CERPEN "Febri" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Febri"

CERPEN "Febri"
FEBRI
Cerpen Karya Aula Ruzkiyani

“malam tolong sampaikan bada bintang bahwa aku membenci hal ini. Aku merasa bahwa aku layak menjadi diri sendiri bukan mereka yang selalu menyamakan aku dengan yang lainya. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa dipandang dengan apa adanya bukan karena aku merasa sempurna”

Namaku Febri aku lahir dengan fisik yang sempurna tapi tidak dengan yang lainya. Aku bisu sejak lahir. Orang tuaku membuang ku ketika aku berumur 5 tahun. Sekarang aku tinggal bersama orang tua angkat yan begitu membenci kekuranganku. Aku bersyukur mereka mau merawat ku,meskipun tekadang mereka begitu kejam padaku. Hingga pada titik penyiksaan ku yang paling tinggi adalah ketika aku mendapati kucing kesayangan saudara angkat ku mati. Aku dihajar habis-habisan,dimaki-maki hingga asal-usulku ikut diseret dalam permasalahn ini. Lalu aku memutuskan kabur dari rumah itu. Akhirnya aku menetap di sebuah panti asuhan yang para pengajar dan pengasuhnya sungguh baik padaku. Sehingga aku bisa sedikit berbicara dengan baik walaupun tidak begitu lancar.
“Febri,kenapa malam-malam begini masih belum tidur nak! Besok kamu harus bangun pagi buat Persiapan pelatihan keterampilan buat adek-adek kamu” tegur Bu Dina salah satu pengasuh dip anti ini.
“Iya buk,febri sedang menulis sesuatu. Febri janji gak akan kesiangan buat melatih adek-adek besok”
“Yasudah kalau begitu. Ibu masuk dulu ya!”
“Iya bu! Selamat malam”

Keesokan paginya aku sudah siap dengan materi hari ini. Yakni membuat bentuk-bentuk yang lucu dengan menggunakan kertas origami. Hari ini aku juga mengajar anak-anak yang mempunyai nasib hamper sama denganku. Diantara mereke ada yang dititipkan disini. Ada yang dibuang oleh orang tuanya juga ada anaka yang berasal dari jalanan. Semuanya ada disini semuanya berbeda. Begitu pula aku,yang juga terdampar disini.
“Kak,ayo dimulai donk buat bentuk-bentuknya. Aku sudah tidak sabar!”
“Iya adek,mari kita mulai ya. Pertama kita siapkan alat dan bahanya”
Aku mulai mengajari anak-anak itu dengan ilmu yang selama ini aku punya. Entah dari siapa aku punya ilmu tersebut. Yang jelas sejak kecil aku suka main dengan kertas ataupun benda sejenisnya. Kata ibu-ibu pengasuh aku juga pandai membuat kerajinan dan itu yang membuat aku sering diandalkan dalam acara seperti ini. Kali ini anak-anak panti asuhan akan mengikuti lomba yang diadakan oleh pemkot. Aku senang sekali mendengarnya dan aku akan mengajari anak-anak dengan sebaiknya.

Hari latihan pertama aku mulai kewalahan untuk mengajari semua anak-anak panti. Beruntung kali ini ada mahasiswa yang sedang magang di tempat kami. Aku jadi merasa dibantu oleh mereka.
“Perkenalkan nama saya Rama Aditia. Kalian bisa panggil kak Rama. Disebelah saya ada kak Vera sama Kak Nanda. Hari ini kami memang datang bertiga namun sebenarnya masih ada 3 lagi yang akan menyusul datang besok!”
“kalau begitu selamat datang dip anti asuhan kami. Disini juga ada Febri yang juga ikut mengajari anak-anak di tempat ini” Bu Dina mulai mengenalkan aku kepada para mahasiswa itu.
“oh,iya bu! Kapan kita bisa mulai mengajari adek-adek disini?” Tanya Nanda.
“lebih cepat lebih baik. Kalau kalian bisa sekarang, boleh. Nanti Febri yang akan menemani kalian semua!”
“Iya. Terima kasih bu! Mungkin kami akan datang besok saja. Hari ini kami masih ada tugas-tugas yang ada dikampus”
“ya sudah tidak apa-apa”
Akhirnya para mahasiswa itu berpamitan pada Bu Dina. Aku hanya tersenyum pada mereka,seraya berfikir “apakah aku bisa seperti mereka?”

Keesokan paginya Rama dan Nanda sudah berada di panti. Mereka menghampiri Febri yang sedang menulis di bawah pohon dekat tepi kolam. Mereka berdua memperhatikan febri yang sedang menulis cerpen.
“Tulisan kamu bagus juga” Rama mulai menyapa Febri,dia pun merasa kaget dan terkejut melihat Nanda dan Rama sudah ada disampingnya.
“Terima kasih kak,aku jadi kaget melihat kalian berdua sudah ada disampingku”
“kamu kaget ya! Maaf dech kalau begitu. Oh, ya kapan kita mulai mengajari adek-adek disini?”
“setelah adek-adek sarapan selesai kak, sebentar lagi mereka semua juga akan selesai. Kakak berdua sudah sarapan ?”
“Iya,sudah koq!”

Mereka bertiga asyik bercerita satu sama lain dan mulai tak sadar bahwa anak-anak panti telah selesai sarapan pagi.
“Aduh kak, anak-anak panti sudah keluar ney. Ayo kita masuk!”
“Ayo!”

Rama mulai tertarik pada Febri dan itu membuat hati Nanda menjadi cemas karena sesungguhnya dia juga suka sama Rama. Hingga suatu saat Nanda penasaran dan mencari tau hal itu pada Febri.
“Hai Feb!”
“Oh,kak Nanda. Hai juga kak. Gimana kabarnya?”
“Baik-baik saja kak, ada apa ney kak koq tumben kayaknya ada yang serius?”
“Aku mau Tanya sesuatu tapi tolong kamu jujur ya!”
“pasti aku akan jujur kak, aku gak mau bohong sama kakak”
“Terima kasih kalau begitu Feb. kamu suka ya sama Rama?” Febri terkejut dan senyam-senyum sendiri.
“Lho kenapa kamu malah senyum sech Feb! apa ada yang lucu dengan perkataan ku!”
“gak koq kak, Cuma aku heran, kenapa kakak bisa Tanya itu pada aku. aku sadar siapa aku. asal-usul aku bahkan aku bukan orang yang berpendidikan seperti kak Nanda dan kak Rama. Aku justru minder sama kakak berdua”
“kenapa kamu harus minder Feb, meskipun kamu gak sekolah tapi kamu kan punya banyak bakat yang semestinya bisa kamu kembankan”
“aku tau kak, tapi ragu”
“kenapa harus ragu? Apa perlu saya bantu?”
“ memang apa yang harus aku lakukan kak?”
“kata ibu panti kamu jago buat cerpen. Kenapa itu tidak kamu kembangkan saja. Untuk selanjutnya nanti serahkan aku saja!”
“Wah, benarkah itu kak?”
“Iya beneran, kamu harus percaya sama aku”

Semenjak itu Fevri mulai giat menulis cerpenya dan tanpa disadari oleh Febri bahwa selama ini Rama selalu memperhatikanya, sehingga Nanda perlu bertindak.
“Ram!” Tegur Nanda untuk mengalihkan pandanganya dari Febri.
“Eh,Nda! Ada apa?”
“Kamu suka ya sama Febri?”
“seperti yang kamu lihat. Dia itu berbeda dengan cewek lain yang selam ini aku temui. Dia pintar baik tidak sombong dan yang pasti dia mau menerima kehidupanya seperti ini. Aku yakin gak semua orang mau menerima kehidupan seperti yang ia jalani”
“tapi,dia Cuma anak panti yang gak berpendidikan Ram!”
“aku tau dia gak kuliah seperti kita. Tapi dia belajar dari lingkunganya dan itu yang membuat berbeda”
“susah ngomong sama kamu Ram. Harusnya kamu memilih aku. tapi kamu lebih memilih gadis panti itu!”
“maafkan aku Nan, aku hanya menganggap kamu sebagai teman baikku dan itu gak lebih. Perasaan yang aku rasakan sama kamu berbeda dengan apa yang aku rasakan sama Febri”

Semenjak itu Nanda berubah drastis sama Febri. Nanda yang dahulunya baik ramah dan suka ngobrol sama Febri kini berubah aneh. Bahkan cerpen-cerpen buatan Febri pun sudah mulai tidak dilirik lagi. Febri pun merasakan hal itu.
“kak Nanda. Ini cerpen Febri yang baru. Boleh dilihat koq!” (sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. Nanda yang merasa terusik dengan kehadiran Febri pun merasa marah dan mulai memaki-maki Febri.
“kamu tidak tau aku sedang apa? Ganggu orang saja kamu” (sambil mengempaskan seluruh kertas yang diberikan Febri). Ia memungut kertas-kertas itu seraya tak percaya apa yang dilihatnya.
“kak, Febri salah apa sama kakak. Sehingga kakak berubah drastis sama aku”
“kamu tanyakan sendiri pada rama”
“lantas apa hubungan nya sama kak Rama?”
“dasar banyak Tanya. Cepat pergi dari sini atau aku akan membakar semua cerpen-cerpen kamu”

Febri pergi dengan perasaan kecewa. Disatu sisi dia merasa sedih sedangkan disisi lain dia merasa bingung apa yang dimaksud Nanda dengan membawa nama Rama. tanpa berikir panjang lagi Febri menghampiri Rama.
“Kak, Febri boleh bicara sama kakak!”(Rama mengiyakan keinginan Febri itu).
“sebenarnya ada apa Feb. sepertinya ada yang serius sekali?”
“kenapa kak Nanda berubah sama aku kak? Apakah aku punya salah? Dan apa hubunganya dengan kakak? Dia sudah tidak mau menerima lagi cerpen-cerpen aku untuk diterbitkan”
“maafkan aku Feb!”
“lho, kenapa kakak yang harus meminta maaf?”
“itu semua karena aku suka sama kamu dan Nanda merasa cemburu akan hal itu. Sedangkan aku tidak bisa membalas perasaan Nanda”
“pantas saja selama ini kak Nanda baik sama aku, tapi sekarang dia menjauh dari aku”

Semenjak itu Febri menghilang dari panti. Bahkan para pengasuh pantipun tidak ada yang tau dimana Febri pergi.
“ini semua gara-gara kamu Nanda!”
“Lho kok aku Ram? Memang aku habis ngapain Febri?”
“kamu telah memupuskan harapan Febri untuk menjadi cerpenis ternama!”
“itu bukan salah aku. itu salah kamu Ram!” ibu panti datang dan melerai pertengkaran keduanya.
“sudah lah kalian berdua. Mari ikut ibu!”

Ibu panti mengajak Rama dan Nanda ke sebuah tempat yang menurut mereka aneh.
“buk, sebenarnya tempat apakah ini?” Tanya Nanda penasaran.
“sudahlah sebentar lagi sampai”

Maka mereka bertiga sampai disebuah kuburan yang masih merah tanahnya. Seraya tak percaya dengan apa yang diihatnya Rama mulai meneteskan air mata.
“benarkan ini Febri bu?”
“seperti yang kamu lihat Rama”

Nanda yang begitu membenci Febri merasa dirinya bersalah.
“sebenarnya selama ini Febri sakit dan dia telah divonis dokter bahwa umurnya tidak panjang. Dia senang menulis cerpen karena dia bisa membagi cerita hidupnya kepada orang lain. Namun ada yang belum ia dapatkan di hidupnya yang terakhir yakni penerbitan cerpen terakhirnya”

Nanda merasa bersalah mendengar pengakuan ibu panti dan berjanji akan mewujudkan apa yang diinginkan oleh Febri.
“Ini adalah lebaran terakhir dari cerpenya Febri”
“Tuhan febri senang hidup dipanti. Bertemu dengan orang-orang hebat seperti kak Nanda dan Rama. febri senang bisa kenal dan berbagi ilmu dengan mereka. Selama ini hidup febri tak sebaik dari ini. Terima kasih semuanya. Buat ibu panti yang selalu sayang sama febri. Maaf febri pergi terlebih dahulu karena febri gak sanggup kalau harus kehilangan ibu panti. Makasih kak Rama telah mencintai febri dengan sederhana, febri juga demikian sama kakak. Tapi febri tau kalau ada cewek lain yang lebih dari Febri. Yakni kak Nanda. Tolong jaga kak Rama ya Kak Nanda. Sekarang febri sudah pergi. Sampai jumpa dikehidupan yang kedua.”

PROFIL PENULIS
Nama : Aula Rizkiyani
Tanggal lahir : Gresik,06 Januari 1995
Alamat : Banjarsari Manyar Gresik
Hobi : Baca Tulis 
Inspirasi : Doraemon
Fb : Dor Chie Emon
Twitter : Aula_Rizkiyani
Blog : Aula Rizkiyani.blogspot
Makanan Favorit : Mie ayam 
Minuman Favorit : Jus alpukat

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Febri""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel