CERPEN "Nina Bobo"
CERPEN "Nina Bobo"
NINA BOBO
Karya Iis Nia Daniar
Mungkin hanya selembar lukisan usang yang tiada berarti, tetapi lukisan ini selalu kubawa kemana pun. Lukisan wanita muda Belanda itu kutemukan di ruang belakang, paviliun rumah Omaku. Sejak melihat mata sosok wanita muda dalam lukisan tersebut, hatiku telah bergetar.
“Diaz! Diaz! Diaz!”
Sepupuku, Raka, mencari-cariku saat kami bermain petak umpet. Aku lebih menyembunyikan diri dalam keranjang besar yang ada di ruang penyimpanan barang. Aku hanya tersenyum-senyum geli mendengar panggilan Raka. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara benda terjatuh dari atas lemari tua yang berada takjauh dari keranjang tempatku bersembunyi.
Braaaak ....
Aku langsung berdiri dan menoleh ke arah bunyi tersebut, kulihat ada benda putih persegi yang tergeletak di lantai. Taksadar kakiku melangkah menuju benda tersebut. Ah, ternya sebuah lukisan. Kubalikkan lukisan tersebut dan aku terpesona. Wanita muda dalam lukisan yang kupegang iitu seolah hidup. Matanya begitu bersinar. Jantungku seperti tertembus. Kuraba dadaku, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelubunginya. Denyutnya begitu cepat, darahku seperti dipompa tiga kali lipat. Entah perasaan apa? Aku sendiri tidak mengerti karena aku masih kecil waktu itu.
“Diaz! Diaz!” kudengar Omaku memanggil. Aku segera meletakkan lukisan itu di lantai kembali dan memburu pintu keluar ruangan itu.
Sudah dua malam aku menginap di rumah Oma dan ini malam ketigaku. Setelah seharian main dengan Raka, kakiku pegal-pegal dan aku agak rewel. Oma memintaku pada Mama agar aku tidur dengannya malam ini. Mereka berbisik-bisik sebelumnya sambil sesekali melihat ke arahku. Aku diam saja sembari asyik memainan robot Raka yang dipinjamkan Tante Yosi karena sejak sore tadi badanku demam dan aku menangis terus.
“Malam ini Diaz tidur dengan Oma ya!” Mama menghampiriku sambil mengusap rambut kepalaku dengan lembut.
Kulihat tatapan Mama penuh harap. Akhirnya aku mengiyakan permintaan Mama. Mama menggendongku masuk ke kamar Oma dan dia meletakanku pelan-pelan di ranjang kuno milik Oma. Seprei kuning gading melapisi tempat tidur itu. Aku mengambil bantal guling yang berada di tengah ranjang dan kupeluk. Mama menyelimutiku dengan kain tebal bercorak garis-garis hitam putih. Badanku terasa hangat .
Sebelum beranjak dari sampingku Mama bertanya, “Sudah minum obat tadi sama Mba?”
Aku mengangguk pelan. Mainan Robot masih kugenggam. Mama lalu mencium keningku dan pergi menuju pintu kamar.
Malam itu tidurku taknyenyak. Aku gelisah tidak karuan. Berbalik ke sana ke mari, menatap langit-langit, menarik-turunkan selimut yang kupakai. Kulihat Oma di sampingku tertidur pulas. Aku tidak berani membangunkannya.
“Nina bobo, oh ... Nina bobo ....”
Nyanyian itu terus berulang terdengar di telingaku. Suaranya tampak jauh dan agak menggema seperti dari ruang kosong. Aku menutup telinga dengan kedua tanganku, tetapi tetap saja terdengar. Angin kecang yang berhembus malam itu semakin membangunkan bulu kudukku. Lutut kaki kutekuk, badan kumiringkan ke arah Oma. Saat seperti ini aku sangat mengharapkan Oma memelukku, tetapi Oma terlalu lelap. Kelopak mata kupejamkan rapat-rapat dan akhirnya aku bisa tertidur juga.
Profil Penulis:
Iis Nia Daniar lahir di Bekasi dan bekerja sebagai tenaga kontrak pada SMP N 31Kota Bekasi. Selain mengajar di sekolah, dia juga mengajar pad lembaga bimbingan belajar untuk matapelajaran Bahasa Indonesia. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa S-2 Pend. Bahasa Indonesia di salah satu universitas Jakarta. Kiprahnya di dunia kepenulisan baru seumur jagung. Beberapa karya seperti puisi dan cerpen pernah dimuat di Koran Radar, Madura, dan Harian Analisa.
0 Response to "CERPEN "Nina Bobo""
Post a Comment