CERPEN "Anna, Kirana Sahabatku" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Anna, Kirana Sahabatku"

CERPEN "Anna, Kirana Sahabatku"
ANNA, KIRANA SAHABATKU
Karya Maulana Retno

Siang ini, tepat pukul 11 aku dan Anna, temanku memutuskan untuk segera beranjak ketika pak Zul menyudahi pertemuannya dengan ucapan salam dan beberapa kata penutup yang tidak pernah berubah dari semester yang lalu.

Entahlah mungkin beliau menyukai beberapa baris kata itu atau bisa jadi beliau juga tidak memiliki cukup inspirasi untuk membuat kata penutup yang berbeda. Terserah !! Aku tidak terlalu peduli dengan itu. Menurutku kata-kata yang keluar dari mulut pak Zul itu terlalu berlebihan. Maklum beliau seorang penulis, katanya. 

“Nay, ngopi yuks. Ngantuk . . . “ ajak Anna, sembari mencolek daguku.

Anna, Kirana adalah teman sekelasku. Aku tak pernah menyangka akan bersahabat baik dengannya melihat bagaimana sikap dia pertama kali ketika berkenalan denganku. Jutek, cuek dan selalu melemparkan tatapan sinis. Sungguh, awalnya akupun malas jika harus berlama-lama dengannya. Dia juga memiliki perangai yang keras, tidak seperti aku yang lemah lembut. Suaranya nyaris seperti toa masjid. Bicaranya ceplas-ceplos, itu yang membuatku tak suka. 

Bahkan menurutku, Anna pun sama tidak sukanya denganku. Sikapnya jelas menunjukan hal itu. Bahkan pernah sekali, ketika kami secara tidak sengaja disatukan dalam satu kelompok yang sama. Kebetulan semua anggota setuju untuk mengerjakan di kost Anna, ketika aku ingin ikut serta. Anna menolakku secara gamblang. “Mba kamu jangan ikut ke kostku lah. Biar aku sama yang lainnya aja yang ngerjain.” Ringan, tanpa beban Anna mengatakan hal itu. Aku kesal setengah mati, tapi aku bisa apa. Aku berlalu. 

Lalu tak selang beberapa hari kemudian Anna menemuiku diperpustakaan. “Mba kamu ikut ngerjain lah, aku nggak bisa kalo ngerjain sendiri” Pintanya. 

Ih, nggak tahu malu !! Hardikku. Tentu saja aku hanya mengatakan itu didalam hati. Mana berani aku mengatakan hal semacam itu secara langsung, bisa-bisa aku kena tinju. Hahaha. . . 

“Memang yang lain kemana, Naa ??” Tanyaku, kupalingkan sejenak mataku dari bacaan yang tengah kubaca. Jane tidak langsung menjawab. Ia masih dalam diamnya. Mungkin dia merasa malu. Atau jangan-jangan dia kebelet ingin ke toilet ??

Aku menyentuh lengannya, lembut. Inginnya kucubit, tapi aku takut. “Hey, Kenapa diam ?” aku kembali bertanya. Anna hanya diam, menatapku sebentar, kemudian memalingkan wajahnya. Menatap deretan buku yang tersusun rapi dirak besar menjulang.

“Nggak ada yang mau bantu aku.” Anna mendesah. Kebetulan Anna mendapat kelompok satu untuk 3 mata kuliah dalam minggu ini. Secara otomatis dia harus menyiapkan 3 bahan untuk presentasi dan dia menyerah.
“Untuk mata kuliah bu Vina, Udah aku bikinin makalah sama power pointnya kok. Tinggal di print. Kamu fokus sama tugas mata kuliah yang lain aja. Atau mau aku bantu untuk tugas lainnya ?” Aku menawarkan bantuan, tak tega aku melihatnya menatap kosong seperti itu. Untuk semester baru seperti, membuat makalah dan menyiapkan preentasi bukanlah hal yang mudah. Untungnya ketika di SMA aku sudah terbiasa dengan tugas semacam ini jadi tidak terlalu menyulitkan buatku. 

Anna tersenyum, sorot matanya teduh. Tidak seperti biasanya. Akupun membalas senyumannya. Mulai hari itulah aku dan Anna bersahabat. Oh, iya dan untuk presentasi semua berjalan lancar hanya saja, Anna. . .  Ah, aku tak menyangka logat jawanya membuat presentasi kami dipenuhi gelak tawa. Ya, pelafalan yang khas dan kegrogian membuatnya salah melafalkan sebuah kata dalam bahasa inggris. “WEDUUS (we does) !!!” Sontak seluruh kelas tertawa, ramai. Seperti pasar. Aku melirik Anna. Mukanya merah padam. Bisa malu juga rupanya. Wedus dalam bahasa indonesia artinya kambing. Hihihi. 

Mulai dari situlah kami dekat, semakin dekat dari hari keharinya. Karena ternyata Anna tidak sekasar yang aku pikir. Ucapannya mungkin keras namun diantara teman yang lainnya dialah yang memiliki hati paling lembut dan penuh simpati. Benar apa kata pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya.

***

“Nay, ayok. Malah bengong. . ” Anna menguncang tubuhku pelan. 
“Eh, iya. . . Hayuh atuhlah otewe.” Aku berdiri dari kursiku, memasukan tangan kananku disela-sela pinggang dan tangan kanan Anna.
“Pojokan, yaa. . .”
“Okeey. . .” Jawabku sembari mengacungkan jempol.

Rasanya tidak ada yang sebaik Anna, walau kuakui. Nada kerasnya sedikit membuatku tak  nyaman namun itu masih lebih baik ketimbang mereka yang berlaku lemah lembut dihadapanku tetapi mencelaku ketika aku tidak ada dihapan mereka. 

Jika ditanya apakah ada teman yang semacam itu ? Tanpa ragu aku pasti akan langsung menjawab, banyak ! Sungguh. Dizaman yang seperti ini banyak sekali manusia-manusia yang memiliki wajah lebih dari satu.

Bersikap baik, berlemah lembut lisan namun bersemangat menceritakan kejelekan ketika tidak lagi berhadapan. Bukan berarti mereka yang seperti itu hanya berpura-pura baik. Tidak, kadang kala mereka yang seperti itu terlalu sulit memegang kendali atas lisannya. 

Bisa jadi mereka yang mendekat dan menawarkan pertemanan sebenarnya sedang dalam misi memperkaya bahan obrolan saja. Mereka rela berdiam diri menjadi pendengar, menampung segala keluh kesah hingga pada suatu keadaan semua yang ditampungnya dibiarkan mengalir kependengaran kawan mereka yang lainnya.

Miris !! Untuk menjadi seorang pembicara yang mengasikan perlu aib utuk dipublikasikan. Dan jujur aku paling tidak menyukai hal yang semacam ini. Maka dari itu, Anna. Adalah karunia Tuhan yang aku syukuri.

Mengapa tidak. Anna dan aku memiliki prinsip yang sama. Untuk apa membicarakan kehidupan orang lain jika kehidupan pribadi kita lebih menyenangkan. Bukan berarti kami tidak bisa mengobrol asik dengan pembahasan ringan. Ketika kami bertemu. Obrolan mengalir begitu saja, senyum tidak hentinya mengembang dan kebaikan selalu didapat bersama.

Ya, dulu kami adalah seorang remaja dengan pakaian seadanya. Yang penting nyaman. Bergaul se-enaknya, berkumpul tanpa tahu batasan, tertawa se enaknya, dan bercerita yang hanya menghabiskan waktu tanpa manfaat.

Hingga pada suatu ketika, hati kami mulai tidak nyaman dengan pergaulan seperti itu. Lambat laun kami ulurkan kain penutup kepala hingga menutup dada. Perlahan kami kurangi berkata dan tertawa. Sedikit-demi sedikit kami hindari berkumpul bersama jika tidak ada manfaatnya apalagi jika dengan lawan jenis.

Iya, bersama Anna. Aku mendapat hidayah dan kekuatan untuk memperbaiki diri dan akhlak. Bersama dengannya aku bisa berbagi semua keluh kesah bahkan hingga tangisan. Bersama dengan Anna aku bisa saling bertukar ilmu dan memperdalam pemahaman tanpa berdebat panjang lebar.

Tidak ada yang seperti Anna. Walau nada bicaranya masih keras, tapi kelembutan hatinya mampu membuatku bertahan untuk berteman dengannya. Tidak ada sekat diantara kami. Aku dan Anna bisa dengan bebas menceritakan apapun yang dirasa. Saling menasehati hingga pada puncaknya kami memutuskan untuk saling menguatkan, ketika kami harus saling melepaskan cinta yang sedang merekah. Berat, hingga tidak jarang kami menangis berdua. 

Lucunya, ketika Anna sudah tidak bisa menahan air matanya dan tidak memiliki kesempatan untuk pergi ke tempat yang sepi. Anna akan memintaku untuk menamparnya. Aneh !! tapi memang begitulah keadaanya dan yang lebih anehnya lagi akupun akan menuruti permintaannya. Aku menamparnya tapi perlahan saja, aku tak akan tega walau sebenarnya aku ingin. Hahaa. . . .

Kemudian ketika banyak mata mulai menyadari tangisannya. Aku akan memeluknya, berusaha menyembunyikan wajah Anna dengan tubuh mungilku. Jika seperti itu maka aku yang akan dibuat repot dan harus memasang senyum memastikan kepada yang melihat bahwa segalanya baik-baik saja.

Memang tidak banyak tempat dan waktu yang kami habiskan berdua, tapi ketika waktu dan tempat membiarkan kami bersama, disitu kebaikan akan kami dapat berdua. Ya, Anna adalah salah satu dari berjuta alasan yang membuatku tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan.

***

“Yaaaah kaaan, kamu lelet sih jalannya !” Bentak Anna.
“Kenapa emang ?”
“Pojokannya penuh, kantinnya rame banget” Anna menunjuk ke arah kantin yang memang terlihat penuh. Hampir tidak ada bangku yang kosong. Tempat pojokan yang dimaupun sudah terisi semua. Kami malas jika harus duduk ditengah-tengah kerumunan. Entah kenapa tatapan dari manusia-manusia bumi terkadang seperti menelanjangi kami. Dilihat dari atas hingga bawah, ditatap lekat-lekat dan itu membuat kami tidak nyaman. Lagipula kasian hati, nantinya akan berpenyakit. Hehe, hati paling mudah berburuk sangka bukan ? maka dari itu kami menghindari hal-hal yang membuat hati kami berpenyakit. Salah satunya dengan tidak muncul diantara kerumunan manusia-manusia bumi terutama wanita. ? 
“Owweuh” Balasku singkat. Aku tersenyum, kemudian berkata  “Belok aja yuh, bentar lagi adzan” Aku merubah arah kakiku, membelokan badanku hingga menghalangi langkah kaki Anna.

Anna pun mendesah, “Baiklah,”.

Profil Penulis:
Maulana_retno, Tidak aktif akun facebook.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Anna, Kirana Sahabatku""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel