CERPEN "Indonesia: di Penghujung Tahun yang Menua"
CERPEN "Indonesia: di Penghujung Tahun yang Menua"
INDONESIA: DI PENGHUJUNG TAHUN YANG MENUA
Karya Musyfiq
Bulan yang tersibak arak, mendentum kabut disela-sela kota yang dingin. Gedung-gedung yang menguap, museum-museum yang galau, taman-taman disepinggir perkotaan, kali ini di adili, kali ini dihakimi, dan semestinya disiasati. Pabrik-pabrik garang mengembul di dusun-dusun pedesaan, seharusnya diadili, yang semestinya dihakimi, jarang disiasati, kemudian belantara, rawa-rawa, gundukan tanah tandus, hamparan pasir hangus, seakan tinggal pajangan seni rupa yang di obral di mini market, toko-toko, pasar-pasar, dan sesekali dijajakan kaki lima. Kota yang berbuih, semaikan dongeng-dongeng yang semestinya tak ada, dongeng kerajaan berserdadu puluhan ribu, dengan patih dan panglima, dongeng ibu-ibu yang kelaparan, dongeng para sarjana yang haus pekerjaan; bayi yang kekurangan amunisi, kekurangan kasih sayang, hingga pendidikan. Istri yang dikerap minyak tanah.
Bulan yang tersibak arak, mendentum kabut disela-sela kota yang dingin. Kota yang meruang tak henti, kota yang sesak jaz dan dasi, kota-kota yang sibuk; sibuk dengan teriakan, baleho yang menjulang tentang pendidikan gratis, jaminan kesehatan gratis, reputasi gratis, keperawanan gratis, dan harga diri gratis. Sementara pamflet berwarna yang dipajang disembarang, tentang kota-kota yang hijau; reboisasi, laut yang menghijau, aroma trotoar disepinggir perkotaan yang menghijau; rawa-rawa belantara, gedung-gedung yang tampak hijau, dan sumringah senyum tawanan tikus dicerup gedung yang menghijau. Pembangunan yang membelalak, menanggalkan seutas kemiskinan mesti dipersenkan.
Bulan yang tersibak arak, mendentum kabut disela-sela kota yang dingin. Serupa pasang gelombang yang bergulung dari pulau kepelabuhan, cerita Yunus yang menelan paus di laut gamang, dirakit karam, diam-diam aku menemukannya dipesisir, dirawa-rawa, digundukan tanah tandus, dihamparan pasir hangus, yang hari ini adalah pajangan seni rupa yang di obral di mini market, toko-toko, pasar-pasar, dan sesekali dijajakan di kaki lima, “sungguh hijau lautmu, menenggelamkan kapal pesiar; bengis”. Kemudian cerita Abraham yang bersimpuh kedinginan pada api-api meruak, dikota membiru, hangus terbakar. “sungguh angkuh kota-kotamu menghanguskan kebenaran yang sering kali mendengung”. Lalu aku saksikan fir’aun dan ratusan seradadu berkuda tenggelam di akhir sajakku!, tentang manifesto Yunus dan Abraham yang kutemukan pada malam-malamku.
Bulan yang tersibak arak, mendentum kabut di sela-sela kota yang dingin. Dipenghujung tahun yang menua.
Sumenep, Januari 2015
Profil Penulis:
Musyfiq lahir di Bragung Guluk-guluk Sumenep. adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep. Aktif di berbagai organisasi atau komunitas kepenulisan. Karyanya terbit di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, baik lokal ataupun nasional. Penulis juga menjabat kepengurusan dalam Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep. Juga sedang manjabat sebagai anggota pada Biro Pers dan Pengembangan Opini Publik PMII STKIP PGRI Sumenep.
0 Response to "CERPEN "Indonesia: di Penghujung Tahun yang Menua""
Post a Comment