CERPEN "Tuhan Dan Drama Cinta" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Tuhan Dan Drama Cinta"

CERPEN "Tuhan Dan Drama Cinta"
TUHAN DAN DRAMA CINTA
Karya Nida Lina Ningtyas

“Aku nggak bisa,” lagi lagi membahas masalah ini. Membuat Elsa malas dan ingin mencabik mulut pria ini.
“Sa, aku mau kamu itu-”
“Berapa kali sih aku harus bilang rul? Kepercayaanku ya punyaku, kepercayaanmu ya punyamu,”

Pria dihadapan Elsa terlihat menahan omongannya. Dia terdiam sesaat, kemudian memeluk gadis di hadapannya dengan sayang.

“Maaf, aku tak bermaksud,” nada itu menurun. Emosi pria itu sudah menyurut. Membuat Elsa kembali teringat bahwa ia mencintai pria ini. Pria yang berbeda keyakinan dengannya.

Awalnya Elsa tak menyangka akan mencintai Syahrul dengan begitu dalam. Ia hanya ingin berteman semata. Syahrulpun ia kenal dari sahabatnya Linda.

Pria tinggi berparas tampan ini awalanya hanya jadi sasaran iseng gombalan gombalan Elsa. Sekedar untuk mengakrabkan diri. Namun lama-kelamaan wanita itu kian jatuh terperosok dalam pesona Syahrul. Perhatiannya, candaannya, caranya membuat wanita itu melambung. Ia menyukai semuanya. Namun semua kembali keawal.

Iman mereka berbeda.

Dengan langkah gontai Elsa memasuki kamarnya dan segera mengambrukkan diri ke kasur empuknya.

Dia masih terngiang perdebatan tadi. Mengapa juga pria itu malah mengungkit masalah itu? Kencan hari ini jadi kacau karenanya.

Bel berbunyi tiga kali, menandakan ada tamu yang datang, namun tanpa Elsa persilahkan tamu itu langsung saja nyelonong ke dalam kamar gadis itu.

“Elsaaaa!!” suara nyaring itu membuatnya semakin pusing. Ia menutup telinganya rapat dengan bantal. Yang datang malah heran dibuatnya.
“Loh, Syahrul ngapain kamu sa? Pasti tadi ada apa-apa kan?” tepat! Pertanyaan itu tepat menohok perasaannya. Membuatnya kembali merasakan kebimbangan yang amat sangat.

Dia menurunkan bantal yang menutupi kepalanya. Ia pun menatap sahabatnya itu dengan wajah memelas. Spontan sahabatnya-Linda memeluk wanita itu.

“Aku yakin maksudnya baik sa, cuman dia ngungkapin dengan cara yang kurang tepat aja,” Elsa mengangguk dalam pelukan Linda. Sahabat yan bahkan bisa tahu apa yang terjadi tanpa ia bercerita. Bahkan ia menganggap wanita itu sebagai saudarinya sendiri.

Linda melepas pelukannya kemudian menyisir rambut Elsa dengan halus. “Kayaknya dia bahas kayak gitu karena emang dia mau serius sama kamu sa,” Elsa mencoba mencerna kata-kata Linda. Wanita berjilbab itu mengamati ekspresi Elsa untuk menyiapkan apa yang akan dia biacarakan selanjutnya.

“Kalo dia niatnya emang cuman sebatas pacaran, dia nggak akan mempermasalahin yang kayak gitu sa, dia sayang banget sama kamu,”

Setetes air mata bergulir di pipi chubby Elsa. Linda pun memegang bahunya untuk menenangkan wanita itu.

“Percayai apa yang kamu percaya, tapi jangan lupa kalo orang yang kamu sayangi juga punya prinsip yang sama, kalian mungkin nggak bisa hidup sejalan, tapi kalian bisa mencoba buat berjalan beriringan, kan?”

Linda memang orang paling lihai lidahnya untuk membuat orang lain terpengaruh. Orang pandai semacam inilah sahabat Elsa, yang selalu mendamaikan hatinya meski mereka juga tak sejalan. Ia sangat berharap Syahrul bisa memahaminya seperti Linda.

Detik bergulir bergantikan hari, hari menjadi bulan, dan bulan terus berlanjut hingga membentuk tahun. Dan saat itulah cinta dua insan ini kian bertumbuh. Sekolah, belajar, lulus, hingga bekerja, terus mereka lalui bersama.

Walau masalah tak ada habis habisnya mencoba menguji cinta mereka. Namun mereka terus jatuh pada hati yang sama setiap harinya.

Hari ini Syahrul berencana menjemput Elsa sepulang bekerja. Tempat mereka bekerja cukup berdekatan, dan Syahrul satu tempat kerja dengan Linda. Dengan begini lebih mudah mereka bertiga untuk sering bersama.

Elsa merapatkan jaket yang dikenakannya. Udara malam ini cukup menusuk, apalagi dia memakai rok selutut ini. Rasanya kakinya mulai membeku. Namun tak lama suara klakson membuatnya kembali merasakan kehangatan.

Segera wanita itu berlarian kecil meski memakai high heel yang bahkan menyulitkannya untuk berjalan. Ia membuka pintu mobil dan duduk di depan bersama Syahrul.

“Lama?” tanya pria itu hangat, sambil meraih tangan Elsa dan menggosoknya perlahan untuk menyalurkan kehangatan.

Elsa menggeleng. Dia memejamkan mata dan merasakan kehangatan mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Syahrul selalu mengerti apa yang ia butuhkan.

“Ehm, obat nyamuk nih gue,” suara dari belakang membuyarkan suasana romantis yang tengah terbangun.
“Makannya, punya pacar! Jangan ganggu pacar orang,” Elsa menjulurkan lidahnya kearah Linda.
“Yeee, siapa juga yang ganggu, kalo nggak ditawarin Syahrul ya aku nggak akan mau balik bareng kamu yeee,” ujar Linda membalas sahabatnya. Ketiganya tertawa, Elsa benar benar menyukai atmosphere ini. Dia, Syahrul, dan Linda. Selalu bersama.

Mobil melaju dengan perlahan, namun tanpa disangka ternyata mobil milik Syahrul sudah terparkir manis di lapangan dekat rumah Elsa dan Linda.

Mereka bertigapun turun, kemudian berjalan beriringan menuju rumah Linda terlebih dulu. Mereka terus bersendau gurau dan membuat malam yang dingin itu tak terasa lagi. Meskipun yang mereka bicarakan tidak penting. Contohnya Elsa yang terjepit diantara Syahrul dan Linda terlihat seperti lembah diantara dua bukit. Karena Linda dan Syahrul sama sama memiliki tinggi yang ideal. Padahal wanita itu juga sudah berusaha memakai High Heel.

Namun tawa mereka memudar saat melihat ayah Linda yang keluar bersama seseorang yang tak asing di mata Syahrul.

“Abi,” ujar pria itu spontan.
“Loh, Syahrul, kamu ada di sini? Sama Linda juga? Kamu kenal sama dia to?” laki-laki berlogat Jawa kental itu terus melontarkan pertanyaan sepihaknya. Hal itu membuat firasat Elsa memburuk. Dia mulai menampakkan wajah tidak suka.
“Jangan bilang kamu memang sering ke sini? Lah kok tidak bilang abi? Abi ini rekan kerja ayah Linda,”

Ketiga orang yang tadinya akrab terlihat mulai canggung. Seolah memiliki pikiran yang sama, mereka semua terus diam dan bungkam.

“Abi, bukan begitu,”
“Hahahaha, sudah sudah yo, nak malu nanti kita bicara saja di rumah, saya pamit dulu nggih pak, Assalamualaikum,” lelaki kurus itu berlalu setelah menjabat tangan ayah Linda dan menepuk pundak anaknya.

Elsa mulai menampakkan wajah kekesalannya. Diapun berlalu dengan cepat tanpa permisi.

Ayah Linda yang mengetahui kejadian sebenarnya hanya bisa diam. Dia menghampiri anaknya dan mengelusnya untuk menyabarkan.

“Elsa!” Syahrul mencoba menahan gerakan wanitanya. Dia mulai merasakan bahwa Elsa kini tengah menangis. Syahrulpun berhasil meraih tangan Elsa.
“Elsa, aku bener-bener nggak ada apa-apa sama Linda,” Syahrul mencoba menjelaskan semampunya.
“Tapi ayahmu mau kalian ada apa-apa rul,” isakan Elsa kembali terdengar.
“Abi cuma belum aku kasih tahu tentang kamu,” Elsa melepas genggaman tangan pria di hadapannya.
“Kamu nggak liat tadi? Bahkan ayahmu sama sekali nggak ngelirik aku, beliau anggep aku nggak ada, nggak kelihatan, dia terlalu seneng kamu ternyata udah kenal sama Linda, mungkin habis ini kalian dijodohin,” kata kata Elsa benar-benar menyayat hati Syahrul. Dia terdiam.
“Aku, dibandingin sama Linda, jelas nggak ada apa-apanya, dia mah alim, berhijab, cantik, seiman sama kamu, aku? Pake rok pendek, rambut terurai, apa? Apa baiknya aku buat kamu?” suara Elsa melemah, dia nyaris ambruk, jika tidak di halangi oleh Syahrul.
“Aku bahkan nggak sempet berdandan rapi sebelum ketemu ayahmu,” Elsa menangis tersedu-sedu. Kalimatnya tertahan, dia meremas baju yang Syahrul kenakan. Dia terus menangis di pelukan pria itu.
“Tapi aku tetap aja nggak bisa merubah kepercayaanku rul, mamaku, papaku, semua keluargaku, mereka semua percaya sama aku, aku nggak bisa ngecewain mereka semua,” wanita itu terus saja bermonolog sambil menangis. Syahrul hanya bisa mendengarkan rintihan wanita itu sambil mengelus rambutnya sayang.
“Kenapa juga kita harus di lahirin di jalan yang beda? Kenapa Tuhan ngasih kita takdir kayak gini rul? Apa dosa yang udah aku bikin?” Syahrul membelalak mendengar pernyataan Elsa. Selama ini dia bahkan selalu ikhlas dan tak pernah menyalahkan Tuhannya.
“Ssstttt... Sa, ini bukan salah siapa siapa, ini cuman cobaan, kamu pernah bilang kan? Tuhan itu satu, jadi kita nggak pernah beda jalan. Jalan kita selalu sama, kita saling menyayangi untuk lebih dekat dengan Tuhan,” Syahrul mengelus pipi Elsa lembut. Dia mencoba memberikan kekuatan.
“Aku akan coba kenalin kamu sama abi, gimana?” usul Syahrul. Elsa hanya terdiam dan mengangguk.
“Yaudah, besok kan libur, pagi aku jemput, kamu siap-siap ya cantik,” mulut pria itu berucap sambil mencubit pipi Elsa genit. Dia ingin menghibur wanitanya itu. Dan benar saja, Elsa langsung tersipu dan memukul pelan lengan Syahrul.

Setelah beberapa obrolan singkat, Syahrul segera berpamit sebelum akhirnya semakin larut. Mereka saling melambaikan tangan dan tersenyum.

Akankah ayahmu menerimaku?

Pagi pun menjelang, Elsa meminta bantuan Linda untuk memilih pakaian. Walau suasananya masih terasa canggung, namun mereka mencoba sebisa mungkin untuk melupakan kejadian semalam.

Elsa kini sudah ada di depan cermin, dengan gamis ungu dan selendang berwarna senada yang diletakkannya di atas kepala.

Linda menurunkan selendang itu. “Jadilah dirimu sendiri, daripada kamu terus dipaksa untuk berpura-pura selamanya,” Linda menyentuh bahu Elsa perlahan. Dia tahu keinginan wanita itu. Linda tahu sedalam apa cintanya pada Syahrul. Dia juga tak ingin perjodohan yang kelak akan menimpa dirinya. Dia tidak ingin menodai sucinya pernikahan dengan cinta yang hanya semu semata. Apalagi dengan kekasih sahabatnya.

Jemputanpun datang, mereka sama-sama memantapkan batin dan menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.

Perjalanan terkesan hening. Kedua orang itu sama-sama terdiam karena bergelut dengan pikiran masing masing. Debaran jantung mereka kian berpacu setelah mobil Syahrul terparkir di halaman rumahnya.

Syahrul menatap gadisnya. Dia menggenggam tangan wanita itu. Terasa dingin dan berkeringat. Syahrul menatap khawatir, “Aku akan berusaha sebisa mungkin sayangku,” suaranya terdengar tulus. Ia kemudian mengecup punggung tangan Elsa dan membuka pintu untuknya juga Elsa.

Dengan jantung berdebar, mereka melangkah menuju pintu yang mengawali masa depan mereka berdua.

Elsa berniat menaikkan selendangnya, ingin memakainya seperti jilbab. Namun dipikirnya ulang kata-kata Linda. Dia pun kembali menurunkan kain yang menggantung di bahunya itu.

Syahrul membuka pintu. Terlihat keluarganya sudah menyambut di ruang tamu, mereka semua menoleh dengan wajah yang berseri.

“Assalamualaikum,” tutur Syahrul spontan sambil menyalami semua anggota keluarganya yang diikuti oleh Elsa. Sampai di ayah Syahrul, dia hanya memberikan salam dari jauh, dia tahu hal itu dari Linda. Sahabatnya itu sudah banyak membantunya.

Mereka semua mempersilahkan Elsa duduk di samping Ibu Syahrul, yang pria itu panggil dengan sebutan Umi.

“Selamat datang nak Elsa, kami semua sempat kaget saat mendengar Syahrul dekat dengan seorang wanita, bukankah dia pria yang kaku?” Umi Syahrul mencoba membuat Elsa nyaman dan tidak begitu canggung.
“Tidak, Syahrul itu benar-benar pria yang baik,” Umi dan adik Syahrul tertawa melihat Syahrul dan Elsa yang sama-sama tersipu.

Tapi mendadak Syahrul berdehem dan berniat untuk langsung ke topik utama.

“Abi, ini Elsa, sebelumnya abi sudah bertemu kan?”

Elsa meremas gamisnya. Ia teringat malam di mana pria berjenggot putih itu benar benar mengabaikan keberadaannya.

“Dia itu kekasih Syahrul abi,” suaranya melirih. Namun ia tak melihat perubahan ekspresi abinya. Pembicaraan ini membuat semua orang nampak tegang, menanti apa yang akan dikatakan kepala keluarga mereka itu.
“Disini, Syahrul ingin meminta ijin untuk,” Syahrul menatap manik mata Elsa yang masih meremas gamisnya dengan sangat tegang.
“Menikahi Elsa,” semua orang menoleh ke arah Syahrul. Namun Abinya masih terdiam. Menyiratkan sesuatu. “Bolehkah abi?”
“Boleh,” ucap Abi Syahrul mantap. Hal itu makin membuat semua orang terbelalak termasuk Elsa.
“Tapi abi, Elsa itu-“
“Abi tahu Syahrul,” kini anggota keluarga yang lain menyipitkan matanya. Tak mengerti apa yang pria itu bicarakan.
“Abi tahu semuanya dari Linda dan ayahnya,” Elsa mengendurkan remasan di bajunya. Dia teringat wajah Linda. Sungguh dia saudari yang paling baik hatinya. Syahrul menatap Elsa yang mulai berkaca-kaca.
“Linda sudah meyakinkan Abi, walau awalnya abi sempat ragu, tapi dia bercerita, bahwa selama 3 tahun kalian menjalin hubungan, tidak pernah yang namanya goyah imanmu nak, maka dari itu, abi percaya, kamu mampu membimbingnya, tetap menjadi imam yang baik, untuk calon istrimu ini,”

Syahrul senang bukan kepalang dengan tutur kata abinya. Segera ia berlutut di hadapan pria berbaju putih itu.

“Insya Allah abi, Syahrul akan mencoba sekuat yang Syahrul bisa, tidak akan ada yang namanya goyah iman Syahrul,” ucap Syahrul kembali meyakinkan. Dia mencoba menyembunyikan air matanya.
“Baiklah, Syahrul Hafid Mahmudin, kamu abi restui untuk mempersunting pujaan hatimu ini,”

Seluruh keluarga ikut senang, Umi dan adik Syahrul berpelukan melihat drama keluarga yang menegangkan itu. Elsa menangis terharu, tak pernah dipikirnya bisa bersanding dengan pria yang sangat ia cintai ini.

Dari jauh kedua mata itu saling berkomunikasi, menyalurkan kebahagiaan mereka satu sama lain.

-Tuhan yang dari awal membatasi kita, memberikan jarak yang jauh, Dia pula yang nyaris memisahkan kita. Namun kini, Dia-lah yang menerangi jalan untuk kita dapat bersatu kembali-

Profil Penulis:
Halo^^ perkenalkan nama saya Nida Lina Ningtyas.
Sekarang saya duduk di bangku SMK
Bagi yang berminat untuk mengenalku lebih lanjut bisa melalui :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Tuhan Dan Drama Cinta""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel