada mulut bergincu merah binal, disemburkannya asap cigaret-nya ke wajahku dan tersenyumnya nakal, sesaat ia mengecup pipiku.
“yah udah kalau mau kongkouw kamu tahukan dimana ‘bilik’ itu” sahutnya dengan senyuman menggoda yang nakal, aku hanya mengangguk.
Kembali “Aku” duduk di depan Bartender yang dengan lihainya melakukan atraksi menyuguhkan campuran-campuran minuman ber alkohol, kutaksir umurnya berkisar 22 Tahun.
“pesan apa Tuan?” tanyanya penuh keramahan
“Coqtail” sahutku datar
“Tunggu sebentar Tuan” sahutnya kemudian berlalu membuatkanku racikan coqtail yang biasa aku teguk dengan nikmat. Sejenak kuperhatikan di sekelilingku, lampu redup ditambah suara hentakkan musik membuat pengunjung mulai kesetanan, mataku terpaku pada pemandangan dua anak remaja yang sedang dimabuk asmara dibagian sudut café yang agak remang.
Bodoh amat apa kata orang yang lihat kelakuan kita- mungkin itu yang terbenam di benak kedua remaja yang baru beranjak gede, saling menjamah satu sama lain disudut café ini, berciuman dengan ganasnya si pria melamutkan bibirnya dan perempuan itu tak kalah ganas membalas “permaianan”pria itu. “Aku” hanya menggeleng-geleng kepala melihat moment itu, -sejak kapan generasi muda kelakuannya menggila?, ah bodoh amat selama pengunjung lain tidak risih dan selama dia tidak menggangguku- gumamku.
Sesaat kemudian “Aku” kembali mengalihkan pandangan kepada seorang pria paruh bayah dengan seorang wanita binal yang usianya berkisar 27 tahun. Ah orang tua penuh jiwa muda diusia mennginjak 50 tahunan masih “nakal” mencari-cari kesempatan menjamah kupu-kupu itu, jika aku mengabadikan moment itu pastilah karir politik pria itu akan luluh lantak…
“Silahkan Tuan ini coqtailnya” sahut Bartender itu kemudian mengumbar senyuman dan berlalu meninggalkanku, sejenak kulirik pria itu melalui celah pintu besi yang tidak tertutup sempurna.
“Percuma wajahmu tanpan anak muda kalau kekasihmu ganteng begitu” sahutku dengan penuh rasa jijik menangkap sepersekian detik moment bartender itu berciuman dengan seorang pria berbadan tegap.
“Hai masih betah disini?” seorang gadis tiba-tiba membuyarkanku rupanya si “Dia” yang menyapaku, sesaat ia menatapku dengan tatapan binal.
“Masih betah-lah… ini juga baru mau minum Coqtail”
Kualihkan pandanganku kembali kepada meja bartender bermaksud memesan segelas minuman untuk si “Dia” yang duduk bersanding didekatku.
“Tolong Red Wine untuk gadis disampingku ini, aku yang bayar” sahutku kepada seorang gadis yang berprofesi sebagai bertender, gadis itu mengangguk rambutnya hanya sebatas bahu wajahnya cukup Tampan untuk seorang gadis muda, sosok Androgini rupanya.
“Thanks yah selama ini kamulah pelanggan yang terbaik sering traktir dan manjakan aku” sahut si “Dia” yang kemudian menggelayutkan lengannya ke lenganku, dasar perempuan Sund*l!!! gumamku… karena Kebinalanmu aku bermain “api” dengan kekasihku yang kau tahu ia mencintaiku dengan begitu tulus, apalah daya aku… Seekor Kucing Tak Akan Menolak Ikan Segar Di Hadapannya.
“Yah tidak apa-apa, sudah sewajarnya kamu-kan selalu memberikanku ‘servis’ yang menyenangkan dan memuaskan” bisikku kepadanya, sesaat tercium aroma tubuh si “Dia” yang begitu menggoda.
Malam itu begitu panjang, tahukah kau? Tua-Muda, Remaja-Dewasa melepaskan kepenatan dan kemunafikan kota di Bar ini, persetan dengan segala urusan, malam ini sejenak “Aku” dan Si “Dia” melupakan problematika hidup hari ini, semuanya mengendap bersama tegukan Coqtail dan Red Wine…
***
Kini aku terbangun, kepalaku terasa berat mungkin efek Alkohol masih menjalar dikepaku, kulihat sinar mentari pagi menyusuri dari balik celah gorden yang belum tersibak, dibalik selimut kudapati si “Dia” tertidur… oh sial rupanya aku terlalu mabuk sehingga tanpa sadar “Aku” semalam rupanya saling tindih dengan si “Dia”
“Mungkin malam itu sahabatku yang membawa kami chek in di Hotel” sahutku pada diri sendiri dan mengecup kening si “Dia” yang tertidur pulas, wajahnya seperti bidadari jika tertidur, polos tanpa dosa, pasti itu yang terpikirkan bagi seorang pria yang tak mengenalnya lebih dalam, ah wajah manusia terkadang penuh kamuflase.
Aku sejenak terpekur menghisap Mild menyumbulkan asap sembari menatap langit-langit kamar hotel tempat kami biasa “bercinta”, tidak ada yang menyangka de passarstraat yang dahulunya pusat pertokoan dan perniagaan Kota Makassar yang saat itu berstatus Staats Gemeente di Zaman Kolonial menjelma menjadi satu lokasi yang dikenal sebagai “Tempat Hiburan Malam” dimana Kupu-Kupu Malam berkeliaran menghinggapi para Pria-Pria Pencari Kenikmatan Dunia, sebuah tempat persinggahan penuh Hedonisme, tempat menyampirkan persolan hidup, tempat menepi dari kemunafikan kota… Ah Sudahlah mungkin “Aku” sama brengsek-nya dengan mereka…?!
Profil Penulis:
Nama Ilyas Ibrahim Husain (nama pena) lahir dan besar di Kota Sungguminasa ibu kota dari Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan pada 6 April 1993. untuk lebih mengenal penulis dapat menjalin komunikasi melalui media sosial Facebook : Ilyas Ibrahim Husain
0 Response to "CERPEN "Temaram Malam Kupu Kupu di Jalan Nusantara""
Post a Comment