CERPEN "Cahaya Yang Abadi" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Cahaya Yang Abadi"

CERPEN "Cahaya Yang Abadi"
CAHAYA YANG ABADI
Karya Minah Castinah

Waktu mulai berjalan,menunjukan saat yang dinantikan,dimana akan hadir kebahagian..

Aku adalah Ana,ku kesepian dalam angan,untuk mencapai sebuah harapan masa depan bersama dia.
Begitu lama perpisahan yang dirasakan Ana,tak bertemu kasih sekian lama nya.

Dia bertanya,pada Ibu nya.
"Bu,apakah Ibu juga dulu sama seperti ku? menanti sekian lama tanpa ada berita" tanya Ana sembari menatap purnama,dari jendela kamar nya.
"Semua orang pasti pernah menanti,walaw penantian itu tak pasti,tapi berdo'alah semoga yang kau nanti cepat kembali" Ibu menjawab sembari membelai rambut Ana.
"Ibu,lihatlah purnama itu,begitu terang dan indah.Aku ingin sekali,cinta ku seterang dan seindah purnama itu" Ana
"Gapailah cahayalah yang abadi,dengan semangat buat keegoisan mu.Tetap tersenyum walaw hati mu sakit" Ibu
"Aku tetap tersenyum Bu,walaw Dia tak kabar berita,dan Aku tak tau bagaimana dan dimana Dia sekarang"

Penantian dan harapan Ana begitu indah pada kekasihnya,yang lama bekerja diluar kota tanpa kabar berita.
Temannya hanya sang cahaya bulan,dan kasih sayang Ibu yang menguatkan nya.
Bagi Ana,Cinta yang Abadi adalah butiran kasih sayang Ibu,dan Sayang yang Indah adalah seseorang yang bisa menjawab kesunyian hati nya.

Dua tahun tanpa kabar,bagi nya adalah hal biasa,biasa dia termenung sendiri menanti,walaw entah apa yang dinanti akan kembali.
Kegelisahan penantian tak membuatnya larut dalam kesedihan,karena ada Ibu yang terus memberi kekuatan.

"Ibu,adalah penyemangat hidup ku" selalu dalam hati nya berkata.
"Andai ku tak punya Ibu,entah jadi apa Aku sekarang,mungkin Aku akan jatuh dalam lubang kesengsaraan.Kekasih yang ku nanti,ku harapkan dia kembali"

Ana setiap kali bersedih selalu melihat Ibu,betapa kuat nya Engkau Ibu,bekerja menguras tenaga,berteman dengan panas nya sang surya,melawan lelah nya badan,demi Aku,anak mu.,yang Kau perjuangkan.
Hidup mu begitu tabah menjalani semua,walaw tanpa Ayah,Kau sanggup hadapi kejamnya dunia.Sungguh malu nya Aku,baru ditinggal kekasih sudah merana..

Waktu,
akhirnya menjawab penantian ku.
kekasih yang lama ku tunggu akhrnya datang menemui ku.
Dengan senyuman Dia ucapkan salam,dengan ketulusan dia katakan kesetiaan,dan dengan kepastian dia bilang "maukah kamu jadi mukmin ku?"
"Subahanallah tentu aku mau,sudah lama aku menanti mu" jawab Ana dengan senyum kebahagiaan.
Semenjak dia mengatakan niat tulus nya,dan niat tersebut disetujui keluarga.persiapan pernikahan pun dilaksana.
Betapa bahagia Ana.Apa yang dia harapakan dapat segera terlaksana.

"Terimakasih Ibu,ini semua karena Do'a mu" Ana sangat bahagia,memeluk Ibu nya
"Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untuk mu.Jangan bencana yang menghampiri,kematian pun tak mampu hilangkan kasih sayang Ibu pada mu".

Pernikahan itu dilaksanakan sore hari dirumah Ana,semua sudah siap,tinggal menunggu mempelai lelaki beserta keluarga datang.
Hati yang senang menjadi bimbang,hati Ana menjadi cemas bertabur sayang.
Ana bertanya-tanya pada hatinya "Benarkah ini? Apa Aku tak sedang bermimpi?"

Begitu lama kedatangan mempelai lelaki beserta keluarga."Dimana dia? Apa dia tak jadi meminang ku?" Ana gelisah
"bersabarlah,dia akan datang" Ibu tersenyum.
"Aku telah bersabar,tapi hati ku gelisah"
Tak lama kemudian,suara telepon rumah berbunyi "kring.kring.kring"
siapa yang menelepon? Ana mengangkat telepon itu,dan ia menangis.semua tamu yang hadir bertanya-tanya "kenapa dengan Ana?"

Perasaan Ana terasa sakit dan sedih,inikah takdir yang harus dia terima? sekian lama menanti,dan hampir impian didapatkan,tapi malah kekasih nya pergi.Tuhan lebih menyayangi kekasihnya.
Kecelakaan mobil diperjalanan menuju rumah Ana,membuat kekasihnya meninggal dunia.
Apakah ini takdir sebenarnya?
Impian tak harus ku dapatkan.

Karena kesedihannya ini,jiwa ana menjadi terganggu.Namun,untunglah Ibu yang selalu setia dan berusaha membangkitkan Ana dari keterpurukan.Hingga akhrnya Ana sadar,bahwa kehilangan orang yang disayang,tak harus terus ditangisi.
"Aku masih punya Ibu,yang tulus mencintai ku.Dialah kebahagian ku yang abadi.Terimakasih Ibu,karena telah memberi kekuatan dalam keterpurukan ku" Ucap Ana sembari memeluk Ibu dan menatap purnama.

Ibu,
Terimakasih untuk mu
Kasih sayang mu yang tulus adalah cahaya abadi,yang terangi gelapnya hidup ku.

*We Love U Mother...

Profil Penulis:
Minah Castinah
Indramayu,14 Pebruari 1996
Alamat : Kertamulya, 02/03.Bongas.Indramayu.JABAR 45255
Tinggal di Bandung
Fb me : Minah Castinah Chegadiezbersepeda
E-mail : Minahcastinah@ymail.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Cahaya Yang Abadi""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel