CERPEN "Kertas Hitam"
CERPEN "Kertas Hitam"
KERTAS HITAM
Karya Viona Dwi Febria
Roy mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian ia mengusap-usap kedua matanya perlahan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Namun, mau tak mau, Roy harus mempercayainya, karena saat ini semuanya memang sudah terjadi. Kali ini, dia sedang duduk di kursi rumah sakit, menunggu saat gilirannya dipanggil dokter untuk menjalani operasi mata.
Ya, kini Roy telah kehilangan pengelihatannya sepenuhnya.
Semuanya yang pernah Roy lihat di balik kameranya, semua bayangan tempat yang pernah Roy kunjungi, semua kenangan indah saat ia masih menjadi seorang fotografer remaja dulu, dan semua warna yang pernah ditangkap lensa matanya, semuanya terhapus dengan sangat mudahnya hanya dalam waktu lima detik. Terhapus bersih seperti tumpahan warna di atas kertas hitam yang menghilang. Dan kini, satu-satunya yang ada di hadapan Roy saat ini, hanyalah warna hitam.
Tiba-tiba, seorang suster berpakaian serba putih yang tak terlihat di pandangan mata Roy, keluar dari sebuah ruangan berpintu putih yang memiliki tanda bertuliskan “Ruang Rehabilitasi”. Dia tersenyum saat melihat Roy sedang duduk diam dengan pandangan kosong di salah satu bangku berwarna biru di ruang tunggu.
Kemudian suster itu berjalan ke arah Roy dan menepuk bahunya. Roy tersentak dan mendongakkan wajahnya meski ia tidak tahu pasti di mana suster itu berdiri sekarang.
“Sudah waktunya giliranmu, Roy.” Gumam suster itu dengan lembut. Roy memiringkan kepalanya dan memasang tampang heran. “Giliran siapa?? Aku?? Bukankah kau bilang aku akan melakukan perawatan terakhir sebelum operasi??” jawab lelaki berusia 14 tahun itu.
Suster itu tersenyum. “Itu benar kok, kau akan melakukan perawatanmu di ruangan yang ada di sana itu Roy. Kau hanya perlu berjalan lurus sampai menemukan engsel pintu berbentuk bulat. Putar engselnya dan …”
Dengan cepat, Roy menyela karena mulai jengkel. “Aku sudah tahu sus, kau sudah tidak perlu menjelaskanku seperti anak kecil yang baru belajar membuka pintu.” Gumamnya. Kemudian ia berdiri dan berjalan lurus dari tempatnya duduk secara perlahan. Ia berhenti setelah telapak tangan kanannya menemukan sebuah engsel pintu berbentuk bulat yang terbuat dari besi yang mulai dingin karena di ruangan dengan pendingin udara. Ia menoleh ke arah susternya dan merasa yakin bawah wanita itu tersenyum. Kemudian Roy pun membuka pintu.
***
Roy mendapati dirinya sudah berada di dalam ruangan yang sangat luas dan terang luar biasa. Meskipun yang ia lihat hanya warna hitam, namun instingnya mengatakan bahwa itu adalah ruangan yang sangat luas dan sangat terang hingga Roy yang buta pun harus menyipitkan mata karena dapat merasakan silaunya.
Kemudian ia dapat mendengar suara langkah kaki yang berjalan lembut ke arahnya. Selang beberapa langkah dari tempat Roy berdiri, seseorang itu mulai mengatakan sesuatu. “Hai, Roy.” Gumamnya.
Roy memiringkan kepalanya, rupanya dia adalah seorang gadis. Suaranya sangat kecil dan lembut, Roy yakin, kalau bukan karena ruangan yang sepi, pasti suaranya akan terdengar seperti angin lewat di telinganya yang biasa mendengar keramaian. Namun, Roy hanya mengangkat bahu dan balik menyapa. “Hai juga. Siapa kau?? Mau menjalankan perawatan juga?? Mau operasi juga??”
Kemudian Roy dapat mendengar suara tawa yang sangat lembut dan kecil keluar dari mulut gadis itu. Namun Roy hanya terdiam dan menunggu jawabannya. Setelah suara tawanya terhenti, gadis itu mulai kembali berbicara. “Ya, operasi denganmu. Kita satu ruangan Roy. Satu tubuh malah.” Gumamnya, membuat Roy semakin bingung.
"Maksudmu?? Apa maksudmu?? Satu tubuh??” Tanya Roy penuh kebingungan. Kemudian ia dapat mendengar suara langkah gadis itu yang berjalan mondar-mandir di depannya. Suara langkah pun terhenti.
“Kau akan tahu setelah selesai melakukan operasi nanti Roy.” Ujar si gadis. Roy yakin seratus persen bahwa seseorang aneh di hadapannya tersenyum, namun Roy hanya diam seolah tidak mau peduli dengan yang dikatakannya.
“Roy …” panggil gadis itu sambil berjalan mendekat. Roy masih diam di tempatnya. “Aku adalah perawat disini, aku akan mengabulkan satu permintaan padamu sebelum operasi.” Gumam si gadis dengan suara berbisik. Baru Roy mulai berpikir, si gadis mulai membuka mulutnya, seolah ia bisa membaca pikiran Roy. “Tapi, jangan tanyakan apapun tentang diriku. Entah namaku, alasan aku ada disini, dan siapa aku sebenarnya. Tolong …” ujarnya, dengan nada memohon.
Roy mengangguk dan diam. Ia sebenarnya juga tidak terlalu peduli dengan identitas gadis itu sebenarnya. Kemudian Roy mengangkat dagunya dengan tampang menantang. “Kalau begitu …” gumamnya pelan, dan entah kenapa, ia kembali menurunkan dagunya dan mulai bersikap serius.
“Aku ingin kembali melihat dunia di balik lensa. Lensa mataku, juga lensa kameraku yang hitam ini.”
Gadis itu mengangguk dan tertawa kecil. “Aku mengerti.” Ujarnya lembut. Kemudian ia berjalan semakin dekat dengan Roy. “Aku sudah menduga kau akan memintanya, karena itulah aku sudah mempersiapkan semuanya. Oleh karena itu …”
Dengan cepat, Roy dapat merasakan tubuhnya di dorong dengan sangat kencang bagai terkena hantaman angin ribut yang datang secara tiba-tiba di depannya. Bahkan, saking terkejutnya, Roy tidak bisa berkata apapun. Namun, hanya ada satu suara lembut yang dapat dia dengar di antara suara berisik yang entah datangnya dari mana itu.
“Tunggulah …”
***
Roy membuka matanya dengan cepat. Cahaya-cahaya kuning dari lampu rumah sakit langsung menghantam mata Roy dengan cepat. Membuat Roy lagi-lagi harus mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian ia tersadar, kini ia sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Ranjang yang berwarna biru, bahkan tangannya juga diinfus. Roy melebarkan matanya dengan kaget.
Sebentar, dia … dia bisa melihat kembali??
Roy menatap sekitar tidak percaya, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Ia benar-benar merasa seperti orang yang dibodohi oleh takdir. Kemudian, ia dapat mendengar suara pintu terbuka. Dengan cepat, Roy menoleh ke arah pintu yang bergeser ke dalam. Dan itu adalah seorang wanita tua yang rambutnya setengah beruban dan memakai seragam suster berwarna putih bersih. Sebenarnya, dia adalah suster yang merawat Roy selama ini. Wanita itu tersenyum sambil berjalan perlahan ke arah Roy.
“Bagaimana mata barumu Roy?? Enak untuk melihat?? Pas kan??” gumamnya, membuat Roy semakin tidak mengerti.
“Suster?? Sebenarnya, tadi … tadi apa yang baru saja terjadi??” ujar Roy pada akhirnya. Kemudian, suster di hadapannya itu duduk di bibir tempat tidur dan menatap Roy dengan senyuman penuh misteri.
“Kau sudah bertemu dengan Mona sebelum operasi kan??” Tanya si suster dengan suara lembut. Kemudian Roy memutar mata barunya sambil mengingat-ingat. Ia pun tersentak saat mengingat suara seorang gadis lembut yang menyapanya di ruangan aneh itu. Dengan cepat, Roy mengangguk.
Si suster melebarkan senyuman misterinya. “Ya, dia adalah Mona, gadis yang telah menolongmu. Dialah yang mendonorkan matanya padamu, dia juga yang telah mewujudkan kembali impianmu yang sudah kau kubur dalam-dalam di hari saat kau kecelakaan, Roy.”
Roy melebarkan mata tidak percaya. “Bagaimana mungkin!!?? Lalu, bagaimana dengan matanya?? Bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya tanpa pengelihatannya??”
Si suster tersenyum semakin lebar, kemudian ia mengeluarkan secarik kertas berwarna hitam dan memberikannya kepada Roy. Roy pun menerima kertas hitam yang dilipat itu. Sederetan tulisan yang ditulis dengan tinta berwarna putih tertulis di atas kertas hitam tersebut.
“Selamat, Roy. Aku akhirnya berhasil mewujudkan impianmu.”
Roy kemudian menatap si suster dengan bingung. Si suster berdiri dan berjalan ke arah pintu, tepat sebelum ia menutup pintu kamar Roy, si suster berbalik, masih tersenyum.
“Jangan khawatir, dia sudah meninggal karena kanker yang dialaminya. Dia sudah meninggal tepat saat operasi akan dimulai, tepat setelah ia mendorongmu jatuh sampai pingsan. Roy.”
Pintu kamar pun tertutup. Si suster sudah menghilang dari tempatnya. Meninggalkan Roy yang masih duduk seorang diri di ranjangnya dengan hati yang masih menyimpan sejuta pertanyaan yang tidak dimengertinya.
0 Response to "CERPEN "Kertas Hitam""
Post a Comment