CERPEN "Bukan Malin Kundang"
CERPEN "Bukan Malin Kundang"
BUKAN MALIN KUNDANG
Karya Yuli Markhamah
Tersebutlah disebuah desa terpencil nan pelosok. Hiduplah seorang janda yang bernama malinah dengan anaknya yang bernama kundang. Kehidupan mereka sangat lah miskin bahkan bisa dibilang memprinhatinkan. Hingga suatu pagi sikundang berniat mengutarakan maksudnya untuk perggi merantau kenegri orang. Tentulah hal ini sangat ditentang malinah. “tidak!! Aku tak akan mengizinkan kau meninggalkanku sendiri kundang” ucapnya penuh amarah. Kundang yang lugu bersedih dan berdoa setiap malam.
Suatu pagi yang cerah dan terlihat beberapa petani berangkat bekerja dengan penuh harapan. Kundangpun pergi bekerja dengan tak berharap. Tinggalah malinah dirumah, dia tidak pernah pergi keladang dan hanya menyuruh kundang yang bekerja. Sungguh pilu hati sikundang… malinah sedang menyapu halaman depan rumahnya dengan sapu lidi yang lusuh dan layak untuk dibuang. Keperat tetangganya baru pulang dari negeri jiran, dia membawa banyak benda yang di desa ini belum pernah ada. Sebuah pesawat radio, pesawat televise, motorcycle dan berpuluh gantang gandum dibawanya. Malinah merasa iri dan berpikir untuk pergi merantau. Dia berpikir akan menjadi orang kaya setelah pulang. dimalam penuh bintang nan indah, saat itulah malinah mengutarakan maksudnya pada kundang. Kundang yang masih merasa sakit hati itu pun tak mengizinkan malinah pergi. “tidak!! Kalau mak pergi dengan siapa saya hidup hanya sebatang kara menjalani hidup.” Ucap kundang kembali layu.
Keesokan paginya, kundang mendapati secarik kertas putih bercoretkan pena tergeletak diatas meja makan. “kundang.. maaf kan mak. Mak harus pergi untuk kebaikan kita juga, mak akan kembali dua bulan lagi dan kita akan menjadi orang kaya. Bekerjalah diladaang dan tunggu emak malinah”
*
Dua bulan kemudian…
Kundang segera pergi ke pelabuhan, dia berharap maknya kembali dan mewujudkan semua mimpinya. Dengan tergesa-gesa kundang berhimpit-himpitan mencari seorang malinah. Tapi hingga kundang terjatuhpun malinah tak kunjung muncul. Hari ini kundang tidak pergi bekerja karena dia menunggu emaknya hingga matahari pun terbenam. Kundang tak sadar telah tertidur disebuah kapal lumayan besar. Kundang tak tau harus berbuat apa karena tujuannya bukan menaiki sebuah kapal melainkan menjemput malinah sang ibu. “apakah anda lapar?” Tanya seorang gadis berambut pirang yang dicepak kesamping hingga tampak sangat maskulin. Gadis itu memberi sepotong roti dan segelas susu pada kundang. Dan mereka saling bertanya riwayat diri.
Dua hari berlalu bersama gadis keturunan belanda itu. kundang tak lagi menginginkan malinah pulang. karena ucapan malinah hanya sebuah kebohongan. Bolly tepatnya nama gadis itu, kini dia menginginkan hidup dan bahagia bersama kundang. Akhirnya setelah dua minggu pdkt kundang menikahi bolly. Dan mereka menjalani hidup baru yang penuh rona bahagia dan harapan. Akhirnya pada suatu malam bolly menceritakan mengapa dia sampai dipulau terpencil ini. Dia kabur dari rumah karena orangtuanya bercerai dan tinggallah bolly dengan ibunya. Setiap malam ibunya membawa laki-laki entah darimana dan melakukan perbuatan tak senonoh. Kundangpun menceritakan mengapa dia bisa sampai tertidur dikapal yang sama. Aku menunggu malinah emakku dia berjanji akan pulang setelah dua bulan pergi, tapi sampai sorepun ia tak kembali. Sekarang aku tak menginginkan kepulangannya.
*
Kehidupan sederhana kundang kini juga dirasakan istrinya , tapi bolly tidak mau mengeluh dan memberatkan suaminya, dia selalu patuh dengan ucapan sang suami. Kehidupannya pun bergulir dua tahun sudah. Suatu ketika sepulang kundang dari ladang dia mendengar kabar dari keperat bahwa sebentar lagi akan datang nyonya besar ke desa ini. Tepat pukul 14:00 wib nanti mereka sudah datang. Dengan terburu-buru kundang menemui istrinya. Dan mengajak ke pelabuhan, didapatinya sesosok wanita tua dengan aksesoris yang menggantung dimana-mana. Nada bicara wanita itu sangat dikenal kundang. “emaaaak” teriak kundang mendekati kaki wanita tua itu. namun seperti seorang yang sombong wanita itu mengenyahkan kundang hingga tersungkur ditanah yang becek. Malinah kemudian berjalan menlenggak-lenggok dengan sombongnya memamerkan emas nya yang banyak.
Malinah yang sekarang kaya telah membangun rumah banglow bertingkat dan sangat megah di desanya. Malinah punya uang banyak, malinah punya emas banyak dan kehormatan yang agung. Malinah membeli berhektare-hektare tanah dan juga termasuk lading kundang yang Cuma sepetak. Seminggu malinah di desa membuat resah banyak warga. Karena sifatnya yang congkak dan ria. Suatu hari, saat kundang pergi keladang dia menyaksikan sendiri pak keperat tersungkur karena anak buah malinah memukulinya, tampak lebam disana sini. “engkau ini kuli! Bekerja dengan perintah dan jangan membantah. Atau gajimu aku potong!” kata malinah keras dan membentak. Sepulang dari ladang disore hari kundang kembali menyaksikan perbuatan keji emaknya. “hey toso!! Cepat bayar pajak mu sebelum hari ini hidupmu berakhir!!” teriak malinah dengan sorot tajam mata elangnya. Kundang menghela nafas dalam-dalam dan memegang kepalanya, dia sangat pusing dengan tingkah laku emak semata wayangnya,
*
“gubrakk!!” terdengar suara dentam yang keras dipintu depan rummah kundang. Istri kundang kemudian membuka pintu dengan penuh kaget. Malinah dengan tiga anak buahnya membawa sebuah alat pemukul. Bolly berteriak memanggil kundang.
“hey, kundang!! Kamu memaang anak durhaka menikah tanpa seizinku. Aku akan mengambil semua tanah ini dank au harus pergi dari sini!!!” bentak malinah. “maaf tapi emak yang durhaka! Emak datang setelah dua tahun pergi meninggalkanku hidup sebatang kara. Dan saat kau pulang sifat congkak dan ria entah daarimana kau dapat. Aku sudah taktahan lagi melihat perangai burukmu itu. terkutuk lah engkau malinah!!!!!!”
Petir bersautan dimana-mana dengan keadaan langit yang mendung. Turunlah hujan rintik beserta badai topan yang dahsyat membawa batu malinah terbang jauh keangkasa. Kesimpulannya bukan hanya anak yang durhaka tapi orang tua juga durhaka dan pantas dihukum.
#selesai
Profil Penulis:
Nama: yuli markhamah
Ttl: bantan tengah, Bengkalis, 21 july 2002
Agama: islam
Facebook : Yuli Markhamah
Alamat: jalan pahlawan desa bantan tengah, kecamatan bantan, kab Bengkalis
Cerpen Ibu
0 Response to "CERPEN "Bukan Malin Kundang""
Post a Comment