CERPEN "Pembawa Benih Karya Tangan Air" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Pembawa Benih Karya Tangan Air"

CERPEN "Pembawa Benih Karya Tangan Air" : 
PEMBAWA BENIH
Karya Tangan Air

Malam itu ada hal tak biasa, asap menjalari ke langit. Hutan menjadi berisik dengan langkah gelisah dan dahan patah. Hutan yang membara, oleh manusia pembuka lahan yang serakah. Tangisan hewan dan rintihan pohon melengkapi melodrama si jago merah.
Pagi tiba, suram sepi dan senyap. Tanah yang hitam berlubang oleh pengerat yang penasaran. Dengan wajah menganga mereka memandangi sekitar yang bukan seperti sediakala.

Namun bukan berarti tidak kehidupan di dunia atas, sebuah pohon yang bertahan digantungi oleh seekor kelelawar yang tidur. Dia tidur sendiri dan tak kesepian. Lewatlah seekor pipit pengembara, dia berkicau dan membangunkan si Kelelawar.

Kelelawar menyapanya dan Pipit itu mengajak mengobrol. Kelelawar menceritakan tentang hutannya, dan Pipit ikut prihatin. Pipit pun bertanya, "Wahai kelelawar yang tenang, apakah kamu tidak merasa kesepian?"

"Kesepian? Tentu tidak. Aku selalu di sini dari satu pohon hingga jadi sebuah hutan."
"Lalu, apakah yang akan kamu kerjakan sekarang? Hutanmu telah hilang dan musnah."
"Hilang iya, Musnah tidak. Tentu tidak sepenuhnya musnah. Kamu hanya melihat apa yang kamu ingin kamu lihat. Aku tidak melihat hutan ini punah. Malah sebaliknya."
"Sebaliknya? Memang yang kulihat hanyalah padang tanah yang telah terbakar, tapi apakah menurutmu manusia itu akan membawa hutanmu kembali?"
"Bukan manusia. Manusia hanya ingin mengenyangkan perut mereka sendiri, tidak peduli apa yang terjadi di sini. Bukan juga hewan-hewan yang putus asa yang ada di bawahmu itu."

Pipit melihat ke bawahnya, lalu melihat ke kelelawar itu. "Apakah kamu akan melakukannya? Aku tidak percaya kamu bisa." Ucapan Pipit itu dibalas kelelawar dengan senyuman, "Yang menentukan nasib hutan ini bukan aku tapi Tuhan. Jadi apa salahnya jika berusaha dulu lalu berdoa kepada Tuhan?"

Pipit yang kehabisan kata-kata pergi dengan perasaan tidak percaya. Seekor kelelawar sendiri dapat menghidupkan satu hutan yang luas. Sungguh aneh, pikir Pipit sambil terbang mengikuti jalan matahari.

Petang tidak begitu indah saat Kelelawar mulai mengepakkan sayapnya, "Aa! Kembali seperti dulu. Sepi dan senyap."

Kelelawar terbang rendah, menangkap buah yang berbaring tanpa daya. Ia pun makan segera dan menyimpan bijinya di mulut.

Manusia saat itu masih percaya takhayul, Kelelawar yang terbang membawa kesialan bagi mereka. Jadi ketika Sang kelelawar mendatangi mereka, manusia itu berlarian ketakutan akan pembawa kesialan itu. Kelelawar pun dengan tenang mendarat di tanah lalu menanam biji yang dia bawa.

Dia melakukannya rutin setiap malam, setiap hari, baik di cuaca cerah maupun hujan.

"Ya Tuhan-Ku, aku hanya makhlukmu yang meminta hal yang tak besar. Tolonglah aku untuk kembalikan rumah yang ditinggali oleh sahabat-sahabatku. Amin"

Tahun demi tahun pun berlalu. Hutan yang dulu gersang kini telah kembali hidup. Pipit pun kembali dari perjalanannya. Kagum akan hutan yang dulu dikiranya musnah. Dia pun bertanya siapa yang mengembalikan hutan ini. Seekor tupai yang sedang memakan kacang menjawab, "Menurut cerita dari kakekku, seekor kelelawar tua yang tidak kenal lelah dan sendirian menanam benih dari apa yang dia makan yang menyebabkan pohon-pohon bertunas. Setelah kelelawar itu wafat beberapa tahun yang lalu, pohon-pohon di sini terus tumbuh dan menutup kuburannya. Kami menganggapnya adalah pahlawan."

Setelah Pipit berterimakasih atas cerita tersebut, dia pun mengunjungi pohon yang dia kenal sebagai tempat bergantungnya Sang kelelawar dan berkata, "Maafkan aku karena telah meragukanmu."

Profil Penulis:
Nama saya Hilmy Khairy, lahir tahun 1996 bulan juli. Hanya tamatan SMA yang belajar otodidak sejak kecil tentang bahasa dan filosofi. Saya sering sembunyi-sembunyi menulis puisi dan cerpen. Saya senang menyendiri dan merenung, inspirasi sumber imaji saya. Fantasi dan Fabel termasuk dalam wilayah sastra kesukaan saya. Dan saya lemah dengan hal yang berhubungan dengan cinta dan kasih sayang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Pembawa Benih Karya Tangan Air""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel