CERPEN "Pembohong Part 1" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Pembohong Part 1"

CERPEN "Pembohong Part 1"
PEMBOHONG PART 1
Karya Muhhammad Fikri Udin

Rabu, 25 November 2035

Hari itu aku dan ayahku sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan terbaik yang ada di indonesia. Kami biasa menghabiskan waktu bersama, ya walaupun hanya berjalan-jalan menghabiskan akhir pekan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh ayah dan anak pada umumnya.

Kalau kalian memperhatikan penampilan ayahku, pasti kalian akan berfikiran bahwa ayahku adalah seorang agamis. Ketika ayahku melakukan kegiatan hariannya hanya ada satu pakaian yang ia kenakan. Sebuah gamis setengah badan, celana mengantung di atas mata kaki, sebuah peci putih bulat yang menutupi kepala botaknya, dan tidak ketinggalan janggut yang menghiasi dagunya yang putih. Jujur saja aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang mengenai ayahku. Bagiku ia adalah ayah yang baik, bukan, bukan baik tapi ayah terbaik.

“Nak kemarin bagaimana ujianmu?” Tiba-tiba suara ayah memecahkan lamunanku. Aku segera mengambil gadetku dan menunjukan hasilnya pada ayah. Ayahku mengambil gadgetku sembari terus melangkah. Dengan jantung sedikit berdetak keras aku mengikuti langkah ayah, kalian juga pasti merasakan hal yang sama bukan, ketika orangtua kalian melihat hasil ujian kalian.

“Hmm bagus nak,tingkatkan!!” Ayah mengembalikan gadgetku. “ Hmm mau kemana kita kali ini??” Dengan nada lembut ayah mencoba mencairkan suasana sembari merangkulku. “Gimana kalau kita ke toilet sekarang, aku udah gak tahan,yah” pintaku sembari memegangi celanaku. Ayah hanya tertawa dan mengangguk. Aku segera berlari kecil ke arah toilet yang terletak seratus meter di depan kami.

Aku sempat berpikir bahwa ayah akan marah. Jelas saja hasil kuliahku pada semester ini turun drastis. Kuliah di fakultas kedokteran itu tak mudah kawan.

“BRUKK”

Tak terasa aku menabrak seseorang, orang itupun terjatuh dan segera bangun. “Maaf pak saya gak tau, saya buru-buru mau ke toilet” Aku segera membantu membereskan barang-barangnya. “Tak apa nak,lain kali hati-hati” Orang itu segera pergi. Aneh juga itu bapak, mencurigakan, sudahlah toilet dulu sekarang.

“BUMMMMM”

Ketika hendak melangkah tiba-tiba sebuah ledakan besar terdengar, dinding di sekitarku rubuh seketika. Lampu-lampu penerangan mati secara beurutan layaknya domino. Aku segera menjauh dan berlari ke tempat yang lebih lapang.

“BUMMMMM”

Ledakan itu terjadi lagi. Sekarang giliran kaca-kaca etalase toko yang hancur bertebangan, namun aku terus berlari. Tiba-tiba aku merasakan seperti ada sesuatu yang mengoyak dagingku, ternyata bagian paha kananku terkena pecahan kaca yang terlempar, aku jatuh seketika. Pahaku terasa berdenyut dengan sangat hebat. Aku terus berteriak meminta tolong sembari memegangi luka yang tampak mengerikan.

Tak jauh di belakangku, aku lihat seorang anak berumur lima tahun tertimpa puing dinding berukuran lumayan besar. Ia menagis. Nampaknya ia terpisah dari orangtuanya. Dengan perlahan aku cabut pecahan kaca itu. “AAAAAAAAH” Sambil menahan rasa sakit aku coba berdiri dan berjalan. Awalnya berat sekali  seakan semua uratku terputus, tetapi aku terus memaksakan diri. Dengan luka dan kaki yang terseret aku mendekati anak itu dan kembali terjatuh. Nafasku terdengar jelas tidak beraturan, belum pernah aku merasa sepayah ini.

“Sakit, tolong-toloong” Jerit anak itu. Aku segera mengangkat puing yang menimpanya. Payah memang, tapi aku terus mencobanya dan akhirnya dapat terangkat. Aku segera mendekap tubuh mungilnya. Sepertinya anak ini mengalami patah tulang yang cukup parah. Terdapat beberapa tulangnya yang mencuat keluar. Lalu kulihat kepalanya terluka parah, darah merah segar anak itu memerahkan baju putihku. Secara perlahan anak itu mulai kehilangan kesadaran. Aku mencoba membangunkan anak itu akan tetapi tak berhasil. Lalu kupegang urat nadinya, ­ini buruk sekali dia sekarat pikirku.

Aku segera berdiri dan berjalan. Lukaku nampaknya bertambah parah, darahnya tak berhenti mengalir. Namun aku terus melangkah. Entah mengapa aku tak ingin anak ini mati.

“TOLOOOOOOOOONG” Aku berteriak meminta bantuan. "TOLOONG......TOLOOOOOOOOOONG" Aku terus berteriak sampai suaraku habis. Syukurlah seorang tenaga medis mendekat ke arahku. “Mas tolong mas. DIA SEKARAT!!!”  Dengan sigap ia memanggil rekannya. Lalu seperti semut para tenaga medis itu mengambil anak itu dari dekapanku dan segera membawanya dengan tandu darurat.

Kawan jika kalian melihat ini kalian tak akan percaya, bangunan lima lantai yang sebelumnya berdiri kokoh dengan segala keanggunannya, dengan segala kemewahannya, dengan segala keramaiannya, kini berubah drastis seketika. Semua hancur. Dengan ditemani seorang tenaga medis aku duduk bersandar di atas sisa bangunan. Kupandangi lagi sekitarku,  lantai gedung yang sebelumnya putih mengkilat kini berwarna merah darah bercampur dengan debu puing-puing bangunan. Merah pucat.

Seketika aku merasa mengantuk, berat sekali membuka mata. Akupun segera tak sadarkan diri. Semua gelap secara tiba tiba. Beberapa menit kemudian aku membuka mata. Aku sudah berada dalam ambulan. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku lupa tentang ayahku. Mataku mulai terasa perih, rasanya aku akan menagis sekarang. “Ayah kamu dimana?” Bisikku sembari terisak dalam ambulan 

Kalian tahu, aku pikir semuanya akan berakhir ketika aku menutup mata, ternyata aku salah. Namaku Dirga, umurku 19 tahun, dan kisahku baru saja dimulai.

Profil Penulis:
Jangan lupa kunjung sosmedku
FB : Muhammad Fikri Udin

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Pembohong Part 1""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel