CERPEN "Januari" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Januari"

CERPEN "Januari"
JANUARI
Cerpen Karya RPO

Januari.
Kupanggil dia seperti itu. Mungkin namanya bukan ‘Januari’, tapi entah kenapa aku senang memanggilnya begitu. Membuatku lebih nyaman, atau sekedar membuatku lebih mudah mengingatnya.

Aku menderita penyakit ‘lupa ingatan jarak pendek atau panjang’, aku menyebutnya begitu. Karena aku tidak tahu nama ilmiah untuk penyakit semacam itu, atau menyisakan sedikit memori kecilku ini untuk mengetahui sebutannya. Seperti yang kubilang, aku sangat sulit untuk mengingat sesuatu. Untuk mengingat jalan misalnya, jika kau mengajakku pergi menyusuri jalan, lebih dari dua belokkan aku tidak bisa mengingatnya. Kau tidak percaya? Coba ajak aku pergi ke suatu tempat yang belokkan jalannya ada tiga, niscaya kau akan menemukanku tersesat saat kau berani untuk meninggalkanku kemudian.

Ia seperti awal, makanya kusebut ia Januari. Kadang hadirnya bagai mentari yang mengetukku lembut dari kalbu, yang masih mengiang bercabang-cabang di alam bawah sadarku. Ia sangat baik, kadang ia menemaniku tanpa lelah saat aku kesulitan mencari. Senyumnya juga sangat khas, lara di hatiku sekejap menghilang jika melihat seutas bibirnya yang melebar manis. Tak tergambar oleh kata bila aku bersamanya, hanya aku dan ia, bertanya dalam remang, walau di keesokan harinya tidak ada satupun yang tinggal di memoriku. Tapi ia selalu datang, selalu datang sampai akhirnya bisa meletakkan sebagian dirinya dalam pikiranku, lekat sampai bulan menutup mata, seperti yang kunantikan.
...

Januari.
Aku dan ia sangat berbeda. Aku sangatlah dingin. Namun ia, tetap selalu hangat walau aku menghujaninya dengan aura dan sifatku yang beku. Ia juga sangat suka senja, saat itulah pertama kali aku berjumpa dengannya. Aku selalu menghabiskan waktuku bersamanya. Kadang aku bernyanyi dan menari bersamanya, aku nyaman dengan kehangatannya. Oh iya, aku juga sering bermain kembang api kecil sebelum malam usai dengannya. Namun sepertinya ia tidak terlalu suka percikan bunga api dengan sejuta warna-warni. Ia selalu terlelap sebelum aku menghabiskan semua kembang api digenggamanku. Saat itu ia bersender, di pundakku, melihat dalam selaput mata yang tertutup riangku saat melihat percikan api di sunyi malam yang terang.
“aku tidak bisa tidur semalam” Januari berkata sambil mendekapku saat fajar datang.
“pundakku melihatmu pulas, dasar pembohong”
“bukannya kau juga tertidur dan bangun lebih telat dibanding aku? Dasar pemalas.”
“kau tahu? bulan membisikkan sesuatu kepadaku semalam sesaat sebelum kau tidur lelap” kataku yang sontak membuat Januari melepas dekapannya. Matanya kini berbinar, ia jarang melihat bulan. Yang dilihatnya setiap hari hanya matahari, dan selalu terlelap sebelum bulan naik tinggi di angkasa. Karena itu ia selalu penasaran dengan benda bulat bercahaya itu, walau sekalipun tidak pernah bertemu dan selalu resah merona saat aku menyebut bulan.
“apa yang dia katakan?”
“hmm, sebenarnya aku lupa dia berkata apa”
“menyebalkan, kau selalu seperti itu” sekarang rautnya menjadi gelap. Memalingkan wajah dan enggan menatapku. Kadang saat seperti ini, ia pergi. Dan aku hanya bisa terdiam karena aku takut tersesat saat mencarinya. Yang tertinggal hanya harum tubuhnya, memanggil namaku untuk tetap disitu menunggunya. Lalu saat senja datang, ia kembali. Dan menghilang lagi saat pagi menyerbu.
....

Januari.
Aku selalu bersamanya, menjabat jemarinya sambil membisikkan sebuah percakapan singkat untuk dihabiskan sepanjang malam. Aku mencintainya. Hanya ia yang bisa membuatku mengingat lebih baik. Aku tidak tahan membayangkan hidup tanpanya, mungkin aku bukanlah aku seperti biasanya, mungkin aku akan menjadi hampa. Pernah ketika itu, hujan turun di malam pekat. Bulan tidak muncul, padahal saat itu ia belum terlelap dan masih terjaga dalam dekapanku. Matanya masih berbinar melihat rintik hujan melayang-layang yang akhirnya jatuh dicumbu tanah.
“apa yang bulan katakan kepadamu saat itu? Aku mohon beritahu aku” pinta Januari sambil memelas.
“aku lupa”
“cobalah untuk mengingatnya, untukku” matanya makin berbinar, menembus mataku yang tatkala dingin setiap saat. Membuat seluruh tubuhku bergejolak dengan kehangatan. Nafasnya agak tertahan sejenak saat aku berusaha membuka suara.
“rembulan berbisik padaku untuk memberitahumu sesuatu yang sudah lama sekali kupendam”
“baiklah, apa itu?” dia kecewa. Aku tahu itu, nafasnya terhela.
“aku mencintaimu” bisikku lirih kepadanya.

Januari.
Sejak saat itu ia tidak pernah terlihat lagi, hilang tanpa bekas. Rahasia sudah terkatakan namun tak berbalas. Ia hanya terdiam sesaat sambil menikmati sisa hujan yang jatuh saat itu. Kehangatannya meredup, tertular dinginku yang merasuk. Kali ini ia tidak hanyut dalam mimpinya, ia tetap membuka matanya menunggu rintik usai dalam kegelapan. Aku samar mengingat kejadian itu, yang aku tahu, ia masih terjaga sesaat sebelum aku menenggelamkan mataku dalam buai kantuk. Saat itu, sebentar, aku coba untuk mengingatnya, oh ya, ia mendekapku. Mendekapku dalam pelukan dengan seluruh kehangatan teduh yang tersisa dalam dirinya.

Fajar datang, aku membuka mataku perlahan, ia menghilang. Awalnya aku berpikir itu sudah biasa, ia selalu seperti itu setiap hari akan memulai langkahnya, dan akan selalu pulang saat hari gugur dan bersiap untuk beristirahat. Kutunggu ia di celah senja, menyembunyikan senyuman untuknya. Tapi ia tidak datang, ia tak kunjung datang. Aku bingung kenapa ia tidak muncul dari balik awan jingga yang memerah itu lagi? Apa yang kira-kira kulakukan kemarin malam padanya? Ah aku lupa.

Aku tetap menunggunya. Sebenarnya sudah banyak yang datang saat aku menunggunya dibalik senja. Sebut saja ia Juni. Ia menyebutkan itu ketika datang saat sore masih terang-terangnya. Dia meminta izinku untuk tinggal, walaupun, aku juga tidak tahu tinggal dimana, aku hanya tidur dimana saja aku mau. Selain Juni, ada beberapa lagi muncul dari setiap kesempatan yang datang di hari-hari tak menentu. Mereka datang dengan acak, kadang saat petang, siang, atau bahkan pagi yang masih sangat putih. ‘Aku hanya bisa mengingat dua belokkan’, tentu kau ingat itu bukan? Buktinya aku hanya mengingat Juni, dan ia. Selebihnya aku tak tahu, mungkin tak peduli. Aku tidak bisa ingat nama mereka satu persatu. Terlalu sulit bagiku.

Aku masih menyisakan dingin di tubuhku beberapa saat lalu, duduk diatas laut yang kadang merayuku untuk tertawa bersamanya. Namun aku tidak tertarik. Aku lebih memilih menanti ia kembali. Aku selalu menunggu langit melukis senja, membunuh rasaku sendiri untuk sekedar melihatnya sekali lagi. Aku tahu ia ada, namun ia tak mau kembali, jarak kami terasa begitu jauh. Sempat Juni mengenalkan teman-temannya yang lain padaku, namun aku tidak bisa mengingat mereka walaupun setiap hari mereka menyadarkanku dari lamunan sembari menyapaku. Ada satu diantara mereka yang berbeda, dia juga hangat. Tapi tak sehangat januari. Atau bahkan sedikit lebih panas. Aku kadang sering bertanya pada Juni, dia hanya tersenyum sambil membisikkan sesuatu ke telingaku, “itu temanku, Mei”.

Kini aku hanya memainkan kembang api sendirian, menunggu percik yang indah itu habis berganti asap. Jika aku bosan, aku terus menyalakan api dan terus bermain dengan seluruh kembang api yang aku miliki di penghujung malam. Aku mengingatnya sekarang, saat itu ia tidak terlelap, mengintip dibalik kelopaknya, menikmati percikan api terakhir kembang apiku sebelum lenyap menjadi abu. Ia tersenyum, kecil sekali, milik sesuatu yang menjadi rahasia didalam mawar yang diam.

Aku masih sering menanti dibawah senja untuk bertemu dengannya, selain itu aku baru tahu Juni sudah berkeluarga dan memiliki beberapa anak, dia memberitahuku. Semua di sekitarku juga ikut berpasangan dan akhirnya berkeluarga, dan dengan sukarela menjadikanku sebagai kakek dari anak-anak mereka karena menganggap akulah yang tinggal ditempat yang mereka sebut rumah dari awal. Aku kadang keberatan dan menganggap ini konyol, aku tidak tampak setua itu bukan?, namun perlahan aku terbiasa dan bahkan bisa mengingat nama cucu-cucu angkatku ini, ingatanku semakin baik. 'Minggu, Sabtu ,Jumat, Kamis, Rabu, Selasa, Senin'. Total tujuh cucu yang sekarang aku punya. Aku bahagia melihat mereka yang kadang bermain dalam salju dan petang yang hangat.
....

Oh ya, aku belum mengenalkan namaku padamu. Aku tidak begitu mengingatnya. Dulu Januari sering menanggilku dengan nama ini.
Desember.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Januari""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel