CERPEN "Kematian Gadis Muda" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Kematian Gadis Muda"

CERPEN "Kematian Gadis Muda"
KEMATIAN GADIS MUDA
Karya Heri Aprilando

Gadis itu masih begitu muda. Sama seperti tiap gadis yang datang sendiri atau bersama pasangan nya untuk menikmati mata air. Bercanda atau sekedar memandangi pepohonan disekitarnya. Tapi siapa yang tahu bahwa mata air itu adalah pemakaman dari seorang puteri. Pemakaman Puteri dari seorang  gadis yang begitu muda. Begitu mudanya sehingga  harus digugurkan. Tak terdengar lagi detak jantungnya ataupun geliatnya, “ mati... “, bersama keindahan mata air yang terus memanggil untuk aku selalu datang. Kematian janin gadis muda yang menghiasi indah nya mata air. Bersama jasad-jasad lain yang dimakamkan disana. 

Siapakah gadis muda itu yang tak menginginkan kehamilan nya.  Ia memilih kematian dari janin dengan mengugurkannya.  Dan  hingga kini  masih memanggil nama ibunya. "Bunda..., Aku rindu Bunda!!!". Tapi Bayi itu terlalu kecil untuk berbicara bahkan tak terdengar suara tangisannya. Hanya detak jantung nya yang menyatu bersama alam dunia orang mati. Tiada yang peduli tentang kematian seorang puteri bahkan kematian janin  diantara kuburan-kuburan dekat mata air itu. Tiada keangkeran disana hanya beberapa onggok tanah bernisan dan pohon beringin tua memagari mata air bersih.

Ketika cinta memanggil,  seorang gadis muda hadir dengan  lirikan yang terlalu mudah dikenali. Lirikan yang menarik hati siapa saja. Mata air kasmaran dan juga pemakaman jasad yang tak bernyawa lagi. "Bunda... aku rindu Bunda". Mungkin terdengar seperti rintihan kesakitan, rintihan ketika roh nya diambil, tak sempat menangis, jantungpun berhenti berdetak dan jasadnya yang mungil mengalir bersama beningnya air. Tak anyar lagi, bunda sudah melupakan puteri mungil yang bersemayam dalam rahimnya. Tiada yang menyanyanginya layaknya bayi mungil. termasuk bunda yang tak sempat dikenalnya, Apalagi ayahnya yang tak bertanggung-jawab akan buah kandung ibunya, yang membuat janin  tak bernama harus kehilangan kesempatan hidup dalam kefanaan.

Hari ini entah hari keberapa ia terbangun, tapi masih terasa sakit dibagian rahim nya. Gadis muda itu merasa senang akan sesuatu beban yang hilang dari pundak nya. Setidaknya beban itu tak ada lagi di perutnya. Saat nya pulang menempuh hidup yang baru jauh dari semua mimpi buruk yang seolah nyata. Seperti bukan mimpi yang dia alami. Gadis muda itu masih tetap cantik. Ia terlalu muda untuk mengerti apa arti keburukan matinya janin mungil.  Setidaknya seorang bayi yang tak sempat menyuarakan tangisan dari mulutnya. Kemudian banyak tangisan lain yang mengganggu hidupnya.

Aku tak tahu cerita itu, tentang suara yang memanggil  "Aku rindu Bunda…”  Aku juga tak tahu tentang gadis muda dan pertemuannya dengan ayah dari janin yang mati itu. Bagiku itu hal yang terlalu tabu untuk di pahami bahkan dilakukan. Seperti ada jarak yang menolak semua itu. Jarak yang seperti rasa bersalah  yang membuat menangis seperti tangisan seorang pendosa yang dosanya tak terampuni, walau sesaat. Sekalipun hanya seperti memegang dada seorang gadis muda. Tangisan pendosa itu bukan seperti rasa malu akan sebuah aib kecil. tetapi lebih kepada sebuah rasa bersalah yang terlihat diantara orang-orang biasa yang tidak melakukannya.

Aku sendiri berjalan melawan arus diantara kerumunan yang begitu banyak pulang dari ritual doa nya dan nyanyian pujian penyembahan mereka. Tangis ku terhenti. aku terus berjalan diantara kerumunan yang begitu ramai. Aku tak seperti mereka. Aku sudah memegang dada seorang gadis muda. Aku pendosa. 

Cinta itu tak memegang dada, tidak juga bergandengan tangan. hanya sebuah pundak untuk gadis muda menyandarkan kepalanya.

Cinta atau tidak,  dalam keterpurukan aku melihat bayangan akan cinta. Cinta yang datang selintas waktu dan pergi tanpa ada kata cinta terucap. Seperti itu terjadi dua kali dalam hidupku .Pertama seakan bayangan. Kedua,  bagaikan racun yang memberi harapan kepalsuan lalu pergi tanpa ingin dikenang.

"Aku rindu Bunda…",  seperti nya kalimat itu tak nyata bagaikan cerita kematian yang palsu. tapi air terus mengalir dan memanggilku untuk datang seperti dorongan untuk melihat gadis muda dari kejauhan. Mungkin kali ini di tepi jalan. Jalan yang memanggilku untuk tetap berlama-lama menanti gadis muda.  Akulah sang gadis muda yang menepi di sudut jalan diantara arus kerumunan manusia. Kali ini bukan air yang mengalir tetapi kerumunan manusia yang mengalir. Dan sebentar aku mengikuti kerumunan manusia,  gadis mudapun mati dalam perih yang hebat.  Aku berlari bukan karna aku pendosa. Akan tetapi, kematian gadis muda terlalu tragis untuk diingat, bahkan lebih tragis daripada puluhan nisan disekitarnya. Tetapi aku tak tahu. tentang cerita cinta gadis muda yang mati diantara kerumunan manusia dan kerumunan nisan  yang menyeramkan di sore itu. 

Dan aku mati untuk ketigakalinya. Tetapi aku tak mati. Aku mendengar dalam ketidakmatianku  seorang gadis muda berdoa untukku tetap hidup. Meskipun ceritanya seperti cerita peperangan antara mereka yang berdoa dan mereka yang memberikan nyawanya kepada setan sebagai pengganti dendam. Para pembunuh  juga berdoa dan menyanyikan lagu pujian penyembahan.Tetapi cerita itu tidak benar. itu adalah kematianku yang keempat. Kematianku yang pertama ketika aku berdiri di tepi jalan dan melihat kerumunan manusia yang mengalir bagai aliran sungai. Tidak seperti kematian gadis muda kali ini. Bukan diantara puluhan nisan nisan. Tetapi diantara hutan belukar yang sepi dan menakutkan di malam hari. Kematian yang sangat tragis. Kematian itu bukan kuserahkan kepada setan. Bukan pula kepada mereka yang berdoa dan menyanyikan lagu pujian penyembahan.Tapi penyerahan hidup pada kematian karena terdera. Sama seperti tak masuk akalnya ketiga kematianku berikutnya. Sesungguhnya aku belum mati. selanjutnya aku muak dan lupa pada cinta yang bersandar di pundakku. kali ini aku tak hanya  memegang dadanya tapi juga mencium dadanya bagai seorang bayi. Seorang bayi yang menyusu dari ibunya. Bagai janin yang hidup menjadi seorang bayi. setidaknya tidak untuk membuahkan janin yang mungkin mati digugurkan. Tetapi aku bukan lagi pendosa yang memegang dada dan menangisi dosanya. bukan pula karna jalanku terhambat oleh kematian gadis muda di tengan kerumunan manusia dan puluhan nisan yang tragis. meski aku tak tahu cerita cintanya.

Tetapi aku menyadari kebodohanku tentang gadis muda yang berasal dari kerumunan mereka yang berdoa dan menyanyikan lagu pujian. Yang memaksaku untuk berdoa dan minum racun untuk membuktikan cintanya. Dihadapan kerumunan mereka yang berdoa kemudian cinta pun mati. ia tak meminum racun itu. Tetapi  aku tahu masa depanku mati karena racun yang  diminum nya. Sama seperti gadis muda yang gagal meminum racunnya. Aku bergegas menyelamatkan gadis muda lain dari racun yang mematikan yang seolah menakutiku karena ditanganku gadis muda itu mati. Tetapi gadis muda itu tak mati. Yang tertinggal hanyalah kerumunan dan keributan bagai mata air yang mengalir yang membuat semua bertanya. Aku takut.

Sebagai seorang bodoh yang menyesali perbuatan memegang dada gadis muda. aku menghampiri gadis muda itu diantara kerumunan manusia yang mengalir. Bagaikan mabuk akan cerita angkuh aku menyudahi cerita cinta yang bersandar di pundakku. sepertinya bukan mimpi.  Dan kematianku yang keempat aku mendengar gadis muda berdoa untuk kehidupan yang tak kuingini lagi karena dendamku pada mereka  itu. Dalam dendam yang tersisa, mereka datang dalam kesakithatianku kesebuah mata air yang memanggil bundanya, "Bunda, aku rindu Bunda". Meski suara itu tak memanggil. Meski aku belum mati. Aku selalu datang melihat gadis muda.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Kematian Gadis Muda""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel