CERPEN "Kerupuk"
CERPEN "Kerupuk"
KERUPUK
Karya Florencia May
Ada dua orang perantau yang mencoba untuk mengubah nasib mereka dengan cara pergi ke kota. Nama mereka adalah Steven dan Olga. Mereka berasal dari Kalimantan dan mereka adalah sesama perantau yang berasal dari desa. Penampilan mereka biasa-biasa saja. Steven memiliki rambut keriting dan tubuh yang sekal. Sedangkan Olga memiliki wajah yang penuh jerawat dan botak. Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak mereka masih kanak-kanak.
Awalnya, Steven yang mengajak Olga pergi merantau ke Jakarta untuk mengubah nasib mereka menjadi lebih baik. Olga setuju dan mereka pergi ke Jakarta menjadi sesama penjual kerupuk putih. Mereka menjual kerupuk putih yang murah dan enak tersebut melalui gerobak keliling. Tempat yang sering mereka lewati untuk menjual kerupuk adalah Jembatan Genit dan Taman Lawang. Walaupun saat siang hari mereka merasakan panas dan terik, mereka tetap semangat menjual kerupuk. Hanya saja, cuaca panas itu membuat mereka cepat haus dan membuat Olga yang mempunyai sifat temperamental, cepat naik emosinya. Tidak jarang juga, Steven dan Olga meratapi nasib mereka yang suram dengan kesal. Mereka melampiaskan kekesalan mereka dengan cara menendang kerikil-kerikil yang ada di sekeliling mereka secara asal.
Kerupuk yang mereka jual itu sudah dipersiapkan waktu pagi hari. Sehingga, jika kerupuk mereka tidak habis terjual sebelum malam hari, kerupuk yang dijual akan terasa alot. Tetapi, hal ini tidak membuat para pembeli setia mereka berhenti mengkonsumsi kerupuk saat malam hari. Para pembeli tetap membeli kerupuk alot tersebut karena kerupuk yang dijual mereka sangat enak dan membuat ketagihan. Tidak terasa, sudah 1 minggu mereka berjualan dan kerupuk yang mereka jual laku keras. Uang hasil dari berjualan kerupuk ini mereka simpan dan tabung. Setiap bulan, mereka mengirimi sebagian besar hasil penjualan kerupuk ke keluarga mereka yang ada di Kalimantan untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Hasil penjualan kerupuk ini dipakai oleh keluarga mereka untuk membiayai uang sekolah anak, membeli makanan, dan lain-lain.
Suatu hari, Tio, anak Steven yang pernah tidak naik kelas, mengajak Dodi, anak Olga, bermain di sawah setelah pulang sekolah. Tanpa berpikir panjang, Dodi setuju dan mereka pergi ke sawah bersama-sama. Mereka bermain dengan gembira, melupakan hari yang sudah semakin gelap. Tiba-tiba, Dodi, berteriak kesakitan. Tio berlari menghampiri Dodi dan melihat ada ular yang mematok kaki Dodi. Tio berusaha melepaskan ular itu dari kaki Dodi dan ia berhasil. Tetapi, tiba-tiba Dodi pingsan. Tio dengan sekuat tenaga mengangkat Dodi untuk ke tempat peristirahatan yang berada di sawah. Setelah memastikan Dodi berbaring dengan nyaman, Tio berlari ke rumah Dodi untuk memanggil ibu Dodi dan memberitahu bahwa Dodi pingsan ketika mereka berada di sawah.
Tio juga pergi ke rumahnya, yang berada di sebelah rumah Dodi untuk memanggil ibunya dan memberitahu apa yang terjadi. Mereka sama-sama pergi ke sawah dengan panik. Sesampainya di sawah, ibu Dodi berteriak histeris karena ia sadar, ular yang mematok kaki anaknya adalah ular beracun. Ibu Dodi langsung berteriak meminta tolong warga sekitar untuk membawa Dodi ke puskesmas terdekat. Tio yang melihat Dodi tidak berdaya dan terancam nyawanya merasa sangat bersalah. Sepanjang perjalanan ke puskesmas, Tio tidak mengucapkan satu patah kata apapun. Ibu Tio yang selalu menaruh ponselnya di saku celana, mengeluarkan ponselnya dan menelopon suaminya untuk memberitahu apa yang sedang terjadi.
Steven yang mengetahui kabar buruk ini memikirkan bagaimana cara memberitahu Olga tentang kondisi anaknya itu. Dengan berat hati dan secara hati-hati, ia memberitahu kondisi Dodi ke Olga. Semangat Olga untuk menjual kerupuk langsung hilang. Hanya Dodi yang ada di pikirannya sekarang. Olga meminta bantuan Steven untuk memesan tiket kereta yang paling cepat sampai ke Kalimantan karena ia ingin melihat Dodi. Steven dengan cepat mencari tiket kereta itu dan langsung memberikan tiket tersebut ke Olga. Steven tidak pulang ke Kalimantan karena ia masih ingin terus berjualan kerupuk di Jakarta.
Di waktu yang sama, di puskesmas, Tio yang sedang merasa bersalah, sedang merenung. Ibu Dodi yang melihat hal tersebut menghampiri Tio dan menebak apakah Tio sedang merasa bersalah. Tebakan yang secara langsung itu membuat Tio kaget dan salah tingkah. Ibu Dodi tersenyum dan berusaha menenangkan Tio serta berkata kalau itu bukan salahnya. Tio akhirnya merasa lebih tenang. Dokter yang memeriksa Dodi menghampiri mereka dan berkata bahwa kondisi Dodi dapat dipastikan keesokan harinya, jadi Dodi harus menghinap semalam di puskesmas. Ibu Dodi menyetujui hal tersebut dan berkata kepada Tio dan ibunya untuk pulang ke rumah beristirahat, dia yang menjaga Dodi. Akhirnya, Tio dan ibunya pulang ke rumah dengan pikiran yang tetap memikirkan kondisi Dodi.
Sewaktu subuh, terdengar suara langkah kaki yang begitu tergesa-gesa. Ternyata, suara langkah kaki tersebut adalah langkah kaki Olga. Olga yang melihat istrinya sedang tidur membangunkan istrinya untuk menanyakan kondisi Dodi. Olga mendengarkan kondisi Dodi dengan seksama dan wajah khawatir masih tergambar jelas di mukanya. Tetapi, mereka tidak bisa berbuat apapun selain menunggu dokter untuk kembali mengecek kondisi anak mereka. Akhirnya, setelah menunggu dalam waktu yang terasa sangat lama, dokter datang untuk mengecek kondisi Dodi. Dokter mengatakan kalau Dodi akan segera sembuh, jadi tidak perlu terlalu khawatir lagi.
Olga dan istrinya sangat senang mendengar kabar ini dan mereka langsung memberitahu kabar kondisi Dodi ini ke keluarga Steven dan Tio yang mendengar hal ini sangat senang dan merasa lega. Steven yang berada di Jakarta juga mengajak Dodi untuk kembali berjualan di Jakarta. Tetapi, Dodi sudah mengubah pikirannya untuk tetap berada di dekat keluarganya karena ia menyadari, ia selama ini terlalu fokus kepada pekerjaan dan tidak memerhatikan keluarganya. Steven menghargai keputusan Dodi dan ia tetap berjualan kerupuk menggunakan gerobak keliling di Jakarta.
Selama 5 tahun, Steven dan Olga jarang berkomunikasi. Bahkan, Steven jarang menelpon istrinya dan hanya mengirimkan uang melalui bank ke istrinya. Steven memutuskan untuk pulang ke desa secara diam-diam hari ini. Ketika ia sampai di desanya, ia terkejut melihat bahwa Dodi menjadi pelajar yang mewakili desanya untuk bertanding cerdas cermat melawan desa lain. Tetapi, ia sedih melihat Tio, anaknya, semakin hari semakin berandal karena istrinya juga sudah tidak bisa mengontrol lagi perbuatan dan kemauan anaknya. Steven sadar, selama ini ia hanya fokus mencari uang dan tidak memberi perhatian kepada anaknya, melainkan menuruti semua keinginan Tio.
Moral: Utamakan apa yang menjadi prioritas dalam hidup, jangan mengutamakan sesuatu yang bukan prioritas utama, karena akan menyesal di kemudian hari.
Profil Penulis:
Halo!
Ini pertama kalinya aku membuat cerpen.
Aku berumur 15 tahun dan duduk di kelas 2 SMA.
Semoga para pembaca menyukai cerpen ini.
Terimakasih! ^^
0 Response to "CERPEN "Kerupuk""
Post a Comment