CERPEN "The Greatest Fear" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "The Greatest Fear"

CERPEN "The Greatest Fear"
THE GREATEST FEAR I
Karya Harni Haryati

Petang itu aku sangat gembira. Senyum senantiasa mengembang di bibirku. Bagaimana tidak, pihak HRD mengabari bahwa Hasna Lestari lulus dalam psikotes dan interview di salah satu perusahaan di Bekasi. Besok aku mesti ke Cikarang untuk melakukan Medical Check Up.

Tapi satu kejadian merenggut segalanya. Kegembiraanku menguap. Sebagaimana angin menerbangkan asap. Lenyap. Aku yang keliru karena melewati jalan  sepi. Kupikir jalan pintas ini akan mempersingkat waktu. Supaya aku cepat sampai di rumah.

Seketika laju motorku terhenti. Tatkala dua orang laki-laki berpakaian hitam menghadang di badan jalan. Keduanya memakai penutup wajah.

Ingin rasanya aku segera melesat pergi. Akan tetapi pisau tajam itu sudah lebih dulu menempel di kulit leherku.

"Cepat turun! Atau nyawamu melayang!" ancam seorang lelaki berbadan tambun.

Sedang seorang lagi mengunci tanganku dan bertugas menodongku dengan pisaunya.

Mendengar itu nyaliku ciut. Pikiran ini ramai merutuki diri yang tak pernah belajar bela diri. Aku seorang wanita yang tak berdaya melawan dua orang pria dewasa. Dalam hati aku menyesai hal ini. Menyedihkan.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Mereka telah berhasil membawa kabur motorku. Napasku terengah-engah. Saking takutnya aku sampai lupa bernapas.

"Tolong! Tolong!" teriakku sekencang-kencangnya. Berharap ada yang mendengar lalu datang menolong.

Nihil. Lima menit berlalu. Selama itu pula tak ada yang datang menghampiriku. Masih sepi. Suaraku hampir habis teriak terus. Serak.

Langkah kaki ini gontai. Bulir-bulir bening berlinang di pipi. Baru saja perasaanku senang meletup-letup merasa bahagia. Namun dalam sekejap, cerah berganti mendung. Aku merasa menjadi orang paling malang di dunia.

Padahal tinggal selangkah lagi. Iya, selangkah lagi mimpi itu terwujud. Membahagiakan orang tua dengan jerih payah sendiri. Sisa satu tes lagi. Dan aku bisa bekerja di perusahaan dengan penghasilan layak.

Lagi-lagi kejadian nahas yang tidak kuharapkan--bahkan terbayang sekali pun--tiba-tiba datang menghancurkan hidupku. Asa ini musnah. Membuatku terpuruk. Jatuh. Kini aku berdiri di ambang keputusasaan. Tinggal terjun, maka aku hilang di kedalaman jurangnya.

Entah sudah berapa kali padangan aneh tertuju padaku. Malah ada yang berbisik-bisik saat aku lewat. Mungkin mereka heran melihat seorang gadis menangis sendirian di jalan. Aku tak peduli itu! Pikiran dan hatiku kini berkabut.

"Eh, Hasna!" Sepeda motor matic berhenti tepat di depanku.

Dia membuka helm-nya dan kaget begitu melihatku banjir air mata. Dia segera menggiringku ke dalam hangat dekapannya. Alih-alih tenang, tangisku kian menjadi.

"Kamu kenapa, Has? Apa yang terjadi?" tanyanya cemas mendapati keponakannya kacau balau.

Aku menggigit bibir bawahku. Kepala ini menunduk. "A-aku di.. begal, Lik, hiks" terbata-bata aku menjawabnya.

Beruntung, Lik Ina tidak marah. Dia malah berbaik hati mengantarku pulang.

***

Singkat cerita, kini aku tengah duduk di tikar dalam rumahku. Di hadapanku ada Ibu. Sedang di sampingku ada Lik Ina. Dia tidak hanya mengantarku, akan tetapi juga membantuku menyampaikan musibah yang menimpaku.

Dalam hati aku bersyukur. Namun itu tak merubah banyak. Aku masih takut. Takut kedua orang tuaku menyalahiku. Perihal motor Honda Beat dibegal saat aku pakai.

Mata tua Ibu membelalak seiring membukanya mulut. Dia terkejut. Penuturan Lik Ina--yang merupakan adik kandungnya--laksana petir baginya.

"Ya Allah, Hasna,... kenapa ini bisa terjadi?" tetes-tetes bening bergulir di matanya. "Nak, motor itu masih kredit, belum lunas terbayar. Ya Gusti, bagaimana Ibu harus mengatakan ini pada Bapakmu nanti?"

Kepalaku kian tertuduk dalam. Tiada berani menatap mata sendu Ibu. Tadinya aku ingin melukis senyum di bibirnya. Namun apa yang telah kuperbuat? Malah tatapan luka yang kini ditunjukannya. Hari ini ada seorang anak yang mengecewakan ibunya. Catat itu dalam sejarah!

Tak lama Bapak pulang dengan sepeda bututnya. Beliau memasuki rumah dan menyalami kami semua. Wajah lelahnya terheran-heran melihat aku dan Ibu.

"Lho, iki kenopo podo nangis toh? Bapak mulih, bukannya disambut, malah nangis-nangis." kata Bapak kental dengan logat jawa. Beliau duduk di samping Ibu.

Badanku gemetar. Aku takut. Takut kalau Bapak tahu yang sebenarnya. Terlebih sepeda motor itu miliknya. Aku ingat betul, sudah sejak lama Bapak mengidamkan kendaraan beroda dua itu. Hingga dia rela menyisihkan gaji bulanan sebagai OB, demi mencicil sepeda bermesin itu.

Kami bertiga bungkam. Hening. Tak ada yang berani angkat bicara. Sebelum akhirnya tangan Ibu meraih tangan kokoh Bapak. Menggenggamnya. Jemari kecil Ibu saling terkait dengan jemari besar Bapak.

Ibu mengangkat wajah. Keduanya saling bertatapan. Gurat kebingungan tercetak di wajah keriput lelakinya. Suami yang telah menemaninya selama belasan tahun.

=>Lanjut di part II

Bekasi, 130917
#Haryati

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "The Greatest Fear""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel