CERPEN "Merah Dan Kelabu"
CERPEN "Merah Dan Kelabu"
MERAH DAN KELABU
Karya Asyraf
Bukan jam weker yang membangunkanku. ”tono.. tono.. “ Joni berlari kearah tempat tidurku sambil memanggil namaku dengan agak berbisik.
“Tadi aku mimpi buruk” katanya dengan gemetar seperti mau menerima maut. “mimpi apa?” tanyaku. “aku mimpi ada seseorang terbaring di kerumunan orang, semua orang wajahnya kabur seperti cat yang luntur tak terkecuali orang yang terbaring itu. Bajunya basah dan kulitnya sepucat cat dinding yang putih ini. Aku melihat ia memakai kemeja merah seakan kontras dengan semua orang yang berwarna kelabu Kau tau apa hubungannya dengan mu?” ”apa?” Tanyaku “kemeja merah itu adalah milikmu yang diberikan oleh ibumu” jawabannya membuat ku pucat dan gemetar.
Hingga jam sarapanpun aku masih memikirkan itu. Sarapanku mulai mendingin dan aku hanya memegang sendok di atasnya. Sesuap nasipun belum ku santap. “jangan dipikirkan itukan hanya mimpi” kata joni berusaha menenangkan ku. “tapi bisa saja itu lebih dari mimpi. Bisa saja itu suatu pertanda” kataku. “kalau itu pertanda, setidaknya kau bisa menghindarinya. Kau kan sudah tahu” jawab joni masih berniat menenangkanku. “tapi takdir tak bisa dihindari” jawabku dengan sedikit lantang. Jonipun menundukan kepalanya “aku hanya berusaha membantu” kata joni.
“Baiklah, katamu di mimpi itu bajuku basah kan?” tanyaku. “iya semua bajumu basah” jawab joni. “kalau begitu aku meninggal karena tenggelam” kataku. “jika itu benar sebaiknya kau jangan mendekati danau itu” kata joni sambil menunjuk danau di luar jendela. Aku melihat danau itu seperti seorang pembunuh yang menungguku. menunggu waktu yang tepat untuk merenggut nyawaku.
Malam harinya aku masih saja memikirkan hal itu. Sekarang aku enggan memakai kemeja merahku. Bahkan aku seperti phobia akan warna merah. Melihat warna merah membuatku teringat kematian. Bukannya aku tidak mau mati. Semua orang pasti akan mati tapi banyak hal yang belum ku coba di dunia ini. Merasakan kehangatan wanita misalnya.
Jam weker yang membangunkanku. Kali ini aku merasa sangat tenang bahkan aku hampir tidak sadar kalau aku lebih tenang dari hari yang lain. Kali ini ku santap makananku dengan lahap sampai ku melihat wajah joni yang membuatku teringat hal itu lagi. Amarahku meluap tapi aku berusaha menahannya. Ingin ku cabik-cabik wajahnya dan kuberi makan para anjing penjaga asrama. Ia menghampiriku dan melemparkan senyum munafiknya. Ku anggap itu sebagai hinaan sebelum ku menjemput ajal. Ku pegang erat garpuku sambil membalas senyumannya.
Amarahku memuncak pada malam harinya. Malam yang panjang menemaniku. tepat pukul duabelas malam ku masih terjaga. Aku pergi ke tempat tidur joni dan memandang wajahnya. Dan tebak wajahnya lagi-lagi mengingatkanku pada kematianku. Ku menuju dapur mencoba menenangkan diri dengan menenggak segelas air putih. Di dapur kumelihat kilauan yang memantulkan cahaya bulan. Sebilah pisau yang berkilau membuatku hanyut akan keindahannya. Ku ambil pisau itu dan ingin mewarnainya dengan warna merah seperti seniman yang melukis di atas kanvas.
Ku berjalan perlahan kearah tempat tidur joni dan lagi-lagi memandang wajahnya. Ku sedikit terkekeh karena sedikit lagi ku tak akan melihat wajahnya. Ku tak akan lagi melihat kematianku sendiri.
Dengan perlahan kutancapkan pisau tepat di leharnya seperti ibuku yang memotong kue bolu yang lembut. Mata dan mulutnya terbuka mengeluarkan suara tersedak. Ku tempelkan jari telunjukku di bibirku. Lama kelamaan suara tersedak itu menghilang. Kemeja putihnya tertutup oleh merahnya darah. Malam ini kubuat karya seni yang indah.
Kubawa ia berenang didanau. Sambil tersenyum lebar melihat merah darahnya bercampur dengan hijau danau. Segera ku kubur pisauku dan mencuci tangan menghilangkan bukti.
Bukan jam weker yang membangunkanku tapi suara berisik orang di danau. Segera ku pergi kedanau dan melihat kerumunan orang berwajah sedih. Kulihat seseorang terbaring memakai kemeja berlumuran darah seakan ia memakai kemeja merah. Pagi yang mendung membuat semua terlihat kelabu terkecuali kemejanya yang berlumuran darah seakan kontras dengan suasana di sekitarnya.
Ironisnya joni tidak bermimpi kematianku tapi ia bermimpi kematiannya sendiri.
TAMAT
Nama : Asyraf sidiq
Kota asal : Fakfak Papua barat
Umur : 16 tahun
0 Response to "CERPEN "Merah Dan Kelabu""
Post a Comment