CERPEN "Setetes Air" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Setetes Air"

CERPEN "Setetes Air"
SETETES AIR
Karya Ferlita Anggistia

Ketika matahari mulai beranjak bangun dan saat itulah matahari menampakkan sinarnya pada penduduk bumi. Aku pun bergegas untuk bangun dari tempat rehatku sehari-hari, ketika ku buka pintu kamar, kudapati seorang wanita yg sangat aku cinta dan sayangi  yg sedang duduk di depan tv, yaitu Ibuku wanita yg paling hebat dan sangat berharga bagiku.

Saat ku berjalan menuju kamar kecil, ku lihat senyuman nan indah menawan keluar dari bibir ibuku. Ku balas senyuman ibuku dgn rasa senang meskipun Aku tak memperdulikan wajahku yg berantakan bak kertas yg berserakan.

Selang beberapa saat aku keluar dri kamar kecil, Ibu berkata “Anggi mau dimasakin ibu apa?”, aku menjawab “Telur goreng sama teh anget bu”(dengan sedikit senyuman). Setelah masakan selesai dimasak, Akupun langsung memakan masakan Ibu dgn sangat lahap. Sesudah selesai makan, Aku berkata “Allhamdulillah kenyang juga nih perut, makasih banyak ya Ibuku syang!”. Ibu menjawab “ iya , anakku sayng”(dengan sedikit senyuman). Akupun menjawab, “Ibu nggak makan, kog tadi nggak ikutan makan sih bu?’’. Ibu menjwb “ udah sayang tadi Ibu udh makan pagi-pagi tadi”. Akupun berkata “ beneran udah bu? Allhamdulillah kalo udah bu, awas ya bu kalo bohong ntar aku cubit lo hehe..!”(bercanda tawa). Ibu menjawab “iya sayngku Anggi”(tertawa kecil). Sesudah itu Aku berpamitan kepada Ibuku karena Ayahku pergi merantau , akupun hanya berpamitan kepada Ibuku.

Setelah sampai di Sekolah, aku berniat akan meningkatkan prestasiku demi membanggakan kedua orang tuaku. Waktu demi waktu berjalan dgn cepat, bel sekolah pun berbunyi memberi peringatan bahwa waktu pulang sudah tiba. Akupun cepat membereskan alat sekolahku dan langsung pulang, ketika ku lewati lorong2 Sekolah seseorang memanggilku dari belakang “Hei anggi.. tunggu sebentar!!”. Akupun menoleh kebelakang, “ loh edo, ada apa do?”(heran). edo menjwab “eh.. nggi km tau nggak Ibu kmu lagi sakit, aku disuruh ibuku buat ngasih tau kamu!’’. Aku menjawab “ ha...apa.. ibu aku sakit loe nggak ush bercanda deh do, tdi pagi aja ibuku baik2 aja”. Edo berkata “ ya udah kalo lo nggak percaya, mending lo cepet2 pulang oke..” Akupun bergegas untuk pulang dan meninggalkan edo di lorong itu. 

Setelah sampai rumah, banyak orang yg berkumpul di rumahku, hatikupun makin berdetak kencang, setelah aku lari kuhampiri Ibuku yg sedang terbaring lemas di antara para tetangga yg berkumpul di bilik ibuku. Aku melihat Ibuku dan juga sebaliknya, ku lihat tetesan air Ibuku dan Aku langsung berkata “ibu..ibu..kenapa?”(bercucuran air mata). Ibu menjawab “ibu nggak papa nak”(tersenyum sambil meneteskan air mata).  sementara itu Aku menangis dan memaksa ibuku tuk mengatakan yg sebenarnya, setelah itu tetangga saya mengatakn bahwa ibuku pergi kepasar untuk membeli sepatu buat Aku dan pada saat itu Ibuku tertabrak lari. Akupun hanya bisa menangis dan memeluk erat ibuku. Aku pun berkata “ibu maafin Anggi ibu..!”(sambil menangis dan memeluk Ibu). Ibu berkata “iya nak gak papa udah jgn dipikirin, setiap manusia itu pasti punya salah, entah itu di sengaja maupun tak disengaja”. akupun hanya bisa diam dan menahan nangis.

Aku telah membuat air mata ibuku menetes, menurutku air mata seorang Ibu itu sngatlah berharga dan mahal bahkan aku tak bisa membeli air mata itu dengan benda maupun harta tapi dengan kasih sayangku terhadap Ibuku. Dan Aku tau bahwa kasih sayang seorang Ibu lebih besar dari kasih sayang ku terhadapnya dan Ibu menganggap buah hatinya sebagai harta yg paling berharga.

Profil Penulis:
Nama  : Ferlita Anggistia
TTL     : Jaya pura , 14 februari 1999
Kota tinggal  : Demak , Jawa Tengah
Facebook   : Ferlita Anggi Stiia

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Setetes Air""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel