CERPEN "Dua Raja" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Dua Raja"

CERPEN "Dua Raja"
DUA RAJA
Karya Aris Indra 

Pada saat yang sama, dibawah guyuran gerimis yang menyingkirkan debu dimuka sang dedaunan. Dua pasukan yang dipimpin oleh raja hutan singa dan putra mahkota rimba harimau, melakukan rapat koordinasi untuk menyatukan informasi dan menjadikannya rekomendasi sebagai tekad bulat bersama demi tujuan masing-masing kedua pasukan tersebut. Sang singa yang memiliki legitimasi secara hukum perhutanan sebagai raja hutan, berbanding lurus dengan sifat pribadinya yang istimewa, kharisma yang dimilikinya menjadikannya dihormati dan disanjung disetiap lapisan masyarakatnya. Sang singa memberikan petuah tentang kesejatian hidup sebagai anak hutan yang menjadi terdidik oleh kondisi alam, tanpa tersentuh oleh pendidikan dari luar alamnya. Sedangkan putra mahkota rimba yang baru muncul dari kepergiannya sejak baru lahir entah kemana dan kembali sebagai harimau remaja menginjak dewasa melakukan orasi propaganda dengan semangat yang berkobar-kobar dia menjelaskan secara detail tentang maksud dan tujuannya untuk mengambil alih kekuasaan sang singa, dan disambut tepuk tangan dan pekikan merdeka-merdeka-merdeka dari para pendengar yang berwajah kosong ketakutan, karena bayonet dari pasukan monyet dan mata elang diatas turut mejadi tim keamanan sidang koordinasi.

Selepas orasi, sang putra mahkota kembali duduk disamping sang ayah yang sangat merindukannya, dengan nafas tersengal-sengal dan bercampur batuk menuanya, sang ayah bertutur  “nak, kamu masih belum dewasa untuk bicara dalam persoalan ini, aku adalah saksi hidup dari pertikaian yang tak kunjung redah ini, kamu harus kembali belajar sebagai raja rimba, huk huk huk” batuk disertai darah keluar dari mulut sang ayah. Si monyet perawat datang berjalan setengah merundukkan badannya, membawa kapas untuk diusapkan pada mulut sang harimau tua itu, sambil si monyet juga memeriksa luka cakar tepat dileher, yang hampir mengenai saluran pernafasan sang rajanya. Sambil terus memeriksa si monyet mengingatkan rajannya “paduka harus lebih banyak diam demi percepatan kesembuhan luka paduka” selesai memeriksa si monyet berjalan kembali sambil bergumam didalam hati “andaikata dulu tidak ada yang mengadu domba, luka itu tidak akan pernah ada”.

Harimau muda yang merasa berada pada puncak idealismenya, dari hasil didikan yang diperolehnya ketika menghilang dari kelompoknya, menolak habis-habisan saran sang ayah, tanpa mencerna sedikitpun. “ayah, ayah itu sudah tua perjuangan ini harus aku teruskan, dengan ilmu yang telah kupelajari, singa yang tidak tahu diri itu dan kita yang dianggapnya tidak sederajat dengan dia, harus diberi pelajaran dengan mengambil alih kekuasaan wilayah ini dan menjadikan wilayah ini sebagai kedaulatan raja rimba bukan raja hutan, aku hanya memberi tahu ayah bukan memohon izin karena mulai besok seluruh pasukan ayah aku ambil alih”. Apa boleh buat, sang ayah tidak lagi memiliki kekuatan karena tua dan badan yang dipenuhi luka perkelahian dengan raja hutan, sambil tangan dieluskannya ke dada dan rasa  kekhawatiran yang memenuhi rongga dadanya, hanya bisa diam memilih membiarkan anaknya menjadi terdidik oleh pengalamannya sendiri.

Padahal sangat jelas dan sudah difahami oleh seluruh penghuni hutan, dengan disaksikan oleh majlis hutan tertinggi yang terdiri dari sembilan gajah. Dibawah naungan pohon akasia dan diperdengarkan rangkaian lagu alam, juga mars dunia hutan oleh orkestra dari para burung kicau terbaik, dipadukan dengan musik alam suara gemericik aliran sungai dan sesekali hempasan air tejun menyentuh bangkai pohon yang samar berbunyi gong. Telah terjadi kesepakatan dengan diberi nama -Piagam Akasia- yang berbunyi, “Bahwa segala urusan pemenuhan kebutuhan setiap penghuni hutan, harus dikembalikan kepada prinsip pelestarian hutan. Maka penghuni hutan yang karnivora wajib menjaga rerumputan serta buah-buahan dari segala marabahaya yang mengancam kesuburannya, dan penghuni hutan yang herbivora diwajibkan untuk berkembang biak lebih sering dan banyak dari pada penghuni hutan dengan takdir karnivora”.

Seringkali terlihat keanehan-keanehan yang nampak pada sang putra mahkota, tata bicara yang tidak menceminkan kebesaran sang ayahnya, sampai pada perilaku yang sering membuat hewan-hewan lain enggan hormat kepadanya. Suatu ketika forum intelektual kaum muda rimba, dengan nama PahaBaru yang artinya pergerakan anak herbivora baru, kendati menggunakan nama herbivora semua jenis takdir hidup baik karnivora dan omnivora boleh bergabung. Tidak seperi biasanya pola diskusi pada kesempatan itu, alias tidak memiliki pola, ungkapan dari anak gajah yang mewarisi darah kharisma orang tuanya menjelaskan dalam pembukaan forum tersebut, ia berkata “kali ini diskusi kita tidak bertema yang lumrah, kita tidak melanjutkan tema pada minggu kemarin yang dibawakan oleh pak kancil dari negeri seberang, karena masalah yang terlahir dari tema kemarin telah menemukan win-win solution. Dan pada diskusi ini kita mengambil fokus bahasan yaitu mengumpat putra mahkota rimba kita”. Disambut tawa kencang oleh seluruh peserta diskusi, terutama anak berang-berang sambil mengibaskan ekornya, dan berkata “cocok fokus bahasan itu, iya kan iya kan” dengan pe-de nya dia menawarkan afirmasi-nya kepada forum. “iya benar” kata anak tokek , diam sejenak sepertinya sedang menyusun kata-kata lalu kembali bicara “saya kemarin diajak oleh ibu, untuk menghadiri khitanan sepupuh saya, semua keluarga kami, sanak famili dan handai taulan berkumpul, dan mereka sepertinya berbicara dengan tema yang sama kendati tidak dalam satu lingkaran, iya benar, mebicarakan segala tingkah laku putra mahkota rimba kita, malah ada yang khawatir dengan masa depan rimba ini, jika berada pada kekuasaannya”. Semuanya diam tanpa suara, seperti ada hal yang ditakuti, entah karena apa, tema yang dimaksudkan untuk tidak serius malah seperti menjadi tema yang paling serius selama PahaBaru itu berdiri. Anak elang menajamkan pandangannya kesegala arah, anak kelalawar menajamkan pendengarannya dan keduanya saling berpandang seperti memberikan isyarat bahwa forum tersebut bebas dari pantauan dewan keamanan rimba. Lalu diskusi berjalan normal seperti biasanya, dengan tetap membahas tema yang dirasa paling berat itu.

Ada berbagai pandangan yang bisa dikerucutkan menjadi dua, pertama pandangan yang diwakili oleh anak ayam hutan bahwa keanehan yang terjadi pada diri sang putra mahkota rimba, adalah hasil dari proses menghilangnya dulu, pandangan kedua yang diwakili oleh anak elang mengatakan keanehan itu terjadi karena pandangan sang putra mahkota memiliki progesifitas yang tinggi dalam berfikir. Moderator berkata “kedua pendapat itu adalah bisa dikatakan telah mewakili pandangan dunia darat dan udara, maka saya sebagai moderator tidak ingin jika hasil diskusi kita hanya sebatas diskusi dan selesai, maka kewajiban kita untuk minggu depan dari hasil hari ini, adalah mencari data yang memperkuat kedua pandangan tersebut”, saat moderator mengambil nafas untuk kalimat akhir dari diskusi itu, ada yang berteriak dari dalam air, karena turut memperhatikan diskusi dari awal dia mengaku sebagai wakil dari dunia air, dia berkata “perkenalkan, saya adalah anak ikan lele, yang selalu bertempat ditepian sungai ini, saya memiliki pandangan lain dari dunia air, jadi begini saya sering kali menemui sang putra mahkota minum di aliran sungai ini, tapi tidak seperti yang lainnya saat minum, dia selalu lebih lama dari pada yang lainnya, bukan karena minumnya banyak tapi 70% dari lama waktunya untuk minum dia gunakan untuk berkaca dan sesekali menampakkan senyum yang saya rasa itu bukan senyumannya sendiri, sudah begitu saja ya, anggap saja itu pendapat tambahan, dipakai silakan tidak juga silakan”. Berhubung forum sudah melebihi batas waktu forum langsung ditutup, dan semuanya kembali pada habitatnya masing-masing untuk menjaga ekosistem dalam hutan.

Namun anak gajah yang bertindak sebagai moderator diskusi PahaBaru tadi, masih memfikirkannya, sambil jalan pelan dan berfikir dia mencoba menata logikanya untuk menemukan titik temu dari ketiga pendapat hasil diskusinya. Sesampainya dirumah dia menemui ayahnya, kebetulan ayah gajah itu adalah anggota majelis hutan tertinggi, bertanyalah anak gajah itu pada ayahnya “yah, apa ayah meng-iya-kan jika keadaan rimba kita ada yang tidak beres, banyak perubahan loh yah di rimba ini”. Dengan tenang sambil menghabiskan seduhan daun kopi kesukaan yang tinggal satu tegukan, sang ayah bercerita pendek “kamu masih melihat bahaya di rimba ini dari segi intern penghuni saja, padahal ada bahaya dari luar entah makhluk apa itu nak, informasi yang ayah dengar hanya dengan hitungan detik dua tiga pohon bisa langsung tercabut sampai keakar-akarnya, itu artinya lahan kita akan semakin sempit, bayangkan anakmu besok mau tinggal dimana”. Tok tok tok suara potongan bambu yang ditaruh didepan berbunyi, “iya, siapa” kata anak gajah, si tamu berkata “aku pak kancil dari negeri sebrang, apakah ayahmu ada nak?”. Anak gajah menjawab “oh iya ada pak, silakan masuk ayah masih di belakang sebentar lagi keluar kok”. “eh kamu cil, ada apa jangan-jangan yang ada diotakmu sama dengan yang ada diotakku sekarang”. “begini mas gajah, wilayah utara pojok timur yang berada pada pengawasan kang ular, itu kini sudah rata dengan tanah, semua tanaman sekecil apapun telah tiada, dan berganti dengan jenis tanaman yang sama”. Si gajah menyahut “lha terus para penghuni disana bagaimana?”. “sebagaian telah mundur dan mendekat dengan tempat mas sekarang, tapi lebih dari separuh penghuni wilayah itu telah tiada keberadaannya” kata si kancil. Keduanya diam sejenak samabil menyuruh anaknya meninggalkan tempat, si gajah mendekati si kancil dan berbicara dengan nada yang lirih “bukan kah wilayah itu berada pada kontrol langsung oleh putra mahkota, kapan sih kejadiannya itu”, si kancil menjawab “itu yang menjadi perbincangan dikalangan akademisi kami, kejadian itu bersamaan dengan menghilangnya putra mahkota selama satu minggu, sekitar satu bulan yang lalu. Awalnya kami mengira putra mahkota turut menghilang selamanya bersamaan hilangnya wilayah itu, tapi ternyata putra mahkota muncul kembali dan tidak terdapat luka ataupun lecet sedikitpun di badannya”.

Anak gajah yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, tidak serta merta meninggalkan tempat diskusi tingkat tinggi itu, melainkan dia hanya berjalan berputar dan menghadapkan telinganya kepada pembicaraan dewasa itu, lalu dia teringat dengan hasil diskusinya sendiri, dia dalam hati berbicara “kayaknya aku telah menemukan titik temu dari tiga pendapat hasil diskusiku bersama forum PahaBaru, dan itu akan mengarah pada sebuah pertanyaan kemanakah menghilangnya sang putra mahkota sesaat setelah ia lahir sampai kemunculannya baru-baru ini” pertanyaan itu terus menghantuinya, hari demi hari dilaluinya tanpa sedikitpun bisa lupa dengan pertanyaan itu dan menjadikannya seakan tidak punya lelah, terus dan terus berjalan mencari sumber yang bisa menjelaskan atau minimal mampu memberikan penerangan sedikit untuk pertanyaannya.

Pada saat perjalanan itu sampai pada tepian sungai, anak lele memanggil “hai gajah junior, sini nengoklah kekanan kebawah sedikit, iyaa aku, aku lele yang pernah menyimak salah satu diskusimu kemarin, ada apa kamu kok menampakkan wajah keputusa asa-an, sini minum dulu air segar sungai ini, minum dulu, minum dulu, ayo cerita sama saya”. Glukglukgluk satu teguk dua teguk tiga teguk sampai 45 kali tegukan si gajah yang dihitung si lele. “sudah puas” tanya si lele. “iya sudah le, begini le aku gelisah dengan pertanyaan yang muncul diotakku, yaa tentang hasil diskusi kita kemarin, kamu sudah tahu belum wilayah utara pojok timur kita, kata pak kancil kemarin wilayah itu sudah rata dengan tanah tumbuhan yang muncul semuanya sama, sejenis tingginya sama pokok nya satu wilayah itu wajahnya sudah berubah total, ternyata perkembangan konflik hutan kita tidak lagi antara raja hutan dan raja kita,raja rimba. tapi masalahnya bukan itu, masalahnya itu kemana putra mahkota rimba kita, toh wilayah itu loh langsung berada pada kontrolnya”. Si lele menjawab dengan santai “ah kamu tenang aja, yah begini ini namanya hukum alam, ada yang merusak ada yang membangun ada yang membunuh ada yang menanam yang penting semuanya bisa seimbang, si elang bisa terbang karena udara masih bersih, kamu masih bisa tumbuh lebih besar lagi karena makanan dikanan kiri mu masih terjaga, aku juga masih berenang di air yang belum tercemar ini”. “terus bagaimana dengan nasib teman-teman kita disana” sambung si gajah, lanjut si lele lebih ringan lagi “kamu tahu hukum alam, hukum alam adalah hukum karma, semua pasti mati dan semuanya pasti merasakan pahitnya kehidupan ini, maka apalgi yang haru patut kita takuti selain tuhan yang maha besar”. Dengan hembusan nafas kekecewaan Si Gajah bertanya “terus pak kancil juga bilang, saat wilayah itu berproses berubah wajah, putra mahkota rimba tidak ada selama itu terus kemana perginya le”. Lama si lele berdiam, dan berfikir sambil sesekali mengangguk-anggukan kepala dan memelintir kumisnya ke bawah ke atas, si gajah pun tidak sabar dan menyahut “apa tidak lebih baik kamu turun aja ke teman-temanmu yang dibawah, barang kali dapat jawaban”. Tanpa berpamitan dan aba “meluncuuur” kata si lele, sontak mebuat si gajah junior semakin geram.

Saat kembali perjalanan kembali ke rumah, si gajah junior berpapasan dan menyapa pak kancil, “selamat siang pak, mau kemana pak, mengapa raut wajah anda terlihat kusut”. “iya, aku semakin gelisah aja dengan keadaan ini, aku mau ke tempat raja hutan berada kamu mau ikut, ayo”. “emmm iya pak boleh, tapi nanti kalau di tanyai ayah habis kemana anda yang bertanggung jawab yah” kata si gajah junior, “oke deal” sahut pak kancil. Dalam perjalanan muncul beberapa dugaan si gajah junior tentang pak kancil, sebenarnya pak kancil ini siapa, dan apa tugas nya juga perannya di dunia perhutanan ini. “aku ini terpilih sebagai kurir informasi dari kedua belah pihak, yang gunakan oleh ayahmu untu mengambil kebijakan di majlis hutan tertinggi” seperti bisa melihat dan mendengar hati sesorang pak kancil bicara sendiri di perjalanan, dan semakin membuat si gajah junior dahaga ilmu, dia pun melempar pertanyaan “kalau boleh tahu pak syaratnya bagaimana untuk bisa menjadi kurir dari kedua belah pihak karena saya lelah hidup dipertikaian ini”. Pak kancil pun menjawab “kalau untuk kamu belajar saja supaya bisa menggantikan posisi ayahmu, karena kamu tidak bisa menjadi sepertiku karena syaratnya dua, cerdas dan cepat berlari, kamu cerdas tapi tidak bisa berlari, karena pekerjaan ini beresiko tinggi maka sangat dibutuhkan untuk bisa cepat lari dari permasalahan hahahaha”. Sambil bengong si gajah junior pun tertawa.

Tidak lama kemudian telah sampai pada tempat sang raja hutan dan langsung dipersilakan masuk, hanya pak kancil yang boleh masuk kedalam ruangan sang raja sedangkan si gajah junior ditempatkan di ruang makan, sambil makan tiada hentinya ia bergumam “andai aku bisa ikut masuk, aku pasti bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaanku selama ini”. Setelah pertemuan pak kancil dan sang raja selesai, pak kancil langsung duduk di meja makan berdampingan dengan si gajah junior yang telah menunggunya, ia pun langsung bercerita “besok kita akan kumpul bersama, dari pihak raja rimba dan sang raja hutan yang sidangnya dipimpin oleh majelis hutan tertinggi, mungkin aku besok akan menyampaikan beberapa pandangan juga”. Seakan tidak mendengarkan perkataan pak kancil, Si Gajah junior kembali makan makanan yang disediakan sampai habis semua.

Bunga-bunga jamur mulai kekuningan menandakan perkumpulan para petinggi akan segera dimulai. Pada mulanya Si Gajah junior minat untuk hadir, tapi dia teringat dengan temannya yang hidup disungai. Dipanggil-lah berulang kali, “hey lele kamu dimana, sudah ketemu belum jawabannya”, lele pun muncul dan langsung menjawab dengan nada ngos-ngosan seakan tidak percaya dengan yang diceritakan temannya dari bawah, “begini, ternyata menghilangnya putra mahkota dulu bukan menghilang tersesat atau menjadi tawanan di kerajaan singa, melainkan dia di besarkan di penangkaran yang dibuat manusia lalu dibuat jinak dan sekarang dia digunakan oleh para manusia yang tidak bertanggung jawab itu untuk mengusir pasukan yang dibentuk raja rimba, di wilayah utara pojok timur itu yang sekarang telah rata dengan tanah dan hanya terdapat satu jenis tanaman di lahan seluas hampir seperempat hutan ini, dan kamu tahu besok ada perluasan lagi dan kita lihat saja putra mahkota besok hilang atau tidak, kalau hilang ayo kita cari keberadaannya”. Kenyataan yang begitu pahit bagi si gajah junior, bahwa ternyata persaingan sekarang tidak hanya melibatkan sesama penghuni hutan saja tapi juga bisa berasal dari intervensi dunia luar yang memperalat penghuni setempat.

Dalam forum petinggi itu raja hutan singa berpidato, yang berbunyi “jikalau rumah kita diambil dengan paksa maka bukan rumah mereka yang menjadi sasaran dendam kita. Jika anak cucu kita dihabisi dengan dijadikan peliharaan mereka, maka bukan anak-anak mereka yang kita ambil. Jika pohon-pohon kita, rerumputan kita, sungai kita diratakan menjadi tanah kavling maka pastikan pembalasan yang dilakukan oleh alam akan setimpal dengan perbuatan mereka” pidato singkat yang disambut tepukan tangan oleh para audiens sidang, dengan penuh harapan dibawah pimpinan sang raja hutan, hutan tetap menjadi hutan. Senada dengan pidato raja hutan, putra mahkota raja rimba yang diberi mandat untuk membacakan surat tulisan dari raja rimba, pada awal pembicaraannya selaras dan sependapat dengan raja hutan, tapi diakhir pidato dia memelintir tulisan ayahnya, yang ia bacakan“saya disini sebagai raja rimba yang memiliki kedaulatan dibawah kedaulatan raja hutan, bahwa diratakannya seperempat hutan kita, itu adalah hak mereka yang merawat hutan ini dengan cara yang lebih modern, mereka adalah yang mampu mengambil potensi dari hutan lebih besar dibanding dengan cara kita sendiri”. Disambut dengan tepukan tangan kekecewaan para peserta sidang “huuuh huu huu huu, anak nggak tahu diri” kata seorang peserta sidang. Dan pada detik terakhir pidato sambutannya putra mahkota berpamitan untuk menghilang kembali dengan alasan dia harus mendekat dengan para leluhurnya dan para dewanya untuk mendapat solusi terbaik bagi persoalan ini.

