CERPEN "Perjuangan Hidup Seseorang"
CERPEN "Perjuangan Hidup Seseorang"
PERJUANGAN HIDUP SESEORANG
Cerpen Karya Chantika Poppy Aprilia
Panas memuncak dipasar kota. Terik matahari membakar ubun-ubun kepala. Amir masih setia menunggu dagangannya dibawah tenda kain yang sudah rombeng. Dia mulai kegerahan, tapi masih saja ia mencoba untuk bertahan. Diatas tikar yang terbentang dihadapannya, terpajang beberapa barang dagangan. Ada beberapa tanda tangan dirinya dalam berbagai ukuran. Kecil, tanggung, dan besar. Di depannya, terpajang kardus yang tersandar di tiang tenda, bertuliskan: DI SINI JUAL TANDA TANGAN. Seseorang lewat di dekatnya, ia melirik iklan di papan kardus itu. Orang itu tersenyum kecut, kemudian pergi. Kemudian segerombolan orang lewat. Tampaknya mereka tertarik juga. Mereka mendekat, mengamat- amati. Salah satu dari mereka bahkan memilih-milih.
"Tanda tangan apaan ini Pak?"sahut salah satu pembeli.
"Itu tanda tangan saya. Silahkan, pilih yang mana. Murah kok, untuk yang kecil per lembarnya lima ribu, yang tanggung tujuh ribu setengah, dan yang besar itu per lembarnya ya. . . Sepuluh ribu lah."
Amir mencoba merayu calon pembeli itu. Rezeki hampir nomplok. Maka tidak boleh lepas, demikian batin Amir.
Tapi orang-orang itu mulai beranjak mau pergi.
"Tidak jadi beli Pak? Harganya bisa ditawar kok." Amir memendam penasaran.
"Nggak ah, dirumah sudah banyak," jawab orang itu dengan senyum tersungging.
"Kayak jualan tempe saja." Salah satu dari mereka berbisik. Amir hanya bisa mengelus dadanya yang kerempeng. Rezeki di depan hidungnya terlepas sudah.
Kemudian dari kejauhan segerombolan anak muda lewat. Mereka heran sekali melihat iklan seganjil itu. Mereka tertawa cekikikan. Dan jari tangannya memberi isyarat miring didepan dahi. Amir tahu betul maksudnya. Tapi dia mencoba bersabar. Menurutnya, apa yang dilakukannya saat itu adalah perjuangan hidup. Dan perjuangan tidaklah selalu sepi dari arah melintang. Maka diperlukan kesabaran ekstra untuk meraih sebuah kesuksesan. Untuk menggapai mimpi-mimpinya.
Amir yakin akan mimpinya kemarin malam. Dalam mimpinya itu, Amir adalah seorang usahawan sukses. Berdasi keren dan bersetelan jas luks. Dia berkawan erat dengan konglomerat kelas kakap macam Ery Kimpul, Melo Kemplo, dan beberapa bos kawakan yang lain. Untuk memantapkan kiprahnya, dia menjalin koneksi kuat demgan pejabat di pemerintahan. Dan setiap kali dia menggoreskan pena untuk tanda tangan, maka berlembar-lembar uang mengalir bagai mukjizat kehadapannya. Entah darimana datangnya. Amir yakin mimpi-mimpinya itu mengandung firasat yang dalam. Setelah lama di otak-atik, direnung-renungkan, Amir sampai pada satu kesimpulan. Tanda tangan dianggapnya sebagai simbol rezeki yang harus diupayakan. Sebuah pemahaman sederhana yang pada akhirnya mengantarkan Amir ke pojok sebuah pasar, berjualan tanda tangan. Ya, siapa tahu dengan menjual tanda tangan dia akan dapat untung besar. Siapa tahu pula itu awal dari perubahan nasibnya. Dia yakin langkah yang ditempuhnya itu nanti akan mengubah nasibnya yang melarat. Kalau kemarin dia mencak-memcak Si Tua Prono selalu datang menagih utang. Maka besok, itu tidak perlu terjadi lagi. Pagi harinya, seperti kemarin, Amir menggelar dagangannya. Kali ini dia semakin lengkap. Ada tanda tangan dirinya sebagai ukiran, dan ada pula tiruan tanda tangan Pak Walikota, juga dalam berbagai ukuran. Orang-orang mulai penasaran dan berdatangan ke tempatnya. Tapi setelah tahu apa yang dijual, mereka pada bubar dengan sendirinya. Bubar sambil tertawa cekikikan, begitu seterusnya. Hingga akhirnya matahari pun terbenam, tak satupun barang dagangan Amir yang laku terjual.
"Kapan nasib apesnya itu akan berakhir?" jerit hatinya. Di dalam keputusasaannya itu, datanglah sebuah mobil Kijang berhenti didekatnya. Dua orang berpakaian keren keluar dari mobil itu. Dari wajahnya, dia tampak tertarik pada dagangan Amir.
"Wah, bagus amat," kata salah seorang dari mereka.
"Kau pikir pilih yang mana, Don?" tanya yang seorang kepada yang lain.
"Aha. . . Yang itu saja Bob," kata yang seorang lagi sambil menunjuk tanda tangan milik Amir.
"Kalau yang itu murah Pak, karena itu tanda tangan saya sendiri." ujar Amir sembari menunjuk dagangannya itu.
"Ya sudahlah, Saya pilih yang ini saja."
"Ini, terima kasih ya Pak." sahut Amir sambil memberi tanda tangannya itu.
"Ambil saja semua." ujar orang itu sambil memberi uang kepada Amir.
Tangan Amir gemetar menerima segepok uang dari orang itu. Amir jadi bingung harus berbuat apa dengan uang itu. Jadi, Amir memilih untuk membayar hutang. Dan semakin hari, semakin banyak Amir menerima uang. Amir bakal memasuki orde baru dalam kehidupannya.
Menjelang tengah malam, pintu rumahnya diketuk seseorang. Dengan malas, Amir membuka pintu. Alangkah terkejutnya Amir saat itu, karena yang datang adalah polisi. Salah apakah ia? Tiba-tiba Ia dibawa ke kantor polisi. Beberapa hari kemudian, tersiar disurat kabar bahwa Amir menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan seorang wartawan. Seketika itu juga Amir tak berdaya. Namun, yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah. Amir menangis, meratapi skenario kehidupannya.
PROFIL PENULIS
Nama: Chantika Poppy Aprilia
TTL: Tg. Pinang 18 April 2001
Umur: 13th
Status: Pelajar SMPN 1 kec. BungTimur Natuna
Fb: Chantika P. Aprilia
0 Response to "CERPEN "Perjuangan Hidup Seseorang""
Post a Comment