CERPEN "Aku Bukan Pelacur" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Aku Bukan Pelacur"

CERPEN "Aku Bukan Pelacur"
AKU BUKAN PELACUR
Cerpen Karya Arida Rusmayanti

“Ayah dan ibu sudah tidak sanggup lagi biayai kamu jika kamu ingin melanjutkan kuliah”.
Kata itu yang membuatku semakin sulit untuk memilih. Aku ingin sekolah lebih tinggi namun apa daya ketika orang tua tak sanggup untuk mewujudkannya. Hanya berharap satu keajaiban untuk dapat meraihnya. Entah mengapa tekadku untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi sangat besar namun, semua itu memang harus ada cerita. Layaknya aku hanya wayang yang menunggu seorang dalang untuk memainkannya. Serasa semua impianku hanya menjadi sosok bayang-bayang yang enggan menampakkan wujudnya. Satu bulan sudah aku dalam kebimbangan. Yang ku rasa aku hanya menjadi beban jika aku harus berdiam diri tanpa bisa membantu orang tuaku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bekerja tapi entah kemana aku juga tak tahu. Karena aku sama sekali tidak mempunyai relasi untuk hal itu. Tetapi pada saat itu ada salah seorang tetanggaku sebut saja Rina. Ia yang menawarkanku bekerja. Tapi di luar negeri yaitu di Malaysia. Karena dia juga sedang bekerja di sana. Saat itu kebimbangan kembali menari di otakku. Apa yang harus ku lakukan. Setelah aku meminta pendapat orang tuaku akhirnya aku memutuskan untuk berangkat meskipun orang tuaku berat menerima keputusanku ini. Tapi tak ada pilihan lagi. Impian untuk bisa melanjutkan sekolah pun sudah pasti pupus. Hingga akhirnya aku mengambil keputusan yang bulat untuk berangkat.

Setelah satu jam perjalanan dengan pesawat terbang akhirnya aku sampai d tempat tujuan. Disana aku segera memesan tempat untuk tempat tinggalku selama aku bekerja. Dan disana aku juga diberi tahu oleh Rina bahwa aku bekerja sebagai kasir di salah satu pusat perbelanjaan di Malaysia. Semoga dengan pekerjaanku ini aku bisa membantu kedua orang tuaku. Hari pertama aku menjalani pekerjaanku dengan baik walaupun aku harus breaving dulu. Tapi akhirnya aku dapat bekerja dengan baik. Dengan gaji yang tidak besar tentunya aku harus bisa memanaj semua ini dengan bak. Dan aku harus bisa membahagiakan orang tuaku disana. Dan untuk membiayai sekolah adikku. Karena aku masih mempunyai seorang adik perempuan yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP.

Satu bulan berlalu dan kini waktunya aku untuk mengirim sedikit uang hasil kerjaku untuk orang tua. Walaupun tidak bergitu banyak tetapi cukup untuk sehari-hari. Rasa senang timbul dalam benakku bisa membahagiakan orang yang aku sayangi. Dan keinginan untuk melanjutkan kuliah itu seolah-olah telah sirna oleh kebahagiaan yang aku alami saat ini. Entah mengapa seperti itu.” Atau mungkin karena aku sudah bisa mencari uang sendiri”. Kata-kata itu yang selalu terlintas di pikiranku saat aku sedang merenung seorang diri. Kini aku telah berhasil mencari uang. Aku bisa mengirimi uang keluargaku setiap bulan tanpa absen. Sampai-sampai orang tuaku dapat memperbaiki rumah yang memang sudah puluhan tahun tidak pernah di perbaiki. Adikku juga sekarang sudah menginjak kelas satu SMA. Dan kabarnya adikku mendapat beasiswa kuliah. Betapa bahagia aku mendengar kabar gembira ini. Aku sangat bersyukur Tuhan telah memberikan jalan terbaik untukku.

Dua tahun sudah aku berada di negeri seberang. Dan kabarnya Rina telah pulang ke Indonesia karena ia akan menikah. Namun aku tak bisa datang di acara pernikahannya. Karena aku masih mempunyai kontrak di negara ini. Siang hari aku menerima telepon dari ibuku.
“ Assalamu`alaikum bu. Ada apa kok telepon? Kan biasanya Zivi yang telepon ibu?”. Tanyaku pada ibu.
“ Zi kamu disana benar kerja sebagai kasir ?”. tanya ibu sedikit terbata-bata.
“ Iya bu kenapa? Kan ibu sudah tahu dari pertama Zivi kerja.” Jawabku penuh rasa penasaran.
“ Ibu kecewa sama kamu karena kamu telah bohongi ibu”. Jawab ibu sambil menangis.
“ Maksud ibu apa? Zivi gak ngerti”.
“ Kamu disana kerja sebagai wanita malam di tempat hiburan kan?”
“ Siapa yang bilang seperti itu ibu? Tidak, Zivi tidak bekerja seperti itu!” jawabku dengan mulai meneteskan air mata.
“ Jangan bohong kamu. Orang-orang disini banyak yang membicarakan kamu kalau kamu kerja sebagai wanita malam. Dan ternyata selama ini uang yang kamu berikan ke ibu adalah uang haram?”
“ Tidak ibu, percaya sama Zivi. Mereka bilang seperti itu karena mereka tidak tahu kerjaan Zivi”.
“ Sudahlah mulai sekarang kamu bukan anak ibu lagi. Terserah kamu disana mau jad apa. Ibu sudah tidak peduli”.
Seketika itu telepon langsung di matikan oleh ibu. Aku tak tahu apa yang sudah terjadi. Aku hingga tak bisa lagi untuk menumpahkan kesedihanku. Entah siapa yang tega-teganya memfitnah aku seperti ini. Hingga ibuku sendoro telah termakan oleh hasutannya. Dan kini aku telah di buang oleh ibuku sendiri. Selama ini aku bekerja banting tulang hanya untuk membahagiakan ibuku tapi kenapa aku di fitnah seperti ini. Aku sudah tak tahu lagi kemana aku berlari untuk saat ini. Kepedihan ini membuat jiwaku terasa terpenjara.

Semenjak kejadian itu aku tak lagi mengirim uang ke orang tuaku. Semua uang hasil kerjaku kini aku habiskan untuk foya-foya. Aku frustasi. Hingga akhirnya aku menjelma menjadi orang yang mengenal norma. Satu minggu sudah aku tidak bekerja. Entah akan di pecat atau tidak aku sudah tidak peduli. Setiap malam ku habiskan waktuku dengan pergi clubbing bersama teman satu kerjaanku. Pulang pagi dengan tubuh yang lemas. Tercium aroma alkohol yang menyengat. Wajah pucat pasi dan rambut kusut kering. Aku seperti orang yang tak tahu adab. Entah sebutan apa lagi yang pantas untukku saat ini. Seperti sudah tak ada celah sebagai wanita yang apik.

Pada malam hari, aku mecoba merenungi semua yang telah menimpaku. Aku mencoba mencari tahu siapa yang melakukan semua ini. Terbesit di pikiranku untuk mencari orang pintar agar aku tahu siapa orang di balik semua ini. Setelah aku menemui orang pintar tersebut alhasil aku telah mengetahui siapa dalang dari semua ini. Dan orang itu ternyata Rina. Tetanggaku sendiri dan bahkan orang yang telah mencarikan pekerjaan aku di tempat ini. Aku sungguh tak menyangka. Dia sengaja memfinah aku karena dia iri melihatku bisa sukses dan orang tuaku punya segalanya dari hasil kerja kerasku. Hingga ia tega melakukan ini.

Aku segera menghubungi orang tuaku untuk memberitahukan semua ini. Entah mereka mau menerima penjelasanku atau tidak.
“ Ibu. Ini aku Zivi”. Kataku lirih.
“ Ada apa lagi Zivi. Bukankah kau sudah bukan anak ibu lagi”. Jawab ibu sedikit teriak.
“ Ibu sebentar. Dengarkan Zivi berbicara. Selama ini Zivi bekerja banting tulang hanya untuk bahagiakan ibu dan ayah. Dalam benak Zivi tak ada sedikitpun pikiran kotor seperti itu. Zivi bisa mendapatkan uang banyak selama ini karena Zivi bekerja dengan giat. Dan kalau memang Zivi punya pikiran seperti itu kenapa Zivi tidak dari dulu saja melakukan hal itu. Dan mungkin kini ibu sudah memiliki rumah yang besar dan bertingkat. Apa ibu lebih percaya orang lain dari pada anak ibu sendiri. Orang lain tidak tahu apa yang Zivi lakukan disini. Dan mereka bebas ngomong apa saja ke ibu.Dan yang perlu ibu tahu, siapa sebenarnya dalang dari semua ini?”. Tanyaku sambil terisak.
“ Memangnya siapa?” tanya balik ibu padaku.
“ Dia adalah Rina bu. Rina yang selama ini baik pada keluarga kita. Yang seolah-olah tak ada maksud lain ketika ia menawarkanku bekerja”.
“ Ngawur saja kamu. Mana mungkin dia yang melakukannya”. Jawaban ibu seolah tak percaya.
“ Bu, Zivi sudah mencari orang untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang tega memfitnah aku seperti ini. Dan memang dia lah yang melakukan semua ini. Jika ibu tidak percaya padaku. Cobalah ibu mencari orang pintar disana untuk membuktikanya”.
“ Baiklah Zi, ibu akan mencari tahu”. Jawaban ibu seolah mulai percaya denganku.

Aku kembali bekerja dan untung saja aku tidak di pecat karena aku bisa menjelaskan pada atasanku. Sembari menunggu kabar dari ibu, aku kembali menata kehidupanku yang sempat semrawut. Aku menjalani hari-hariku seperti biasanya. Walaupun aku terkadang masih teringat akan hal itu. Rasa sakit ini memang telah mendarah daging untukku. Hingga aku sangat sulit untuk bisa melupakan semuanya begitu saja. Tapi meskipun rasa sakit ini tak kan pernah bisa sembuh begitu saja tapi aku sama sekali tidak ada niatan untuk balas dendam pada mereka. Karena jika aku membalas perbuatan mereka maka tak ubahnya aku sama seperti mereka. Dan karena aku juga yakin Allah pasti membalas mereka denga caraNya sendiri.
“Kriiinggggg.....kriiingggg...”

Dering handphone ku berbunyi. Ku lihat sepintas ternyata ibu yang menelponku.
“ Assalamualaikum ibu”.
“ Waalaikum salam Anakku...”. Jawab ibu terdengar sambil menangis.

Tak terasa air mata tiba-tiba menggunung di kelopak mataku. Aku menangis karena ibu akhirnya mau menganggap aku sebagai anaknya kembali. Hingga tangisanpn pecah diantara aku dan ibu.
“ Zivi, maafkan ibu ya nak? Ibu lebih percaya pada mereka dari pada sama kamu anak ibu sendiri. Maafkan ibu ya?”. Rengek ibu meminta maaf padaku.
“ Ibu sudahlah, Zivi sudah memaafkan ibu. Ibu tidak salah. Mereka yang salah yang telah tega memfitnah Zivi. Sekarang ibu tidak usah mikir aneh-aneh. Disini Zivi bekerja dengan halal bu. Semua ini demi ibu dan ayah. Dan tidak usah mendengarkan omongan orang lain tentang Zivi. Percaya sama Zivi ya bu?’’. Jelasku pada ibu.
“ Iya Zi. Ibu juga berpesan padamu, meskipun kamu sudah tahu siapa yang melakukan ini semua tapi kamu jangan sekali-sekali balas dendam sama mereka. Biarkan saja mereka”.
“ Iya bu, Zivi pasti selalu ingat kata-kata ibu”.
Hatiku lega sesaat setelah ibu mengetahui yang sebenarnya dan mau memaafkan aku. Namun air mata memang tak pernah bisa berbohong untuk tidak menampakkan dirinya. Dan kini air mata itu telah menjelma menjadi air mata haru. Keesokan harinya aku masih menjalankan pekerjaanku seperti biasa. Dan aku juga masih bisa mengirim uang untuk ibu seperti sebelumnya. Satu bulan aku terbangun dari segala permasalahan yang telah menjeratku. Aku berharap bahwa problema ini menjadi problema terakhir dalam hidupku. Karena aku ingin fokus bekerja demi membahagiakan orang tuaku. Apapun kan aku lakukan disini asalkan aku selalu berada di jalan yang di ridhoi.

Atasanku memberikan hari libur pada semua karyawannya karena beliau akan mengadakan pertemuan dengan clientnya di luar kota untuk membahas tentang perubahan sistem manajemen di mall tempat kerjaku ini. Hal ini membuatku merasa lega karena aku bisa beristirahat sejenak untuk melemaskan otot-ototku yang setiap hari bekerja tanpa hari libur. Aku memulai hari libur perdanaku untuk beristirahat total di kontrakan kecilku ini. Banyak teman yang mengajakku keluar untuk refresh tapi aku menolak dan memilih untuk istirahat saja. Hingga sampai hari ke lima aku libur karena memang atasanku memberikan cuti selama satu minggu. Aku mulai merasa bosan dan jenuh d kontrakan. Kebetulan teman akrabku Cingmey dia asli orang China tetapi bahasa indonesianya sangat lancar, ia mengajakku keluar. Akhirnya aku dan dia janjian untuk keluar nanti malam. Tapi Cingmey tidak memberi tahu aku kemana kita akan pergi.
“ Kriiinggg....”
Bunyi handphone ku memanggil. Dan ternyata Cingmey menungguku di depan kontrakan. Aku segera meluncur kebawah. Karena kontrakanku lantai dua dan aku menempati lantai dua itu. Dengan napas di dada yang naik turun aku segera masuk ke mobil Cingmey dan kita berangkat ke tempat yang akupun tidak tahu.

Didalam mobil kita bercanda-canda karena Cingmey memang anaknya cukup lawak apalagi dia menjadi temanku semenjak aku pertama kali masuk kerja dan dia teman pertamaku. Tak terasa setelah kuranh lebih tiga puluh menit kita berjalan akhirnya kita sampai di tempat tujuan. Aku begitu terkejut ternya Cingmey membawaku ke sebuah club. Namun aku mencoba menahan rasa traumaku karen kejadian beberapa bulan lalu. Dan meskipun aku tahu tapi aku mencoba bertanya pada Cingmey.
“ Mey ini tempat apa?” tanyaku seolah penasaran.
“ Sudahlah kamu pasti happy, ayo masuk”. Jawabnya sambil menarik tanganku.
Cahaya ratusan lampu yang berkedip namun tetap nampak gelap, lebih tepatnya remang-remang. Suara bising musik disco, ratusan orang menari-nari tanpa kendali menambah gaduh tempat ini. Membuatku kembali mengenang saat-saat dimana aku terjatuh dan terpuruk. Namun semua perasaan itu segera ku tepis. Karena meskipun aku kembali ketempat ini namun bukan untuk mengulang kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Aku hanya duduk menyaksikan orang-orang yang mungkin dulu aku sama seperti mereka.

Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiriku. Laki-laki itu bertubuh lumayan atletis, sepertinya orang asli Malaysia. Dia menyapaku dengan sedikit senyuman di wajahnya. Dan akupun membalas senyuman itu. Kami mengobrol sambil dia menyodorkan minuman di tangannya yang ia bawa dari meja lainnya. Tak lama kemudian aku merasa sedikit pusing, ngantuk dan sedikit rasa mual. Hingga aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Akupun terbangun terasa badanku sangat sakit. Kulihat ke arah jendela, matahari sudah mulai nampak. Tana tersadar aku sedang berada di mana. Seketika itu aku terkejut dan bingung apa yang sedang terjadi. Dan baru aku menyadari bahwa aku sudah tanpa busana lagi.
“Ya Allah apa yang sudah terjadi...” gumamku dalam hati. Aku merasa ketakutan. Apa aku sudah di perkosa. Tapi siapa yang telah melakukan semua ini padaku. Aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Aku terdiam sejenak sambil meneteskan ar mata, mencoba mengulang memori yang sempat hilang dari otakku. Akhirnya aku berhasil mengingatnya. Aku mengingat semua yang terjadi semalam. Aku segera bangkit dan ku raih busanaku untuk ku kenakan. Aku berlari terisak mencari laki-laki itu. Namun tak kunjung aku temui. Hatiku sudah terlanjur remuk. Seakan tak percaya apa yang sedang aku alami ini. Aku menangis sejadi jadinya.

Setelah aku sampai di kontrakan, aku masih dalam linangan air mata yang enggan kering. Entah sebutan apa lagi untukku. Aku menyesal telah mengikuti ajakan Cingmey. Dan sekarang dia tak tahu rimbanya. Entah ia sengaja menjebakku aku tak tahu. Dan terlintas di pikiranku untuk menghubunginya.
“ Tuut..tuutt..”
“ Halo..”.Terdengar suara bising.
“ Mey apa yang kamu lakukan padaku semalam?”. Tanyaku sedikit teriak.
“ Kenapa Zivi, kamu puas? “. Jawabnya membuatku geram.
“ Kau sengaja menjebakku kan? Kamu suruh laki-laki itu untuk mendekati aku dan memberi obat tidur di minuman itu kan? Ngaku saja kamu”.
“ Kalau iya memang kenapa Zi, kamu mau marah? Silahkan. Marah saja sana sama Rina!”. Tuturnya.
“ Apa? Rina?”.
“ Iya. Dia yang menyuruhku untuk menjebakmu. Karena dia dendam padamu. Kamu bisa lebih sukses di bandingkan sama dia yang sudah lama bekerja disini. Dan laki-laki itu memang suruhanku”.
“Lantas atas dasar apa kamu beraninya mau bersekongkol sama dia?”. Tanyaku sambil menangis.
“ Atas dasar aku benci sama kamu. Karena memang benar kata Rina. Kamu bisa sukses. Padahal kita bekerja dalam waktu yang bersamaan. Kenapa kamu bisa lebih dulu sukses, punya uang banyak dari pada aku. Dan bos juga lebih memihak padamu”.
“Itu semua karena aku jujur Mey. Aku tidak pernah bekerja dengan kecurangan. Ku kira kamu teman yang baik Mey”.
“ Mulai saat ini kamu tidak bisa cari aku lagi. Karena aku sudah pulang ke China”.
Seketika itu telepon langsung di matikan. Saat ini aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku sudah kotor. Menjadi wanita yang hina. Aku gagal menjaga amanah dari ibu. Penyesalan yang tiada henti aku rasakan. Kini aku tak ubahnya seperti anjing jalanan. Yang begitu menjijikkan. Mengapa dendam itu masih saja berlanjut. Salahkah aku jika aku menghasilkan semua ini dengan usaha yang halal? Dan salahkah aku jika aku bisa membahagiakan orang tuaku?. Sampai detik ini aku tidak mengerti apa yang di inginkan Rina dariku. Jika saja materi yang ia inginkan, aku akan dengan suka rela memenuhinya. Namun kini ia telah merusak masa depanku. Mengapa ia begitu kejam.

Aku sengaja tidak menceritakan apa yang aku alami ini pada kedua orang tuaku. Biarkan aku dan Tuhan yang tahu akan semua ini. Namun kini kertas putih itu telah ternodai. Dan tak mungkin dapat kembali putih seperti semula. Aku tak tahu lagi dapat memaafkan Rina seperti sebelumnya atau tidak. Mungkin ini sudah menjadi cerita hidupku. Satu bulan berlalu aku menjalani kehidupan dalam keterpurukan ini. Enggan bangkit dan enggan melangkah. Aku masih saja terhanyut akan semua kebiadaban itu. Namun setelah aku mencoba untuk merenung, akhirnya aku menemukan jalan. Aku harus pulang. Dengan begitu aku akan merasa tenang. Dan aku bisa membuktikan pada Rina bahwa aku tetap bisa tegar menjalani cobaan ini semua.

