CERPEN "Takut" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Takut"

CERPEN "Takut"
TAKUT
Karya Harni Haryati

"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illa Allahu Allahhu akbar, Allahu akbar wa lillahilham,"

Gema takbir saling bersahutan. Disusul teriakan spesiesku . Para manusia kepayahan mengimbangi amukan jenisku. Sekuat tenaga, mereka menarik tali yang mengikat kaki Supri.

Brugghh!

Tubuh gempal Supri jatuh. Manusia itu bergegas mengunci Supri. Sehingga Supri mustahil melakukan perlawanan. Supri menyerah. Pasrah. Membiarkan pisau tajam itu menyayat lehernya.

"Mooo," jerit Supri kesakitan.

Tubuhnya menggelepar-gelepar. Darah mengucur deras. Perlahan mata bulat Supri menutup. Dia tak bergerak. Mati.

Aku bergidik ngeri. Tak terbayang bila nanti aku akan berakhir seperti Supri. Mati disembelih manusia. Mengerikan.

Betapa seram rasanya, jika pisau besar itu bergerak maju mundur di leherku. Memotong nadi. Ketika itu terjadi, rasa sakit menyerang. Melumpuhkan perlahan. Hingga darah tercurah semua ke lubang di tanah. Dan aku akan... mati!

Teriakan-teriakan jenisku. Perlawanan tak berarti. Serta gema takbir yang mengiringi ajal. Satu per-satu. Spesiesku meregang nyawa.

Hatiku gelisah. Jatungku berdebar-debar. Andai aku punya tangan. Pasti sudah kugunakan untuk menutup telinga. Tak kuasa mendengar jeritan-jeritan yang menggambarkan rasa sakit yang mereka alami. Semakin lama... aku semakin takut.

Pikiranku tak tenang. Hatiku ketar-ketir menunggu giliran. Jika saja aku boleh memilih. Nomor satu-lah yang kudamba. Aku ingin jadi sapi pertama yang disembelih mereka. Agar aku tak perlu merasa takut sedemikian rupa.

Mataku menatap ke depan. Dia, Joko. Sapi pertama yang kukenal di tempat ini. Kami berdua cukup akrab. Kerapkali kami mengobrol tentang banyak hal.

Aneh. Tak kutemui raut ketakutan di wajahnya. Dia malah asyik memakan rumput. Agaknya jeritan sapi lain tak mempan padanya. Tenang sekali dia. Apa sapi asal Solo selalu damai seperti dia?

"Joko!" kupanggil dia.

Joko menatapku dengan mulut penuh rumput.

Aku mengatur napas lalu berkata. "Apa kau tidak ngeri membayangkan pisau tajam itu menggorok lehermu nanti?"  aku menunjuk pisau dengan gerakan kepala. Benda itu berkilau ditimpa cahaya surya. Dan jangan lupakan lumuran darahnya.

Joko melirik pisau itu dan... biasa saja. Air mukanya datar. Tiada perubahan pada ekspresinya. Kemudian dia menatapku.

"Sudahlah, jangan dipikirkan. Lebih baik nikmati rumput ini untuk terakhir kali," dia kembali melanjutkan acara makannya. "kuberi tahu, ya, rasa rumput ini lezat sekali."

Gigiku bergemeletuk. Rahangku mengeras. Aku geram dengan responnya yang biasa.

"Bagaimana bisa kau bersikap tenang di detik-detik jelang kematian kita, hah?" nada bicaraku meninggi. Emosi. Pikiranku kalut. Ketakutan menggetarkan susunan tulang-tulangku.
"Kau tau perlu marah begitu, Juno," Joko berhenti mengunyah. Kini fokusnya tertuju padaku.
"Juno, dengarkan aku baik-baik. Karena ini adalah kata-kata terakhirku. Jadi, sebelum nomorku dipanggil, aku ingin kau mengerti satu hal." Joko menatapku lekat-lekat.
"Apa kau lupa, Juno? Kita diciptakan Allah memang untuk manusia. Keberadaan kita di dunia itu guna memenuhi kebutuhan manusia. Karena manusia juga alasan bagi kita menjadi penghuni bumi."

Joko menarik napas sebentar lalu melanjutkan. "Sebagai seekor sapi, kita harus menurut, Juno. Karena itu ketentuan Allah. Semua sapi hidup memakan rumput dan akan berakhir di perut anak cucu Adam. Hal itu merupakan takdir bagi kita."

Aku tertegun. Penuturan Joko sukses menohokku. Bagaimana bisa aku melupakan tujuan jenisku diciptakan?

"Sapi nomor 19 milik Bapak Rusdi bin Asmawi," 

Mengalun suara manusia itu menyebut nomor urut Joko. Beberapa orang menggiring Joko ke tempat penyembelihan.

Sekilas Joko tersenyum, sebelum pergi dari hadapanku. Benar saja. Penyembelihan Joko berjalan cepat dan lancar. Dia tak berontak seperti sapi lainnya.

Terima kasih, Joko. Percerahanmu telah mengusir gelap di hatiku. Ketakutan lenyap. Kini aku bisa tenang menunggu giliran. Kuharap Allah mempertemukan kita kembali di surga. Semoga.

-Rampung-

Bekasi, 100917

Profil Penulis:
Seorang gadis belias yang sedang merintis karya untuk menjembatani cita-cita

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Takut""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel