CERPEN "Ikhtiarku"
CERPEN "Ikhtiarku"
IKHTIARKU PART I
Cerpen Karya Firman
Harapan menjadi sebuah ikhtiar
Namaku firman, aku seorang pekerja dari salah satu perusahaan chik van dibandung. Aku bekerja berangkat pagi dan pulang sore hari.
Tak tersa aku hidup dalam keadaan bujang sampai sekarang, dan aku saat ini berumur 24 tahun. Terpikir olehku sekarang ini aku tidak mempunyai seorang pendamping. Ingin rasanya aku melepaskan masa bujangku saat ini. Mempunyai seorang istri memang harus tahu ilmunya, tanpa ada ilmu rumah tangga yang aku miliki entah bagaimana kesananya, tetapi aku bersyukur mempunyai seorang kakak ustadz yang sedikitnya mampu membimbingku dari segala ilmu termasuk ilmu rumah tangga, dan sedikitnya pula aku tahu jalan yang harus aku lakukan nanti meski kesananya masih banyak pelajaran dalam membina rumah tangga. Semoga saja Tuhan segera memberikanku jodoh lambat laun yang pasti tertakdirkan didunia.. amin!
Hari itu tepat pada hari jum’at 13 desember 2013, aku baru saja pulang dari pekerjaanku pada pukul 11.00 pagi, seperti biasa jika hari jum’at pulangya lebih awal, dan hari biasa itu selalu pulang jam 12.00 pagi atau kadang jam dua siang kecuali hari libur. Tiba saatnya dirumah, kumatikan mesin motor beatku yang warna biru ini, aku melihat dari halaman rumah ku sudah nampak ramai sandal sandal asing, dengan curiga aku berpikir pasti dirumah sedang ada tamu, ternyata iya, ada tamu dari Bandung kerumahku, dan pada saat itu dia sedang mengobrol dengan ayahku. Aku masuk rumah dan mengucap salam “assalamu’alaikum..” serentak ayah dan tamu itu membalas salamku “wa’alikum salam warrohmatulloh”.. aku sempat berjabat tangan terlebih dahulu dengan rasa hormat dan sopan tak lupa santun di awali dari ayah kemudian tamu itu. Setelahnya aku menuju kamar dan beristirahat sejenak. Dikamar aku merilexan badan dan lebih afdholnya aku mencoba untuk muraja’ah al qur’an surat al-kahfi, sebelum shalat jum’at dimulai yang waktunya hanya 50 menit lagi. Setelah rapi aku mulai muraja’ah. Alhamdulillah akhirnya aku bisa membacanya meski hanya 50 ayat saja, semoga dengan membacanya aku bisa mendapat barokahnya, dan harapan yang aku citakan tercapai, karena aku tahu bahwa membaca surat alkahfi di hari jum’at itu adalah sunnah dari Rasulullah shalallohu’alihi wassalam,, sempat aku ingat hadits yang berbunyi “barang siapa yang membaca surat al-kahfi pada hari jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya diantara dua jum’at” (hr. al hakim)… aku tahu hadits ini, kalu tidak salah aku hafal dari salah satu stasiun radio dibogor yang namanya fajri-fm, aku selalu mendengarakan radio ini dikala aku sedang sempat ada dibogor saja.
Tidak mengapa aku teringat waktu jaman SMA dulu, yang setiap malam jum’at aku selalu rutin mendengarkan kajian aagym di mqfm bandung. Kalau sekarang aku jarang mendengarkan karena tidak sempat berbagai alasan. Saat inilah aku rindu dan ingin mendengarkan nya lagi, dari ilmu yang aagym sampaikan pula sangat diharapkan, karena isinya adalah ketauhidan, dari cara dakwahnya pun berbeda dengan yang lain. Aku berniat akan menyempatkan lagi nanti minggu depan insya Alloh untuk mendengarkan di radio.
Waktunya tiba aku beranjak pergi ke masjid At-Tarbiyyah, waktu shalat jum’atpun hanya berkisar 10 menit saja. Aku berangkat kesana bersama ayah dan tamu itu yang tadi belum pulang.
Satu minggu kemudian, aku ingat niatku waktu satu minggu kemarin yang bertekad akan menyempatkan untuk mendengarkan radio mq dengan tujuan mencari ilmu yang dibimbing oleh aagym. Malam pun tiba seusai sholat ‘isya aku beranjak keruang tamu mencari sinyal dan aku coba memutarkan frekuensi 102,7 fm,, Alhamdulillah akhirnya suara di stasiun radio itu aku dengar, yang waktu itu belum dimulai, hanya aku mendengar senandung nasyid yang melagukan asma’ul husna. Setelah beberapa menit kemudian pembacaan mukkadimah oleh aagym terdengar, disaat itulah aku mulai mendengar dengan tenang satu jam lamanya.
Selesai sudah acara itu, dan Alhamdulillah ilmuku sedikitnya bisa bertambah, apalagi yang disampaikan tadi adalah ilmu tauhid. Dan berbagai akhlak, dan apalagi tadi aagym berpesan harus mengamalkan 5 s yakni senyum, salam, sapa, sopan, santun dan 3 sa yakni saya aman bagimu, saya bermanfaat bagimu dan saya menyenangkan bagimu. Subhanalloh, Alhamdulillah…
Malam ini aku mulai punya tekad lagi, bahwa aku akan datang ke Masjid Darut Tauhid minggu depan. Semoga dengan itu aku bisa lebih baik lagi, dan mendapat keberkahan terutama harapan menemukan jodoh,, hehehe…
Satu minggu telah usai, tepatnya hari kamis. Siang itu aku pulang kerja jam satu. Setelah sholat dzuhur aku pulang dulu ke nagreg untuk membawa bekal serta perlengkapan, sekaligus berpamitan kepada keluarga sebelum aku berangkan ke DT. Setelah persiapan aku mulai membunyikan mesin sepeda motorku, yang saat itu aku lihat ada tamu yang pernah datang. Dia menghampiri ku “mau kemana” Tanya tamu itu, “mau kebandung om, ke masjid darut tauhid..” jawabku , “oh, ke geger kalong bukan..?” Tanya tamu itu.. aku jawab “iya oM”, “ya udah jangan dulu berangkat, nanti saja bareng sama om naik mobil, kebetulan rumah om deket di masjid itu” saran tamu itu, aku menjawab sambil malu malu “ngerepotin om ah,, aku berangkat sekarang aja om, takutnya nanti ga kebagian tampat duduk.” Alasanku menyapa.. tamu itu berbaik hati mengajak menyarankan kembali “tenang aja, kan acaranya masih lama. Seusai sholat maghrib juga kamu bisa diam dulu disana sambil memilih tempat duduk, pokoknya ada,, tenang aja” dengan senangnya aku terima tawaran itu.. kami berdua masuk rumah, dan aku sempat ikut ngobrol bersama ayahku dan tamu itu.
Dalam rumah, kami mulai bercakapan dari masalah aku sekolah hingga aku bisa berkerja. Hehe seperti narasumber. ternyata tamu itu bernama pak Muslim, dia dari bandung dan mempunyai sebuah perusahaan disana. Pada waktunya tamu itu bertanya padaku tentang jodoh. Aku jawab saja dengan jujur bahwa aku sedang ikhtiar mencarinya.
“disana om punya keponakan perempuan, kebetulan dia saat ini sedang kuliah. Coba saja kamu main kesana, ?” kata si om itu,, aku penasaran dan ingin kenal. Tapi aku tidak tahu statusnya apa. Dalam benakku berpikir, apa dia berkerudung? Apa dia sholehah, dan apa dia cantik,, hehehe pertanyaan yang manusiawi.. aku jawab.. “iya om in sya Alloh..” Sambil tersenyum om itu berkata “nanti atuh, malam ini sehabis pulang ngaji di darut tauhid, om anter kamu kesana dan setelah itu om anatar pulang lagi kesini?”,, sebenarnya aku masih penasaran tentang wanita itu. Aku coba saja, mungkin takdir berkata lain atau mungkin takdir membenarkannya bahwa jodohku dia. Aku jawab “emmh iya om, siap nanti kesana”…
Pada akhirnya kami (aku dan om Muslim) pergi ketempat yang dituju, sebelum aku mampir ketempat keponakannya yaitu ke darut tauhid terlebih dahulu. Acara dimulai setelah sholat ‘isya. Berlangsung acara itu 1 jam lamanya yg dipimpin oleh aagym sebagai mubalighnya.
Tiba saatnya pulang, aku ditunggu ditempat parkir mobil sama om Muslim, dan langsung diajak ke rumah keponakannya yang berada di leuwi panjang bandung. Setelah sampai disana pun aku masih gugup dan malu, belum sampai sana saja pikiran sudah menebak nebak meskipun berbeda pada kenyataannya. “assalamu’alaikum” salam kami lantunkan didepan pintu rumah. “wa’alaikum salam warrohmatulloh wabarokaatuh”,, jawab yang ada didalam rumah. Dan kami dipersilahkan masuk.
Aku duduk sebagai orang terasing diruang tamu. Disapalah aku dengan seoarang ibu yang bernama ibu Ani yang dari salah satu adik nya om muslim. Berlangsungkami bercakap hingga saatnya om muslim menanyakan keponakannya kepada ibu ani. Ibu Ani adalah ibunya orang yang dimaksud.
Entah kenapa badanku terasa kaku, jantungku berdebar debar hingga yang kurasa sedikit lagi akan copotlah jantung ini meski tidak copot copot. Aku kuatkan ini dengan membaca basmallah hingga berhentilah gugup tak menentu itu. Kemudian dia pun datang setelah dipanggil ibunya.
Terjadilah percakapan lagi antara aku dan ibunya terkecuali anaknya yang hanya diam saja. Kemudian hp om muslim mendadak berdering, hingga dia menerima yg menelponnya. Om Muslim meminta ijin mau mampir kerumah temannya dekat sini. Aku kaget, “lalu bagai mana denganku yang masih belum akrab dg keluarga ini ditinggal sendiri?” dalam hatiku, jantungpun berdebar debar karena malu.
Seperti biasa ibu Ani ngobrol denganku, dan dia terlupa bahwa dia belum mematikan kompor didapur. Berjalanlah dia kedapur hingga diruang tamu hanya menyisa aku dan dia. Dia tidak kabur karena disuruh ibunya untuk menemani aku.
Suasana mulai hening. Aku seakan kehabisan kata kata dalam kamus untuk ngobrol dengannya. “silahkan a tehnya diminum” sapa dia, alahamdulillah ternyata dia yang mulai berkata meski hanya menawarkan. Ku minum teh itu sedikitnya “Alhamdulillah,, kalo boleh tahu kamu namanya siapa?” paertanyaan yang standar.. tersenyumlah ia “namaku syifa a, kalo aa siapa?”, “aku firman” jantung masih berdebar debar. Kami berlangsung bercakap hingga waktu menjemput aku untuk pulang ke Nagreg.
Malam smakin larut itu, ada tawaran dari ibu Ani untuk menginap dirumahnya. Bukannya aku tidak mau karena aku lelah dengan keadaan, ya mau mau saja tapi apalah dayaku berpikir belum wajar bagiku yang masih asing disini.
Pada akhirnya aku berpamitan untuk pulang, syifa pun mengantarku dan om Muslim hingga depan pagar rumah. Sedikit ada yang lupa dalam pikiranku, ternyata aku belum meminta no hp nya. Kusempatkan dahulu untuk meminta nomernya dan saling menukar nomor hape.
***
Sesampai dirumahpun aku mencoba tuk menghubungi ia. Malam ini aku sempatkan untuk menhubungi ia lewat sms. “assalamu’alaikum, de sudah tidur?” berharap ia balas sms dariku. Satu jam lamanya aku tunggu tapi tak ada sapaanpun dari dia, biarlah aku tidur.
Dipagi yang buta saat itu nada hpku berbunyi (syifa memanggil), lalau kuangkat telponnya. “halo assalamu’alaikum”, salamku, masih ngantuk. “wa ‘aliakum salam, Alhamdulillah si aa sudah bangun, a sudah qiamul lailnya belum?” syifa menjawb, aku yang jarang shalat qiamul lail, saat saat ini ada juga yang mengajakku, apalagi syifa yang mengajaknya. Dengan rsa malunya aku aku jawab “belum de, ni juga mau ke air, makasih ya udah ngabarin”. “ ia, sama sama. Ayo cepet ke air, nanati keburu abis qiamul lailnya..” syifa menyemangatiku. Dan akupun segera ke kamar mandi setelah ia membangunkanku lewat telefon.
0 Response to "CERPEN "Ikhtiarku""
Post a Comment