Singkat cerita, seteah aku pulang ke Indonesia aku menjalani hari-hariku seperti biasa aku tak menampakkan kesedihan, kekawatiran dan kemarahan. Rina juga tahu akan hal itu. Bahkan ketika aku bertemu dengannya, aku memperlakukan dia seperti biasa. Selama aku berada di rumah memang banyak teman-teman lamaku yang datang kerumah. Terutama teman laki-laki. Dan selama satu bulan aku berada di rumah ini, aku dekat dengan seorang laki-laki, dia berasal dari luar kota. Ibuku selalu membujukku untuk segera menikah karena memang usiaku sudah cukup matang untuk mencari seorang pendamping. Namun semua itu tidak mudah, butuh beberapa waktu untuk aku berpikir matang-matang. Beberapa bulan kemudian aku memutuskan untuk menikah. Aku merasa sudah saatnya. Dan karena aku juga sudah merasa sangat cocok dengan Rian ( kekasihku ) begitu juga dengan keluarganya.

Tinggal menghitung bulan aku akan mengakhiri masa lajangku ini. Betapa bahagianya aku setelah beberapa bulan ini aku di rundung kesedihan. Sembari aku menunggu hari bhagiaku itu, aku mencoba untuk melupakan semua hal buruk yang pernah menimpaku. Dan aku masih menyimpan semua rahasia pahit ini. Meskipun aku telah mencoba untuk melupakan semua itu namun aku masih tidak ikhlas dengan perlakuan Rina padaku. Mungkin dengan aku menikah dan tidak bekerja lagi di Malaysia, dia akan berhenti membuatku sengsara entah itu karena jenuh atau apa.

Akhir-akhir ini si Ryan jarang hubungi aku. Tidak seperti biasanya yang selalu bertukar kabar di antara kita berdua. Namun kali ini ia sama sekali tidak menghubungiku. Aku mencoba bersabar dan berpikir positif. Aku kan menunggu hari selanjutnya. Hari demi hari telah ku lewati dengan penantian kabar darinya. Namun mengapa hingga saat ini ia tidaka menghubungiku. Sudah hampir setengah bulan ia tidak ada kabar. Aku mulai bingung. Kemana aku harus mencari. Nomor teleponnya pun tidak ada yang aktif. Begitu juga dengan orang tuanya. Problema apa lagi yang akan menimpaku ini. “Mungkinkah ia meninggalkanku di waktu bahagia yang tinggal menunggu detik-detik ini?”. Ayah dan ibuku merasa kecewa akan semua ini. Sedang di luar sana sudah banyak yang mengerti bahwa aku akan menikah. Tapi saat ini Ryan menghilang entah kemana.
“ Tuhan, cobaan apa lagi yang Kau berika padaku?”
Hanya kata-kata itu yang setiap hari aku pertanyakan.
Dan kini satu tahun sudah aku masih berada dalam kesendirian setelah kejadian itu. Mungkin ini memang takdirku. Pernah menjadi seorang pelacur walau bukan inginku. Aku juga telah mempermalukan keluargaku. Ini salahku atau bukan. Aku sulit untuk mengartikannya. Setelah kejadian itu, orang tuaku mencoba mencari tahu kenapa semua itu bisa terjadi. Dan tak ubahnya adalah ulah Rina yang sengaja membuatku pisah dan menggagalkan pernikahanku dengan Ryan..

TAMAT

PROFIL PENULIS
Aku Arida Rusmayanti. Mahasiswi Universitas Jember jurusan bahasa dan seni. 
fb: adira.nafla@facebook.com
tweter : a_diramayanti@ymail.com
gmail :adira.mayanti@gmail.com

Kunjungi alamat ku ya teman.... n jangan lupa kritik dan sarannya..
terima kasih >_<

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Aku Bukan Pelacur""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel