CERPEN "Gelas Bertulang"
CERPEN "Gelas Bertulang"
GELAS BERTULANG
Karya Putri A. Nanda Pribadi
Nyiur menari elok
Melambai-lambai, gemulai
Mengiringi nyanyian angin yang merdu
Seirama, mengalun indah
Ombak pun turut serta berdendang
Mengubah karang menjadi permata
Dengan butiran-butiran pasir
seputih salju yang menambah
kecantikan sang bahari
Itulah kebanggaan hakiki milik Ibu Pertiwi
Maha karya, sang Maha Tinggi
Malam, masih sama dingin. Tak mau mempedulikan siang. Mereka hendak bertanya, sampai kapan mereka akan tetap berada dalam ketidakpastian? Malam datang, siang pergi. Siang datang, malam yang pergi. Tak pernah mereka berada dalam satu tempat atau satu waktu yang bersamaan. Seperti saling membenci, mungkinkah? Ataukah memang tak pernah bisa disatukan? Entahlah. Semua terjadi begitu saja. Mengapa? Siapa yang tahu?
Di desa Pelita Kanaan terdapat sebuah permukiman warga suku Dayak Abai yang terletak di tepi sungai Kabiran, Kabupaten Malinau. Itulah desa yang akan dikunjungi oleh Gilang dan keempat temannya. Mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Mulawarman yang terdiri dari beberapa fakultas. Vira dan Intan mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran, Imran dan Della mengenyam pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Gilang mengenyam pendidikan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Mereka pergi ke desa Pelita Kanaan untuk melakukan tugas KKN (Kuliah Kerja Nyata).
Hari Minggu pagi tepatnya pukul 08.00, Gilang dan teman-temannya bersama dosen pembimbing PPLT bersiap untuk berangkat dari kota Samarinda menuju desa Pelita Kanaan. Untuk menuju kesana, mereka harus melakukan perjalanan laut karena desa Pelita Kanaan belum mempunyai bandar udara untuk mendaratkan pesawat. Jarak yang jauh menyebabkan mereka harus berada di kapal selama delapan jam. Vira dan Della yang tak terbiasa melakukan perjalanan yang jauh, membuat keduanya mabuk laut. Vira dan Della hanya bisa terbaring lemah di atas kapal.
Ketika mereka sampai di desa Pelita Kanaan, terlihat pohon-pohon tinggi menutupi pulau kecil ini. Desa Pelita Kanaan masih terlihat alami dan bersih, karena desa tersebut masih jarang dikunjungi oleh penduduk luar dari desa tersebut. Warga setempat menjaga alam dengan baik karena mereka tahu jika manusia menghormati alam, maka alam pun bisa menjaga manusia dari hal buruk yang tidak diinginkan.
Sebelum memasuki wilayah permukiman warga, Gilang dan teman-temannya disambut oleh kepala desa dan masyarakat. Penyambutan diawali dengan tarian suku Dayak dan sambutan kepala desa yang memberitahukan kepada Gilang, Vira, Intan, Imran, serta Della untuk mematuhi aturan yang berlaku di kampung tersebut, termasuk bagi wanita dan laki-laki yang belum menikah harus terpisah tempat tinggalnya. Maka setelah acara penyambutan, Vira, Intan, dan Della diantar ke salah satu rumah warga yang sudah disiapkan untuk menjadi tempat tinggal mahasiswi KKN. Sedangkan Imran dan Gilang menempati rumah warga lain yang sudah disiapkan untuk mahasiswa KKN tersebut.
Hari pertama berada di kampung itu, mereka luangkan untuk beristirahat karena kelelahan dengan perjalanan laut. Hari kedua di desa Pelita Kanaan, pagi menyambut hamparan sawah, ladang, dan rumah-rumah warga. Aktivitas mereka pun dimulai. Vira dan Intan berniat mengunjungi puskesmas atau klinik kesehatan, namun setelah mereka bertanya pada warga di mana puskesmas atau klinik kesehatan di desa, Vira dan Intan terkejut mendengar bahwa tidak ada tempat seperti itu. Jika ada warga yang sakit, mereka hanya membawa sanak keluarganya ke rumah Ki Joko, yaitu kepala desa sekaligus dukun terpercaya yang sudah turun-temurun mengobati penyakit warga Pelita Kanaan. Karena penasaran, kedua gadis itu meminta salah satu warga untuk mengantarkan mereka ke rumah kepala desa.
Setelah sampai di depan rumah Ki Joko, beliau mempersilakan Vira dan Intan masuk ke rumahnya. Setelah mereka masuk, keduanya menyampaikan maksud ingin membangun posko kesehatan untuk warga Pelita Kanaan. Beruntung Ki Joko menerima tawaran itu karena ia merasa penduduk desa juga memerlukan bantuan kesehatan.
Desa Pelita Kanaan memiliki 2 sekolah, yakni SD Negeri 01 Pelita Kanaan dan SMP Negeri 02 Pelita Kanaan. Kedua sekolah ini hanya memiliki dua bangunan dan berdiri di atas lahan warga dengan jarak yang dekat. Satu bangunan untuk SD Negeri 01 Pelita Kanaan dan satu bangunan lagi untuk SMP Negeri 02 Pelita Kanaan. Hari ini Imran dan Della akan ditemani oleh dosen pembimbing PPLT menuju ke sekolah itu.
Memasuki area sekolah, Imran dan Della disambut hangat oleh guru-guru SD Negeri 01 Pelita Kanaan dan SMP Negeri 02 Pelita Kanaan. Di setiap sekolah hanya ada dua orang guru tetap, jadi jumlah guru di sekolah desa Pelita Kanaan yaitu empat orang guru beserta satu orang kepala sekolah yang menjabat kedua sekolah tersebut. Setelah diserahkan atau dititipkan oleh dosen pembimbing PPLT kepada kepala sekolah, Imran dan Della melakukan program kerja kepada anak-anak masyarakat desa, yaitu program bimbingan belajar. Imran akan mengajar di SD Negeri 01 Pelita Kanaan dan Della akan mengajar di SMP Negeri 02 Pelita Kanaan.
Sedangkan Gilang, satu-satunya mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, akan melakukan program kerja, yakni dengan mengajarkan penanaman Mangrove kepada masyarakat desa Pelita Kanaan. Tujuan dari kegiatan ini yakni untuk mencintai dan melestarikan alam dengan secara tidak langsung menjaga wilayah tempat tinggal masyarakat desa Pelita Kanaan yang berada di wilayah pesisir.
Sore harinya, akhirnya seluruh kegiatan selesai. Mereka memutuskan untuk berkumpul di pantai desa Pelita Kanaan untuk melepas kepenatan dari kegiatan masing-masing. Sebelumnya Gilang, Vira, Intan, Imran, dan Della sudah meminta izin kepada Ki Joko untuk meminjam satu perahu warga. Mereka ingin menyusuri laut di sekitar desa Pelita Kanaan. Ki Joko menginzinkan mereka asalkan mereka pergi bersama penduduk desa.
Setelah 15 menit di atas perahu, Gilang, Imran, dan Intan menyelam ke dalam laut tanpa mengenakan peralatan, berupa masker selam dan alat bantu gerak berupa kaki katak (sirip selam) yang berfungsi untuk menambah daya dorong pada kaki. Mereka sudah sering melakukan snorkeling, yang sudah menjadi hobi mereka. Intan melihat keindahan beraneka ragam flora dan fauna bawah laut, seperti terumbu karang, ikan, kerang, bintang laut, dan rumput laut.
Tanpa disadari, Gilang sudah berenang menjauh dari Intan dan Imran. Ia tertarik dengan ubur-ubur biru dan merah muda yang ada di laut itu. Gilang tidak berani untuk memegangnya karena belum mengetahui jenis ubur-ubur itu termasuk yang berbahaya atau tidak. Gilang yang masih serius mengamati ubur-ubur dikejutkan oleh suara Imran yang memanggilnya untuk kembali ke perahu. Ia pun menghentikan pengamatan itu.
Sesampainya di atas perahu, mereka berlima kembali ke desa Pelita Kanaan. Senja sudah berada di ufuk barat, memanggil mereka untuk beristirahat.
Tidak terasa, sebulan sudah mereka di desa Pelita Kanaan. Program-program yang mereka lakukan terlaksana dengan lancar dan mendapat dukungan dari kepala desa dan masyarakat. Dua hari lagi mereka akan kembali ke kota Samarinda.
Sebelum itu, Gilang mengajak teman-temannya untuk memancing. Gilang sudah meminta izin kepada Ki Joko untuk meminjam satu perahu warga, mereka ingin memancing di laut sekitar desa Pelita Kanaan. Ki Joko mengizinkan mereka asalkan mereka pergi bersama penduduk desa.
Berangkatlah mereka ditemani oleh salah satu penduduk desa Pelita Kanaan. Beberapa menit setelah memilih lokasi untuk memancing, akhirnya Gilang memutuskan dengan memilih di laut bagian selatan. Setelah 10 menit memancing, Imran dan Della mendapat ikan Layang Benggol serta Intan dan Vira mendapat ikan Lemuru. Namun, hanya Gilang yang mendapat hasil yang berbeda. Ia terkejut setelah mengetahui bahwa hasil tangkapannya merupakan sebuah gelas yang sudah tidak jelas bentuknya. Penduduk yang ikut menemani mereka berkata bahwa itu sudah wajar terjadi ketika memancing di laut ini. Penduduk desa Pelita Kanaan juga pernah mendapati hasil pancingannya merupakan benda-benda, seperti gelas, garpu, dan lain sebagainya. Hal itu membuat Gilang penasaran dan ingin mencari tahu.
Ia yakin, jika benda-benda tersebut bukan benda biasa pada umumnya. Ia percaya bahwa benda-benda tersebut bisa saja merupakan harta karun peninggalan pada zaman dahulu. Sempat terbesit keinginan di hati Gilang untuk melakukan berbagai cara agar dapat memperoleh lebih banyak lagi harta karun yang telah ia temukan. Tetapi, hal tersebut sangat tidak mungkin ia lakukan sekarang, mengingat ada salah satu penduduk yang turut serta mengawasi kegiatan mereka. Sehingga, ia pun memutuskan untuk menghentikan terlebih dahulu pencariannya hari ini dan akan melanjutkannya pada esok hari.
Sepulang dari memancing, Gilang pun berniat untuk menceritakan tujuannya kepada Imran, yakni untuk mencari harta karun dan asal-usul harta karun tersebut. Setelah menyampaikan maksud dan tujuannya, Imran akhirnya memutuskan untuk turut serta membantu Gilang. Sebenarnya, mereka pun ingin mengajak Vira, Intan, dan Della dalam kegiatan ini, tetapi mereka kemudian mengurungkan keinginan tersebut karena mereka tidak ingin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya. Maka, mereka pun sepakat untuk melakukannya berdua saja. Selesai berdiskusi dan menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan, mereka lalu beristirahat.
Keesokan harinya, mereka segera bersiap untuk melakukan kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya. Tidak lupa juga mereka memeriksa kembali semua perlengkapan yang akan dibawa. Setelah sarapan, mereka segera menuju ke laut di bagian selatan, tempat Gilang memancing kemarin. Mereka pergi ke sana dengan berjalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Vira, Intan, dan Della. Ketiga gadis itu bertanya kepada Gilang dan Imran tentang apa yang sedang mereka berdua lakukan. Sebenarnya, Gilang ingin sekali memberitahukan maksud mereka yang sebenarnya untuk pergi ke laut bagian selatan, tetapi Imran segera mencegahnya dan mengatakan kalau mereka berdua hanya ingin pergi memancing lagi. Tetapi, Vira, Intan, dan Della tidak percaya begitu saja kepada mereka berdua. Hal ini dikarenakan Vira, Intan, dan Della melihat kalau barang bawaan yang dibawa oleh Imran dan Gilang cukup banyak, tidak terlihat seperti orang yang sedang ingin memancing. Imran dan Gilang pun tidak dapat berbohong lagi. Mereka pun segera mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak disangka, Vira, Intan, dan Della ternyata ingin turut serta dalam kegiatan itu. Maka setelah berdiskusi cukup lama, mereka berlima pun segera membagi tugas dan tidak ingin membuang-membuang waktu.
Penyelidikan pun dimulai. Seperti yang Gilang pikirkan sebelumnya, kali ini mereka mendapatkan benda-benda yang lebih banyak dibandingkan dengan kemarin. Gilang mendapatkan sebuah topi rajut dari bambu dengan model yang sudah sangat kuno. Imran mendapatkan gelang dan kalung yang terbuat dari perak dalam jumlah yang cukup banyak. Vira mendapatkan dua buah kain berenda putih yang diduga merupakan potongan-potongan baju. Intan mendapatkan dua pasang sepatu (perempuan dan laki-laki) berwarna kuning keemasan yang telah pudar. Sementara Della mendapatkan tiga buah patahan besi putih yang telah berkarat, dan apabila ketiganya disambung akan membentuk sebuah tiara (mahkota). Berdasarkan barang-barang temuan yang telah mereka dapatkan, mereka pun semakin bertambah yakin bahwa pada zaman dahulu, di desa Pelita Kanaan terdapat sebuah kerajaan yang terletak tepat di laut bagian selatan ini. Tanpa menunggu lama, mereka berlima segera bergegas kembali ke rumah. Tetapi saat akan meninggalkan laut bagian selatan, secara tidak sengaja kaki Gilang menyentuh sebuah benda yang keras dan bentuknya menyerupai seperti tulang. Tanpa pikir panjang, Gilang segera mengambil benda itu untuk ikut dibawa pulang. Kali ini tujuan mereka bukanlah rumah warga tempat mereka menginap, tetapi mereka berjalan menuju rumah Ki Joko sang kepala desa.
Sesampainya di rumah Ki Joko, mereka segera menceritakan semuanya seraya menunjukkan kepada Ki Joko semua barang-barang yang mereka dapatkan. Awalnya, Ki Joko terlihat kaget dan marah. Tetapi setelah mereka berlima meminta maaf, barulah Ki Joko tersenyum dan mengatakan kepada mereka bahwa ia akan menceritakan kepada mereka berlima mengenai sebuah kisah yang sangat bersejarah. Kisah tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah kisah mengenai kerajaan yang terdapat di desa Pelita Kanaan. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Benayuk. Ki Joko menceritakan segala sesuatunya dengan urut dan rinci, dimulai dari awal berdiri hingga tenggelamnya Kerajaan Benayuk tersebut. Ki Joko mengatakan kepada mereka bahwa semua barang-barang yang mereka dapatkan di laut bagian selatan itu merupakan barang-barang milik sang raja dan istrinya. Serta tulang yang Gilang temukan, dikatakan Ki Joko bahwa itu merupakan sisa tulang-belulang dari sang raja. Ki Joko juga memperlihatkan kepada mereka sebuah lukisan Kerajaan Benayuk pada zaman dahulu. Setelah mendengar semua cerita dari Ki Joko dan melihat lukisan tersebut, mereka sangat terkejut dan terkagum-kagum. Mereka baru menyadari bahwa desa Pelita Kanaan ternyata menyimpan sejarah yang besar dan masih banyak orang yang belum mengetahuinya. Tidak lupa mereka juga berterima kasih kepada Ki Joko yang telah banyak membantu mereka dalam menyelesaikan penyelidikan ini. Dalam hati, mereka semua berjanji untuk terus menjaga kelestarian sejarah dan budaya yang dimiliki desa Pelita Kanaan agar menjadi lebih baik.
Memang benar, sejarah telah memperlihatkan semua hal kepada manusia. Kerakusan, kesombongan, keikhlasan, pengorbanan, dan daya juang. Sejarah layaknya awan yang tampak padat berisi, tetapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.
0 Response to "CERPEN "Gelas Bertulang""
Post a Comment