CERPEN "Matahari dan Bulan Bersatu Di Langit Nusantara"
CERPEN "Matahari dan Bulan Bersatu Di Langit Nusantara"
MATAHARI DAN BULAN BERSATU DI LANGIT NUSANTARA
Karya Hidayat
Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Suara adzan subuh begitu menggema di telingaku. Sebagai seorang muslimah, saatnya bagiku untuk melaksanakan kewajibanku. Aku beranjak dari tempat tidurku seraya melangkah ke kamar mandi hingga berwudhu, setelah itu aku bergegas mengambil mukena ku dan melaksanakan sholat subuh. Setelah sholat subuh aku melanjutkan dengan bacaan wirid. Tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 06.30 WIB. Matahari tersenyum seraya berkata dalam sinar kehangatannya.
‘’ Ayo Hanum !, sekaranglah kamu memulai aktivitasmu ‘’. Aku tersenyum dan melangkahkan kaki ku satu persatu menuruni anak tangga. Sebagai seorang siswi kuliahan aku cukup memakan beberapa lembar roti bakar buatanku sendiri. Memang aku tinggal sendiri di Bandung sedangkan ayah dan ibuku berada di Jakarta. Setelah sarapan dan perlengkapan kuliahku siap, sekarang aku ingin berangkat kuliah. Tak lupa ku kunci rumahku, dan aku mulai berjalan ke pinggir jalan. Setelah memberhentikan sebuah taksi, aku pun naik dan taksi melaju dengan cepat. Memang jarak rumah ku dengan tempat kuliahku cukup jauh hingga perlu kendaraan yang cepat agar aku bisa sampai. Selama kurang lebih 30 menit aku pun sampai ditempat kuliahku. Aku pun turun dari taksi dan membayar kepada sopir berapa ongkosnya. Aku pun berjalan tenang menuju perpustakaan kuliah untuk mengambil beberapa buku lama sebagai refrensi. Setelah itu aku berjalan di halaman kuliah seraya hendak menaikki tangga menuju kelasku. Tiba-tiba kaki ku tersangkut tangga, dan aku terjatuh buku-buku yang kubawa berserakan tak karuan. Saat aku hendak mengambilbuku ku kembali, tiba tiba ada sepasang tangan yang membantuku. Saat aku hendak melihatnya , ternyata dia ialah ….
‘’ Clara’’ kataku .
‘’ Ayo Hanum, kubantu kau ‘’. Kata Clara seraya membantu.
Aku berusaha sendiri, sementara Clara mengambil dan merapikan buku-buku ku yang berserakan.
‘’ Terima kasih, Clara’’ kataku seraya mengucapakan terimakasih.
‘’ Tidak apa-apa Hanum, sudah seharusnya aku membantu sahabatku sendiri’’ kata Clara.
‘’ Aku bersyukur mempunyai sahabat sepertimu’’. Kataku
Clara memang sahabatku semenjak kami berdua masuk kuliah. Namun, sayangnya dia beragama berbeda dengan ku, dia beragama Kristen yang lebih tepatnya kearah Protestan. Itu dapat dilihat dari kalungnya yang berbuah Salib. Namun, perbedaan itu tidak menjadikan masalah bagiku.Namun,ia sering bertanya padaku masalah yang berbau Islami .Mulai dari sholat ,puasa ,zakat ,haji ,dll.Dan,satu yang membuatku kagum padanya,ia sangat menghormati Al-Qur'an bahkan melebihi beberapa intelektual muslim itu sendiri .Ia juga hafal beberapa surat dalam Al-Qur'an,yakni surah Maryam dan An-Nahl.
“Sudah selesai tugasmu?” tanyaku pada Clara.
“Oh, tugas dari pak hakim. Sudah, kenapa?“ Tanya Clara.
“Tidak apa-apa. Ayo kelas hampir mulai.” kataku mengajaknya.
"Iya, ayo." jawabnya.
Kami memasuki kelas dan memulai pelajaran. Dua jam kemudian, kami keluar dengan terhuyung-huyung. Rumus yang di tulis pak Hakim membuat kepalaku terasa berputar-putar.
"Hanum, ayo kita ke kantin." ajak Clara.
"Nggak ah, lagi nggak selera." kataku menolak.
"Kalau begitu ke perpustakaan saja. Ada yang mau aku tunjukkin." katanya.
"Nah, kalau itu aku mau." kataku seraya berdiri.
Kami pun berjalan menuju perpustakaan. Tidak banyak murid yang ada di perpustakaan. Kami mencari tempat yang ideal untuk duduk, kami pun menemukannya.
"Hanum, coba kau baca ini!" suruh Clara seraya menyodorkan beberapa lembar kertas padaku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Baca saja. Nanti kau juga tahu sendiri." katanya santai.
Aku mulai membaca berkas yang di berikan Clara. Satu persatu kata ku coba cerna .Sampai pada kalimat terakhir.
HAH......,apa ? Ini tidak mungkin.
"Clara...." kataku tergagap.
"Ya Hanum, itu benar.Di Amerika ada reflika patung Muhammad, nabi kalian."katanya.
Apa-apaan ini? Jiwaku berontak saat melihatnya. Tak terasa, air mataku meleleh tanpa kusadari.
"Hanum, ada apa?" tanaya Clara melihatku.
"Clara, ini merupakan penghinaan besar bagiku!" seruku seraya menghempas berkas yang diberikan Clara.
"Hanum, bisakah kau berpikir sedikit. Amerika merupakan bumi yang menghargai Muhammad sebagai pelopor keadilan di muka bumi. Tak bisakah kau berpikir?" kata Clara.
Ku renungi perkataan sahabatku itu. Ku tatap wajahnya sesaat. Terlihat aura haus akan Islam dari wajahnya. Hatiku membenarkan perkataannya. Ku usap air mataku dan berusaha tegar.
"Begitu dong sahabatku, itu baru Hanum yang ku kenal." kata Clara
"Aku ikhlas Clara, tapi kau tahu tidak siapa penemu benua Amerika?" tanyaku seraya tersenyum.
"Itu soal gampang. Jawabannya adalah Christophorus Colombus." ujarnya yakin.
Aku hanya menggelengkan kepala mendengar jawabannya.
"Salah."ujarku.
"Hah ? Kok salah ?"ujar Clara keheranan.
"Siapa sangka, Christhoporus Colombus sebenarnya bukan penemu benua Amerika. Padahal, jauh sebelum Colombus, benua itu sudah dihuni oleh orang bertubuh tegap, berkulit merah, dan berbalut jubah."kataku.
"Darimana orang-orang itu datang, Hanum?" tanya Clara.
"Entahlah, itu masih diperdebatkan. Namun ada satu yang menarik. Menurut salah satu prasasti kuno di Cina, orang-orang muslim dari berbagai belahan dunia telah berlayar jauh ke negeri itu. Kira-kira, tiga ratus tahun sebelum Colombus." ujarku.
"Benarkah?"tanya Clara.
"Ya, kau tahu Thomas Jefferson?" tanyaku.
"Tentu, dia merupakan presiden USA ke-3." kata Clara.
"Kau tahu Thomas Jefferson sangat mahir berbahasa Arab dan mempunyai Al-Qur'an sepertiku ."ujarku.
"Benarkah? Hebat!" komentar Clara.
Aku hanya tersenyum.Namun....
BRUKKK..., Clara jatuh dari kursinya. Ya Allah, kenapa dia? Sontak aku berteriak meminta pertolongan. Tak lama, siswa lain mengerubungi kami. Untungnya, ada petugas UKS yang memapah Clara ke ruang UKS. Di sana, ku oleskan minyak angin ke bawah hidungnya. Berharap agar dia cepat sadar.Aku melihat dia meneteskan air mata.Apa yang terjadi dengannya ? Tak lama kemudian,ia sadar.
"Hanum.."ujarnya lirih.
"Ya Clara. Aku di sini."kataku.
"Hanum, bantulah aku..."mohonnya.
"Tentu, ada apa ?"kataku
"Aku... aku.... tidak di perbolehkan masuk surga."katanya.
Sontak, aku terkejut setengah mati. Apa maksudnya? Segera ku tepis jauh-jauh pikiran yang macam-macam.
"Tadi, aku melihat sebuah istana hijau yang sangat indah. Ku lihat orang berbaris memasukinya. Aku bertanya apa itu,orang yang ku tanya menjawab itu surga. Sontak, aku terkejut. Aku pun berusaha memasukinya, namun aku tidak di perbolehkan. Ku ketuk pintu yang bernama Babur Rahmah.Terdengar suara "Kau tak perlu mengetuknya ,bukalah dengan kunci yang kau punya".Aku tak punya kuncinya,aku pun menangis.Mengharap Tuhan memberi kemurahan.Dan,kembali terdengar suara."Mengapa kau menangis ?".Aku jawab aku ingin masuk surga. Suara itu mengatakan Muhammad telah memberitahukan berulang-ulang.Aku bilang aku tidak mengikuti ajarannya.Suara itu menyalahkanku.Lalu,aku memohon untuk bisa masuk surga.Suara itu mengatakan
"Rasul Muhammad telah bersabda ' Barangsiapa yang berwudhu lalu membaca dua kaliamah Syahadat, maka ia akan memasuki surga melalui pintu yang ia suka. 'Karena itu berwudhulah Clara. Bunda Maryam telah menunggumu di Babur Rahmah"
Maka aku terbangun,Hanum bantulah aku berwudhu aku mohon. Wangi surga sudah kucium. Wangi sekali." ujar Clara
Ku penuhi permintaannya. Ku tuntun dia berjalan menuju pancuran. Di sana ia berwudhu, sesuai perintahku. Aku tak mengubris pandangan yang lain saat melihat Clara berwudhu. Selesai, kubawa ia kembali ke UKS. Di sana ia menatapku lalu tersenyum.
"Terima kasih, Hanum."
Aku tersenyum kaku. Tiba-tiba ia bersyahadat tanpa perlu di tuntun.
"Asyhadu 'alla ila ha illallah. Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh..."
Mata Clara yang bening pelan-pelan menutup, hingga akhirnya ia menemui ajalnya. Ia bahkan tersenyum saat meninggal.
"Aku ikhlas ya Allah, aku ikhlas!" ujarku melepas kepergiannya.
Aku menangis tersedu-sedu. Petugas UKS masuk dan bertanya.
"Kenapa kau menangis, Hanum ?" tanya petugas UKS.
Semoga disana Clara hidup bahagia. Ia bahkan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Aku bahkan bisa mencium wangi Clara bagaikan bunga-bunga surga.
Selamat Jalan, Clara, Sahabatku.
Profil Penulis:
Penulis berasal dari Kuala Kapuas .Masih bersekolah di MTsN Selat Kuala Kapuas .Hobi menulis dan membaca. Sudah memiliki banyak tulisan namun belum ada yang di terbitkan. Alamat facebook: https://www.facebook.com/hidayat.lyoko
0 Response to "CERPEN "Matahari dan Bulan Bersatu Di Langit Nusantara""
Post a Comment