CERPEN "Dara Buak"
CERPEN "Dara Buak"
DARA BUAK
Karya Bapak Yohanes
Zaman dahulu kala, di sebuah perkampungan yang bernama Tampun Juah, tinggallah orang-orang suku Dayak Mualang. Mereka hidup dengan damai, bantu membantu dan saling bergotong royong membuat ladang. Di kampung tersebut, hiduplah seorang wanita separuh baya bernama Ta Kutok dan ia mempunyai seorang anak perempuan bernama Dara Buak. Sebenarnya Dara Buak adalah gadis yang paling cantik di kampung tersebut, namun sejak lahir tubuhnya terbungkus oleh semacam karung yang menyerupai kulit yang penuh dengan borok dan berbau busuk, itu sebabnya Dara Buak selalu jadi ejekan teman-temannya. Dara Buak berteman dengan Dara Tucung, tapi ia selalu di buli. Suatu hari, Dara Tucung mengajak Dara Buak untuk mencari rebung di hutan.
“Buak…ayo ikut aku mencari rebung!” seru Dara Tucung dari depan pintu rumah Betang.
“Iya.”jawab Dara Buak.
Dara Buak mencari rebung yang masih muda batangnya. Sedangkan Dara Tucung sengaja mengambil rebung yang sudah agak tua dan keras karena jika sudah pulang, dia akan memaksa Dara Buak untuk menukarkan milik Dara Buak kepadanya, sebab Dara Buak tidak berani melawan. Beberapa hari kemudian, Dara Tucung kembali mengajak Dara Buak untuk mencari pakis. Dara Buak tidak pernah menolak jika diiajak oleh Dara Tucung dan teman-temannya tetapi mereka selalu curang dengan menukarkan milik mereka dengan milik Dara Buak. Mereka melihat pakis yang dipetik Dara Buak masih muda dan segar-segar, sedangkan punya mereka sudah keras daunnya dan hampir tidak bisa dimakan lagi. Musim kemarau pun tiba, Dara Tucung mengajak Dara Buak mansai1.
“O…Buak, mari ikut kami mansai1, hari sudah kemarau semoga kita dapat ikan dan udang yang banyak.” Rayu Dara Tucung.
“Iya, aku mau ikut dengan kalian mansai1.” Jawab Dara Buak.
Lalu mereka pun berangkat menuju sungai Raya. Mereka mansai1 mulai dari siang hari, setelah agak petang barulah mereka pulang. Sebelum pulang, mereka membersihkan ikan dan udang sambil mereka mandi di lubuk sungai yang agak dalam. Dara Tucung tertarik melihat ikan udang Dara Buak yang besar-besar.
“Buak, ikan dan udang kamu banyak dan besar-besar ya?”
“Iya.” Jawab Dara Buak.
“Aku mau kita tukaran, karena aku tidak mau membawa pulang ikan dan udang yang aku dapat, ini terlalu kecil-kecil. Kalau kamu tidak mau tukaran, kami tidak au lagi berteman denganmu!” ujar Dara Tucung dengan tatapan mengancam.
“Tapi bagaimana bisa aku membawa pulang ikan dan udang yang tidak layak kepada ibuku?” ratap Dara Buak sedih.
“Lho, kaliankan hanya berdua saja, mana mungkin yang aku punya tidak cukup untuk kalian makan nanti malam.” Dara Tucung bersikeras.
Dara Tucung semakin tidak perduli, ia malah tertawa melihat Dara Buak menangis sambil membersihkan udang dan ikan yang sudah ditukar secara paksa oleh Dara Tucung. Sebenarnya tidak ada yang bisa dimakan dari apa yang didapat oleh Dara Tucung, yang ada hanya udang segenggam tangan, sedangkan yang lain binatang air yang tidak bisa dimakan.
Setibanya di rumah, Dara Buak tidak tahan lagi dengan keadaannya. Dia akhirnya mengadu pada ibunya kalau sebenarnya selama ini Dara Tucung selalu bersikap curang dan semaunya. Mendengar pengakuan Dara Buak, sedihlah hati ibunya. Marah pun tidak mungkin karena sudah sangat bersyukur sekali Dara Buak tidak diusir dari kampung karena penyakitnya itu.
Musim buah telah tiba. Para pemuda di kampung itu sibuk memanjat buah-buahan di temawang2. Apabila buah yang didapat banyak, maka para pemuda kampung akan memberikan buah tersebut kepada gadis yang disukainya. Pemuda yang paling tampan di kampung tersebut adalah Keling. Selain tampan, Keling juga rajin bekerja sehingga banyak gadis yang mau dengannya namun anehnya Keling tidak menanggapi gadis-gadis itu.
Suatu hari, pada saat Keling sedang memanjat pohon yang tidak jauh dari sungai yang ada di hutan. Secara tidak sengaja, ia melihat kearah Dara Buak yang sedang mandi. Dara Buak tidak pernah mandi bersama seperti gadis lainnya karena ia tidak mau ada orang yang mengetahui bahwa kulit palsunya dapat dilepaskan. Keling pun memperhatikan Dara Buak dari atas pohon, ia terkejut melihat Dara Buak menangggalkan kulitnya yang menjijikkan itu. Setelah kulit buruk itu terlepas, Keling semakin terkejut tak percaya akan kecantikan Dara Buak, kulitnya kuning langsat terkena sinar matahari, rambutnya terurai panjang, yang pasti belum ada gadis secantik Dara Buak pikir Keling dalam hati. Dara Buak yang tengah asyik mandi, tidak menyadari kalau Keling sedang memperhatikannya.Setelah mandi, Dara Buak kembali mengenakan kulitnya yang menjijikkan itu. Dia pun pulang ke rumah. Melihat betapa cantiknya Dara Buak, Keling sengaja menyisihkan buah-buah yang besar-besar untuk dihadiahkan kepada Dara Buak.
Malamnya, Keling beserta kerabatnya mendatangi bilik Dara Buak sambil membawa buah-buahan yang sudah disiapkannya. Keling sengaja datang dengan membawa orangtuanya karena ia bermaksud akan melamar Dara Buak. Keling sudah menceritakan kepada keluarganya bahwa Dara Buak itu sebenarnya cantik dan tidak mengidap penyakit, ia hanya mengenakan kulit palsu untuk menipu mata orang yang melihatnya. Tetapi mereka belum bisa percaya sebelum mereka melihat sendiri. Para tetua yang hadir disitu meminta Dara Buak untuk membuktikan apa yang diucapkan oleh Keling. Sebenarnya, Dara Buak tidak mau melakukannya, ibunya pun tidak tahu bahwa kulit yang menjijikkan itu dapat dilepas, karena didesak terus oleh orang-orang tua yang ada disitu, akhirnya Dara Buak pun menyerah dan bersedia melakukannya. Ia pun masuk kedalam kamar untuk menanggalkan kulit palsunya yang menjijikkan itu. Setelah itu, ia kembali ketempat orang berkumpul, semua orang yang hadir pun terkejut melihat kecantikan Dara Buak, termasuk ibunya sendiri. Keling sang
at gembira melihat Dara Buak mau menanggalkan kulitnya yang menjijikkan itu.
Beberapa hari kemudian, pesta perkawinan Keling dan Dara Buak pun berlangsung. Dara Tucung beserta teman-temannya sangat malu karena dulu selalu menganggap rendah Dara Buak dan selalu berbuat curang. Sekarang mereka sadar, sudah salah menilai Dara Buak dari luar, Dara Tucung juga sangat sedih karena pemuda yang ia cintai menikah dengan Dara Buak. Singkat cerita, Dara Buak tidak pernah lagi memakai kulit yang menjijikkan itu. Sejak mereka menikah, kulit tersebut sudah dikubur oleh Keling. Dara Buak dan Keling pun hidup bahagia selamanya.
Profil Penulis:
NAMA: YOHANES
TTL: TAPANG PULAU
UMUR: 61 TAHUN
AGAMA: PROTESTAN
ALAMAT: DESA TAPANG PULAU
JENIS KELAMIN: LAKI-LAKI
PENDIDIKAN: SMA
0 Response to "CERPEN "Dara Buak""
Post a Comment