CERPEN "Bukti Kasih Sayang" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Bukti Kasih Sayang"

CERPEN "Bukti Kasih Sayang"
BUKTI KASIH SAYANG
Karya Ema Afriyani

Pekerjaan telah membuat kesibukan. Mifta melamun sendiri  didalam kamarnya. Mifta hanya memandang isi kamarnya yang penuh dengan boneka.namun menurutnya rumah megah itu bagaikan neraka.keheningan begitu dalam terasa.karena hanya ada dentingan jam yang semakin lama semakin cepat berlalu.

Hari sudah larut malam, namun orang tuanya belum juga pulang. Keheningan dan sunyinya malam itu, membuat Mifta keluar dari kamarnya. Mifta menuju keruang tengah. Dia lalu duduk didepan piano.

Perlahan Mifta merangkai nada-nada yang indah namun teramat sendu. Sejak umur Mifta 6 tahun piano itu sudah menghias diruang tengah. Piano itu, diberikan Mifta diberikan pada Mifta saat Mifta berulang tahun yang keenam.

Sejak kecil, Mifta hanya tinggal bersama Ayahnya. Karena Ibu dan Ayahnya sudah bercerai saat Mifta berumur dua tahun.

Perlahan alunan piano itumembuat suasana menjadi tambah sepi. Sehingga perlahan mata Mifta tertutup diatas piano itu.

Kini hanya ada suara dentingan jam yang semakin lama nyaring terdengar.

*

Matahari pagi mulai bersinar. Kicauan burubg mulai bersahutan menghias keindahan pagi ini.

Lalu sebuah motormasuk kedalam bagasi dirumah yang tak terlalu besar. Seorang laki-laki pekerja perkantoran baru saja pulang.

Laki-laki itu mengetuk pintu. Namun tak ada sahutan sama sekali. Saat dia mencoba membuka pintu, ternyata pintu itu tidak dikunci.dia lalu masuk.

Dia lalu berjalan tanpa memandangi keadaan sekitar. Hanya keheningan yang ada saat dia memasuki rumahnya.

Saat dia akan melangkah untuk memasuki kamarnya, dia tak jadi masuk karena melihat putri semata wayangnya yang tertidur diruang tengah.

‘’Mifta……..’’sapanya dengan lembut.

Mifta pun terkejut. Lalu dia memandang ayahnya yang ada dihadapan.

‘’kamu kok tidur disini??’’tanya ayahnya.
‘’ayah masih ingat pulang??’’tanya Mifta.
     
Mendengar pertanyaan itu,ayahnya hanya terdiam dan tak mampu memandang Mifta. Belum sempat dijawab, Mifta lalu pergi meninggalkan ayahnya.
    
Setelah mandi, ayah Mifta lalu membuat masakan untuk sarapan. Nasi goreng special yang dibuat unuk anaknya tersayang. Walau Mifta tak pernah menganggapnya.

Bau harum tercium dan terbawa oleh semilir lembut angin. Lalu ayahnya meletakkannya dipiring.

‘’ini untuk kamu.’’ sodor ayahnya sambil meletakkannya dimeja yang ada dihadapan Mifta.

Namun Mifta tak peduli sama sekali. Mifta malah asyik menonton TV.

‘’mifta,kamu marah ya sama ayah??’’ tanya ayahnya.

Namun Mifta tak membuka mulutnya sama sekali.

‘’Mifta ayah minta ma’af ya. Kalau selama ini ayah pulangnya sering terlambat.ayah banyak kerja nak dan itu juga buat kamu.agar kamu dapat meraih cita-cita.’’
‘’tapi bukan materi yang Mifta inginkan.’’ potong Mifta.
‘’’’lalu apa??’’tanya ayahnya.
‘’Mifta pengen kasih sayang. Tapi kasih sayang itu bukan harta dan materi.’’ jawab Mifta.
‘’apa kurang kasih sayang yang ayah beri??’’ tanya ayahnya lagi.
‘’selama ini memang gak kurang. Tapi yang kurang kasih sayang dari Ibu.’’ jawabnya.

Mifta berdiri. Mifta lalu mengambil sepiring nasi goreng yang ayahnya masak. Dia lalu pergi dari ruang TV.

Perkataan Mifta mulai mebuat pusing kepala ayahnya. Kata-kata yang Mifta ucapkan mulai diresapinya.

Tak lama kemudiaan Mifta keluar dari kamarnya untuk menaruh piring yang sudah licin.

‘’Mifta,ayah ingin bicara dengan kamu.’’ panggil ayahnya saat Mifta akan menuju kekamarnya.
‘’apa yang sebenarnya kamu mau??’’ tanya ayhnya.
‘’apa ayah belum jelas dengan apa yang Mifta katakan???''
''Ayah, Mifta pengen ketemu sama Ibu.hanya memeluknya dalam satu dekapan. Apa itu gak bias ayah kabulkan?? buktiin kalau ayah memang sayang sama Mifta.’’ jelas Mifta.

Mifta lalu masuk kedalam kamarnya. Menikmati suasana kamar yang penuh dengan boneka.

*

Hari demi hari berganti. Namun hubungan Mifta dengan ayahnya belum juga membaik.

Saat itu hari libur. Mifta sedang asyik bermain game diruang tengah.

‘’Mifta, jangan pernah beranggapan ayah gak sayang sama kamu.’’ Ucap ayahnya yang baru pulang kerja.
‘’hanya ucapan yang tak dapat dipercaya.’’ ucap Mifta. ’’Mana buktinya kalau ayah sayang sama Mifta!?’’ tanya Mifta.

Lalu saat Mifta kekamar, langkahnya terhenti. Karena dihadapannya ada bidadari cantik yang tersenyum padanya.

‘’apa ayah bohong??’’ tanya ayahnya.

Dengan segera Mifta memeluk bidadari cantik itu yang tak lain adalah ibunya. Betapa bahagianya dia karena dapat bertemu dengan ibu kandungnya.

Sejak saat itu mifta dapat menjalani hari-harinya dengan semangat. Karena ayah dan ibunya kembali bersatu. Itulah bukti kasih sayang dari ayahnya yang Mifta inginkan.

Profil Penulis:
Nama:Ema Afriyani
Email:iccel951.afriyani@yahoo.com
TTL:Kendal,09 mei 2001
FaceBook:Ema Afriyani

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Bukti Kasih Sayang""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel