CERPEN "Ibu Inspirasiku"
CERPEN "Ibu Inspirasiku"
IBU INSPIRASIKU
Karya Andi Nurjannah
“Aaahh.. sial!!! Ada-ada saja yang mengganggu tidurku..” ujarku dalam hati. cahaya matahari pagi mengintip diselah-selah jendela kamarku seakan memanggil dan menyebut namaku untuk segera bangun dari tempat tidurku. “ baiklah.. aku bangun!”. Ku buka jendela kamarku, cahaya mentari seakan menyambutku. Kupejamkan mataku sejenak kurentangkan tangan ku mencoba merasakan sinar matahari dipagi hari ini, merasakan sejuknya dan tenangnya keindahan ini menandakan adanya pagi baru.
Dari jauh dibalik jendela kamarku ku melihat Ibu sedang sibuk menyiram bunga-bunga kesayangannya, hingga timbul niat jailku untuk mengerjai Ibuku.
Segera aku keluar dari kamarku menuju ke pintu dan mengendap-endap kearah Ibuku untuk mengagetkannya “ selamat pagi Ibu...!!” teriakku kencang. Seketika Ibu kaget dan semburan air yang dipegangnya mengarah padaku. Aku tidak bisa mengelak seluruh bajuku basah kerenanya, ibu hanya tertawa melihat tubuhku yang basah kuyup. Sekarang giliranku yang menyiram Ibu, sempat ia kaget karena butiran-butiran air yang dingin itu menjalar dan membasahi tubuhnya. Pagi ini benar-benar indah, tak kalah indahnya dari hari-hari sebelumnya. Tanpa sadar ku perhatikan Ibuku. senyuman itu, tawa itu, dan kebahagiaan itu sangatlah jelas terlukis di wajahnya sungguh sangat melegakan hatiku. Ini lebih baik dari pada disaat Ibu kembali memikirkan masa lalunya. Ayah, lelaki itu, entahlah yang aku dengar dari Ibu, ia minggat setelah menghamili Ibuku tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidak hanya itu, keluarganya merasa malu mempunyai putri yang hamil diluar nikah, tapi ibu ngotot untuk mempertahankan kehamilannya, sehingga Ibu Diusir dari rumah orang tuanya dan berjuang sendiri menafkahi hidupnya dan anak yang dikandungnya hingga lahirlah aku ke dunia ini. Ibu melahirkan dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang tanpa pamrih. Ia bisa dan memberi waktunya 24 jam demi aku, tidak ada kata siang maupun malam, tidak ada kata hari senin maupun hari minggu, tidak ada kata lelah atau tidak bisa. Semuanya sama dimata Ibu dan semua itu demi aku.
“Sepertinya aku terlambat, ini gara-gara keasyikan bercanda sama Ibu,tapi biarlah yang pastinya aku dapat melihat senyuman Ibu sebelum kesekolah”.
“Ilham... sekarang alasan apa lagi yang akan kamu pakai?” Rika datang mengagetkan ku. Tentu saja ia berkata seperti itu setiap pagi aku biasa terlambat, sudah kubilang aku tidak akan meninggalkan Ibuku sebelum ia tersenyum bahagia.
“Kamu, masih sempatnya tertawa lepas seperti itu!” kali ini raut wajah Rika berubah, tidak biasanya dia seperti ini.
“Ada apa, Punya masalah?”
“Ilhaaamm..!!” lagi-lagi aku dikagetkan. Kenapa mereka suka sekali mengagtkanku. Seandainya aku punya penyakit jantung, jangankan sekarang bahkan dihari-hari yang lalu mungkin aku sudah tiada.
“Aah,, ada apa lagi sekarang?”
“Ta.. tadii..” Rika berhenti. Di lanjutkan dengan Arham, “ tadi Ibumu kecelakaan”.
“Apa..??” aku tidak bisa menahan rasa khawatirku langsung saja aku lari meninggalkan teman-temanku. Sepanjang perjalanan yang kupikirkan hanya Ibuku, “ bagaimana ini bisa terjadi?, apakah keadaannya baik-baik saja?, di mana dia sekarang?, bersama siapa dia?” aaahhh... pikiranku benar-benar kacau. Aku ingin segerah sampai dan memastikan keadaannya.
Pikiranku kini jauh lebih tenang setelah melihat Ibu yang tertidur pulas. Ku hampiri Ibuku, dan kutatap wajahnya dalam-dalam “aahh..leganya!” bahkan dengan keadaan seperti inipun masih terlukis jelas keikhlasan dari raut wajahnya. Tak ada penyesalan. Baru pertama kali aku melihat Ibu dengan jarak sedekat ini benar-benar menyenangkan, aku baru sadar ternyata ia memiliki tahi lalat dibagian pipi kanannya, yang tak begitu nampak akibat kerutan wajahnya. Sepertinya Ibuku benar-benar sudah tua, bahkan diumurku sekarang ini aku belum pernah memberikannya apa-apa.
Pernah sekali, waktu itu hari ulang tahunku yang ke 7 tahun. Jam didinding menunjukkan pukul 23.45 wita, Ibu belum juga pulang ia meninggalkan ku di rumah sendirian. Tentunya aku ketakutan. Aku benar-benar marah pada Ibu, aku benar-benar membencinya. Semalaman aku menangis dan memeluk bantal guling yang ada didekatku sambil mengomel, sesekali mamanggil Ibu.
Beberapa saat kemudian aku mendengar sesuatu diluar, aku pikir itu Ibu dan aku berlari untuk keluar, tapi tidak ada apa-apa disana. Tangisanku semakin menjadi-jadi tiba-tiba dari arah belakang
“Ilham.. ada apa nak? Kenapa kamu diluar?” aku tidaak memperdulikan pertanyaan Ibu dan segera memeluknya. Aku mendengar isak tangis Ibuku “maaf nak, Ibu meninggalkanmu terlalu lama”
Keesokan harinya Ibu mengantarku kesekolah kejadian semalam tak lagi ku ingat, maklum masih kecil. Aku melihat bungkusan surat kabar yang begitu usang didalam tasku, mungkinkah Ibu yang memasukkannya? Hingga sampai dirumah ku coba membuka bungkusan itu ternyata itu mainan yang ku idam-idamkan selama ini. Aku berlari mencari Ibu
“Ibuu. Ibuu.. ini punyakukan?” aku melontarkan pertanyaan bodoh. Tentu saja itu punyaku. Dan sekarang aku tau bahwa malam itu ia terlambat pulang karena membelikan hadiah itu padaku..
Sungguh cerita yang panjangkan, aku bangga pada Ibuku, aku kagum pada Ibuku, semua itu ia lakukan karena aku. Andai saja aku ini anak perempuan bukannya anak laki-laki, aku ingin sekali seperti Ibu menjadi panutan untuk anak-anakku kelak. Tapi tidak, ku pikir walaupun aku lelaki aku bisa menjadi ayah yang lebih baik, dan mencari istri yang berhati mulia seperti Ibuku. Yang mencintai dan menyayangi anak-anaknya seperti Ibuku, bahkan kalau perlu lebih dari itu. Ibu kaulah penyemangat hidupku, aku bangga dengan kegigihanmu dalam mengasuh dan menyayangiku, aku kagum dengan kekuatanmu yang menjadi Ibu sekaligus Ayah buatku. Terima kasih Ibu.
End
0 Response to "CERPEN "Ibu Inspirasiku""
Post a Comment