Sesuai  tafsiran si lele yang disampaikan pada si gajah junior, sesaat setelah mendengar statement itu si lele dan Si Gajah junior membuat strategi demi niat mereka yaitu mengembalikan putra mahkota kepada si penangkar. Besoknya, pagi dini hari si gajah junior membuat jebakan sesuai hasil pembicaraannya dengan si lele, dan “happ happ” jebakan itu berhasil, putra mahkota sekarang tertangkap dan menjadi budak manusia tanpa dikembalikan ke alam liar, dan akan selamanya dikarantina. Karena putra mahkota alergi dengan kutu, si gajah junior menempatkan kutu di tempat yang dijadikan pertemuan antara harimau muda itu dengan sang pawang yang mendidiknya serta mebesarkannya, dan langsung saja dengan cepat tanpa terkontrol cakar harimau muda itu menggores badan sang pawangnya. Karena dianggap liar kembali, harimau putra mahkota rimba itu ditangkap dan dikembalikan ke penangkaran.

Raja hutan dan raja rimba kembali bertemu, mendengar peristiwa itu keduanya kembali berikrar untuk membangun hutan bersama-sama dengan mengembalikan segala permasalahan kepada piagam akasia. Senada dengan pendapat ayah gajah yang duduk sebagai anggota majelis hutan tertinggi, saat diwawancarai puluhan burung kabar ia mengatakan “kepada anak-anakku sekalian yang merindukan kedamaian dan kebahagiaan abadi, berpeganglah kalian kepada piagam akasia, kembalikanlah semuanya kepada sang hutan belantara ini, tiada yang paling kuat di antara kita kecuali sang hutan sendiri”. Ke-esokan harinya dikumpulkanlah semua penghuni hutan di lapangan luas dekat dengan tebing tertinggi dan tercuram di hutan itu, tempat yang masih suci tanpa ada satupun manusia yang pernah menginjakkan kakinya di tempat itu, semuanya berbondong-bondong dengan membawa sanak familinya kebutuhan unuk hidup juga di bawa semua dan hampir hutan seluas itu tidak dapat ditemui hewan sama sekali dalam beberapa hari pertemuan itu, semuaya berkumpul berdesakan dan tetap tertib menunggu sang pemberi keadilan berbicara.

Barisan terdepan adalah sembilan anggota majelis gajah disambung dengan raja hutan dan raja rimba dengan kursi roda yang ia pakai, kali ini ia tanpa putra mahkotanya, sesekali raja hutan turut mendorong untuk kursi roda raja rimba, begitu akrabnya sehingga membuat lega hati seluruh penghuni hutan tak terkecuali si gajah junior dan si lele yang dimasukkan kekantong air agar tetap bisan berada dilapangan. Lalu terdengar suara, seluruh audiens bertanya-tanya, siapa-siapa-siapa majelis hutan tertinggi dari awal hanya diam saja, raja hutan juga berdiam apalagi raja rimba tidak mungkin, suara seindah itu pasti bukan dari suara orang yang sedang sakit.

“Kalian adalah penghuniku, tanpa kalian aku tetap ada, kalian tidak bisa ada tanpa aku, eksistensi kalian selalu karena aku, aku tidak nampak karena aku tak berujung seperti jarak pandang si elang. Siapa yang mengambil manfaat dari diriku ambillah habiskanlah, aku akan diam saja sampai aku sendiri yang menentukan kapan kalian semua binasa” kata suara itu, majelis gajah terdiam, raja rimba diam dan raja hutan menyahuti dan berkata “saya teringat dengan kisah kakek saya, bahwa diatas kedaulatan ku sebagai singa raja hutan masih ada kedaultan lagi, dan suara itu lah kedaulatan diatasku, ia adalah hutan ini, suara itu adalah suara hutan ini”. Dari ribuan audiens yang hadir hanya suara air terjun dari kejauhan yang terdengar, sesaat kemudian tanpa diaba-aba semua kembali ke tempat dan tugasnya masing-masing, dengan tanda tanya besar, kapan kita bertemu dengan kemarahan sang hutan, lalu bagaimana dengan anak cucuku.

--Tamat--

Profil Penulis:
Nama : Aris Indra 
Domisili : Gedangan Jolotundo Jetis Mojokerto

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Dua Raja""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel